Bab 6. Eksekusi Masal

Teriknya mentari di pagi itu memaksa Felicia membuka matanya. Ia mendapati Rei berdiri dibalik jendela seraya menyingkap tirai.

" Tuan..., selamat pagi " sapa Felicia

" Ya! selamat pagi... kau sudah bangun? " tanya Rei yang menatap kearah luar jendela.

Gadis itu dengan sigap beranjak dari ranjangnya. Dengan penuh rasa bersalah, ia lalu bersujud.

" Maafkan aku tuan! aku tak menyadari posisiku sebagai pelayanmu " tutur Felicia.

" Berdirilah! "

" Baik! "

" Bersihkanlah tubuhmu! "

" Baik tuan! "

Tanpa pikir panjang, ia pun bergegas menuju kamar mandi. Felicia merasakan kecemasan yang mendalam melihat perubahan sikap tuannya. Ia segera menyudahi mandinya seraya mengenakan pakaiannya.

" Nona Felicia! " sapa Rebecca.

" Iya? ada apa? "

" Tuan Rei telah menunggu anda di ruang makan "

" Oh! baik! "

Felicia semakin mempercepat langkahnya dengan harapan ia tak tertinggal hal apapun dalam melayani tuannya.

" Tuan! " sapa Felicia yang mendapati tuannya sedang memasak sesuatu.

" Apa kau sudah makan? " tanya Rei.

" Belum, tuan " jawab Felicia

" Duduklah! "

Ia segera duduk setelah menerima perintah itu. Rasa lapar yang merasukinya memang tak dapat dibohongi. Tak terkecuali Jessica dan Rebecca yang terlebih dulu berada di meja makan tersebut.

" apa kau tidak bisa memasak? " tanya Felicia.

" Tentu saja bisa! hanya saja tuan Rei memohon untuk menggantikan tugasku " tegas Jessica.

" Tuan Rei...! aku lapar!!! " sahut Rebecca seraya memegang perutnya.

Rei pun termenung setelah mendengar suara yang pernah ia dengar itu.

Kakak! Zuzu lapar...!!!

Pria itu dengan sontak meneteskan air mata seraya bergeming. Terlintas di benaknya, sang adik tercinta. Suara Rebecca benar - benar meluluhlantakkan hati Rei. Ia lalu mengusap mata sambil mematikan api tungku.

" Rebecca! jaga sikapmu! " tegur Jessica kepada adiknya.

" Tidak mau! aku sudah menganggap tuan Rei sebagai kakakku! "

Ucapan dari gadis kecil itu telah menyentuh hatinya. Rei menghampiri mereka seraya membawa nampan yang berisikan tiga mangkuk besar sup ayam.

" Aromanya sangat sedap " puji Felicia.

" Betul sekali! aku jadi tidak sabar! " tutur Jessica.

" Untuk Rebecca, aku akan memberikan perlakuan khusus! " ujar Rei sambil mengelus rambut Rebecca.

Pria itu pun menyuapi Rebecca dengan penuh kasih sayang. Ia seperti merasakan kebahagiaan saat menyodorkan makanan ke mulut kecil nan mungil itu.

" Supnya sangat enak! aku suka tuan Rei! " ucap Rebecca yang tersenyum seraya mengunyah.

" Jangan panggil aku tuan..., kau boleh memanggilku kakak " ujar Rei kepada gadis itu.

" Benarkah...!? " ucap Rebecca dengan senyuman manisnya.

" Ya, tentu saja! dan kau Jessica..., panggil aku dengan namaku... aku bukan tuan mu! dan sepertinya kita sebaya " terang Rei.

" Baik, Rei! "

Mereka yang sedang menikmati hidangan itu pun harus terganggu dengan datangnya pasukan berkuda.

" Buka pintu! " bentak seorang pasukan seraya menggebrak pintu.

" Ada apa? " tanya Rei dengan menajamkan pandangannya ke pasukan tersebut.

" Hei kau! ikut kami! "

" Atas dasar apa kau memerintahkan ku? "

" Ini perintah dari hakim kerajaan! jika kau menolaknya, aku tak segan - segan menyeretmu dengan kuda ini! "

Rei berusaha untuk tetap tenang. Ia mencoba untuk mengikuti arahan pasukan itu seraya mencari tau apa yang telah terjadi.

" Tuan! " sorak Felicia yang berusaha menolong Rei.

" Biarkan, Felicia! kau tetaplah disitu bersama mereka! tolong jaga Jessica dan Rebecca! "

" Kakak...!!! " pekik Rebecca.

" Rei! " sorak Jessica dengan wajah khawatir.

Kembar bersaudari itu berusaha mengejar Rei. Namun usaha mereka dihalangi oleh Felicia.

" Apa kau tidak khawatir dengan Rei! "

" Tentu saja aku khawatir! tapi kita harus percaya padanya "

Felicia berusaha menenangkan si kembar bersaudari. Ia lalu membujuk mereka memasuki rumah.

Sementara, rombongan berkuda itu membawa Rei menuju aula desa. Ia mendapati tangannya terikat oleh seutas tali. Pria itu hanya bisa terdiam tanpa sepatah kata pun.

" Kami telah membawanya! " ucap seorang ksatria pemimpin dari pasukan tersebut.

" Bagus! bawa dia kemari! kami akan memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatannya! " seru seorang Hakim desa dengan beberapa penyihir pengawalnya.

Begitu banyak sepasang mata yang menyaksikan persidangan itu. Mereka dengan senangnya melihat Rei duduk bersimpuh dengan tangan terikat.

