Kedatangan Kiran ke pos pendakian langsung membuat heboh. Mbah Wiro yang memang tidak tidur langsung tersenyum. Firasatnya kalau Kiran masih hidup dan bisa dipanggil pulang tidak salah.
"Kiran …!" Septi memeluk Kiran dengan cucuran air mata, isakannya bahkan mengganggu Kiran yang masih tidak paham dengan situasinya.
Surya mengacak-ngacak rambutnya dengan tawa kecil. "Akhirnya kamu pulang, anak ilang!"
"Kamu kenapa sih, orang baru dateng bukannya disambut malah ditangisin?" tanya Kiran merengut heran, berusaha lepas dari pelukan Septi yang membelenggu gerakannya.
"Ya ampun, Ran! Kamu itu kemana aja nggak ngabarin sampai tiga hari?" tanya Septi masih terisak.
"Gimana mau ngabarin kalau hape mati kehabisan baterai, power bank juga mati," jawab Kiran santai seperti tak terjadi hal penting pada dirinya. "Seingatku cuma pagi kemarin sama pagi kemarinnya aku nggak ngabarin kamu deh, kenapa jadi tiga hari? Ya udah maaf … sumpah nggak sengaja!"
Suara radio komunikasi basecamp pendakian mengabarkan kepada tim penyelamat yang masih di lapangan untuk menghentikan pencarian. Kiran sudah sampai pos pendakian dalam keadaan selamat, sehat tanpa cacat.
Kiran akhirnya meminta maaf kepada koordinator penyelamat yang baru selesai menginstruksikan tim SAR untuk segera turun dan evaluasi di bawah.
Mbah Wiro memanggil Kiran secara khusus, memberikan air minum sebelum mengajaknya bicara empat mata. Kiran meminum air yang sudah dimantrai itu tanpa banyak bertanya karena Septi sudah menjelaskan sedikit tentang Mbah Wiro.
"Kamu dari mana saja, Kirana?" tanya mbah Wiro menyelidik.
"Saya tersesat, Mbah!" jawab Kiran singkat.
"Siapa yang menyelamatkanmu?"
"Saya tinggal di rumah pak Subarkah, putranya yang menemukan saya!"
Mbah Wiro manggut-manggut, "Apa kamu tahu siapa pak Subarkah itu?"
Kiran menggeleng, "Saya taunya beliau orang baik karena mau menampung saya yang memang butuh bantuan waktu itu."
"Dimana rumah pak Subarkah?"
Kiran linglung, ingatannya seperti terputus. Jalan-jalan yang dilaluinya bersama Candra ke rumah juru kunci itu sama sekali tidak membekas dalam ingatan. "Saya lupa jalannya, tapi saya ingat gapura desanya bertahun 1905."
"Hm, jadi kamu sudah sampai sana ya? Apa saja yang sudah kamu lihat di kampung itu, Kirana?"
Kirana menatap mbah Wiro dengan ekspresi bingung, tidak tau maksud dari pertanyaannya. "Hanya beberapa rumah, tidak ada listrik sehingga saya tidak bisa mengabari teman saya kalau saya baik-baik saja."
Mbah Wiro terlihat mengerang jengkel, "Ya sudah, segeralah pulang! Pergi dari tempat ini dan jangan pernah kembali, kamu terlalu wangi untuk dunia yang tidak kamu pahami!"
Sungguh Kiran tidak sedikitpun menutupi sesuatu. Apa yang disampaikan Kiran pada mbah Wiro sudah sesuai dengan kinerja otaknya. Daya ingatnya tentang rumah pak Subarkah sangat kabur, begitu juga dengan pendakiannya yang penuh keanehan.
Koordinator penyelamat memberikan ransel Kiran dan juga tenda yang ditemukan di atas gunung. Tidak ada yang hilang saat Kiran mengeceknya.
Pria berusia tiga puluhan itu pun menyuruh Kiran segera pulang dan beristirahat di rumah. Kondisi Kiran secara fisik memang baik, tapi mereka menduga ada gangguan psikologis meskipun tidak terlihat parah.
Setelah mengucapkan terima kasih, Kiran, Septi dan Surya meninggalkan pos pantau pendakian.
Dua jam kemudian mereka sudah sampai di kost. Senyum sumringah Kiran tercetak di sudut-sudut bibirnya yang tampak melengkung ke atas. "Akhirnya sampai kamarku lagi, kangen gulingku!"
"Ran, kamu mandi duluan! Aku mau beli sarapan bentar di sebelah," pamit Septi setelah meletakkan ranselnya. "Sur, jaga Kiran!"
**
Selama seminggu, Kiran menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa secara normal. Pengalaman gaib di gunung tidak lantas membuat jiwanya terganggu. Semua ingatan tentang pendakian dan juga Candra memudar.
