Tumpeng Sajen

Kiran tersipu-sipu mendengar jawaban Candra. Kiran rasanya tidak keberatan dan sama sekali tidak masalah jika berjodoh dengan Candra. Lagipula siapa yang bisa menolak pesona cowok macho dan tampan di depannya?

Candra adalah pria ideal dilihat secara fisik. Jenis yang jelas-jelas bisa merusak saraf dan akal sehat wanita yang ada di dekatnya. Kiran bahkan yakin jika Septi sudah bertemu Candra, bisa-bisa lupa kalau harus setia dengan Surya.

"Kamu hafal bener seluk beluk gunung ini berarti ya, Can?"

Candra mendadak memasang wajah muram, ada kesedihan yang dalam tersirat dari ucapannya. "Aku setahun lebih muter-muter di gunung ini, Ran!"

"Hah? Ngapain?" tanya Kiran. Candra terlihat memiliki pribadi yang kuat, bukan jenis yang sulit move on dari masalah.

"Udahlah nggak usah tau, bukan cerita enak untuk didengar … apalagi dikenang!" Candra mengeluarkan bungkusan besar dari tasnya. "Kita makan aja, yuk!"

Makanan yang dibawa Candra bentuknya sudah berantakan karena dimasukkan ke dalam kantong plastik. Masih beralas daun pisang di bawahnya.

Isinya nasi kuning, ayam utuh, urap-urap dan kelengkapannya termasuk sambel dan juga teri kacang. Candra menatanya sedemikian rupa agar enak untuk dilihat lagi sebelum disantap bersama Kiran.

"Ini nasi tumpeng?" tanya Kiran penuh rasa ingin tau.

"Tadinya iya, tapi sekarang jadi nasi tumpeh, nggak karuan modelnya," jawab Candra terkekeh-kekeh. "Ayo kita nikmati aja, lapar aku!"

"Di rumahmu baru ada acara?"

"Hm, aku sengaja bawa karena sisa banyak di rumah!"

"Kamu niat banget orangnya, kemarin jagung, sekarang nasi tumpeng segini banyak!"

"Ayamnya, Ran! Enak itu … dimasak ingkung, favorit banget di keluargaku!"

Kiran mengamati ayam utuh yang dilipat-lipat membentuk ingkung. Kelihatan enak tercium dari aromanya yang menggugah selera. Kiran mematahkan sayap dan paha ayam ingkung itu lalu memberikannya pada Candra.

"Astaga … kuku kakinya kok nggak dipotongin sih waktu masaknya, paruhnya juga!" gerutu Kiran setengah kesal. Dia tidak menyukai makanan dengan kesan jorok seperti ayam ingkung yang terlihat di depannya. "Ini ayam kampung ya?"

"Iya ayam kampung, ingkung kan konon memang ayam utuh, Ran!"

"Ya ampun … ini bagian kepala juga masih ada bulunya, Can! Item-item lagi. Eh kakinya juga nggak kuning kayak ceker pedas yang dijual di kota. Agak item juga!" Kiran memutus leher ayam dan menyingkirkannya di pinggir.

"Ayam yang dipakai untuk ingkung ini berarti warnanya hitam, Ran." Candra tak menanggapi lebih serius, "Emang ada perbedaan rasa kalau warnanya selain hitam? Kamu suka ayam yang warna apa?"

Kiran mendelik mendengar pertanyaan konyol Candra, "Ya nggak ada bedanya, rasa ayam ya gitu itu nggak ada hubungannya sama warna."

"Aku suka ingkung ayam hitam!" Tepatnya ayam cemani. Tapi kalimat kedua tidak diungkapkan Candra.

"Aku suka yang gratis kayak gini hahaha," timpal Kiran usil. "Urap sama teri kacangnya enak juga, siapa yang masak?"

Candra mengedikkan bahu sebagai isyarat enggan menjawab, mulutnya penuh dengan makanan. Kepala ayam berbulu yang disingkirkan Kiran disantapnya tanpa pertimbangan. "Makan yang banyak, Ran!"

"Ya ampun Can bulunya ikut kamu makan?" Kiran melongo setengah bergidik melihat kepala ayam ingkung yang sudah bersih dari kulit dan daging, menyisakan sedikit tulang.

"Gak bikin mati, Ran!" Candra terkekeh, menertawakan kata mati untuknya.

"Trus apa ini, Can?" Kiran mengangkat sesuatu yang bercampur dengan urap-urap. "Ini kayak bukan sayuran!"

Candra mengambil bunga kenanga dari tangan Kiran, "Oh ya masa? Sini aku cobain!"

"Kok dimakan, Can? Itu bukan sayuran, bunga kenanga bukan sih?"

"Nggak tau, Ran! Selama itu bukan racun, aku makan aja!" ujar Candra terkekeh geli. Tanpa sepengetahuan Kiran, beberapa bunga lain yang ditemukan Candra di hidangan itu disikatnya lebih cepat.

"Kamu lulus pelajaran survival dengan nilai A++ pasti ya?" Kiran menyingkirkan yang tidak bisa dimakannya ke pinggir, termasuk daun sirih dan satu linting tembakau yang berbaur dengan nasi. "Ini nasi campur apa aja toh, Can!"

"Maaf aku tadi nggak sempat misah isinya, aku bawa semua yang ada di atas nampan." Candra menjawab dengan raut biasa-biasa saja.

"Kayak tumpeng sajen! Isinya aneh-aneh!" kata Kiran dengan mata menyelidik ke arah Candra.

Candra mengangguk setuju, "Adat … kebiasaan dalam keluarga, Ran! Aku bisa apa?"

