Gagal Paham

Alih-alih berbicara serius mengenai rasa penasaran Kiran terhadap tamu-tamu ayah Candra, mereka berdua justru cekikikan bercerita pengalaman masing-masing ketika melakukan pendakian.

"Kamu nggak pingin pindah rumah, Can? Yang agak kota gitu," tanya Kiran tiba-tiba.

"Belum ada rencana pindah sih, kamu nggak mau tinggal di sini? Kamu suka ke gunung, kan?"

"Eh, kenapa kamu tanya aku?" Kiran cengar-cengir kege-eran seolah Candra sedang menyatakan cinta padanya. "Menurutku rumahmu terlalu pelosok, Can! Misal aku tinggal di sini juga nggak bakal kerasan, aku takut sama tetangga kamu."

"Tetangga yang mana?" Candra mengerutkan dahi hingga kedua alisnya hampir tertaut.

"Aku lihat ada nenek-nenek menyeramkan, aku langsung takut loh Can, nggak jelas banget, kan? Kayak pernah lihat dimana gitu, aku lupa tapi ingat, ingat tapi lupa … aneh nggak tuh?" Kiran mengusap dua lengannya, masih meremang.

"Oh itu … nggak usah dipikirin, anggep aja kamu nggak pernah lihat dia di kampung ini!"

"Semua rumah di sini punya punden ya, Can? Apa tetanggamu juga pekerjaannya sama dengan ayahmu?"

"Hm, mereka semua juru kunci di gunung ini. Hanya saja beda-beda yang ditangani. Masih penasaran?"

"Iya, aku nggak tenang kalau nggak penasaran, apalagi nggak dapat jawaban," ucap Kiran serius.

Candra menarik dagu Kiran hingga mereka berdua bertatapan, "Terlalu penasaran itu nggak bagus, Kiran! Kamu lupain aja semua rasa penasaran dan pengalaman kamu di kampung ini, aku nggak mau kamu dalam bahaya. Nanti aku anter kamu ke basecamp pendakian kalau kamu udah nggak kerasan di sini."

Ah, Kiran yang bodoh atau memang Candra yang pintar membaca situasi hatinya?

Tapi Candra benar, Kiran sebaiknya melupakan semua kejadian aneh selama pendakiannya. Sugesti yang diberikan Candra serupa dengan hipnotis yang bekerja cepat di pikiran Kiran. Dibantu teh rempah penenang yang diminumnya, sebentar lagi Kiran pasti mengantuk, tidur dan lupa segalanya.

"Nanti itu jam berapa?"

"Sebelum subuh, sekarang kamu tidur aja dulu!"

"Tapi aku masih mau ngobrol sama kamu, Can! Masih banyak loh yang mau aku tanyain ke kamu …."

"Hm, mau tanya apa lagi?"

Bukannya menjawab, Kiran justru menguap lebar. Terlihat berpikir keras untuk tiga kali tarikan nafas. "Apa ya?"

"Lupa?" tanya Candra dengan lengkungan bibir yang tampak sempurna.

Kiran menatap Candra dengan ekspresi tolol. Beberapa detik berikutnya mengangguk diiringi tawa salah tingkah. "Udah ah, aku mau tidur. Nanti bangunin ya!"

Candra mengangguk, "Tidurlah!"

"Tapi aku nggak mau ditinggal, Can!" Kiran langsung meraih tangan Candra dengan mata yang masih mengisyaratkan rasa takut.

Candra berdiri, menepuk bantal dan mendorong tubuh Kiran agar berbaring. Dia juga menarik kelambu agar Kiran aman dari gigitan nyamuk.

"Aku di sini!" ujar Candra dari luar kelambu, duduk di kursi semula.

"Can, aku nggak mau pakai kelambu! Aku nggak bisa lihat kamu," protes Kiran.

"Kamu dimakan nyamuk hutan nanti! Lagian aku nggak kemana-mana, Kiran! Kamu denger suaraku, kan?"

Kiran mendengus, "Bodo amat dimakan nyamuk, siapa juga yang peduli?"

"Aku peduli, kulitmu bisa bentol-bentol!"

"Kalau kamu peduli, trus maksa pakai kelambu … kamu jangan duduk di situ, di dalam sini aja biar nggak serem!"

"Astaga, Kiran!" Candra mendesah berat. "Tidur tinggal tidur aja rewel banget kamu ini?"

"Biarin!" Kiran mengulum senyum.

"Iya, iya!" Walaupun nada bicaranya terdengar tak ikhlas, tapi Candra masuk juga ke dalam kelambu. Naik ke atas ranjang dan tiduran di sebelah Kiran yang langsung memunggunginya karena malu.

Candra menatap punggung Kiran. Gadis itu meringkuk seperti orang kedinginan, hingga Candra akhirnya memakaikan selimut untuk menutupi tubuh kecilnya.

"Terima kasih!" desis Kiran.

"Hm!" Dengan ragu, Candra mendekap Kiran dari belakang, merapatkan tubuh tanpa menyentuh langsung kulit Kiran. Andai saja jantungnya masih berdetak, pasti kecepatannya menyaingi jantung Kiran yang sedang melompat-lompat setengah mampus karena pelukannya.

