Suara Misterius

Tidur kedua Kiran sangat nyenyak, dia bangun lebih siang daripada kemarin. Hampir jam sepuluh, itupun Kiran masih enggan membuka mata. Satu hal yang bisa memaksa Kiran untuk keluar tenda adalah kantong air seninya yang meronta karena penuh.

Masih seperti mimpi, Kiran akhirnya bangun untuk buang air kecil dan mencuci muka. Sebotol air mineral kecil dibagi untuk membersihkan bagian bawah tubuhnya dan juga muka, untuk menghilangkan sisa kantuk semalam.

"Sial! Candra pasti udah turun dari pagi, lagi-lagi pergi nggak pake acara pamitan!" gerutu Kiran begitu matanya terbuka lebar dan kantuknya hilang. Tidak berusaha menyalahkan karena dia sendiri yang tidur sangat lelap.

Tidak ada jejak yang ditinggalkan Candra, baik di dalam ataupun di luar tenda. Pemuda itu menghilang, meninggalkan Kiran tanpa tanda, seolah memang tidak pernah ada di sana.

Kiran masuk ke dalam tenda, mencari bandana Candra yang semalam dipakai di kepala untuk menutupi dua telinganya. Kiran tersenyum, benda itu tidak ikut hilang, ditemukan Kiran berserakan di antara kantong tidur.

Di bawah sinar matahari yang menerobos pepohonan, Kiran mengamati bandana Candra.

Hanya kain putih segitiga yang sudah sangat kusam, seperti lap meja yang tidak dicuci bertahun lamanya. Tepi kain tanpa jahitan, hanya berupa bekas robekan paksa dan dibentuk sedemikian rupa.

Bandana Candra benar-benar kontradiksi dengan penampilannya yang keren dan terkesan jantan.

Jika kain itu bukan dari Candra, rasanya Kiran memilih untuk menjadikannya bahan bakar api unggun daripada harus memakainya. Selain sudah jelek, baunya pun membuat dada sesak.

Tapi Kiran sama sekali tidak menyesal, dia memberikan bandana merah miliknya memang bertujuan menyingkirkan kain buluk yang merusak ketampanan Candra.

Mengingat Candra, Kiran menyeringai sendiri. Betapa dia mengagumi sosok itu dari sejak kemarin. Apa memang begitu yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?

Ah, mungkin bukan cinta, karena kebanyakan wanita memang sering secara tiba-tiba menyukai cowok yang terlihat jantan daripada yang hanya berwajah tampan.

Masalahnya, kebetulan sekali Candra adalah kombinasi dari dua hal itu. Kiran bahkan mulai melantur, mempertanyakan bagaimana rasanya ada dalam dekapan Candra?

"Baiklah, sudah cukup menghalunya! Waktunya mengisi perut, bersih-bersih lalu jalan-jalan ke pos lima. Siapa tau ketemu ranger atau malah ketemu Candra di sana?" ujar Kiran menertawakan kain putih yang baru didapatnya dari Candra. Kiran menyimpannya dalam tas bersama perlengkapan tidur lainnya.

Kiran membuat susu, makan nasi sisa kemarin berlauk abon dan sosis yang hanya dihangatkan sebentar. Setelah membereskan alat masak dan makan, Kiran membersihkan diri dengan tisu basah dan menggosok gigi.

Tenda dome dibongkar dan dilipat rapi. Kiran sudah siap dengan ransel dan topi untuk menjelajah ke bagian atas gunung.

[Sep, aku naik ke pos 5 hari ini, mau ganti suasana! Btw aku lagi seneng, cowok yang aku ceritain kemarin ternyata emang belum turun. Aku ketemu lagi sama doi, tidur satu tenda Sep, bisa bayangin gimana saltingnya aku kan?]

Kiran menunggu sampai Septi membalas pesannya. Dia memang harus mengabari Septi setiap pagi agar tidak dikhawatirkan.

[Cuma tidur? Ada plus-plusnya nggak? Bagi fotonya dong, aku mau ikut nakar kadar gantengnya!]

[Belum punya potonya, dia datang malam, trus pagi udah turun sebelum aku bangun. Apes, aku tidur kayak orang mati aja, baru melek jam sepuluh!]

Tak lama Kiran mendapatkan balasan lagi dari Septi. [Awas hamil!]

[Sialan! Aku bangun masih pake baju utuh Septi!!!]

[Rugi dong … kalau aku yang satu tenda sama dia, pasti udah aku godain duluan!]

[Dasar kompor! Dah ah aku mau jalan, salam buat Surya.]

Sambil bersenandung kecil, Kiran mulai berjalan santai. Sesekali mengambil foto apa saja yang menarik matanya. Hebat, trek yang seharusnya cukup melelahkan untuk Kiran dilewati dengan mudah.

Gadis itu sedikit pun belum menjeda perjalanan untuk bernafas. Tidak ada ngos-ngosan seperti biasanya, juga tidak ada acara berhenti untuk minum dan mengatur tenaga. Kiran merasa tubuhnya enteng untuk berjalan, tas ranselnya juga tidak membuatnya terbebani.

Matahari sudah di atas kepala ketika Kiran menginjakkan kaki di pos lima. Tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia di tempat itu. Dugaan Kiran, ranger sudah bergerak karena hari sudah siang.

Dengan penuh percaya diri, Kiran mengikuti jalan setapak ke arah lembah yang menuju sisi selatan gunung. Jalan yang mungkin dipakai para ranger gunung dan tim SAR dalam pencarian pendaki yang hilang.

Langkah kaki Kiran semakin cepat, mendung memakan matahari dan kabut turun dari arah puncak menutup jalan setapak yang diikutinya. Kalau tidak tersesat, Kiran seharusnya mencapai titik yang diinformasikan Candra sebentar lagi.

Hanya saja sisi selatan gunung terlampau luas dan jarak pandang semakin terbatas. Kiran belum melihat atau bertemu satu orang pun di area itu.

Kabut sialan dan awan yang semakin gelap membuat Kiran menyerah untuk melanjutkan penyisiran. Terlalu berbahaya. Kiran memilih mencari tempat yang sekiranya aman untuk membuka tenda karena hujan sebentar lagi datang.

Tenda berdiri tegak dengan cepat, disusul oleh hujan deras dan angin gunung yang cukup besar. Kiran mengeluarkan wadah untuk menampung air dari ujung depan tenda terlebih dulu sebelum masuk dan merapatkan resletingnya.

Selang beberapa menit, lamat-lamat Kiran mendengar suara orang sedang berbincang. Kadang terdengar kadang tidak. Kiran melihat jam tangannya. Masih sore, gelap terbentuk karena cuaca buruk.

"Apes bener!" gumam Kiran dengan wajah muram. "Nggak ada sinyal di sini, moga-moga hujan cepat reda biar bisa pindah tempat."

Kiran memasang telinga lagi, berusaha mendengar perbincangan tidak jelas yang sedari tadi mengganggu nyalinya. "Mungkinkah ada yang ngecamp tidak jauh dari sini? Tim SAR? Tapi kok ada suara nenek-nenek …."

Demi membuang prasangka, Kiran menyibukkan diri dengan set masak. Membuat minuman untuk menghangatkan diri. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan satu gelas sereal, juga sebungkus roti kelapa kesukaan Kiran.

Kiran berhasil mengabaikan situasi tidak enak yang melandanya. Niat untuk pindah tempat setelah hujan reda semakin kuat, Kiran hanya butuh menunggu beberapa saat.

Setelah menguap sekali, Kiran merebahkan diri, istirahat sambil berharap hujan segera berhenti. Namun, tanpa sengaja Kiran justru tertidur di pergantian waktu siang menuju malam.

"Ayo diusung pakai keranda aja biar cepet!" usul pria tua yang wajahnya tertutup kain putih. Jelas sekali suara itu mampir di pendengaran Kiran.

Pria lain yang suaranya lebih muda menyahut, "Ayo, kebetulan anaknya sedang tidur! Mumpung surup (magrib), pas sama julung lahirnya!"

"Tapi anak itu bau pandan, kelihatannya sudah ditandai, apa bisa kita colong (curi)?!"

"Kita pastikan dulu aja! Gimana Mak?"

"Satroni aja sekarang!" Suara nenek-nenek terdengar memberi perintah.

"Ayo bergerak, keburu surup ilang!"

Suara langkah tergesa-gesa terdengar mendekati Kiran. Lima orang laki-laki dan satu perempuan sudah berdiri di depan tenda. Satu orang membuka resleting dan tiba-tiba menarik kaki Kiran kuat-kuat.

"Aduh!"

***

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝑲𝒊𝒓𝒂𝒏 𝒅𝒍𝒎 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒚𝒂 𝒏𝒊𝒉

2024-04-08

0

maya ummu ihsan

maya ummu ihsan

koyok gombal e kompor mungkin warnae

2023-11-14

0

nath_e

nath_e

next

2023-09-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!