Kiran mengamati Candra yang makan dengan lahap,"Iya aku juga paham, masih aja ada orang yang percaya sama hal-hal berbau klenik, termasuk bikin sajen untuk makhluk gaib atau orang mati."

"Hm … begitulah!"

"Keluargamu unik ya, masih mengusung cara kuno untuk menghormati leluhur." Kiran menyimpulkan. "Aku udah kenyang, Can! Thanks ya udah bawain aku makanan."

Candra mengambil satu plastik kecil isi buah-buahan, "Ini cuci mulutnya!"

Dugaan Kiran semakin kuat kalau latar belakang keluarga Candra masih memegang kebiasaan lama. Buah yang diberikan Candra pasti bagian dari sesaji. "Ini juga isi nampan?"

"Hm," jawab Candra sambil merogoh pisau rimba kecil dari pinggir tas. "Mau dikupasin? Aku juga udah selesai makannya."

Kiran menggeleng, "Langsung aku makan aja deh!"

Keringat menetes dari dahi Kiran, makanan yang sudah masuk ke perutnya serasa ingin keluar lagi. Tubuhnya seperti meriang. Apel yang baru saja dimakan setengah diletakkan di atas pangkuannya.

"Kenapa, Ran?" tanya Candra.

"Kayaknya aku masuk angin, Can! Badanku nggak enak semua rasanya, pening, mual juga!" Kiran memijit pelipisnya sambil bernafas panjang-panjang.

Candra menyentuh dahi Kiran, "Kayaknya kamu demam. Punya obat apa?"

Kiran membuka tas kecilnya, ada obat pribadi yang selalu dibawanya saat pergi ke alam terbuka. Kiran mengambil obat pereda nyeri untuk meredakan demam dan sakit di sekitar kepala. "Semoga ini membantu! Pagi aku turun kok!"

"Kamu mau ambil dulu tas perlengkapan sama tenda yang ketinggalan?"

"Belum tau! Jaraknya lumayan jauh dari sini," ujar Kiran sembari menjelaskan ingatan samar tentang pelariannya. "Rasanya aku lupa tempatnya."

Selain sleepwalking, Kiran mulai memikirkan dirinya yang berubah menjadi pelupa hanya dalam dua hari saja.

Sepanjang hidup dan menempuh pendidikan hingga universitas, Kiran merasa otaknya tidak terlalu tumpul. Maksudnya, mata pelajaran ataupun mata kuliah masih bisa diserapnya dengan mudah. Juga mengendap di otaknya sebagai ingatan tentang pengetahuan.

Tapi sekarang, untuk mengingat kejadian buruk kemarin saja Kiran kesulitan. Kiran menghembuskan nafas berat sambil menatap Candra yang juga sedang menatapnya dengan raut iba.

"Ada poskesdes nggak jauh dari rumahku, mau kesana?"

Kiran menggeleng, "Kepalaku pusing, Can! Nggak kuat kalau harus jalan jauh."

"Tapi kalau di sini kamu bisa semakin parah, udara terlalu dingin dan kondisimu sedang tidak terlalu baik!"

"Kamu nggak bawa sleeping bag ya?" Kiran menebak Candra pasti tidak butuh kantong tidur. Selain terbiasa hidup di gunung, Kiran juga sudah melihat Candra bisa tidur nyaman tanpa benda itu.

"Ayo kita ke rumahku aja, kamu juga bisa dapat perawatan di pos kesehatan desa saat pagi." Candra membereskan bagian dalam tenda lalu memaksa Kiran menuruti perintahnya. "Ayo keluar, tendanya mau aku bongkar!"

Kiran mengeluh, kondisinya sedang tidak baik tapi malah diajak turun gunung malam-malam. Semoga saja dia tidak pingsan nanti saat berjalan. "Nanti kalau aku nggak kuat, kita istirahat ya, Can?"

Candra justru tergelak, "Hm … nanti aku gendong!"

"Gendong depan?" tanya Kiran masih sempat iseng. Sekaligus membayangkan apa yang baru saja Candra tawarkan itu menjadi kenyataan.

"Hm, nggak masalah kalau kamu mau seperti itu!" jawab Candra kalem.

Kiran menggeleng, juga terkikik. "Nggak lucu ya?"

Bukankah romantis jika Candra berjalan sambil menggendongnya? Toh tubuh Kiran beratnya hanya 50 kg. Sedangkan Candra tinggi, proporsional dan kelihatan punya ekstra tenaga untuk melakukan apapun pada Kiran, termasuk memanjakan dan ….

Ups! Kiran meremang bukan karena udara dingin atau hawa magis di sekelilingnya, tapi oleh pikiran kotor yang berasal dari gairah mudanya.

Kiran merasa baru berkedip dua kali dan tenda sudah rapi. Bahkan Candra sudah berdiri dengan ransel di punggung dan tangan yang bertaut pada jemarinya, siap untuk mengajak Kiran pulang ke rumahnya.

"Ayo berangkat sekarang!"

Kiran bergidik, kaget oleh tangan Candra yang lebih dingin dari udara di sekitarnya. Alih-alih memprotes secara langsung, Kiran hanya membatin, kenapa sih cowok satu ini nggak pakai sarung tangan?

***

Terpopuler

Comments

YuWie

YuWie

agamamu opo tho kir..kok ya gak baca2 doa. atau malah sdh lupa jg krn makan sesajen

2024-11-29

0

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝑲𝒊𝒓𝒂𝒏 𝒄𝒖𝒓𝒊𝒈𝒂 𝒚𝒂

2024-04-08

0

Tita Puspita Dewi

Tita Puspita Dewi

inget waktu kecil dikampung masih banyak yang suka naroh2 sesajen ditempat2 tertentu dan biasanya sambil lewat kami ambil telur sama buahnya. 😀😀

2022-12-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!