Untuk pertama kalinya Kiran merasa deg-degan berlebihan ketika menatap wajah bersalah Candra.
"Maaf, aku kira kamu nggak nyaman dengan tanganku!"
"Udahlah, nggak usah diperpanjang!"
Dasar laki-laki tidak peka! Apa Candra tidak tahu kalau Kiran sedang ingin dimanja? Ah, Kiran memang terlalu. Padahal mereka terpisah baru hitungan jam, tapi rindu Kiran terhadap Candra sudah mengharu biru.
Bagi Kiran, tangan Candra yang membingkai pipinya seolah mengungkapkan kalau rasa mereka sudah sama. Tapi Candra selalu mengulur lagi kedekatan mereka.
Kiran sama sekali tidak suka main tebak-tebakan soal perasaan, dia menilai Candra dari sikap dan perhatian yang diberikan padanya. Salahnya dimana kalau sampai Kiran gede rasa?
"Ayo kita makan sekarang!" ajak Candra bernada lembut.
"Kita makan malam sama keluargamu?"
"Hm," jawab Candra.
"Apa penampilanku pantas? Bajuku belum kering, Mak Sinah memberikan ini untuk aku pakai sementara!"
Candra menyelipkan anak rambut Kiran yang berantakan ke belakang telinga. "Ayo, kita sudah ditunggu!"
"Can, kamu nggak jawab pertanyaanku!"
"Kamu cantik!"
"Terima kasih pujiannya, kedengaran nggak ikhlas di telingaku!" gerutu Kiran tak terima.
Kiran butuh penilaian tentang penampilannya karena dia takut tidak sopan di depan keluarga Candra. Kalau saja yang dipakai adalah bajunya sendiri, kemungkinan untuk ditertawakan keluarga Candra jelas tidak ada.
Alasan lain, karena Kiran tidak menemukan cermin di rumah itu, sehingga gadis itu tidak bisa memastikan tampilan wajahnya.
Jadi bagaimana bisa Kiran percaya kalau dia cantik, heh?
Candra terkekeh tapi tak menanggapi lebih jauh ungkapan hati Kiran. Dia keluar kamar setelah menegaskan kembali kalau mereka sudah ditunggu yang lain.
Kiran berjalan di belakang Candra dengan wajah kaku. Selain rasa tak percaya diri, entah mengapa bulu tubuhnya malah berdiri, berjingkrak seolah mengejek nyalinya yang sedang menciut.
Meja makan sama sekali tidak sepi, ada empat orang yang sudah duduk tenang di sana, semua memakai pakaian putih seperti Candra dan Kiran.
Ya lord, apa tidak ada warna lain yang menjadi favorit keluarga ini?
Bukan apa, setelah mendengar kata pocong di ruang tamu tadi siang, sedikit banyak pikiran Kiran terfokus di jenis memedi putih yang suka melompat tersebut.
Konyol memang, karena tidak ada bukti yang mengindikasi mereka yang ada di meja makan adalah pocong. Rupa mereka normal seperti Candra, seperti manusia. Hanya saja mereka tidak ada yang ramah padanya.
Kiran disambut dengan tatapan dingin dan wajah datar, lalu semua makan bersama setelah Candra memberi perintah. Tidak ada satu pun dari mereka yang bicara selama santap malam. Semua khidmat dengan sajian yang ada di depannya. Nasi tumpeng dengan ayam ingkung buatan Mak Sinah.
"Ini Kiran, dia temanku!" ujar Candra tegas, memberitahu dengan tekanan ancaman pada saudara-saudaranya. "Jangan ada yang berani mengganggu!"
Tidak ada yang berkomentar, mereka hanya menatap Kiran sekilas dan mengangguk sebagai tanda mengerti. Kiran mendadak kikuk, dia juga hanya mengangguk dengan senyum canggung sebagai perkenalan.
"Apa-apaan sih, Can!" protes Kiran setelah semua saudara Candra meninggalkan meja makan. Secara serentak mereka pergi ke kamar masing-masing. Tidak memperdulikan kehadiran Kiran di sana.
Candra tersenyum dingin, "Aku nggak mau ada yang iseng sama kamu! Kadang mereka jahil kalau ada orang baru."
"Ayah kamu kemana?" tanya Kiran penasaran. "Kok nggak ikut makan malam?"
"Ayah makan malam sama tamunya di belakang," jelas Candra singkat. "Kamu udah selesai makannya?"
"Kita nongkrong di teras, yuk! Ada yang mau aku ceritain," ajak Kiran sambil mencuci tangan.
"Kita ngobrol di kamar aja!"
"Hah? Kamar?"
Bagus! Pemuda satu ini mulai suka berdua di dalam kamar, aku tidak mau bertanggung jawab jika yang ketiga adalah setan. Main kamar-kamaran bagi pasangan tak resmi itu sangat berbahaya. Lebih anu daripada main rumah-rumahan.
"Teras terlalu dingin, Kiran! Kamu bisa masuk angin kena udara malam!"
