Didalam keputus-asaan yang menyelimutinya, Rei terdiam seribu kata. Tiada lagi yang bisa dilakukan oleh pria itu, selain mempersembahkan dirinya yang terus menerus menjadi bulanan Helena. Rei yang selama ini dikenal kuat dan tegar dalam menghadapi apapun, kini harus tertekan dalam cengkeraman sang gadis iblis.
Wahai Dewi..., Akankah diriku bertemu dengan Zuzu di alam sana, batin Rei.
"Tuan! Tuan!!!" Terdengar suara Felicia yang berusaha menyadarkan Rei.
Rei seketika tersadar saat mendengar suara itu. Ia mengetahui bila Felicia sedang berupaya melakukan telepati kepadanya. Dengan penuh keyakinan, Rei kemudian melakukan komunikasi dengan gadis tersebut.
"Felicia! Dimanakah dirimu?"
"Aku bersembunyi dibalik cincinmu Tuan!"
"Begitukah ...."
"Tuan?"
"Felicia, Jessica dan yang lainnya ...."
"Jangan khawatir tuan! yang lebih penting adalah dirimu! Aku akan merapalkan sihir regenerasi pada tubuhmu lalu merubah wujudku."
Helena tak menyadari bila Rei telah berkomunikasi dengan gadis tersebut melalui telepati. Ia lalu mendapati Rei tersenyum padanya. Merasa dipermainkan, gadis tersebut pun mengangkat tubuh Rei tinggi-tinggi. Dengan pisau besar yang tergenggam kuat, Helena dengan segera melayangkan senjatanya menuju leher pria tersebut.
TINK!!!
Belum sampat senjata itu menebas leher Rei, ia dikejutkan dengan gumpalan asap yang berusaha menutupi keberadaan pria tersebut. Helena pun merasakan ada sesuatu yang menghalangi gerak pisau besarnya itu. Setelah kumpulan asap tersebut mereda, ia lalu mendapati Rei menahan serangannya dengan sebilah pedang.
"Aku tidak tahu siapa namamu, dan apa tujuanmu! yang aku tahu, aku akan menghukummu!" ucap Rei seraya menangkis serangan Helena.
Gadis iblis itu dengan segera menyingkir dari hadapan Rei setelah mendapati tubuh pria tersebut, utuh kembali dengan sendirinya. Helena menjadi murka, setelah mengetahui usahanya sia-sia.
"Berapakali pun kau berusaha menyambungkan tubuhmu, aku akan tetap memotong-motong tubuh yang tak berguna itu!" ketus Helena dengan raut wajah murka seraya menghampiri Rei dengan cepat.
"Cobalah!" Rei mengacungkan pedangnya alih-alih menerima serangan Helena.
SZEB!!!
Namun, imbas dari serangannya malah mengakibatkan lengan sang gadis iblis yang menggenggam pisau besar itu terputus karena tebasan pedang yang tajam nan mengkilap tersebut. Rei kemudian mencengkram lehernya dengan kuat seraya mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi!
"Le...lepaskan a...ku ...." lirih Helena dengan terbata.
"Kurang kencang kah?" Rei berupaya mempermainkan gadis iblis tersebut.
Helena merasakan sesak yang amat mendalam karena cengkraman yang semakin kuat itu. Dengan lidah yang menjulur keluar, ia memberontak seraya menendang Rei terus menerus. Setelah berhasil memojokkan Helena, pria itu kemudian menyeret lehernya menuju bawah secepat mungkin lalu membanting tubuhnya ketanah berulang kali.
Gadis iblis itu pun semakin menderita setelah mendapati tubuhnya terbentur berulang kali. Kucuran darah yang menghiasi medan pertarungan itu, tak cukup membuat Helena merasa yakin bila kematian enggan mendatanginya.
Rei yang telah merasakan sakitnya penderitaan, melampiaskan dendamnya pada gadis iblis tersebut. Setelah merasa puas membanting tubuh nan lemah tak berdaya itu, ia kemudian mengangkat leher Helena tinggi-tinggi dan berupaya mengintimidasi gadis iblis tersebut.
"Masih hidupkah?" tanya Rei setelah mendapati Helena lemah tak berdaya.
"Ku...kuurang hajar kau ...." ucap Helena yang semakin terbata-bata.
"Panggillah teman priamu itu kehadapanku," Rei menjadi murka melihat sifat keras kepala sang gadis iblis.
"Shield of God!" Rei seketika mengeluarkan sihir perisainya setelah mendapati semburan api yang berusaha menghantamnya.
ZWOOF...
Ia lalu membalikkan tubuhnya dan mendapati Venom yang berada di kejauhan. Rei telah menduga pria itu akan hadir setelah dirinya berhasil menaklukkan Helena. Venom dengan segera melesatkan tubuhnya menuju Rei alih-alih merebut tubuh sang gadis iblis yang tak berdaya tersebut.
Namun, Rei dapat mengantisipasi pergerakan Venom. Ia menyabet lengan pria tersebut secepat kilat seraya menjauh darinya. Venom pun terkejut setelah mendapati lengannya terputus akibat sabetan pedang itu. Ia kemudian berupaya menggunakan sihir regenerasi guna mengembalikan lengannya seperti semula.
"T-tidaakkk!!! kembalikan tanganku!!!" Venom menjerit setelah mendapati sihir regenerasinya tak bereaksi sedikitpun.
"Barang siapa yang telah tertebas pedang ini, maka sihir dalam bentuk apapun takkan bisa menyatukannya kembali!" tutur Rei dengan pandangan tajamnya.
