Seribu tahun pun berselang, seluruh entitas yang mendiami alam kahyangan, telah memenuhi amanat dan wasiat sepeninggal dewa Kehancuran.
Menjaga kenyamanan dan ketentraman, sebelum tiba waktunya bagi ruh leluhur Sang Dewa, mencari wadah yang tepat untuk kembali bangkit dan memimpin alam kahyangan.
Namun, itu hanyalah dikahyangan, tidak di negeri-negeri yang mereka naungi. Para Dewa lalu berkumpul untuk memperbincangkan segala kekacauan yang terjadi di negeri naungan mereka masing-masing.
"Wahai Dewa Kemakmuran, bagaimana dengan kekacauan yang timbul di negeri naunganmu?" tanya Dewa Keadilan.
"Aku pun sungguh tidak mengerti. Tugasku hanyalah memberikan kemakmuran bagi negeri-negeri naunganku, yang penduduknya sangat taat dengan ajaran leluhur kita," jawab Dewa Kemakmuran.
Sang Dewi Kesucian kemudian muncul dan ikut bergabung dalam perbincangan kedua Dewa itu. "Lalu bagaimana dengan dirimu, Wahai Dewa Keadilan ? Apakah keadilan di negeri naunganmu, telah sesuai dengan prinsip ajaranmu?" tanya Sang Dewi.
Dewa Keadilan pun menghela nafasnya dengan perlahan, seraya berjalan melewati Dewi Kesucian. "Keadilan di negeri manapun, sudah pasti sesuai dengan ajaran-ajaranku! Ini pasti ulah dari pihak iblis!" tampik Dewa Keadilan sambil bersedekap tangan.
Dewi Kesuburan yang tengah terduduk diatas sebuah batu suci sambil menyisir rambut hitam panjangnya yang indah, ikut mendengar pembicaraan itu.
Dewi Kesucian sontak menoleh ke arah Dewi Kesuburan. "Wahai Dewi Kesuburan. Bagaimana pendapatmu perihal banyaknya janin yang menghilang dan juga banyaknya kematian bayi-bayi manusia yang tak berdosa itu?" tanya Dewi Kesucian sambil berjalan menghampiri Dewi Kesuburan lalu meraih sisir emas miliknya dan membantunya menyisirkan rambut indahnya.
Dewi Kesuburan akhirnya memberikan pendapatnya. "Semua itu terjadi, karena tidak adanya keseimbangan unsur kebaikan yang kita anugerahkan di negeri naungan kita," ucap Sang Dewi Kesuburan.
"Maksudmu, perihal menghilangnya Dewi Kebijaksanaan kah?" tanya Dewa Keadilan yang telah mengambil posisi duduk bersila sambil menghadap pada kedua Dewi tersebut.
"Tidak!" jawab dua Dewi cantik itu secara serempak sambil menatap tajam kearah Dewa Keadilan.
Dewi Kesucian pun melanjutkan. "Memang benar semua itu karena faktor menghilangnya Dewi Kebijaksanaan. Tidak, justru lebih dari itu," tutur Sang Dewi yang kembali fokus menatap rambut Dewi Kesuburan lalu menyisir rambut yang indah itu.
"Kita semua harus bersiap!" sambung Dewi Kesuburan.
"Ya! Mungkin inilah saatnya bagi kita untuk, menyambut kebangkitan Dewa leluhur!" sambung Dewa Kemakmuran.
"Dewa leluhur? Siapa?!" tanya Dewa Keadilan dengan raut wajah penasaran.
"Sang Dewa Kehancuran!" tambah Dewi Kesucian dan Dewi Kesuburan secara serempak dengan masing-masing pandangan yang menatap tajam.
Dewa Kedamaian pun sontak memunculkan wujudnya dengan raut wajah yang sangat cemas. "Gawat! Seluruh dunia akan berperang satu sama lain! Anak dan ayah akan saling bunuh membunuh, sesama saudara akan saling bertikai hanya karena memperebutkan sepetak lahan! Para pengikut akan berkhianat dari ajaran pendetanya! Bahkan, Kuil-kuil pun akan dibakar!" keluh Sang Dewa Kedamaian.
"Tenangkanlah dirimu wahai Dewa Kedamaian! Kami pun turut merasakan apa yang engkau rasakan," sahut Dewa Keadilan sambil berjalan menuju Dewa Kedamaian yang tengah merasakan kegundahan dalam hatinya.
Dan, Dewa Keberuntungan pun muncul. "Wahai Para Dewa! Lihatlah!" seru Dewa keberuntungan sambil memunculkan sebuah cermin besar dan menampakkan sosok tubuh anak kecil yang terkapar tak berdaya diatas tanah dalam cermin tersebut.
