Kiran sontak melompat menghampiri Septi yang lemas di depan kamarnya. "Sep, Septi … kamu kenapa?"
Septi mengaduh, menunjuk hidungnya yang mengeluarkan darah. "Kepalaku sakit banget, Ran! Aku mau istirahat di kamar aja, nggak jadi bikin tugas kayaknya ini."
Melihat darah menetes dari hidung Septi, Kiran segera mengambil tissue untuk mengelap. "Ayo aku bantu ke kamar!"
Septi memencet hidungnya, membersihkan sisa darah yang sudah tidak keluar lagi. "Ini bekas kopi depan kamar kamu aku beresin besok aja nggak apa-apa, kan?"
"Udah nggak usah dipikirin, nanti aku yang beresin," ujar Kiran sembari memapah Septi ke kamarnya.
"Mual aku, Ran!" Septi berhenti di depan kamarnya karena merasa akan memuntahkan sesuatu.
"Bisa ke kamar mandi nggak kamu?" Kiran langsung berlari ke kamar mandi untuk mengambil ember karena Septi tidak menjawab. "Ini muntah di sini aja, jongkok deh aku pijetin bahu kamu biar enakan. Masuk angin kali kamu, Sep! Mau aku kerokin?"
"Hoek, uek uek …." Septi mulai muntah, mengeluarkan seluruh isi perutnya dengan ekspresi tersiksa.
Keringat sebesar jagung memenuhi dahi, mengalir hingga menetes melewati dagu. Kepalanya nyeri seperti dihantam godam, seluruh persendian lemas dan otot ngilu seperti hendak kejang.
Kiran membalurkan minyak kayu putih di leher hingga bahu Septi, "Aku kerokin abis gini, Sep! Tunggu bentar aku buat teh panas dulu biar lega perut kamu!"
Kiran berlari ke dapur, sesegera mungkin memasak air dan membuat teh. Suara Septi yang terus saja muntah hingga tidak ada yang keluar lagi masih terdengar.
Septi duduk bersandar pintu kamar ketika Kiran tiba dengan segelas tehnya, "Aku kenapa ya, Ran? Kayak mau pingsan rasanya? Tadi baik-baik aja kok!"
"Minum dulu, ini aku campur air biasa kok biar bisa langsung diminum. Kamu tadi makan apa di luar?"
"Makan di warung penyetan sama Surya, itu juga udah dua jam lalu, berarti bukan makanannya yang salah!" ujar Septi sambil memijit pangkal hidungnya. "Abis minum kopi kamu itu langsung puyeng …."
"Kopi? Lah aku minum hampir habis baik-baik aja, Sep! Kamu punya asam lambung sekarang?"
"Itu kopi nggak kadaluarsa, Ran? Sakitnya langsung terasa begitu aku selesai minum! Kopi kamu baunya juga aneh … dapat dari mana kamu kopi keras begitu? Kayak racun aja rasanya!"
Kiran menatap Septi dengan raut tidak percaya, kopi yang diminumnya sama sekali tidak aneh, enak malah. "Kamu masih sakit?"
"Melilit banget perut aku, kok jadi kayak gini sih rasanya, panas dingin!"
"Aku telepon Surya, kayaknya kamu perlu ke klinik," kata Kiran panik. Tergesa saja dia mengambil ponsel, menyuruh Surya segera datang karena Septi semakin parah kondisinya.
Kiran mengambil kopi bubuk yang diberikan Candra, menghirupnya sebentar sebelum kembali ke tempat Septi yang semakin lemas. "Tunggu sebentar ya, Sep! Surya langsung kesini lagi kok, dia belum jauh!"
Septi mengangguk, kesadarannya seperti dirampas paksa oleh sesuatu. Matanya memejam menahan nyeri di kepala dan sakit di perut. Saat membuka mata, sekilas ada kelebatan bayangan putih di depannya, dan Septi kehilangan kesadaran.
Kiran semakin panik, tangannya gemetar saat menepuk-nepuk pipi Septi. Air mata mulai meleleh karena rasa takut, "Sep, Septi …!"
Tak lama, bel kost berbunyi. Kiran berlari membuka pintu, menyongsong Surya dan bercerita cepat apa yang baru saja dialami Septi. "Bawa Septi ke klinik, Sur! Takutnya dia keracunan!"
Tanpa banyak bicara kedua sahabat itu membawa Septi ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan. Kiran masih saja tak paham dengan kondisi Septi yang drop hanya karena kopi.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉𝒂𝒏 𝑺𝒆𝒑𝒕𝒊
2024-04-08
0
❤little girl♥
kopi khusus bt kiran, bknyg lain.. ehh ntar chand2 marah😏
2022-11-21
1
buk e irul
kopi abad lalu haha
2022-11-19
0