Kiran cekikikan, "Aku udah di gunung selama beberapa hari, tubuhku udah beradaptasi dengan udara dingin."
"Percayalah padaku, teras di malam hari tidak terlalu menarik!" bujuk Candra. Tangannya kini sudah menarik Kiran untuk masuk kembali ke dalam kamar.
"Aku bosen di kamar terus!"
"Itukan kalau sendiri, kalau berdua sama aku beda cerita!" ucap Candra percaya diri. Kiran memang harus masuk kamar karena akan ada ritual yang dilakukan ayahnya. "Tunggu sebentar, kita butuh camilan dan minuman hangat buat teman ngobrol!"
"Jangan lama!"
Candra mendorong Kiran untuk masuk ke dalam kamar sementara dirinya pergi ke dapur untuk mengambil apa yang baru saja disebutkan. "Tiga menit."
Kiran duduk di tepi dipan, menunggu Candra datang. Pertanyaannya semakin banyak saja setelah makan malam. Logikanya seakan tidak jalan menghadapi berbagai keanehan di dalam rumah itu, pun dengan saudara-saudara Candra yang dinginnya melebihi suhu udara di puncak gunung.
Candra datang membawa nampan berisi dua gelas minuman dan setoples keripik singkong. Meletakkan di atas meja, lalu menarik kursi agar bisa duduk di dekat Kiran.
"Mau cerita apa?" tanya Candra antusias.
Kiran menghembuskan nafas berat, "Aku nggak tau mau mulai dari mana!"
"Minum dulu biar rileks," ujar Candra sambil menyodorkan cangkir berisi cairan kemerahan.
Kiran menerima dan meneguk perlahan. "Kamu seneng banget sih minum teh rempah begini?"
"Hm, ayo cerita sekarang!" Candra menunggu sambil menatap dalam kedua manik Kiran yang juga memperhatikannya intens.
"Can … ayah kamu itu juru kunci gunung?"
"Yeah, bisa dibilang begitu."
"Aku tadi dengar tamu ayahmu minta kaya, trus mereka ngomongin pocong sama tumbal."
"Kamu nggak salah dengar?"
"Aku di teras tadi, nggak maksud nguping, aku dengar itu nggak ada unsur sengaja, Can! Tumbalnya orang!"
"Ya itu urusan tamu ayah, bukan urusan kamu, kan?"
Kiran menjawab dengan nada jengkel, "Memang bukan urusanku, tapi aku takut dengarnya! Nggak manusiawi banget mengorbankan orang untuk mempercepat mendapat kekayaan. Membunuh itu namanya, melanggar hukum, kejahatan!"
"Trus?"
"Kita laporkan ke polisi, Can!"
"Kamu bisa buktikan?"
"Ya aku dengar sendiri dengan telingaku!"
"Kamu rekam nggak?"
Kiran menatap Candra dengan wajah bodoh, tanpa bukti akurat mana bisa dia membawa kasus seperti itu ke polisi?
Dengan frustasi Kiran menghabiskan minumnya, "Tapi kenapa kamu diam aja, Can? Ayah kamu terlibat loh itu …."
"Dengar Kiran, pekerjaan ayah itu hanya sebagai perantara untuk mereka yang membutuhkan bantuan. Kalau mereka bisa berhubungan sendiri dengan yang memberikan kekayaan, ayah diperlukan nggak?"
Kiran termenung, pusing dengan kalimat yang baru saja didengarnya. Bimbang antara ingin menyalahkan atau membenarkan alasan Candra. "Tapi kenapa ayahmu mau membantu hal keji seperti itu?"
"Syarat itu bukan dari ayah, Kiran! Sekali lagi aku jelaskan kalau ayah itu hanya menyampaikan pada tamunya apa saja yang harus dilakukan untuk mendapatkan kekayaan dengan sistem pesugihan!"
Benak Kiran masih saja tidak terima dengan penjelasan Candra. "Oke, apa benar ayahmu perantara pesugihan pocong?"
"Ya," jawab Candra kalem, tersenyum manis tanpa melepas tautan mata dengan Kiran. "Tapi kamu nggak usah bilang-bilang sama yang lain ya! Lupain semua yang pernah kamu dengar di ruang tamu tadi."
Kiran juga tersenyum manis dan mengangguk dengan yakin. Masih banyak yang ingin diketahuinya tentang pesugihan tersebut. Pertanyaannya juga sudah disusun rapi, tapi mendadak dia lupa apa saja yang didengarnya di ruang tamu itu tadi siang. Sial!
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒆𝒏𝒂𝒑𝒂 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒈𝒂𝒌 𝒍𝒊𝒂𝒕 𝑲𝒊𝒓𝒂𝒏 𝒔𝒉𝒐𝒍𝒂𝒕 𝒚
2024-04-08
0
Nana
apa yg di minum Kiran itu darah .....ach Kiran mah gk pernah baca doa si jd apa aja masuk di mulut'y
2023-01-10
1
Tita Puspita Dewi
ini ceritanya twiligth saga versi lokal ni.... ada bagian menghapus ingatannya lagi.
2022-12-15
1