Bab 13. Hukuman Yang Tidak Setimpal

Sinar mentari perlahan memudar seiring dengan kemunculan angin petang yang berhembus sangat kencang. Setelah menuruni gunung yang berkabut, Rodney dan guild nya berencana untuk beristirahat sejenak di tengah lebatnya hutan.

"Kita akan beristirahat disini untuk sementara." ujar Rodney seraya merebahkan dirinya di atas rerumputan yang hijau.

"Huuuh... lelahnya." Silvia pun turut merebahkan tubuhnya.

"Siluva, Zeta, Iris ... kalian beristirahatlah, aku akan mengawasi keadaan sekitar." ungkap Rei dengan penuh percaya diri.

Mendengar ucapan itu, Silvia menjadi berang. Ia lantas menegakkan tubuhnya seraya menghampiri Rei dengan wajah cemberut. Pria itu kebingungan setelah mendapati Silvia mendekatkan wajahnya.

"Ada apa siluva?" tanya Rei.

"Sil ... vi ... a!" Gadis itu kesal mendapati kepolosan Rei yang tak menyadari kesalahan dalam menyebut namanya.

"Baik, baik, Silvia," ucap Rei seraya tersenyum setelah menyadari kesalahannya.

Para gadis pun terpukau setelah melihat senyuman yang terpampang jelas di wajah pria tampan tersebut. Tak terkecuali Silvia. Raut wajah kesalnya pun perlahan memudar. Pipinya memerah seakan takjub dengan senyuman yang belum pernah ia lihat itu.

"Sudahlah Silvia, jangan ganggu Rei!" Zeta pun menegur Silvia atas tindakannya yang tidak sopan terhadap Rei.

"Hmm!!!" Gadis itu dengan sontak memalingkan wajahnya kearah lain seraya cemberut.

Zeta menatap Rei dengan penuh keseriusan. Ia bertanya-tanya didalam lubuk hatinya tentang seperti apakah kekuatan pria itu sebenarnya.

"Zeta? ada yang salah denganku?" tanya Rei yang mendapati Zeta menatapnya dengan pandangan tajam.

"Oh ... maaf!" tutur gadis berambut hitam nan panjang serta poni yang menutupi seluruh keningnya itu.

Iris yang merasa keberadaannya tak diperhatikan pun dengan sontak memeluk Rei dari belakang. Aksinya itu membuat dua saudarinya terkejut bukan main seakan tak menyangka jika Iris memiliki keberanian dalam mewujudukan perasaannya terhadap Rei.

"A-aku menyuka"

brak ...!

Belum sempat Iris menyelesaikan ucapannya, mereka dikejutkan dengan suara yang bersumber dari balik semak. Zeta pun dengan sigap meningkatkan kewaspadaan seraya mencabut pedangnya. Meski begitu, Rei tetap bersikap tenang. Ia seperti telah mengetahui siapa dalang dibalik suara itu.

"Keluarlah, Felicia!" seru Rei.

"Ma-maafkan aku Tuan!" Felicia menampakkan dirinya seraya menyesali perbuatannya. Ia lalu beranjak dari semak-semak itu menuju Rei.

"Rei, kau kenal dia?" tanya Silvia.

"Ya! Felicia perkenalkan dirimu." Rei menyeru pada gadis itu untuk memperkenalkan dirinya.

"B-baik! huftt ... aku Felicia, seorang pelayan yang telah mengabdi kepada Tuan Rei," tutur Felicia seraya membungkukkan tubuh layaknya seorang pelayan.

"Reeeiii!!! ada berapa banyak wanita yang kau kenal!" Silvia menjadi berang alih - alih cemburu terhadap Rei setelah mengetahui pria itu memiliki banyak kenalan seorang wanita selain dirinya dan saudarinya.

"Wanita? maksudmu Jessica dan Rebecca?" ujar Felicia dengan wajah polos yang semakin memperumit keadaan tersebut.

"Hah?! Jesica, Rebecca? siapa mereka?" Silvia semakin gusar seraya mendelik.

"Mereka adalah keluargaku," tutur Rei dengan tenangnya.

Gadis - gadis itu pun terkejut bukan main. Zeta yang sedari awal telah memiliki perasaan terhadap Rei pun tak menduga bila pria itu telah berkeluarga.