Air minum yang diberikan mbah Wiro bekerja baik memagari Kiran dari goda makhluk halus. Gadis itu seperti lahir lagi tanpa beban magis yang mengikutinya, entah sampai kapan.
Selama Kiran tidak mendaki gunung itu lagi, mungkin pagar mbah Wiro pada tubuh Kiran akan tetap bekerja dengan baik. Tidur Kiran juga nyenyak setiap malam, tanpa mimpi buruk bertemu memedi berpakaian putih berbentuk lemper yang beberapa kali mengganggunya saat di gunung.
Malam ini Kiran harus begadang mengerjakan tugas kuliahnya. Memaksa mata yang sebenarnya sudah lelah dan mengantuk untuk tetap terbuka. Septi belum pulang, jadi Kiran memutuskan untuk menunggu sahabatnya itu sambil mengutak-atik laporan yang harus dikumpulkan besok. Dia butuh printer Septi untuk mencetak laporan.
Kiran melirik kopi yang belum tersentuh sama sekali karena lupa kalau memilikinya. Idenya membuang rasa kantuk muncul, Kiran pergi ke dapur untuk memasak air dan membuat kopi.
Harum pandan menguar dari cangkir, menggelitiki Kiran agar segera mencicipi minuman yang masih panas itu.
"Baunya wangi banget! Rasanya juga mantap." Puing-puing ingatan Kiran yang pecah seperti menyatu perlahan, tak terasa dua pertiga isi cangkir sudah berpindah ke dalam perutnya. "Harusnya tadi nggak usah pakai gula biar lebih mantap!"
Tubuh Kiran menghangat. Kejutan listrik kecil mengalir dari benda bulat berbentuk bulan purnama itu ke kulit dadanya, lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Kiran menyentuh liontin yang menggantung di lehernya, dan tiba-tiba saja Kiran ingat dengan seseorang yang seminggu ini dilupakannya. "Candra?"
Namun, Kiran tidak kuat menjaga matanya. Dia justru tertidur di depan lembaran-lembaran kertas yang harus dikerjakannya.
"Kiran …." Satu suara berat dan serak memanggil dengan nada sangat lembut. Seperti angin gunung yang bertiup lamban tanpa menyibak dedaunan.
Kiran ingat siapa pemuda yang memanggilnya dengan cara seperti itu. Suara yang menenangkan dan mampu membangkitkan gairahnya ke permukaan.
Dengan takjub, Kiran menatap wajah yang dirindukannya hadir di bawah alam sadar, tersenyum dengan sangat menawan. Wajah yang sudah berhasil disingkirkan mbah Wiro selama seminggu itu kembali.
"Candra …."
"Kirana …."
Mimpi yang sangat indah, dua insan yang saling merindukan bertemu. Mendekap satu sama lain penuh kemesraan, seperti pasangan kekasih yang baru terpisah bertahun lamanya.
"Kiran, Kiran … Kiran, kok malah tidur? Pindah ke atas kasur, Kiran!"
Lamat-lamat Kiran mendengar suara Septi. Tidurnya terusik dan mimpinya bubar, pecah menjadi kepingan bayangan manis yang menari-nari di kepala Kiran.
"Sial!" Kiran membuka mata, menggerutu pada Septi yang baru masuk kamarnya. "Kamu baru pulang?"
"Hm, tutup pintunya kalau tidur!"
"Ya aku nunggu kamu, mau pinjem printer! Printerku kehabisan tinta," ujar Kiran.
Kost yang ditempati Kiran dan Septi berada di samping rumah induk si pemilik. Mereka hanya berdua karena kamar yang disediakan hanya dua. Ada dapur kecil dan satu kamar mandi di belakang. Kiran menempati kamar depan, sehingga Septi pasti melewati kamar Kiran jika keluar masuk kost-an.
"Pake aja, mau aku bawain ke sini? Aku juga ada tugas buat besok, harus lembur juga kayaknya ini!"
"Ya udah kerjain di sini aja, begadang bareng! Ada yang mau aku obrolin sama kamu, aku lupa-lupa terus dari seminggu kemarin mau cerita!"
"Aku buat kopi bentar, kamu mau nambah? Udah mau habis kayaknya kopi kamu." Septi mengambil cangkir Kiran untuk dibawa ke dapur, meneguk isinya sampai habis sebelum diisi ulang.
PRANG!!!
Septi menjatuhkan cangkir itu di depan kamar Kiran, tubuhnya sempoyongan hingga akhirnya jatuh terduduk. Darah keluar dari hidung dalam bentuk tetesan. Mimisan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑺𝒆𝒑𝒕𝒊 𝒌𝒆𝒏𝒂𝒑𝒂 🤔🤔🤔
2024-04-08
0
sianida kah😂
2023-09-04
1
bubar. bubar. bubarrr🤣
2023-09-04
1