Semilir angin berhembus ditengah malam yang dingin itu. Dengan penuh kegelisahan, Rei mengenakan jubah mandinya lalu bergegas menuju kolam yang berisikan air hangat tersebut.
" apa aku boleh bergabung? " tanya Rei pada seorang pria yang ia temui beberapa waktu lalu.
" Ya! tentu saja! " jawab pria itu dengan sedikit rasa cemas dihatinya.
Rei lalu menyandarkan tubuhnya pada pembatas kolam. Ia menutup mata seraya menghempaskan nafas.
" Namamu? " tanya Rei pada pria itu.
" Phillip " jawab sang pria dengan spontan.
Dengan mata yang terpejam, ia merenung. Rei dengan segala kegelisahannya terus memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Kekuatan fisikku sepertinya meningkat secara alami setelah memusnahkan desa itu... apa karena tulisan di punggung ini?
" Maaf, apa aku boleh mengetahui namamu? "
Rei yang mendengar ucapan itu pun dengan sontak membuka mata.
" Rei " ucap Rei dengan sekilas.
" Apakah kau tau kabar tentang musnahnya desa Ellen? " tanya Phillip.
" Ya! aku mendengarnya dari pedagang yang lewat "
" Benar! isu itu telah menyebar ke seluruh kerajaan "
Kedua pria itu saling berbincang satu sama lain. Sementara para gadis terlihat heboh hingga suaranya terdengar oleh mereka.
" Tidak!!! aku ingin mandi bersama kakak Rei!!! " sorak Rebecca dengan wajah kesal.
" Rebecca! kau harus menyadari bahwa dirimu adalah seorang gadis! " ujar Jessica seraya memeluk adiknya.
" Rasakan ini!!! " ucap Rebecca seraya menghempaskan air kolam ke wajah Jessica.
" Hahaha " Felicia pun tertawa karenanya.
byur....
" Aaaah!!! " jerit Felicia.
Jessica pun tak mau kalah. Ia mendorong air dengan tangannya sekuat tenaga hingga mengenai wajah Felicia.
" Hahaha " tawa Jessica.
" Kenapa aku yang jadi sasaran? "
" Rasakan ini!!! "
byur...
Felicia pun terkejut setelah menerima semburan air dari Rebecca. Ia lalu membalasnya hingga terjadi pertarungan saling menyembur diantara mereka.
" Dasar kaliaaan!!! "
byur...
Kedua pria itu pun terganggu oleh tindakan mereka yang seperti anak kecil.
" Sepertinya mereka sangat bergembira " ujar Phillip.
" Ya! Mereka memang selalu seperti itu "
Terlintas dipikiran Phillip akan guild yang baru dibentuknya. Ia berniat akan memajukan guild itu. Pria itu pun berinisiatif untuk mengundang Rei bergabung ke dalam guild nya.
" Rei, apa kau pernah bergabung dengan guild? "
" belum "
" Apa kau ingin bergabung dengan guild ku? "
" Kau punya guild? "
" Ya! tentu saja! walaupun terbilang baru "
" Hmm... sepertinya menarik "
" Baiklah! besok pagi aku akan menunggumu di serikat petualang! "
Phillip pun beranjak dari tempatnya seraya meninggalkan Rei. Ia memiliki firasat bahwa bergabungnya Rei dalam guild nya adalah keputusan yang tepat.
Tak lama kemudian, Rei beserta para gadis bergegas menuju kamarnya masing - masing. Ia lalu mengangkat Rebecca yang telah mengantuk seraya meletakan tubuhnya ke atas kasur dengan lembut.
" Tuan..., apa yang akan anda lakukan malam ini? " tanya Felicia yang turut mengantuk.
" Aku akan pergi melihat - lihat disekitar " ujar Rei.
" Apa perlu ku temani? "
" Tidak usah! kau tidur saja "
" Baik... tuan " ucap Felicia seraya menutup pintu.
Rei pun mengeluarkan sihir teleportasinya. Ia lalu tiba di desa Ellen yang telah rata dengan tanah tersebut. Dengan diselimuti rasa gelisah, ia bersorak ke arah langit.
" Wahai dewa!!! apa yang harus aku lakukan!!! apakah dengan memusnahkan semua jiwa yang tak bersalah ini, sudah cukup untuk meyakinkan ku bahwa kalian merasa puas?!!! " sorak Rei dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan badai yang luar biasa.
Seketika muncul cahaya putih yang sangat bersinar. Cahaya itu lalu merubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik yang berpakaian serba putih dengan sayap yang membentang dikedua sisinya.
Rei dengan terlunta - lunta melangkahkan kakinya menuju wanita itu.
" Kemarilah, Rei! " ucap sang wanita seraya merentangkan tangannya yang bersiap untuk memeluk Rei.
Pria itu pun menitikkan air mata setelah mengetahui wanita yang ada dihadapannya adalah seorang dewi. Rei tergesa - gesa menghampirinya lalu memeluk tubuh makhluk supranatural itu dengan erat.
" Wahai dewi kesucian..., aku tak mampu lagi melanjutkan tugas yang mengerikan ini " ujar Rei yang menangis tersedu - sedu.
" Rei, dengarkan aku..., kau harus tangguh! " tutur sang dewi.