Jessica, Rei, Rebecca, lalu keluarga? batin Zeta.

Zeta tak sanggup menerima kenyataan itu. Dengan sekejap ia merubuhkan tubuhnya ke atas tanah alih-alih pingsan.

buk ...!

"Zeta! ... Zeta!!!" sorak Iris yang mendapati Zeta tak sadarkan diri.

"Hei ... hei! kalian para gadis selalu saja menggoda Rei!" Rodney terbangun dari tidurnya setelah mendengar kegaduhan itu.

"Felicia, tolong berikan penjelasan yang benar setelah ini!" tegas Rei.

"B-baik Tuan!" Felicia membungkukkan tubuhnya berulang kali.

Setelah melewati berbagai kesalahpahaman, mereka bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Raven. Felicia yang tidak tergabung dalam guild itu pun turut mengikuti perjalanan mereka seraya melangkahkan kakinya dibelakang Rei.

Setibanya di gerbang kota, Rei melihat sebuah kegaduhan dari sekelompok orang yang saling bertengkar. Ia lalu mendapati Phillip yang sedang tercekik.

"Berani sekali kau!" ujar seorang pria yang pernah berhadapan dengan Rei sebelumnya.

"Le ... lepaskan ... Aku!" lirih Phillip dengan menahan sesak.

Seraya memandang tajam ke arah pria itu, Rei dengan segera melayangkan sebelah tangannya secepat angin menuju tangan pria yang mencekik leher philip dari kejauhan. Seketika hembusan angin tak kasat mata itu pun mampu memutuskan pergelangan tangannya.

"Aaaargh!!! tanganku!!!" Pria itu terkejut histeris setelah mendapati pergelangan tangannya terpotong lalu terjatuh ke atas tanah.

Philip kemudian merasa lega setelah terlepas dari genggaman pria itu. Ia lalu ketakutan setelah mengetahui wajahnya dipenuhi oleh darah yang menyembur dari tangan sang pria. Ia berusaha menjauh dari sang pria dengan goresan di wajahnya itu.

"siapa yang telah melakukan ini?" tanya salah seorang dari mereka seraya mengamati orang-orang disekitarnya.

"Khuji!!! cepat cari pelakunya!!!" seru sang pria dengan tangan yang terputus itu.

Mereka dengan spontan menarik tubuh Phillip seraya menodongnya dengan pisau. Ia mengancam akan membunuhnya jika sang pelaku tak menampakkan dirinya.

"Keluarlah!!! tunjukkan dirimu!!!" sorak Khuji.

Rei kembali melayangkan sebelah tangannya setelah mendengar tantangan tersebut. Dengan secepat kilat, ia mengarahkan tangan itu menuju Khuji yang menyebabkan lehernya terputus.

Phillip tak menyadari hal yang telah terjadi dibelakangnya. Tubuh tanpa kepala itu pun tergeletak bersimbah darah. Semua orang yang mendapati potongan kepala berlari ketakutan seraya menjerit histeris.

"Cepat!!! kabur!!!" Pria itu menyeru pada rekan-rekannya sambil berlari sejauh mungkin tanpa menghiraukan darah yang terus menyembur dari tangannya.

Rodney dan guild nya pun merasa terkejut dengan peristiwa itu. Suasana mencekam telah menghantui keberadaan mereka.

"Zeta, aku takut ...." Iris memeluk pinggang Zeta seraya ketakutan.

"Tenanglah, tidak ada yang harus ditakutkan." Felicia berusaha menenangkan para gadis yang dilanda rasa takut.

Rei dengan segera beranjak setelah mendapati rombongan pasukan kerajaan yang berbondong-bondong menuju tempat kejadian tersebut. Dengan penuh ketenangan, ia melewati para pasukan seraya bergegas menuju gedung serikat petualang. Felicia, Rodney dan guild nya pun turut mengikuti Rei.

"Rei, aku akui tindakanmu benar, tapi setidaknya, jangan terlalu brutal," tegur Rodney seraya berjalan di samping Rei.

Pria itu pun tak menghiraukan ucapan Rodney. Ia tetap mempertahankan pandangannya yang tajam ke arah depan. Meski begitu, Rei masih tetap sanggup menguasai emosinya. Ia malah berharap orang - orang itu mendapatkan hukuman yang lebih kejam dari sebelumnya.

~To be continued~

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!