Candra Kirana

Negeri atas awan yang dimaksud Kiran adalah lautan awan yang tersebar merata di sekitar pos empat. Di bawah kaki yang menapaki kemiringan gunung, gumpalan-gumpalan putih seperti kapas itu membentang sampai batas cakrawala. Membentuk kasur raksasa yang sepertinya sangat empuk dan nyaman untuk ditiduri.

Kiran selalu berdecak kagum saat sampai di lokasi favoritnya. Hamparan edelweis di kaki, sementara awan berarak ada di depan mata. Udara dingin bertiup ringan, kabut menipis dan matahari sore hampir jatuh di posisi terbaiknya.

Surga serasa ada di tempat itu, dan Kiran bukan hanya terpesona, tapi terhipnotis oleh keindahan alam yang tiada duanya. Kiran terkagum-kagum dengan apa yang tertangkap oleh matanya.

Selanjutnya, misi harus dijalankan untuk melegakan sesak yang menghimpit dari sejak beberapa hari lalu. Kiran ingin melepaskan bebannya di tempat itu dengan berteriak sepuas mungkin.

"Dodi … aku benci kamu!" Suara Kiran menggema sebentar sebelum hilang ditiup angin.

"Aku benci Dodi …! Aku benci Dodi! Mati aja kamu Dodol! Dasar pecundang! Bab1, anj*ng … aku sumpahin kamu nggak bahagia seumur hidup!"

Kutukan, sumpah serapah kotor, makian sekebon binatang masih terdengar dari mulut Kiran. Emosinya ditumpahkan dengan memaki matahari yang bersinar indah di depannya. Cahayanya nyata mengubah hamparan awan putih menjadi merah jingga. Senja indah yang belum rusak oleh tangan manusia.

"Aku benci kamu, Dodi!"

Akhirnya kata terakhir yang keluar hanya berupa bisikan, serta air mata yang menggenang di sudut mata. Tidak menetes karena Kiran menahannya, pantang menangisi pemuda yang sudah sangat menyakiti hatinya itu.

Surya dan Septi muncul saat Kiran sudah selesai dengan misinya, yaitu berteriak bebas mengumpat mantannya. Dua sahabat itu tersenyum, Kiran pasti kuat menghadapi sakit hatinya.

Suara yang terdengar tadi saat mereka masih di bawah menunjukkan semua emosi Kiran sudah tumpah di tempatnya. Biasanya Kiran akan membaik setelah aksi ekstrimnya berakhir.

Ekstrim? Ya, dua kali Kiran menyendiri di gunung selama seminggu untuk menyelesaikan persoalan hatinya. Kali ini pun Septi dan Surya hanya mengantar, mungkin menemani selama satu hari. Setelah mereka berdua kembali dari puncak, Kiran akan ditinggalkan sendiri.

Mungkin Surya dan Septi akan kembali naik jika Kiran butuh logistik tambahan atau minta ditemani. Sahabat mereka memang unik, dan juga sedikit aneh. Selalu memilih gunung untuk mencairkan masalah, seperti pertapa yang butuh ketenangan untuk memanjatkan doa.

"Udah dapat tempat ngecamp?" tanya Septi begitu sampai di sebelah Kiran. Ikut menikmati senja yang hampir hilang dimakan batas cakrawala. "Kamu nggak apa-apa, Ran?"

"Hm, di situ aja! Ada lahan baru seluas tiga tenda, kayaknya ada yang baru saja merusak alam untuk buka tenda, mereka membabat beberapa pohon kecil dan juga semak, ada bekas api unggun juga, tapi agak banyak sampah bekas mie instan sama botol minum."

"Huh, kenapa masih banyak saja pendaki nggak punya otak yang bertingkah kampungan seperti itu!" gerutu Septi kesal. Langkahnya menuju tempat yang ditunjuk Kiran. "Ngomong-ngomong kamu main ngilang kayak setan aja tadi, nggak nunggu aku sama Surya. Dipanggil juga nggak nyaut!"

Surya merangkul Septi agar tidak membahas hal itu lebih dulu. "Ayo kita buka tenda aja biar cepat istirahat, aku lapar!"