" Saya selalu hakim tertinggi di Desa Ellen ini, memutuskan bahwa pemuda..., hei! siapa namamu? " tegur sang hakim.

" Rei "

" Pemuda yang bernama Rei ini dinyatakan bersalah atas tuduhan pembunuhan dan membuat keresahan bagi masyarakat "

" Apa hukuman yang akan padukan berikan kepadaku? " tanya Rei.

" Tentu saja! kau akan di hukum pancung! "

Rei lalu digiring menuju alun - alun desa. Di sana telah menanti sebuah guillotine besar yang akan mengeksekusinya. Tanpa rasa takut sedikitpun, Rei membaringkan lehernya pada sebuah celah di papan tersebut.

" Cepat bunuh dia! "

" Lenyaplah kau monster! "

Semua sorakan itu penuh dengan kebencian yang mendalam terhadapnya. Dengan pandangan tajam, ia mengamati setiap mata lalu mendapati seorang pria berbadan gemuk yang pernah ditemuinya.

" Rasakan! pergilah kau ke neraka! dasar monster! ha ha ha!!! " ketus pria itu.

" Monster itu harus segera dilenyapkan! " ucap salah seorang pengawalnya.

Rei termenung sejenak. Ia menerawang melalui sihir penglihatan yang membuat pupil matanya memerah pekat. Dengan sihir itu, ia mengerti. Iblis telah merasuki semua warga di sana.

Desa Ellen tersebut telah menjadi tempat bersarangnya para iblis. Tak heran bila perilaku mereka mencerminkan sifat sejatinya. Perbudakan, pemerasan, pemerkosaan, korupsi pejabat dan banyak lainnya yang telah menjadi tradisi sehari - hari ditempat itu.

" Tuan!!! " sorak Felicia yang terkejut setelah melihat Rei.

Felicia! dengarkan aku!

Gadis itu mendengar suara Rei dari kejauhan. Mereka saling berkomunikasi melalui sihir telepati.

Aku mendengar mu tuan!

Felicia! bawa Jessica dan Rebecca pergi dari sini! usahakan kalian berada sejauh lima kilometer dari desa ini!

Baik tuan! saya mengerti!

Felicia lantas menuju rumah si kembar bersaudari. Ia membujuk Jessica dan Rebecca untuk pergi seraya mengatakan bahwa Rei telah menunggu mereka di suatu tempat.

Tuan! aku menunggumu di pusat kota Ravel

Baiklah! aku akan segera ke sana!

Rei mengakhiri sihir telepati nya. Ia masih bergeming di alun - alun itu. Lalu sang hakim pun menyerukan agar pengeksekusian segera dilakukan.

Seketika langit berubah menjadi gelap. Angin pun berhembus tak tentu arah. Mereka yang menyadari perubahan cuaca itu segera beranjak menuju rumah.

" Kenapa ini? seperti ada tembok yang menghalangi! " ujar seorang warga setelah mendapati tubuhnya terbentur sesuatu yang tak kasat mata.

Ia sedari tadi telah menciptakan sihir penghalang yang memutari alun - alun itu. Menghalangi warga desa yang berniat mengungsikan diri. Lalu tanpa disadari, mereka sedang dalam marabahaya.

Tibalah saatnya bagi hujan dan badai menunjukkan aksinya. Dengan rasa cemas, Sang Hakim memberikan isyarat kepada para Jagal untuk melepaskan seutas tali belenggu pisau yang akan memutuskan kepala Rei.

Swoof...

Tunk...

Rei tiba - tiba menghilang.

" Kemana dia! Penyihir! cepat lacak monster itu! " seru Sang Hakim kepada para penyihir.

Seluruh warga tercengang setelah mendapati Rei terbang melayang - layang di atas langit.

" WAHAI PARA MANUSIA! YANG TELAH DIRASUKI OLEH IBLIS TERKUTUK! KALIAN TELAH MENYIMPANG DARI AJARAN DEWA! TERIMALAH HUKUMAN DARI APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN DI DUNIA INI! "

Para penyihir berusaha melawan Rei seraya mengarahkan sihirnya. Namun, sihir itu tak berpengaruh apapun terhadapnya. Rei kemudian mengangkat sebelah tangan dengan telapak yang menengadah keatas langit seraya merapalkan sihir dalam hitungan detik

"PURIFICATION OF SINS!"

boom... duar....

Muncul gelombang sihir yang amat besar menyapu seluruh permukaan di desa tersebut. Semua yang terjebak didalamnya pun lenyap seketika.

Jangkauan sihir tersebut amatlah luas hingga menimbulkan hempasan angin yang hampir mengenai Felicia beserta si kembar bersaudari itu.

" Nona Felicia! apa yang sedang terjadi di sana? " tanya Jessica.

" Jangan di pikirkan! teruslah berlari! " seru Felicia.

Mereka berlari sejauh mungkin agar tidak terkena jangkauan sihir yang amat dashyat tersebut. Hingga nampak dari kejauhan, Rei berjalan menuju mereka.

" kakak!!! " sorak Rebecca yang mendapati Rei terdiam seraya menanti mereka.

Dengan penuh kegembiraan, gadis kecil itu berlari dengan cepat lalu memeluk Rei.

" Kakak! kenapa kamu meninggalkan kami?! " ucap Rebecca dengan wajah cemberut.

" Aku harus memastikan apakah kota Raven aman untuk kita " ujar Rei seraya menggendong Rebecca dibelakang punggungnya.

" Lain kali jangan seperti itu! janji! " tegas Rebecca sambil memeluk Rei.

" Baiklah! aku berjanji demi adikku ini " tutur Rei.

~to be continued~

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!