Serba Putih

Kiran segera mencuci kaki dan wajahnya begitu Mak Sinah membukakan pintu. Keluar kamar mandi, asisten rumah tangga itu sudah menunggunya.

"Ini baju ganti, mbak Kiran bajunya basah! Nanti masuk angin, udara akan semakin dingin." Mak Sinah meninggalkan Kiran yang kembali masuk ke kamar mandi.

"Putih lagi? Apa tidak ada warna lain?" gumam Kiran sambil menggulung pakaian Candra yang kedodoran. Tak lama, dia menyusul Mak Sinah ke dapur. "Masak apa, Mak?"

"Mau buat nasi tumpeng."

"Perlu dibantu, Mak? Kasih saya kerjaan biar nggak bosen, saya bingung mau ngapain di rumah ini."

Mak Sinah tersenyum hangat, "Mbak Kiran istirahat aja di kamar, lagipula cuma buat lima tumpeng. Mak udah biasa kerja sendiri."

"Saya yang masak nasinya ya, Mak! Saya bisa kok bikin nasi kuning," pinta Kiran setengah memaksa. Sungguh dia merasa sangat tidak enak harus berpangku tangan di dapur itu.

"Biar mak saja, nanti saya dimarah pak Subarkah kalau tamunya malah ikut sibuk di dapur!"

"Tapi saya bukan tamu pak Subarkah, Mak! Saya temannya Candra, masa iya saya cuma numpang makan sama tidur di rumah ini."

"Sama aja, baik tamu bapak ataupun tamu mas Candra harus saya layani dengan baik," ujar Mak Sinah penuh keramahan.

Kiran mati gaya oleh penolakan Mak Sinah. "Ya udah saya lihat mak masak aja nggak apa-apa, kan?"

Mak Sinah tidak keberatan Kiran hanya duduk tak jauh dari area dapur. Gadis itu melihat betapa gesit mak Sinah mengolah semua masakan yang dibutuhkan untuk acara ritual nanti malam.

Kiran mengurungkan pertanyaan mengenai empat ayam hitam yang sedang dibersihkan bulunya oleh mak Sinah. Bukan hanya ayam hitam, tapi juga kain-kain putih yang terlipat rapi dan baru saja diantarkan mak Sinah ke empat kamar bagian belakang.

Sebenarnya Kiran sudah memiliki dugaan kalau kain itu mungkin disiapkan untuk empat tamu yang akan menginap nanti malam. Tapi untuk daerah lereng bersuhu dingin, bukankah kain yang dilihat kiran tadi terlalu tipis jika digunakan untuk selimut?

Seharusnya selimut untuk mereka sama persis dengan yang ada di kamar Candra jika tidak ingin kedinginan. Sudahlah, bukan urusannya juga untuk ikut mengatur apa yang baik untuk tamu pak Subarkah. Siapa yang tahu itu hanya pakaian ganti seperti yang dikenakannya sekarang?

Kiran tidak hanya diam di dapur, sesekali dia juga pergi ke kamar Candra untuk merebahkan diri. Usaha untuk tidur siang tidak berhasil karena dia sepertinya kelebihan jam tidur, matanya sama sekali tidak mengantuk.

Selain itu, pikirannya sedang ruwet, juga takut akibat mendengar percakapan dari ruang tamu. Meski bukan kepentingannya untuk ikut campur, tapi penasaran dan rasa ingin tahu Kiran terlalu besar untuk disembunyikan.

Hujan mulai mereda, meninggalkan bekas basah di luar jendela kamar Candra. Kiran menutup kembali tirai karena hari mulai gelap. Dia sudah lelah mondar mandir di dalam kamar, dapur hingga bagian belakang rumah Candra.

"Mbak … ini lampu kamarnya!" Suara mak Sinah mengagetkan Kiran yang sibuk dengan pikirannya.

"Iya, Mak!" Kiran membuka pintu, membiarkan mak Sinah masuk ke kamar dan meletakkan lampu di gantungan. "Punya kaca nggak, Mak?"

Mak Sinah menahan senyumnya, "Penghuni rumah ini tidak ada yang menyukai cermin, Mbak! Monggo saya permisi mau menyiapkan makan malam."

"Terima kasih," ucap Kiran sembari menutup pintu.

Kiran sungguh ingin bercermin untuk melihat seberapa kacau penampilannya. Candra sebentar lagi pulang, dia tidak ingin terlihat berantakan alias tidak manis. Ya ampun, sejak kapan dia mau repot berpenampilan menarik untuk orang yang baru dikenalnya?