"Anak itu?! Apa yang telah terjadi padanya Wahai Dewa Keberuntungan?!" tanya Dewi Kesucian yang menatap penuh rasa iba pada sosok anak kecil tersebut.
"Ia tewas karena berusaha melindungi adiknya dari sergapan para pasukan ksatria kerjaaan!" ungkap Dewa Keberuntungan.
Sang Dewi pun murka. Ia lalu menghampiri Dewa Keberuntungan sambil melampiaskan kekecewaannya. "Apa yang telah kau lakukan selama ini?! Mana anugerah keberuntunganmu?! Mengapa harus anak kecil seperti dirinya lah yang menerima nasib sial seperti itu?!" protes Sang Dewi.
"Tenangkanlah dirimu, Wahai Dewi Kesucian kami! Seperti dugaanku! Semua ini ada sangkut-pautnya dengan sisa-sisa keturunan makhluk iblis yang telah menghasut para manusia itu!" tegur Dewa Keadilan yang berusaha menenangkan emosi Dewi Kesucian.
"Ya! Kau memang betul, Dewa Keadilan! Tapi, jika dibiarkan terus, maka iblis-iblis itu akan menguasai dunia manusia dan menghasut mereka untuk menentang ajaran leluhur kita!" sambung Dewa Kemakmuran.
Para Dewa itu kemudian saling menatap satu sama lain. Mereka seperti memutuskan suatu hal yang akan mengubah nasib alam kahyangan kedepannya.
Seluruh Dewa dan Dewi pun membentuk posisi melingkar sambil duduk bersila diatas sebuah hamparan tanah yang luas. Tidak ada mata yang tidak tertutup. semua Dewa saling merenung untuk menentukan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Setelah merenung beberapa saat, Dewa Keadilan pun membuka matanya terlebih dahulu. "Wahai para Dewa! Aku punya usul!" ucap sang Dewa.
"Apa itu, Wahai Dewa Keadilan?" tanya Dewi Kesucian.
"Kita semua akan turun ke bumi!" seru Dewa Keadilan yang membuat para Dewa saling menatap satu sama lain.
"Lalu?" tanya Dewa Kemakmuran.
"Dalam renunganku, aku bertemu dengan sosok Dewa Kehancuran. Dan, aku pun melihat sosok anak kecil itu, tengah berdiri seraya berlindung dibalik betis Sang Dewa. Itu seperti mengisyaratkan diriku, bila anak itu adalah titisan pilihan sang Dewa Kehancuran!" tutur Dewa Keadilan dengan raut wajah yang sangat serius.
Dewa Keadilan sontak berdiri dihadapan mereka. "Wahai Para Dewa! Mari kita turun ke bumi dan membawa jasad anak itu! Lalu, untuk tugas selanjutnya, Dewi Kesucianlah yang akan membimbing anak itu agar layak menjadi wadah kebangkitan Dewa leluhur kita!" seru Sang Dewa dengan berapi-api.
"Ya!!!" Seluruh Dewa pun bersorak sambil mengangkat sebelah tangan mereka masing-masing.
Para Dewa kemudian memunculkan sayap-sayap yang besar dari kedua sisi tubuh mereka, lalu terbang melawan menuju permukaan bumi. "Dewi Kesucian, apa kau sudah siap?" tanya Dewi Kesuburan sambil mencondongkan tubuhnya ke arah bawah.
"Ya! Aku akan mengangkat anak itu sebagai anakku sendiri!" jawab Dewi Kesucian yang turut mencondongkan tubuhnya ke arah bawah, menuju bumi.
Mereka menembus langit bumi dan terbang secara perlahan menuju lokasi dimana tubuh Rei terkapar.
Dewa Keadilan menjadi pemimpin para Dewa dan terlebih dahulu menapakkan kakinya tepat didepan jasad tubuh mungil yang hanya mengenakan pakaian lusuh itu. "Wahai, anak manusia! Kematianmu, adalah kedukaan yang amat mendalam bagi kami!" ungkap Dewa Keadilan sambil membopong dan menatap wajah Rei yang sudah tak bernyawa itu.
Ia lalu mengibaskan kedua sayapnya seraya membawa tubuh Rei terbang menuju alam kahyangan.
Dewi Kesucian sempat menyusul laju kecepatan terbang Dewa Keadilan sambil menatap penuh kagum pada wajah anak kecil itu. Wahai Dewa Kehancuran, Wahai Dewa leluhur kami! Aku akan menjaga dan membimbing anak ini sesuai amanat darimu! Bila tiba saatnya, bangkitlah kembali, Wahai Dewa yang Ku agungi! batinnya.
~To Be Continued~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
anggita
Felicia.. 👌
2022-11-21
1