Wahai Dewi Kesucian..., terima kasih! aku sudah puas.... dendam ku sudah terbalaskan....kini.., akan ku tepati janjiku padamu!
Di pagi yang cerah itu, Rei termenung seraya menatap langit. Kini ia telah mengerti jalan apa yang akan dilaluinya. Walau bukan pilihan, meski berlubang ataupun berduri, ia akan tetap melangkah diatasnya tanpa gentar sedikitpun.
" Kak Rei! ini!!! " ucap Rebecca seraya menyerahkan sekotak bekal pada Rei.
" Terima kasih, Rebecca " tutur Rei sambil mengelus rambut gadis kecil itu.
" Semangat!!!! " seru Rebecca seraya berlari menuju rumah.
Rei pun melambaikan tangannya pada kedua gadis bersaudari tersebut. Ia merasakan semangat yang luar biasa setelah menerima dukungan dari orang yang telah dianggapnya sangat berharga itu.
Ditengah perjalanan, Rei mendapati sekumpulan orang yang menghalangi jalannya.
" Hei kau! sepertinya aku baru melihatmu! " ucap salah seorang dari kumpulan itu seraya mendekatkan wajahnya pada Rei.
" Aku sedang tidak ingin mencari masalah! " tegas Rei.
" Hei, hei... baguslah jika kau memang tidak ingin mencari masalah dengan kami..., atau, akan ku penggal kepalamu! " ketus pria dengan mata yang melotot itu.
Mereka lalu melepaskan Rei seraya bergegas meninggalkannya. Pria itu berusaha untuk menjaga kestabilan emosi nya agar tidak menyebabkan kekacauan di kota itu.
" Selamat datang di serikat petualang! " sapa seorang wanita setelah mendapati Rei memasuki gedung serikat petualang.
" Aku ingin mendaftar sebagai petualang " ujar Rei.
" Apa kau hanya sendirian? aku menyarankan mu untuk bergabung dengan guild atau membentuk guild "
" Ya! seseorang telah mengajakku untuk bergabung dengan guild nya..., tapi aku tidak melihatnya disini "
" Kau ingin menunggunya? "
" Tidak! "
" Baiklah! kalau begitu silahkan tanda tangan disini " ujar wanita itu sambil mengeluarkan sebuah kertas.
sat... sat... set...
" Sudah "
" Baiklah, silahkan tunggu. aku akan mencari misi yang tepat untuk pemula sepertimu "
Wanita itu pun memeriksa buletin yang terpampang di dinding. Ia lalu menarik sebuah kertas yang menurutnya cocok untuk Rei.
" Ini adalah misi kelas D yang cocok untukmu! " ujar sang wanita seraya menunjukan sebuah kertas yang berisikan misi untuk sang petualang.
" Apa tugasnya? " tanya Rei dengan penasaran.
" Kau harus menemukan beberapa tanaman yang diperlukan untuk pengobatan "
" Hmm... lalu upahnya? "
" Bergantung dari berapa banyak tanaman yang kau kumpulkan. semakin banyak, maka akan semakin besar pula upahmu " tutur wanita cantik berambut pendek yang mengenakan kacamata itu.
" Baiklah! "
Rei pun menyetujui misi itu. Dengan semangat yang membara, Ia tergesa - gesa beranjak dari tempat tersebut. Setibanya di hutan yang sangat lebat, ia menggunakan kemampuannya dalam mendeteksi tanaman yang akan dicari. Hanya dalam hitungan menit, Rei telah mengumpulkan banyak sekali tanaman.
" Selamat datang di se...ri...kat... haaah?!!! " ucap sang wanita yang terkejut setelah mendapati Rei membawa empat karung berisikan tanaman tersebut.
" Apakah semua ini cukup? " tanya Rei seraya meletakkan tanaman itu.
" Bagaimana kau bisa mengumpulkan semua tanaman ini dalam sekejap? " tanya balik sang wanita dengan rasa ketidakpercayaannya.
Semua mata pun tertuju padanya. Mereka yang tergabung dalam beberapa guild menyarankan agar wanita itu memberikan upah yang layak untuk Rei.
" Jangan heran! aku pun pernah mengumpulkan tanaman sebanyak itu " sahut seorang pria.
" Betul! kita harus menghargai semangat dari para pemula! " tambah seorang gadis yang tergabung dalam guild pria tersebut.