Pria itu tanpa rasa sungkan, melempar tubuh Helena sekuat mungkin ke arah tanah. Ia kemudian menghampiri tubuh tersebut secepat kilat seraya bersiap menghunuskan pedangnya. Rei bersama Felicia yang telah menjelma menjadi pedangnya, menusuk perut Helena dan mendorongnya menuju tanah hingga menciptakan banyak retakan akibat benturan tubuh tersebut. Tamatlah riwayat gadis iblis itu.
Sementara, disudut lain medan pertarungan, Venom semakin dihantui rasa ketidakpercayaannya. Ia terus menerus menjerit hingga menyebabkan tubuhnya bertransformasi menjadi sosok monster iblis yang menyeramkan. Venom yang telah menjelma menjadi monster iblis pun menaruh dendam yang amat mendalam pada pria yang telah menghabisi nyawa anak buahnya tersebut.
"Persetan kau Dewa Kehancuran!!! aku akan melenyapkanmu!!!" Venom mengamuk seraya menghantamkan kedua tangannya menuju tanah berulang kali.
Setelah mencabut pedang saktinya dari perut Helena, Rei kemudian memusatkan perhatiannya menuju Venom yang telah bersiap untuk menyerangnya. Tanpa basa-basi, reinkarnasi Dewa Kehancuran itu dengan segera melesatkan tubuhnya secepat kilat seraya menghunuskan pedangnya pada tubuh monster iblis tersebut. Venom yang mendapati perutnya terhunus pedang pun menjerit kesakitan. Ia berusaha menghalau Rei dengan tangannya yang semakin membesar.
Rei kemudian mencabut pedangnya dari perut monster tersebut. Setelah merasa dipojokkan, Venom dengan segera menghampiri Rei seraya memukul tubuhnya berulang kali. Rei yang dengan sengaja menerima pukulan itu pun terpental sangat jauh akibat serangan yang bertubi-tubi tersebut. Namun, ia mampu menyeimbangkan tubuhnya dan melayang dengan sempurna di atas langit.
"Hanya sampai disitu kah nyalimu dalam melawanku?" Rei mengintimidasi monster tersebut.
"Kauuu haanyaaalaah seekor tikus bagiku!!! ketus Venom dengan raut wajah murka.
Muak dengan perkataan Rei, Venom dengan wajah beringasnya pun segera mengeluarkan sihir api yang luar biasa dari mulutnya. Itu merupakan upaya terakhirnya yang berharap dapat melenyapkan pria tersebut. Rei yang mendapati hal itu dengan segera mengarahkan pedangnya pada monster tersebut seraya merapalkan sihir apinya.
"Catasthropic Flames!!!" ucap Rei seraya merapalkan sebuah sihir yang mematikan.
BUZZ...!!!
Kedua sihir itu pun beradu sama kuatnya. Rei dengan rasa tenang, menahan sihir yang menyembur dari mulut Venom. Ia tak ingin semakin memberikan beban yang terlalu besar pada Felicia yang telah menjelma sebagi pedangnya. Hanya dengan sekali dorongan, ia pun mampu memojokkan Venom. Elemen apinya semakin membesar hingga membuat iblis itu terpental sangat jauh akibat tak mampu menahan terjangan sihir yang amat mematikan tersebut.
Venom semakin tak berdaya setelah merasakan sengatan panas yang luar biasa akibat menerima serangan sihir api yang mematikan itu. Rasa perihnya pun semakin tak tertahankan sehingga membuat monster iblis tersebut jatuh tersungkur ke atas tanah.
Rei yang mendapati Venom terbaring tak berdaya, dengan segera menghampirinya. Ia lalu mencengkeram leher monster iblis tersebut seraya mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
"Ada kata terakhir?" tanya Rei dengan penuh ketenangan.
"Y-yaang Mu...lia... Lu...ci...fer ...." ucap Venom dengan terbata.
Rei menggenggam erat sebilah pedangnya, menghela nafasnya, lalu melayangkan pedang tersebut menuju leher Venom.
Zwebbb ...
Setelah menebas kepala monster iblis itu, ia kemudian membakar tubuhnya lalu menghempaskan abunya menuju langit.
Setelah menyudahi pertarungan itu, Rei menyeka pedangnya dari lumuran darah yang masih segar. Ia lalu mengangkat pedang yang tajam tersebut tinggi-tinggi ke arah langit seraya merapalkan sebuah sihir.
"In honor of the god of justice, in honor of the god of prosperity, in honor of the god of fortune, in honor of the god of peace, in honor of the goddess of fertility, in honor of the goddess of purity, in honor of the goddess of wisdom. And for the sake of my honor as the reincarnated god of destruction, I will destroy the demonic remains! Bless this world as it was before!!!"
Dunia dimana Rei berada pun seketika lenyap dan berganti dengan suasana disekitar kota Raven yang sepi dan senyap. Rei kemudian terbang menuju pusat dari kota tersebut seraya merapalkan sihir untuk yang kedua kalinya.
"Aku memohon kepada seluruh para dewa di langit, kembalikan ruh mereka seperti semula!"
Keajaiban pun datang setelah Rei merapalkan sihirnya. Terlihat sekumpulan ruh yang terbang dari langit seraya memasuki tubuh-tubuh tersebut. Seluruh warga, pasukan kerajaan, hingga para bandit pun dengan segera membuka mata mereka setelah masuknya ruh-ruh itu. Tak terkecuali Jessica, Rebecca dan para gadis serigala.
~To be continued~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments