Alam kahyangan kembali didatangi oleh para Dewa-dewa penjaganya. Nampak keenam Dewa dan Dewi, tengah melayang turun menuju tanah sambil mengibaskan kedua sayap-sayap besar mereka.
Ribuan malaikat pun telah berkumpul dan membentuk dua barisan guna memberikan jalan bagi Dewa Keadilan yang tengah berjalan sambil membopong jasad Rei menuju tempat persemayaman Dewa Kehancuran.
Setibanya ditempat persemayaman, Dewa Keadilan meletakkan tubuh mungil dan lusuh itu ke atas sebuah pilar mimbar seraya berdiri disamping mimbar tersebut. "Wahai seluruh penghuni alam Kahyangan! Berikan anugerah kalian pada anak kecil yang sangat suci dan tidak berdosa ini!" seru sang Dewa Keadilan sambil berdiri membelakangi para Dewa serta ribuan malaikat yang turut menyaksikannya.
Seluruh entitas itu kemudian mendongakkan wajahnya masing-masing keatas langit seraya menempelkan kedua telapak tangan didepan dada lalu menutup kedua mata.
Mereka lalu memunculkan sebuah bola cahaya berwarna putih yang amat besar dan bersinar terang yang apabila bola cahaya itu jatuh ke bumi, maka seluruh kegelapan akan musnah.
Dewa Keadilan yang berdiri dihadapan mereka pun seketika mengangkat tangan kanannya, sambil mengarahkannya menuju bola cahaya yang sangat besar itu. "Wahai anak kecil yang tidak berdosa! Bangkitlah kembali! Bangkitlah dan bangkitlah! Jadilah titisan yang layak dalam mengemban tugas-tugas Dewa leluhur kami!" ucapnya dengan mata yang membelalak.
Ia kemudian mengarahkan bola cahaya itu menuju tubuh Rei secara perlahan. Seketika muncul pantulan gelombang sinar yang luar biasa menyilaukan yang membuat Rei sontak membuka kedua matanya.
Namun, Rei tetap terdiam dan terbaring tanpa bergerak sedikitpun. Ia terus menerus membelalakan matanya ke arah langit dengan pandangan yang menatap tajam.
Dewa Kemakmuran seketika melangkahkan kakinya dan berdiri tepat didepan pilar mimbar. Ia lalu mengulurkan sebelah tangannya ke arah tubuh Rei yang terbaring lemah diatas mimbar tersebut. "Aku, Dewa Kemakmuran, menganugerahkanmu seluruh kekuatan dan ilmu pengetahuanku! Jadilah sosok yang dapat memberikan kemakmuran bagi orang-orang disekitarmu!" ucapnya seraya mengeluarkan sihir berwarna kuning keemasan dari telapak tangannya, ia pun mengarahkan sihir itu ke tubuh Rei.
Kemudian, Dewa Kedamaian pun berjalan dan berhenti tepat didepan mimbar tersebut. "Aku, Dewa Kedamaian, menganugerahkanmu seluruh kekuatan dan ilmu pengetahuanku! Jadilah sosok yang dapat memberikan kedamaian bagi orang-orang disekitarmu!" ucapnya seraya mengeluarkan sihir berwarna hijau terang dari telapak tangannya, ia pun mengarahkan sihir itu ke tubuh Rei.
Dewa Keberuntungan pun mengambil gilirannya seraya berjalan dan berdiri tepat didepan mimbar. "Aku, Dewa Keberuntungan, menganugerahkanmu seluruh kekuatan dan ilmu pengetahuanku! Jadilah sosok yang dapat memberikan keberuntungan bagi orang-orang disekitarmu!" ucapnya seraya mengeluarkan sihir berwarna emas yang menyilaukan dari telapak tangannya, ia lalu mengarahkan sihir itu ke tubuh Rei.
Dewi Kesuburan kemudian berjalan menghampiri Dewa Keberuntungan yang tengah berdiri disebelah Dewa Kedamaian, sambil menghadap meja mimbar. "Aku, Dewi Kesuburan, menganugerahkanmu seluruh kekuatan dan ilmu pengetahuanku! Jadilah sosok yang dapat memberikan kesuburan dan membimbing keturunan-keturunan muliamu, menuju jalan yang benar!" ucapnya seraya mengeluarkan sihir berwarna merah darah dari telapak tangannya, ia pun mengarahkan sihir itu ke tubuh Rei.
Dan yang berikutnya, adalah Dewi Kesucian. Ia berjalan menuju barisan para Dewa yang berdiri tepat didepan meja mimbar. Namun, Dewi Kesucian melangkah sedikit lebih maju menuju tubuh Rei. "Aku, Dewi Kesucian, dengan penuh kasih sayang yang amat mendalam, kuanugerakan dirimu seluruh kekuatan dan ilmu pengetahuanku. Jadilah sosok yang sangat membenci kekotoran, kemunafikan, kedengkian, kecurangan, kejahatan, dan kemungkaran." Sang Dewi kemudian mengeluarkan sihir berwarna putih ditangannya, seraya mengusapkan sihir itu dari ujung kepala hingga ujung kaki Rei yang masih membelalakan matanya.
Setelah menyingkir dari meja mimbar, Dewi Kesucian mengisi barisan dan berdiri tepat disamping Dewi Kesuburan, sambil menunduk dan menutup kedua matanya.
Kini, Dewa Keadilan-lah yang menjadi penutup ajang penganugerahan sihir para Dewa kepada Rei. Ia kemudian berdiri sambil menghadap meja mimbar. "Aku, Dewa Keadilan! Ku anugerahkan dirimu seluruh kekuatan dan ilmu pengetahuanku! Jadilah sosok yang dapat memberikan serta menegakkan keadilan setinggi-tingginya! Jadilah pengadil yang tegas serta hukumlah para iblis-iblis durjana itu!" tegasnya seraya mengeluarkan sihir berwarna hijau pudar dari telapak tangannya, ia pun mengarahkan sihir itu ke tubuh Rei.
"Kami Para Dewa, merestui kebangkitan dirimu, wahai anak manusia!" kata seluruh Dewa secara serempak seraya mengarahkan tangan mereka menuju tubuh Rei.
Tubuh kecil itu seketika tertutup oleh campuran seluruh gelombang sihir yang dikeluarkan dari tangan para Dewa. Paduan sihir itu seolah-olah saling berebut tempat untuk masuk kedalam tubuh Rei dan memunculkan sinar yang amat luar biasa menyilaukan.
Beberapa saat kemudian, sihir itu pun memudar. Rei kembali bernafas meski dalam kondisi tertidur tanpa mengenakan sehelai pakaian, dengan tubuh yang telah bertransformasi dari tubuh kecil yang sangat kerempeng, menjadi tubuh besar dan kekar bak binaragawan profesional.
Wajahnya sangat tampan dan rupawan melebihi ketampanan pangeran manapun. Rambutnya hitam kemilau, otot-otot lengannya sangatlah kokoh serta bentuk sixpack sempurna yang hadir menghiasi perutnya.
Seluruh malaikat pun sontak mengangkat tangan kanan mereka berulang-ulang secara serempak, seraya bersorak dan menyambut kedatangan serta kebangkitan penerus Dewa leluhur mereka.
"Dewi Kesucian, bawalah tubuhnya ke tempat yang kau inginkan. Berikan dia pengetahuan tentang alam kahyangan setelah terbangun dari tidurnya. Ingat! Setelah itu, kau harus melepaskannya ke suatu daerah yang penduduknya telah terhasut dan menjadi budak para iblis-iblis durjana itu!" titah Dewa Keadilan sambil menatap wajah Dewi Kesucian dengan pandangan yang sangat tajam.
"Baik." pungkas Dewi Kesucian. Ia lalu mengulurkan kedua tangannya kebawah tubuh Rei dan membopongnya serta membawanya terbang menuju suatu tempat yang sangat sesuai dengan keinginan Sanh Dewi.
Sambil mengibaskan kedua sayapnya dan terbang melayang diatas langit alam kahyangan, Dewi Kesucian terus menatap penuh kagum pada wajah Rei yang telah berubah total menjadi pria dewasa yang sangat tampan rupawan.
Perhatiannya seketika tertuju pada sebuah taman yang indah dengan hamparan rumput yang luas. Sang Dewi lalu memutuskan untuk singgah ditempat tersebut. Aku harus memerintahkan Felicia, untuk menemani perjalanannya, pikir sang Dewi setelah meletakan tubuh Rei diatas rerumputan yang sangat hijau.
Sang Dewi kemudian kembali mengibaskan kedua sayap yang besar dari sisi punggungnya, seraya terbang melayang menuju langit dan meninggalkan Rei yang tengah tertidur pulas ditaman itu.
Setibanya di istana pribadinya yang sangat megah, Dewi Kesucian pun menghimbau kedua putrinya. "Angelina! Felicia! Kemarilah!" soraknya sambil berdiri tepat ditengah Aula istana.