Bersama Surya, Septi membereskan bekas kekacauan yang ditinggalkan entah siapa di sana. Semua sampah dimasukkan dalam satu kantong plastik besar untuk dibawa turun esok hari.

Tak lama, dua tenda dome sudah didirikan, Septi mulai memasak di depan tenda. Surya mengumpulkan bekas sisa kayu api unggun yang masih lumayan banyak, menumpuknya di tempat yang sama agar bisa dipakai untuk menghangatkan badan nanti malam. Doa mereka hanya satu, semoga tidak hujan.

Kabut dan cuaca yang diprediksi buruk nyatanya tidak berarti apa-apa. Malam yang kian gelap menampakkan langit semakin cerah, kabut tipis dan udara yang tidak begitu dingin. Kiran masuk ke dalam tendanya dan menata perlengkapan tidur.

Kiran mengamati koin yang ditemukannya sore tadi. Jika diperhatikan lebih teliti, koin itu tidak seperti mata uang, tidak ada nominal yang tertera. Koin bulat itu lebih mirip seperti gambar bulan, dengan beberapa simbol yang melingkar penuh dan juga lubang kecil sebagai gantungan. Persis seperti liontin berbentuk bulan purnama.

Otak Kiran bekerja, dia melepas kalung dari tali prusik kecil yang dipakainya, lalu memasang liontin itu dan menggantung kembali di leher jenjangnya. Sama sekali tidak mencolok, umum seperti kalung yang biasa dipakai anak muda petualang pecinta alam.

Kiran menoleh ke belakang, tengkuknya meremang tiba-tiba. Ada udara hangat yang dihembus ke lehernya, seperti tiupan seseorang dari jarak dekat.

Gadis itu mengabaikan apa yang baru saja dirasakannya, dia beranjak meninggalkan tenda untuk membantu Septi memasak. Takut dengan sesuatu yang mistis bukanlah ciri dari seorang Kiran.

"Masak apa, Sep? Sorry kalau aku tadi jalannya kecepatan, tapi sumpah aku nggak dengar panggilan kalian."

"Masak nasi aja, lauk kita banyak, tinggal angetin. Kamu mau rendang apa opor?" tanya Septi. "Suara Surya sampai habis itu gara-gara neriakin kamu."

"Rendang enak itu, Sayang! Sama sambel goreng ati!" Surya inisiatif menjawab.

Kiran menatap Septi skeptis, "Aku serius nggak denger suara Surya, Sep! Aku pikir kalian jalan pas di belakangku, soalnya aku dengar suara nafas megap-megapmu!"

"Sudahlah, mungkin memang cuma salah paham," ucap Surya menengahi.

Waktu bergulir cepat, api unggun kecil menemani mereka bertiga selama satu jam. Hingga akhirnya Septi dan Surya memutuskan untuk masuk ke dalam tenda untuk istirahat. Sebelum pukul tiga mereka berdua berencana naik ke puncak untuk memburu matahari terbit.

Kiran termangu sendiri, di depan tenda, di dekat api yang sebagian besar sudah berupa bara. Kabut mulai pekat dan udara juga terjun ke titik beku. Dua rombongan pendaki yang lewat enggan untuk mampir meski sudah ditawari kopi gratis olehnya.

"Kayaknya pagi rame di puncak!" gumam Kiran pada dirinya sendiri. Tangannya cekatan memilah kayu bekas bakaran kemarin dan meletakkan di api unggun yang semakin kecil.

Pukul dua dini hari, Surya dan Septi berangkat menyusul pendaki terakhir yang berhenti sebentar untuk istirahat di dekat api unggun. Kiran harusnya pergi tidur, tapi rasa kantuk tak kunjung datang, masih teringat mantan dan banyaknya rasa sakit yang ditinggalkan.

Menikmati kesendirian adalah cara Kiran menyembuhkan diri. Butuh setidaknya lima hari untuk melepaskan seluruh penat hatinya. Dia selalu menganggap gunung adalah obat untuk semua sakitnya. Dinginnya, sunyinya, indahnya … semua disukai Kiran.