" Baiklah! ini sangat membutuhkan banyak waktu..., tapi aku akan memberikan mu empat emas di muka " tutur sang wanita.
" Lalu sisanya? " tanya Rei yang masih berdiri dihadapannya.
" Kembalilah esok hari! aku akan melunasinya " ujar sang wanita.
" Baiklah! " ucap Rei yang mengambil koin tersebut seraya bergegas meninggalkan tempat itu.
Belum sempat ia tiba didepan pintu, Rei dikejutkan dengan kehadiran seorang pedagang yang tergesa - gesa sambil menghampiri wanita itu.
" Julia! Julia! " sorak sang pedagang.
" Ada apa?! nampaknya kau sedang kesulitan! " tanya Julia.
" Aku membutuhkan seorang pengawal, segera! " seru sang pedagang.
" Baiklah! baik!! siapapun!!! apakah ada yang bersedia untuk menjadi pengawalnya? " seru Julia seraya bersorak didepan para petualang.
Mereka yang mendengar permintaan pedagang itu pun bersikap acuh tak acuh. Hanya beberapa guild dari orang pemula saja yang bersedia menerimanya.
" Kami! serahkan tugas itu pada kami! " tegas seorang pria dengan dua orang guild nya.
" Ada lagi yang bersedia? " tanya Julia.
" Aku! " ujar Rei yang dengan sigap.
Guild itu pun memusatkan perhatiannya pada Rei. Mereka lalu berunding untuk memutuskan apakah tepat mengundang Rei bergabung kedalam guild mereka.
" Baiklah! silahkan pilih siapa yang akan menjadi pengawal mu! " ujar Julia.
Pedagang itu pun berpikir sejenak sebelum menentukan pilihannya. Ia lalu menatap ke arah guild itu dengan seksama.
" Aku memilih mereka! " tegas sang pedagang.
" Hore! akhirnya! " ucap sang gadis dalam guild tersebut.
" Zeta, Iris, Silvia..., kita harus menunjukan kemampuan guild ini! " ujar sang pria yang merupakan pemimpin guild tersebut.
" Baik kak " ucap Zeta
" Tentu saja! " sahut Iris.
" Hehehe... jangan remehkan kemampuan sihir ku, Kak Rodney! " sambung Silvia dengan rasa optimisnya.
Rei yang mendapati dirinya tidak terpilih pun dengan segera meninggalkan tempat itu.
" Hei, tunggu! " sahut Rodney kepada Rei yang telah berada dibalik pintu.
" Ya? "
Pria berbadan kurus dengan mengenakan topi itu pun menghampiri Rei seraya memegang pundaknya.
" Wahai anak muda! bergabunglah bersama kami! " seru Rodney.
" Apa keuntungan ku? " tanya Rei dengan serius.
" Keuntungan? lihatlah adik - adikku! mereka sangat cantik bukan? kau ku izinkan untuk mengencani salah satu dari mereka " tutur Rodney yang memberikan penawaran itu pada Rei.
Ketiga gadis itupun tersipu malu setelah Rei memandangi mereka. Bahkan, Zeta pun jatuh pingsan setelah melihat tampannya wajah pria yang menatapnya dengan serius itu.
" Aku tidak tertarik! " tegas Rei.
" Kalau begitu, bagaimana jika kita bagi hasil? "
" Berapa bagian ku? "
" Kau tiga puluh persen, kami tujuh puluh persen "
" Aku menolak! "
" Kau empat puluh, kami enam puluh "
" Aku tidak tertarik! "
" Ini adalah penawaran terakhir! " tegas Rodney dengan nada kesal.
Rodney pun tak memiliki pilihan lain. Ia merasa yakin bahwa Rei adalah pria yang tepat untuk membantunya memajukan guild.
" Bagaimana jika bagian mu enam puluh persen, kami empat puluh persen? " tanya Rodney yang semakin serius.
" Baiklah! "
" Hei! hei! hei! cepat selesaikan diskusinya! Kakek tua ini sudah menunggu! " sorak Julia.
Rei menyetujui pembagian hasil yang menguntungkan itu. Mereka lalu berjalan mengikuti sang pedagang menuju sebuah tempat untuk mempersiapkan keberangkatan rombongan itu.
~to be continued~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments