Punggungan yang dimaksud Kiran kemungkinan adalah jalan ke arah puncak gunung. Kiran cukup mengikuti jalan ke atas sampai menemukan jalur pendakian. Setelah itu dia pasti bertemu dengan pendaki lain yang hendak ke puncak atau turun gunung.
Rencana itu untuk besok pagi. Kiran tidak mungkin mulai berjalan sekarang. Dia tidak mau semakin jauh tersesat jika salah arah. Malam hari sulit untuk mendapatkan pandangan jarak jauh, sulit untuk menentukan langkah tujuan yang benar.
Kiran mencari tempat yang bisa digunakan untuk istirahat. Tanpa tenda dan perlengkapan mendakinya, Kiran harus berada di tempat yang tidak terlalu berangin. Beruntung jaketnya tebal, dari ujung kaki hingga kepala ada penutup yang melindungi kulitnya.
Setelah sepuluh menit berjalan, Kiran berhenti di dekat batu besar. Ada sedikit cekungan yang bisa Kiran gunakan untuk menyelinap dan duduk. Nafasnya lega karena arah angin dari belakang batu tersebut, Kiran memutuskan untuk beristirahat di tempat itu sambil menunggu pagi.
Kantuk datang setelah lewat tengah malam, Kiran memeluk lutut untuk menghalau dingin. Permen coklat di tas kecilnya hanya sisa beberapa biji. Kiran tidak ingin menghabiskannya, dia butuh cadangan makanan sebelum bertemu atau ditemukan orang lain.
Kiran juga butuh makanan alam dari gunung yang banyak mengandung air untuk menghidrasi tubuhnya. Air minumnya habis, hanya dua botol kecil yogurt yang menjadi cadangan air.
Meski posisinya tidak terlalu nyaman, Kiran akhirnya bisa tidur sambil duduk bersandar. Tubuhnya butuh istirahat, terlebih otaknya. Lagi pula dengan tidur, waktu akan cepat berlalu. Kiran ingin malam segera pergi.
Pengalaman yang baru dialaminya banyak menguras tenaga dan juga emosi. Lelah lahir batin. Untungnya cuaca tidak buruk.
Duk duk duk duk
Serasa mimpi, Kiran mendengar bunyi dari tanah yang diketuk beberapa kali. Kiran merapatkan punggungnya ke batu di belakangnya, masih enggan membuka mata.
Duk duk duk duk
Suara duk duk mendekat lebih cepat dari perkiraan Kiran. Otaknya masih belum bisa mencerna apa yang didengar telinganya. Tapi dengan terpaksa Kiran membuka mata.
Malam tidak terlalu gelap karena bulan bercahaya remang-remang, mata Kiran yang masih mengantuk menangkap bayangan putih sedang melompat-lompat. Reflek, Kiran menyalakan headlamp dan juga senternya hampir dalam waktu bersamaan.
Mungkin hanya butuh satu kedipan mata untuk mempersiapkan dua penerangan tersebut. Namun, Kiran sudah kehilangan jejak bayangan putih yang tadi sepintas dilihatnya.
"Ya ampun, apalagi ini …?" desis Kiran mengusap tengkuknya yang merinding hebat. Kisah hantu putih berikat lima yang suka melompat mulai mengganggu kinerja otaknya.
Kiran menatap liar sekelilingnya, mengarahkan senter kemana-mana untuk memuaskan pandangan. "Aku kenapa sih? Sebelumnya nggak pernah liat penampakan yang aneh-aneh, kenapa sekarang jadi sering!"
"Kiran! Kiran …!" Satu suara memanggil. Tidak begitu jauh karena Kiran bisa mendengar dengan jelas.
Kiran langsung menjawab dengan berteriak keras, dia mengenali pemilik suara berat itu. "Candra … aku di sini!"
Begitu bayangan manusia dengan jaket flanel kotak-kotak merah hitam tertangkap matanya, Kiran keluar dari cekungan dan menghambur memeluk Candra dengan nafas lega.
"Eh … sorry!" ucap Kiran malu. Caranya mengungkapkan rasa senang karena ditemukan orang dianggapnya berlebihan. "Untung kamu datang, Can!"
Candra hampir terjengkang karena kuatnya tubrukan Kiran di dadanya. Tapi dia membalas pelukan Kiran, juga mengusap kepalanya. "Kamu nggak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja." Kiran mengucap syukur dalam hati, setengahnya bingung dan juga takjub Candra bisa menemukannya dengan mudah. Kiran meregangkan pelukan, mendongak untuk menatap Candra lekat-lekat. "Kamu jalan gelap-gelapan, Can?"
"Ini kan senter!" jawab Candra mengacungkan tangan kanannya. Entah Kiran sadar atau tidak tapi Candra sama sekali tidak menyalakan senternya untuk penerangan saat berjalan. "Ayo kita cari tempat yang aman buat buka tenda!"
Kiran mengekor kemana Candra berjalan. Mereka berhenti tidak jauh dari tempat Kiran tadi berlindung dari angin. Candra mendirikan tenda di atas tanah yang cukup rata.
Kali ini Kiran hanya melihat tanpa membantu karena Candra menyuruhnya duduk. Diakui Kiran, kecepatan Candra bergerak lebih dari Surya. Pemuda di depannya terlihat gesit dan sangat cekatan mengerjakan apa saja yang berhubungan dengan kegiatan petualangan.
"Udah boleh masuk? Aku mau cerita banyak sama kamu, Can!" Kiran memeluk tubuhnya yang mulai menggigil.
"Hm, masuklah! Aku buatkan minum hangat, kamu kedinginan. Kamu kehujanan nggak?" tanya Candra penuh perhatian. Matanya memindai Kiran dari atas ke bawah.
Kiran masuk ke dalam tenda berwarna merah milik Candra. Kedua tangannya meraba-raba jaket sebelum menjawab, "Jaketku lembab karena kabut, tapi dalamnya kering kok."
Candra sibuk dengan air panas dan bubuk minuman, Kiran duduk memeluk lutut sambil melihat aktivitas Candra.
"Mau cerita apa?" tanya Candra antusias. Satu gelas minuman disodorkan pada Kiran. "Minum selagi hangat!"
"Apa ini?" tanya Kiran memicing mengamati air kemerahan dalam gelas.
"Teh," jawab Candra singkat.
Kiran mengendus-endus uap yang keluar dari gelasnya, "Kok baunya aneh!"
Candra menukas dengan senyuman manis. "Teh rempah, buat menghangatkan badan dalam situasi dingin."
"Teh jahe?" kejar Kiran, tak yakin dengan penciumannya. Warnanya lebih pekat dari teh biasa, aroma jahenya bercampur entah rimpang apa.
"Ya sejenis itulah, beda-beda dikit. Kamu kalau nggak segera minum itu bisa sakit, kamu udah mulai menggigil."
Kiran menyeruput tehnya, dua kali mengernyit karena rasanya yang tidak enak. "Kok rasanya gini amat, Can?"
"Itu jamu, Ran! Wajar kalau nggak enak, mau tau apa yang enak?"
Kiran mengerutkan dahi, "Apa?"
"Jambu hehehe!"
"Ish nggak lucu ah, orang lagi males bercanda juga!"
"Abisnya kamu tegang banget. Ya udah mau cerita apa?" tanya Candra, siap mendengarkan keluhan Kiran.
"Aku kehilangan perlengkapan mendaki dan juga tenda, Can! Kejadiannya begini …." Kiran bercerita mengenai mimpi dan juga rombongan orang bawa keranda sambil menyeruput teh hangatnya hingga habis setengah gelas.
Candra manggut-manggut, "Trus?"
"Kamu tau nggak, seumur-umur aku belum pernah ngerasain takut yang seperti itu," ungkap Kiran tak berdaya.
Hawa hangat berputar-putar di dalam tubuh dan juga kepala Kiran. Teh rempah yang diberikan Candra memberikan ketenangan, tapi juga membuat Kiran sulit mengingat detail kejadian yang baru saja dialaminya.
Setiap kali Kiran berusaha mengingat, setiap kali juga dia lupa alur ceritanya. Semua jadi samar-samar seperti sebuah kenangan yang sudah terlupakan.
"Can, yang aku lihat itu orang apa setan sih?" Kiran memijit pangkal hidungnya untuk menghilangkan pening. "Kok aku merasa dikejar-kejar sesuatu yang nggak jelas!"
"Balung wangi," jawab Candra singkat, membuat Kiran geram karena tidak ada penjelasannya.
"Maksudnya gimana sih? Itu mitos apa beneran, kayaknya pernah denger orang ngomong soal itu? Balung wangi itu orang yang disukai makhluk halus, kan?" tanya Kiran penasaran. "Brarti yang bawa keranda itu beneran demit? Oh ya emang aku bau pandan, Can?"
Candra menjawab kalem, "Udah nggak usah dibahas, nanti kamu malah takut!"
Kiran tergelak, "Aku takut? Aku itu nggak percaya sama mitos berbau mistis, Can! Tapi aku percaya kalau setan itu ada. Padahal aku bukan penakut! Tapi rasanya … entahlah!"
"Kamu ngomong setan terus dari tadi, ini gunung Kiran!" protes Candra dengan ekspresi keberatan.
"Iya deh maaf." Dan memang tidak ada pembahasan lagi mengenai mimpi Kiran ataupun keranda yang dilihatnya. Bukan karena tidak ingin membahasnya, tapi karena Kiran lupa semua setelah menghabiskan tehnya. "Tapi aku serius penasaran, emang kenapa kalau balungku wangi?"
"Udah bahas yang lain aja, aku juga nggak seberapa paham mengenai hal itu!" jawab Candra mengelak.
"Oke. Ngomong-ngomong kamu kok bisa nemuin aku, Can?" selidik Kiran. Pikirannya cukup rumit untuk melogika Candra yang tiba-tiba ada di sana.
"Aku tadi lewat tempat kamu ngecamp kemarin, begitu kamu nggak ada … instingku mengatakan kamu ke sisi selatan gunung," jelas Candra.
"Kok bisa nebak begitu?" Kiran mengamati wajah Candra dengan alis hampir bertaut.
"Karena kamu tipe orang yang suka penasaran, begitu ada berita pendaki yang hilang pasti kamu ingin memastikannya."
"Iya juga sih! Tapi masih nggak habis pikir kamu bisa nemuin aku, padahal posisiku nyelempit di batu!"
"Aku juga nggak tau kenapa bisa jalan ke area ini." Candra menatap Kiran sambil cengar-cengir. "Mungkin karena kita jodoh!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑲𝒊𝒓𝒂𝒏 𝒎𝒔𝒉 𝒃𝒍𝒎 𝒏𝒈𝒆𝒉
2024-04-08
0
Ulil
ada ya jodoh dng pocong,,thor candra seblm is death blm nikah emang
2023-05-21
1
Nana
walaupun km nyelempit di hidung Candra jg bakalan tau.....lah wong Candra dedemit 😀😀😀
2023-01-10
0