Rumah 1905

Candra melepaskan tangan Kiran ketika mereka sudah masuk halaman luas sebuah rumah. Masih malam, apapun terlihat temaram tersamar oleh kabut. Berjenis-jenis bunga yang tumbuh di area rumah itu tidak terlihat indahnya, pun dengan tanaman yang merambat di sekitar pagar rumah.

Teras hanya berpenerangan lampu badai, sehingga rumah besar yang seharusnya bagus itu tampak suram. Kiran menaikkan satu alisnya, berusaha menemukan penyebab rumah terlihat tidak enak dipandang dan menyeramkan.

"Ini rumahku," ucap Candra. "Masuk yuk!"

Kiran mengangguk, "Kok rasanya gimana gitu ya bertamu malam-malam."

"Nanti aku jelaskan sama ayah kalau kamu pendaki tersesat yang sakit dan butuh pertolongan, makanya aku ajak ke rumah!"

"Iya deh."

Masuk ke dalam rumah, Kiran berdecak kagum, juga heran. Bagaimana rumah seperti itu berada di tengah hutan?

Kediaman Candra tidak sendirian, Kiran sudah melihat ada beberapa rumah lain yang jadi tetangga Candra. Saat pagi Kiran akan memastikannya, sekalian ambil gambar untuk diabadikan dan dipamerkan pada Septi.

Rumah Candra adalah bangunan lawas yang masih mengusung konsep klasik gaya Belanda. Atap tinggi dengan pilar-pilar besar sebagai penyangga. Ada empat pilar besar di ruang tamu seluas 8 x 8 meter. Dua set perabot duduk untuk tamu terbuat dari kayu jati.

Dinding dan pernak pernik pelengkap keindahan ruangan semua bernuansa kuno dan antik. Dekorasi khas abad sembilan belas. Di salah satu pilar utama ada hiasan berupa tanduk rusa berwarna hitam. Tepat di bawahnya ada kain putih lusuh yang mengikat pilar dan angka 1905 tertera seperti relief kuno, menunjukkan tahun rumah itu dibuat. Setidaknya itu yang dipikirkan Kiran.

Kiran merasa kekurangan cahaya untuk memanjakan matanya dalam ruangan luas itu. Penerangan hanya berasal dari lampu kuno yang digantung di tengah ruangan.

"Nggak ada listrik, Can?" tanya Kiran dengan wajah bodohnya. Pertanyaannya jelas tidak perlu dijawab karena Kiran tidak menemukan benda apapun yang berhubungan dengan tenaga listrik.

Candra tersenyum, menjelaskan dengan nada lebih rendah. "Belum sampai sini listriknya, Kiran. Kamu terganggu pakai lampu begini?"

"Ya nggaklah, aku bukan penakut kok! Keluargamu udah tidur semua ya? Jam berapa sih ini?" Kiran memicingkan mata menatap jam dinding lawas yang ada di hadapannya.

"Lewat tengah malam," jawab Candra. "Nggak ada penunjuk waktu di rumah, itu cuma pajangan, udah mati sejak lama."

"Astaga, bagaimana bisa orang hidup tanpa tau ini pukul berapa?" Kiran menelisik wajah Candra yang menatapnya tanpa ekspresi.

"Kamu mau istirahat apa mau jadi pengamat ruang tamuku?"

"Maaf aku terlena dengan sentuhan kuno di rumah ini. Baiklah, aku tidur dimana?"

Kiran hanya bisa nyengir, apa yang dilakukannya memang tidak sopan. Bagaimana tadi Kiran memutari ruang tamu dan meneliti tiap sudut tanpa mempedulikan Candra yang terus ada di sebelahnya.

Candra mengedikkan kepala ke arah dalam, berjalan lebih dulu diikuti Kiran. Tepat di belakang ruang tamu adalah ruang makan, tepatnya ruang jamuan karena banyaknya kursi yang melingkari meja besar.

"Tidurlah di kamarku!" Candra membuka pintu kamar untuk Kiran dan menyuruh gadis itu masuk.

Kiran menatap Candra dengan perasaan campur aduk. Belum pernah dia masuk ke kamar cowok, terlebih tengah malam seperti itu. Apa yang akan dikatakan keluarga Candra saat melihatnya nanti?

"Aku tidur sendiri?!"

Kamar Candra hampir tidak memiliki perabot tambahan selain dipan kayu dengan kelambu putih, meja berlaci dua dan satu lemari pakaian.

Candra terkekeh geli, "Kamu mau ditemani?"

"Aku bukan penakut, Can! Tapi kalau kamu ada di sini lebih baik, maksudnya kita ngobrol aja sampai pagi biar keluargamu nggak curiga …."

"Ya udah tunggu sebentar, aku buatkan minum hangat."

Kiran melirik punggung Candra. Pemuda itu keluar kamar nyaris tanpa suara hentakan di lantai. Dalam hati Kiran menertawakan dirinya yang menciut karena harus sendirian di kamar sepi itu.

Bukan hanya kamar, tapi rumah Candra memang sepi seperti tidak ada kehidupan. Terlalu senyap hingga suara jangkrik ataupun binatang malam tidak terdengar.

Candra datang dengan nampan kecil di tangan, dua gelas teh hangat dan sepiring nasi. "Makan satenya pake nasi biar kenyang, trus minum tehnya. Ini ada tambahan obat masuk angin di dalamnya, jadi rasanya sedikit kurang enak!"