Kiran terbuai, bunga-bunga di taman hatinya bermekaran. Gairah cinta pada pandangan pertama meletup-letup, menggerus nama-nama pemuda yang pernah singgah dalam hidupnya.

Kiran bukannya tak pernah jatuh cinta, tapi tetap saja, Candra adalah pria pertama yang memberi rasa berbeda, yang tidak bisa ditepis dengan kemampuannya.

Dalam pelukan Candra yang terkesan kikuk, Kiran memejamkan mata dengan tenang. Perasaan terlindungi membawanya lelap lebih cepat hingga masuk ke dunia mimpi.

Di bawah kesadarannya, Kiran merasa masih tidur di ruang yang sama. Hanya saja kamar Candra di dalam mimpinya lebih gelap dari aslinya. Situasi Kiran juga sama persis saat sebelum tidur. Candra berada di punggung dan sedang memeluknya erat.

Kiran merasa hangat, tepatnya sedikit panas dalam ruangan yang seharusnya dingin tersebut. Dadanya sesak seolah terhimpit sesuatu yang membatasi oksigen masuk ke paru-paru.

"Kirana … pulanglah! Kirana!"

Siapa yang memanggilnya di dalam mimpi?

Tarikan nafas Kiran semakin berat, Kiran berusaha menguasai diri dengan cara lepas dari Candra yang memeluk terlalu erat. Kiran bergerak lambat, meraih tangan Candra yang melingkar di pinggangnya.

Sentuhan antar tangan itu menghantarkan kejutan menyakitkan di tubuh Kiran. Mata Kiran melotot mendapati tangan yang memeluknya berwarna hitam, mengerikan dan menjijikkan seperti bukan tangan manusia. Bukan tangan Candra.

Kiran menjerit-jerit dalam mimpinya, meminta tolong pada siapapun yang ada di rumah itu. Bukan Candra yang datang, tapi bayangan putih bermuka hitam yang masuk ke dalam kamarnya. Jeritan Kiran semakin menjadi, membawanya keluar dari mimpi buruk.

"Tolong aku! Tolong, Candra!" Kiran terbangun dan sadar sepenuhnya ketika Candra menepuk-nepuk bahunya.

"Kiran, Kiran … Kiran!" Suara Candra mampir di telinga Kiran, lembut, dengan efek menenangkan.

Kiran berbalik badan, memicingkan mata hingga benar-benar mendapatkan penglihatan jelas pada wajah Candra. Matanya juga mengamati tangan Candra yang sedang memegang bahunya.

Detik berikutnya Kiran spontan memeluk Candra dengan tubuh gemetar. Cukup lama wajahnya bersembunyi di dada Candra hingga akhirnya satu suara keluar. "Anter aku pulang sekarang, Can!"

"Baiklah, ayo!" Candra membantu Kiran duduk, mengerti kalau Kiran baru saja mendapatkan pengalaman mimpi yang sangat tidak mengenakkan.

"Aku ganti baju dulu," ujar Kiran.

Candra membuka kelambu dan menyingkirkan ke posisi awal. "Aku ambilkan bajumu!"

"Aku ikut, Can!" Kiran melompat cepat dari ranjang, hingga menabrak Candra yang akan meraih kursi untuk dipindahkan.

"Pelan-pelan, Kiran!" Candra menangkap Kiran dan reflek memeluk agar gadis itu tidak jatuh.

"Iya, maaf!" ujar Kiran kembali memeluk Candra sebagai ungkapan ketakutan.

Candra membalas pelukan Kiran, lebih erat dari sebelumnya sebagai bentuk perlindungan. Tidak ada kata yang terucap, tapi bahasa tubuh mereka menyatu dan berbicara.

"Candra …." Panggilan Kiran serupa desah manis yang keluar dari relung hati.

"Kirana …." erang Candra menjawab dengan suara berat dan serak.

Hm, apa Kiran sudah menceritakan pada Septi kalau suara Candra sangat seksi?

Kiran tidak akan melewatkan bagian itu saat bertemu Septi nanti. Selain memiliki efek menenangkan, suara pemuda itu juga membangkitkan sesuatu yang nakal dalam dirinya.

Kiran mendongak, "Apa kita akan bertemu lagi?"

"Ya!" jawab Candra yakin. Menunduk dan memaku Kiran yang akhirnya mengalah, menutup mata untuk menghindari malu.

Candra mengecup cepat leher Kiran satu kali, lalu mengulangnya dengan lebih lambat. Yang ketiga menjadi sangat lambat dan lama. Kiran terlena dan juga terheran-heran.

Ah, Kiran mabuk darat oleh bibir dingin Candra, bahkan masih sempat menghayal kalau Candra adalah Edward Cullen yang akan menggigit dan mengubahnya jadi vampir seperti di film twilight. Ya ampun!

Aneh sih, dari banyak tempat yang bisa dikecup Candra di wajahnya, kenapa pemuda itu malah memilih leher? Padahal Kiran sudah sedikit membuka bibirnya tadi.

Gagal paham!

***

Terpopuler

Comments

tengok cankir juga biar terhipnotis langsung pen bobok gituh. soal nya ini maljum masa mata segerrr.
yuk cankir bantu aku agar cepat terlelap😬🤣

2023-08-31

1

Nana

Nana

Kiran" bikin gregetan aja

2023-01-10

1

Namika

Namika

wihihihihi

2022-11-22

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!