Menatap pakaian hingga celananya yang kedodoran saja mungkin Candra akan tertawa mengejeknya. Kiran tersenyum masam, Candra saja tidak menunjukkan ketertarikan padanya, kenapa dia harus gatal menanggapinya?

Ck, Kiran mengutuk otaknya yang terus saja memikirkan Candra. Dilihat dari sudut manapun, pemuda itu memang mempesona dan Kiran suka sejak dari awal mereka bertemu.

Lamunan Kiran bubar karena ada ketukan samar, wajah Candra muncul dengan segaris senyum tipis saat Kiran membuka pintu. "Hei, baru pulang?"

"Boleh aku masuk?" tanya Candra sopan.

"Ini kamarmu, untuk apa kamu izin padaku?" Kiran tertawa ringan, setengah beban hatinya terangkat hanya karena menikmati senyum pemilik kamar.

Candra masuk dengan aroma khasnya, wangi aneh yang tidak akan Kiran lupakan. Penampilan pemuda itu lain dari yang Kiran lihat sebelumnya, mengenakan pakaian yang sama dengannya. Setelan putih lengan panjang. Rambutnya disisir rapi seperti baru saja mandi, terlihat segar dan tentu saja ganteng menggoda. Astaga!

Sebenarnya Kiran pusing dengan banyaknya warna putih yang dia lihat dari sejak kenal Candra. Apakah warna favorit pemuda petualang itu adalah putih? Kiran berharap Candra menyukai warna hitam, memakai atasan hitam, menurutnya itu lebih terkesan jantan dan maskulin daripada warna putih.

"Gimana kondisimu? Lebih sehat?" Candra memperhatikan Kiran dari ujung rambut hingga kaki. "Bapak bilang kamu nggak mau dianter ke poskesdes."

"Yeah, begitulah … saking sehatnya aku malah sempat jalan-jalan sebentar tadi siang sebelum hujan turun!"

"Oh ya, bagaimana menurutmu situasi kampungku?"

Kiran mengedikkan bahu dan juga memasang mimik ngeri, "Sepi, serem!"

Candra tergelak mendengar penuturan Kiran, gadis itu tidak berbohong. Matanya jujur menyiratkan rasa takut dan Candra gemas ingin meledeknya. "Aku sering dengar kamu bicara lantang padaku 'aku bukan penakut'. Sudah luntur semua keberanian kamu sekarang?"

"Can!" Kiran melotot dengan wajah memelas. Seharusnya Candra berempati padanya, bukan malah menertawakannya. Kiran hampir menangis mendengar kalimat Candra yang terdengar sarkas di telinganya. "Nggak ada yang lucu!"

Melihat mata Kiran berkaca, Candra seketika mendekat dan memeluk. Dia sudah tega meninggalkan Kiran di rumahnya sendirian tanpa teman bicara, wajar jika gadis itu merajuk karena banyaknya hal ganjil yang dilihatnya.

"Maaf," ujar Candra lirih. "Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, aku bercanda agar kamu rileks."

Kiran memeluk pinggang dan membenamkan pipinya di dada bidang Candra, ketakutannya tumpah dengan cara menjatuhkan air mata. "Ada beberapa hal yang membuatku takut."

"Ceritakan nanti setelah makan malam, kamu pasti lapar!"

"Can, bisa nggak sih aku pulang aja malam ini? Kamu anterin sampai aku bisa cari kendaraan deh, atau kamu anter ke basecamp pendakian juga nggak masalah!"

"Kita bahas itu nanti ya, nggak ada yang perlu kamu takutkan di rumah ini. Ada aku," bisik Candra sembari mengulum senyumnya. Kedua tangannya membingkai wajah Kiran yang justru bersemu merah di temaramnya kamar.

"Kamu dari mana sih, tangan kamu kok dingin banget?" Kiran bergidik, meremang, deg-degan dan anehnya … tergoda.

"Mandi air dingin," jawab Candra enteng, tapi melepaskan tangannya dari pipi Kiran dengan terburu-buru. "Kamu nggak nyaman sama dingin tanganku ya?"

Kiran mendengus kecewa, kehilangan sentuhan Candra di pipinya ternyata tidak membuatnya senang. "Kamu cuma ditanya gitu aja langsung lepas tangan!"

***

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝑲𝒊𝒓𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒉 𝒕𝒆𝒓𝒑𝒊𝒏𝒄𝒖𝒕 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑪𝒂𝒏𝒅𝒓𝒂

2024-04-08

0

Abisena

Abisena

wkwkwk..makanya klo itu tuh nda usah anu Kiran🤪😂

2023-10-31

1

Abisena

Abisena

saya bayanginnya lain😂🙈

2023-10-31

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!