"Aku mau ke kamar mandi dulu, Can!"

"Ayo," ajak Candra. "Kamar mandi ada di belakang."

Kiran melepas jaketnya lalu mengikuti langkah Candra melewati ruangan-ruangan tertutup yang jumlahnya cukup banyak. Jika itu kamar, Kiran menghitung ada enam pintu. Tiga di kiri dan tiga di kanan saling berhadapan.

Kamar mandi ada di ujung kamar barisan kiri dan kanan. Seperti kost-kostan. "Jangan ditinggal, Can!"

"Kamu kenapa sih? Katanya bukan penakut?" ledek Candra.

"Ish, inikan rumah kamu, kalau aku tersesat gimana? Rumah kamu nggak kecil, Can!" Alasan Kiran terdengar menggelikan. Nyalinya memang ciut ada di dalam rumah dengan cahaya temaram itu, rasanya di tiap ruang tertutup itu ada kehidupan yang tidak bisa Kiran jelaskan.

Mungkin hanya perasaannya, atau memang rumah Candra tidak membuatnya merasa nyaman. Terlalu besar? Atau karena terlalu sepi? Atau karena bau wangi dupa yang mengganggu penciumannya? Entahlah ….

Kembali ke kamar, Kiran langsung membuka bungkusan yang berisi sate. Aroma khas daging bakar kembali tercium. Kiran memilih fokus pada santapan yang ada di hadapannya daripada mengurusi pikiran tak nyamannya.

"Ayo kita makan berdua!" Kiran menyuapkan nasi ke mulut Candra dan menyodorkan satu tusuk sate.

Selanjutnya dia juga mulai makan tanpa mau merasakan sate yang kata Candra enak. Lidahnya tidak bisa menerima rasa aneh dari daging ayam yang dibakar entah dengan tambahan bumbu apa.

Yang jelas Kiran tidak suka amis yang menyengat saat daging itu dikunyahnya. Kiran hanya makan satu tusuk, sisanya dia memaksa Candra untuk menghabiskan.

Untungnya minuman hangat yang dibuat Candra bisa menutupi rasa mual. Kiran segera saja menghabiskan teh itu untuk menghangatkan tubuh.

"Nggak enak ya? Kamu cuma makan satu tusuk!"

"Iya, aneh rasanya!" jawab Kiran jujur.

"Ya udah istirahatlah, pagi kalau masih nggak sehat kita ke poskesdes!"

Kiran naik ke atas ranjang, menolak keras ketika Candra akan memasang kelambu. Dia hanya memakai selimut putih yang tersedia untuk menutup kaki hingga dada.

"Nggak ada nyamuk, tapi tolong jangan pergi sebelum aku tidur!" pinta Kiran dengan wajah memelas. Situasi yang dirasakannya sulit untuk dijelaskan.

Pintu kamar masih terbuka, saat itu tak sengaja ekor mata Kiran menangkap kelebat bayangan putih. Tidak hanya sekali, itulah satu dari banyak alasan keberanian Kiran semakin menipis. Indera penglihatannya dengan tidak masuk akalnya mendadak peka dengan sesuatu yang seharusnya tidak tampak.

Candra duduk di tepi ranjang setelah menutup pintu. Senyum samar tercetak di bibirnya yang tipis menawan, "Jadi sekarang kamu merasa takut? Katanya mau ngobrol sampai pagi?"

Kiran menyentuh tangan Candra dengan ujung jarinya. "Hm … aku pilih tidur aja biar cepet pagi. Aku merasa aneh!"

"Kamu belum terbiasa aja! Percayalah padaku, semua akan baik-baik aja." Candra menyambut jari Kiran, menggenggamnya erat. Dia tau Kiran tak nyaman dengan penampakan di rumahnya. "Tidurlah sekarang, aku akan berjaga!"

Degup jantung Kiran melonjak, wajah Candra teduh dan sangat meyakinkan saat bicara. Mereka baru kenal, tapi Kiran merasa tertaut dengan pemuda itu, semua serasa terlalu cepat. Bahkan, hatinya mulai ketar-ketir ketika Candra tersenyum padanya. Benar-benar membagongkan.

Kiran menguap lebar dan tidak sopan, tidak ada cantik-cantiknya sedikitpun saat membuka mulutnya seperti itu. Candra menahan tawa agar tidak melukai harga diri gadis itu.

"Waktunya tidur!" ujar Candra sambil mengulum senyum.

Sesuatu yang paling dibenci Kiran adalah saat dia tidak bisa mengendalikan rasa kantuk. "Yeah, aku memang mengantuk, dan entah kenapa aku percaya kamu tidak akan mengambil kesempatan …!"

"Tidurlah sekarang, Kiran!" Candra terkekeh, tapi Kiran semakin kesal karena kalimat perintah Candra melemahkan sarafnya. Tak lama, mata Kiran tertutup rapat dan nafasnya naik turun secara teratur.

***

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒑𝒆𝒏𝒂𝒔𝒂𝒓𝒂𝒏

2024-04-08

0

𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩

𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩

sebodo teuing ya ran,nguap di tahan mana enak, biarin saat menguap kita berekspresi 😆

2023-03-27

1

fitri rahayu

fitri rahayu

astoge, adekku nek ngomong membagongkan wae olehku guyu kemekel,,, lha iki mas al melu" membagongkan🤣🤣🤣🤣🤣

2022-11-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!