" Bagaimana bisa aku tangguh? sedangkan tugasku adalah membantai orang - orang yang belum tentu bersalah! aku selalu dihantui oleh nyawa yang tak berdosa itu! "
" Rei, bersiaplah! kau akan melihat kebenarannya "
Sang dewi pun mengibaskan sayapnya seraya terbang menuju langit. Rei lalu mengencangkan pelukannya pada sang dewi yang terbang secepat kilat.
" Rei! pejamkan matamu! " seru dewi kesucian.
Ia lalu memejamkan kedua matanya. Suasana yang berguncang itu pun sekejap hilang. Rei mendapati tubuhnya merasakan hawa yang lembut serta suasana yang mampu menenangkan jiwanya.
" Rei, bukalah matamu " tutur sang dewi.
" Apakah ini kahyangan? " tanya Rei seraya melihat - lihat di sekelilingnya.
" Ya! betul! memang berbeda dengan tempat pertemuan pertama kita..., dan inilah kahyangan yang sesungguhnya "
Hamparan tanah yang luas dan lembut seperti kapas disertai pepohonan yang rimbun serta ranum buahnya. Aroma wewangian dari taman bunga yang bermekaran itu pun membuat hati menjadi senang alangkah bahagia ketika melihatnya.
Rei terkesima melihat suasana yang indah itu. Matanya tak berkedip sedikitpun. Ia mendapati para malaikat yang saling bahu - membahu dalam melaksanakan tugas.
" Rei, ikuti aku! " seru sang dewi kesucian.
" Baiklah " jawab Rei seraya mengikuti langkah kaki sang dewi.
Mereka lalu menyusuri jalan setapak menuju sebuah tempat bersemayamnya ruh - ruh manusia yang sudah meninggal.
" Selamat datang, wahai dewi kesucian " sapa malaikat penjaga setelah mendapati kedatangan sang dewi bersama Rei.
Rei kemudian mengamati daerah itu dan mendapati banyaknya bola cahaya yang melayang - layang.
" Rei! aku akan memberimu kesempatan untuk bertemu kembali dengan ruh mereka yang telah tiada " tutur sang dewi.
" Baiklah! aku mengerti " ujar Rei yang tidak ingin menyia - nyiakan kesempatan itu
" Ruh siapa yang ingin kau temui? " tanya sang dewi.
" Zuzu! " tegas Rei tanpa pikir panjang.
" Baiklah "
Sang dewi pun mengarahkan sihirnya pada salah satu bola cahaya. Kemudian bola itu menghampiri Rei seraya berputar - putar di sekelilingnya.
" Wahai ruh! bangkitlah " ucap sang dewi.
zwif...
Bola cahaya itu pun seketika berubah membentuk wujud seorang gadis kecil. Sosok itu tetap mempertahankan penampilan semasa hidupnya.
" Zuzu? " ucap Rei dengan rasa ketidakpercayaannya.
Rei tercengang dengan mata terbelalak. Ia tidak percaya bahwa wujud yang ada dihadapannya benar - benar persis seperti Zuzu.
" Kakak..." sapa gadis kecil itu.
Ia lalu menangis seraya memeluk wujud adik kandungnya. Kebahagiaan yang meliputi rasa rindu pun akhirnya terlampiaskan setelah melihat keberadaan sang adik tercinta.
" Zuzu...!!! " sorak Rei dengan berlinang air mata.
" Kakak! ikuti aku! " seru Zuzu seraya menarik tangan Rei.
" Kita mau kemana Zuzu! "
" Zuzu ingin pergi ke taman yang indah itu bersama kakak! " ucap Zuzu seraya mengulurkan tangannya menuju taman surga yang indah itu.
" Zuzu, pelan - pelan! kau bisa terjatuh! "
Rei pun menghabiskan waktu seraya bermain dengan adiknya. Ia memetik bunga yang indah untuk sang adik. Memanjat sebuah pohon untuk mengambil buahnya lalu dimakan bersama. Berlarian kesana kemari hingga terbaring lelah diatas rerumputan.
" Zuzu, walaupun pertemuan ini singkat, aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu lagi "
" Zuzu pun bahagia bisa bermain bersama kakak " ujar gadis kecil itu dengan senyuman.
Sang dewi pun menghampiri mereka seraya mengingatkan bahwa sihirnya telah mencapai batas.
" Zuzu, dengarkan aku! aku akan berjuang menuntaskan tugasku demi bertemu denganmu lagi " ujar Rei yang berlutut seraya menggenggam kedua pundak sang adik.
Zuzu hanya bisa tersenyum. Ia lalu memeluk Rei dengan erat. Perlahan demi perlahan, wujud itu semakin memudar.
" Zuzu, jaga dirimu baik - baik! " ungkap Rei yang mendapati tangannya telah kehilangan sebagian wujud sang adik.
Wujud itu pun menghilang seraya berubah kembali menjadi bola cahaya yang pergi meninggalkan Rei.
" Zuzu!!! aku sangat menyayangimu!!! " sorak Rei pada bola cahaya yang sudah menjauh itu.
Ia masih belum merasakan kepuasan dalam pertemuan singkat yang amat berharga itu. Sempat terlintas di benaknya untuk meminta sang dewi mengeluarkan sihirnya kembali. Namun, hal itu sangatlah tidak pantas bagi seorang manusia seperti dirinya.
~To be continued~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
anggita
ok thor.. mampir ng👍like saja.. smoga novelmu sukses.. ✌
2022-11-21
1