Seketika muncul kehadiran dua malaikat cantik nan anggun yang berjalan menuruni tangga emas seraya menghampiri sang Dewi. Mereka kemudian duduk bersimpuh dihadapannya. "Kami memenuhi panggilanmu wahai ibunda," ucap Felicia.
"Felicia, aku akan memberikan tugas yang sangat mulia padamu," kata sang Dewi.
Angelina pun sontak menoleh ke arah Felicia.
"Tugas apakah itu, wahai bunda?" tanya Felicia dengan raut wajah penasaran.
"Apa kau sudah mengetahuinya?" sang Dewi kembali melemparkan pertanyaan pada Felicia.
"Ya, bunda. Seorang anak manusia telah dibawa menuju alam kahyangan ini, dan seluruh Dewa pun mengutusnya untuk menjadi titisan leluhur Dewa Kehancuran," tutur Felicia.
"Betul! Dan kau, akan menemani anak itu berpetualang didunia lain. Apa kau keberatan, Felicia?" Sang Dewi menguji seberapa besar keinginan putrinya itu dalam mengemban tugas sebagai pendamping Rei.
Felicia pun sontak menutup kedua matanya seraya merenung.
Setelah terdiam beberapa saat, Felicia kembali membuka kedua matanya. "Baiklah. Aku siap mengemban tugas itu, wahai bunda," jawab Felicia dengan penuh percaya diri.
"Bagus! Kalau begitu, ikutlah denganku menuju tempat pria tersebut," Sang Dewi kemudian berjalan menuju luar pintu istana seraya mengibaskan kedua sayapnya lalu terbang ke atas langit.
"Pria? Bukan anak kecil kah?" Felicia sempat kebingungan dengan maksud perkataan sang Dewi, namun ia tetap melangkahkan kakinya menuju pintu istana sambil mengibaskan kedua sayapnya dan terbang keatas langit mengikuti arah terbang Dewi Kesucian.
"Felicia! Aku ikut!" Felicia pun sontak berlari menuju pintu istana dan turut merentang kedua sayap seraya mengibaskannya lalu terbang mengikuti arah terbangnya Felicia seraya Dewi Kesucian.
Sang Dewi menuntun mereka terbang menuju tempat dimana Rei berada. Ia lalu merendahkan ketinggian terbangnya sambil menapakkan kaki diatas sebuah hamparan rumput yang luas. "Felicia, lihatlah!" seru sang Dewi sambil menunjuk kearah tubuh Rei yang tengah terbaring dari kejauhan.
Felicia tidak hanya melihatnya saja, namun ia sontak menghampiri pria tersebut. Tampan sekali! pikirnya dalam hati.
Angelina pun turut menghampiri Felician dengan Dewi Kesucian yang berjalan dibelakang mereka. "Wah!! Bunda, apakah pria ini orang yang disebut para malaikat?" tanya Angelina seraya menatap kagum kearah wajah Rei yang tengah tertidur.
"Benar! Dan Felicia, kaulah yang akan menjadi pendampingnya," kata Sang Dewi sambil berdiri disamping tubuh Rei.
"Baiklah Bunda! Aku akan menjaga nama baikmu sebagai Dewi Kesucian dengan mengemban tugas sebagai pendamping pria ini, kemanapun dia pergi!" tegas Felicia dengan penuh antusias.
"Tunggu dulu!" Dewi Kesucian pun sontak mengibaskan kedua sayapnya dan melayang diatas langit. "Felicia! Angelina! Kembalilah ke istana terlebih dahulu! Felicia! Kau boleh kembali kemari setelah mempersiapkan dirimu selama di istana! Aku akan memberikan pengetahuan tentang alam Kahyangan ini kepadanya, setelah dirinya terbangun dari tidurnya!" seru Sang Dewi.
"Baiklah, bunda!" Felicia kemudian mengibaskan kedua sayapnya dan melayang terbang mengikuti arah terbangnya Dewi Kesucian menuju istana pribadinya.
Namun, Angelina tetap mematung seraya terpana saat melihat ketampanan yang terpancar jelas diwajah Rei.
"Angelina?! Angelinaaaa!!!" sorak Felicia pada saudari kembarnya itu.
Angelina pun sontak tersadar dan mendapati Sang Dewi serta Felicia telah terbang menjauh meninggalkan dirinya. "T-t-tungguu!!" Ia pun sontak mengibaskan kedua sayapnya dan terbang melayang secepat kilat mengejar Felicia serta Dewi Kesucian yang telah terbang menuju istana pribadi sang Dewi.
~To be continued~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments