Mimpi Buruk

"Bangsa kami siapa? Keluargamu?" tanya Kiran.

Candra segera meralat kalimatnya, "Hm, iya maksudnya keluarga besarku. Nggak ada yang doyan gula di rumah! Suka paitan semua kalau ngopi."

"Free sugar ya? Boleh deh aku coba, awas aja kalau pahit, kamu harus kasih pemanis buat penawarnya!" Kiran tertawa penuh godaan dengan kalimat yang bermakna macam-macam. "Tapi bukan gula!"

Candra mengulurkan gelas kopi pada Kiran. "Iya nanti aku kasih sebelum kamu minta!"

"Bener ya?" Kiran terkikik geli mengartikan kalimat Candra.

"Hm," jawab Candra sambil meneguk kopinya.

Bau wangi kopi lebih menyengat dari sebelumnya. Mungkin karena itu kopi murni tanpa campuran gula. Kiran menghirup dalam-dalam bau pandan yang keluar dari gelas sebelum menyeruput sedikit demi sedikit.

Candra tidak berbohong kalau kopi pahit buatan keluarganya lebih enak diminum tanpa gula. Ada perasaan tenang dan nikmat yang mengalir didalam tubuh Kiran. Pandangan matanya semakin jelas, kantuknya pun seperti menguap entah kemana.

"Gimana?" tanya Candra kalem. Satu senyum menawan muncul di lengkungan bibirnya.

"Top banget, Can!" jawab Kiran takjub. "Pokoknya aku minta buat di rumah!"

Dalam remang lampu kecil tenda, Kiran bisa melihat jelas kalau Candra berwajah tampan, bahkan melebihi ekspektasinya. Hanya saja bandana yang dipakai untuk menutup kepala dan telinganya itu terlalu lusuh. Tidak cocok bertengger di sana alias merusak pemandangan.

Kiran juga baru bisa melihat jelas kalau bandana Candra warnanya bukan abu-abu, tapi putih. Hanya saja sudah sangat kusam. Dalam hati, Kiran berniat memberikan bandana merahnya untuk Candra sebagai kenang-kenangan.

Kiran yakin Candra akan lebih terlihat tampan, bandana miliknya akan selaras dengan jaket flanel kotak-kotak merah hitam yang menjadi ciri khas pemuda itu.

"Nggak pusing?" tanya Candra sambil memperhatikan Kiran yang baru menghabiskan kopinya.

Kiran menggeleng, "Nggak tuh, tapi aku kok keringetan jadinya. Padahal udara dingin banget."

"Belum terbiasa aja, ntar kalau udah biasa malah enteng rasanya di badan!"

Hm, bagi Kiran efek kopi itu memang sedikit panas di badan. Tapi setelah itu tubuh Kiran akan beradaptasi dengan segala jenis minuman dan makanan yang biasa dikonsumsi Candra.

"Kamu kegiatannya sehari-hari apa, Can? Masih kuliah apa udah kerja?"

"Kerja," jawab Candra pendek. "Kamu masih kuliah ya?"

"Iya, semester enam. Kamu kerjanya dimana?"

"Cuma bantu-bantu orang tua."

Kiran semakin penasaran dengan latar belakang Candra. "Ya maksudnya bantu-bantu itu seperti apa?"

"Ya bantu cari duit hehehe … kadang jadi kurir nganter paket ke rumah teman-teman ayah."

Meskipun tidak paham dengan apa yang dijelaskan Candra, tapi Kiran manggut-manggut. "Naik apa kalau droping barang? Rumah kamu di lereng gunung ini, kan?"

"Jalan!" jawab Candra cengengesan.

"Ish kamu ditanyain serius kok malah becanda jawabnya!" protes Kiran.

"Aku nggak bisa bawa kendaraan, Kiran!"

Kiran mengernyit tak percaya, mana ada hari gini cowok nggak bisa bawa kendaraan. "Maksudnya kamu nggak bisa nyetir mobil? Kalau motor bisa, kan?"

Candra tersenyum lembut, "Sayangnya aku juga nggak bisa bawa motor, sepeda dan kendaraan lainnya."

"Kamu serius?" tanya Kiran dengan raut sangat tidak percaya. Tampang Candra seperti main-main saat menjawab pertanyaannya.

"Iya, aku pernah kecelakaan. Kakiku pernah patah!"

Wajah Kiran langsung berubah iba, "Ngeri banget, trus kamu trauma gitu ya? Untung udah sembuh. Buat jalan normal, kan? Buktinya kamu bisa naik turun gunung sekarang!"

"Iya udah normal sekarang."

"Sorry kalau pertanyaan aku keterlaluan, abis aku penasaran!" ujar Kiran jujur.

"Ya main ke rumahku biar nggak penasaran, ntar aku kenalin sama keluargaku!" ajak Candra dengan mimik jenaka. "Tapi jangan kaget, saudaraku banyak."

"Wah enak banget punya saudara banyak, aku anak tunggal sih! Wah rumah kamu pasti rame itu!"

Candra menjelaskan, "Kalau malam rame, tapi kalau siang sepi banget!"

"Oh ngumpulnya malam hari, kalau siang pada sekolah atau malah kerja?"

"Kerja semua, udah nggak ada yang sekolah!"

"Rumah kamu bisa diakses pakai kendaraan nggak sih?" tanya Kiran.

"Bisa, tapi kalau nggak sama aku pasti kamu nyasar! Nggak bakal nemuin rumahku."

"Ya kamu share lokasi, nanti aku cari pake map di ponsel. Ngomong-ngomong aku boleh minta nomor kamu?"

Candra menatap Kiran dalam-dalam sebelum menjawab, "Aku nggak punya ponsel, di rumah nggak ada sinyal."