"Ehm … kok melamun, Mbak?" Satu sosok pendaki muncul dari bawah dengan nafas sedikit memburu. Berdiri tak jauh dari api unggun dengan tas ransel besar berwarna hitam. Kabut yang pekat sedikit menyamarkan kehadirannya.

Kiran menoleh dan tersenyum ramah, dia benar-benar tidak mendengar suara langkah kaki sebelum pemuda itu muncul. "Iya, mau ke puncak sekarang, Mas? Rame di atas udahan! Ada tiga rombongan baru lewat."

"Belum tau mau ke puncak apa nggak … agak capek," jawab pemuda itu mengatur nafas. Botol minum dikeluarkan setelah menurunkan ransel, lalu pemuda itu berjalan lebih dekat ke arah Kiran. "Istirahat di sini sebentar, boleh?"

"Bolehlah, silakan! Mas sendirian aja?" tanya Kiran sopan sambil mengamati wajah pemuda yang diperkirakan berumur 25 tahun itu.

Tampilannya seperti petualang umumnya, jaket flanel kotak-kotak warna merah hitam, celana lapangan dengan banyak saku, sepatu trekking, tak lupa bandana yang diikat dikepala, menutupi telinga.

Macho adalah kesan pertama yang dilihat Kiran dari sosok itu.

"Iya sendiri, lagi pingin menyendiri. Mbak berapa orang?" tunjuk pemuda itu pada tenda yang sebelumnya ditempati Surya dan Septi.

Kiran menjawab, "Oh, dua teman saya baru saja naik, maklum pemburu sunrise puncak gunung."

"Mbak nggak ikut muncak? Konon pemandangan matahari terbit gunung ini adalah salah satu yang terindah dan terbaik."

Dengan gelengan ringan Kiran menjawab, "Besok mungkin, puncak juga nggak bakal pindah kemana-mana, udah pernah muncak juga beberapa kali sebelum ini."

Pemuda itu tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Iya bener banget. Ohya, nama saya Candra. Mbaknya siapa?"

Kiran menyambut uluran tangan pemuda itu, terasa sangat dingin dalam jabatan eratnya. "Kirana …."

Mereka saling bertatapan sebentar. Kiran memutuskan pandangan lebih dulu. Dia segera melihat api unggun setelah degup jantungnya mendadak melonjak dua kali lebih cepat.

Mata pemuda itu … tidak bisa Kiran jelaskan, Kiran merasa ada yang asing, tidak biasa dan tidak pernah ditemuinya pada pria manapun. Maniknya segelap jelaga, seperti lorong hitam kecil tanpa ujung dalam remangnya purnama.

"Nama kita memiliki arti yang sama, kok bisa ya?" Candra menunjuk langit berawan hitam yang bersinarkan bulan penuh di baliknya. Cahaya temaram menyinari wajahnya saat mendongak.

"Bulan." Mereka bicara bersamaan dan kembali bersirobok mata. Kiran tersenyum, tangannya reflek saling menggosok untuk menghalau dingin.

"Dingin ya? Mau kopi?" tanya Candra ramah. Dua tangannya dengan cekatan mengeluarkan perlengkapan memasak. Tak lama, dua gelas kopi hitam tersaji di depan mereka. "Ayo mumpung masih panas!"

Kiran mengambil gelasnya, menghirup aroma kopi yang wanginya sangat tidak biasa. Hampir mirip dengan bau wangi pandan, tapi setengahnya juga berbau melati, atau mungkin kenanga?

Sedikit ganjil dari semua aroma kopi yang pernah diminumnya. Namun, Kiran penasaran dan ingin segera mencicipinya.

Kiran menyeruput satu teguk, lalu ....

***

Terpopuler

Comments

YuWie

YuWie

semakin mistis..ke delmen tho kiran2

2024-11-29

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒂𝒑𝒂 𝑪𝒂𝒏𝒅𝒓𝒂 𝒚𝒈 𝒂𝒅𝒂 𝒅𝒊 𝒍𝒊𝒐𝒏𝒕𝒊𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒚𝒂 🤔🤔

2024-04-08

1

nath_e

nath_e

gleek...lalu ditangkap eeh🙈🤣

2023-09-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!