Kiran melebarkan mata, "Masa sih, di sini aja sinyal banyak. Kalau masih area gunung ini harusnya ada loh. Atau jangan-jangan kamu nggak mau berbagi nomor hape sama aku? Takut ketahuan pacar ya?"

Candra menegaskan, "Aku memang nggak punya ponsel, Kiran! Terserah kamu mau percaya apa nggak!"

"Kalau pacar punya?" tanya Kiran sambil tergelak.

Dengan tawa ringan, Candra menjawab dengan kalimat lain. "Katanya tadi ngantuk, tidurlah! Udah lewat tengah malem loh ini."

"Tadi kan sendiri, sekarang ada kamu masa iya aku tinggal tidur? Kamu udah ngantuk ya?"

"Hujan kabutnya lumayan deras, aku tutup ya tendanya?" Candra bergerak merapatkan resleting tenda dari atas ke bawah. "Waktunya istirahat, Kiran!"

Kabut semakin pekat meski sebagian turun menjadi air. Malam sangat sepi, selain suara tetes air yang jatuh di atas tenda tidak ada lagi suara lainnya.

"Ya udah tidur aja kalau gitu, kamu juga capek abis keliling gunung. Emang masih belum ketemu ya pendaki yang ilang itu?"

"Belum, makanya besok aku mau bantu nyisir gunung sisi selatan lagi." Candra menata alas tidurnya lalu merebahkan badan terlebih dulu dengan posisi telentang.

Beruntung tenda cukup besar sehingga Candra bisa benar-benar meluruskan kaki. Kedua tangan Candra terlipat di atas dada, siap untuk memejamkan mata.

"Kasihan ya pendaki itu?!"

"Katanya mau tidur, kok malah bahas pendaki yang ilang?"

"Iya deh, maaf. Kamu nggak pakai sleeping bag?" Kiran mengamati kain putih lusuh yang digelar Candra untuk alas tidur. Tak kalah lusuh dari bandananya.

"Males, nggak dingin juga!" jawab Candra datar.

Kiran mengamati sebentar tubuh Candra yang terbujur di sebelahnya sebelum ikut merebahkan diri di atas kantong tidur. Udara memang tidak dingin, hangat malahan.

"Can, kalau tukeran bandana mau nggak! Soalnya kita nggak bisa tukeran nomor hape!" ujar Kiran cekikikan.

"Nih!" Tangan Candra menarik bandana yang ada di kepalanya dan memberikan pada Kiran. Dia juga menerima pemberian Kiran dan langsung memakainya.

Kiran mencium bandana buluk milik Candra, "Hehehe thanks."

Bau wangi dupa bercampur apek. Mungkin setahun belum dicuci pikir Kiran geli. Namun, untuk menghormati yang punya, Kiran tetap memakainya.

Gadis itu membatin, cowok di sebelahnya tidurnya agak aneh, maksudnya tidak umum. Tanpa bantal apapun untuk alas kepala, dan posisinya terlentang seperti orang mati.

Kiran meringkuk menghadap Candra yang sudah terpejam. "Selamat tidur, Can!"

Tak lama, Kiran juga terlelap, bahkan masuk ke dalam mimpi terdalamnya. Di alam bawah sadar itu Kiran ingat dimana dia berdiri, lembah penuh edelweis yang dua hari lalu membuatnya terpukau.

Kiran hendak menyentuh bunga abadi itu, tapi ekor matanya menangkap bayangan putih melompat ke arahnya dan menubruk dengan cepat. Kiran terperosok ke dasar lembah dan menjerit sekuatnya hingga keluar dari mimpinya secara spontan.

Kiran membuka mata yang terasa berat, dan sekali lagi dia menjerit sekuatnya melihat yang tidur di sebelahnya adalah sosok putih dengan muka hitam, persis seperti yang ada dalam mimpinya. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut yang sebelumnya tidak ada mendadak memenuhi hatinya.

"Kiran, Kiran hei … bangun!" Tepukan tangan Candra di pipi kiri Kiran terasa dingin. Kiran mengerjap, masih dalam pandangan kosong meski kali ini sudah lebih sadar.

"Candra?" Kiran memicing aneh, seolah baru melihat pemuda itu.

"Iya ini aku, kamu mimpi buruk ya?"

Kiran menyentuh tangan Candra yang masih mengusap-usap pipinya. "Iya, mimpi yang aneh!"

"Minum," Candra menarik tangannya lalu memberikan Kiran botol air mineral miliknya.

"Tangan kamu dingin banget, Can!" Kiran mengusap tengkuknya yang meremang hebat. Bau samar wangi dupa mampir di hidungnya bersamaan dengan tangan Candra yang membantu Kiran untuk duduk.

"Mimpi apa?" tanya Candra dengan wajah menyelidik. Mengabaikan pertanyaan Kiran.

"Entahlah, serem pokoknya. Aku lupa baca doa kayaknya tadi," jawab Kiran. Tangannya menekan pelipis untuk mengingat detail mimpi yang tak begitu diingatnya. Kiran mengeluh, "Kepalaku sakit!"

"Ayo dipakai rebahan aja, tidur lagi biar enakan!" Candra membantu merapikan dan merapatkan kantong tidur Kiran dengan cekatan.

"Kamu nggak tidur?"

"Iya nanti, kamu duluan aja!" jawab Candra dengan senyum menenangkan.

***

Terpopuler

Comments

YuWie

YuWie

hiiiiiiiii..badan putih muka hitam...

2024-11-29

0

mama aya

mama aya

hiii
tidur ditemani pocong 😱😱😱

2024-10-30

1

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒌𝒂𝒚𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝑪𝒂𝒏𝒅𝒓𝒂 𝒑𝒐𝒄𝒐𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒉 🤔🤔👌

2024-04-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!