Empat Tamu

Hujan turun sebelum Kiran masuk halaman rumah Candra. Gadis itu mempercepat langkah dengan berlari kecil, menghalau tetes air yang jatuh ke wajah manisnya dengan telapak tangan yang terkembang.

Pakaian yang kedodoran sungguh membuat langkah kaki Kiran tak nyaman, pun cipratan dari genangan air yang terinjak mulai mengotori bagian bawah celananya. Kiran mengeluh karena warna coklat tanah membercak parah di kain putih bersih yang dipakainya.

"Kenapa aku selalu saja apes?" gerutu Kiran dalam nafas memburu karena lari-lari di bawah hujan.

Sampai depan rumah, ada dua motor yang terparkir di halaman. Kiran merasa tak enak jika harus masuk lewat pintu depan karena ada empat tamu yang sedang berbincang dengan pak Subarkah.

Kiran memutar ke arah kanan, ke tempat punden untuk menemukan pintu belakang. Kiran tidak salah duga, ada pintu yang berhadapan dengan bangunan sederhana tersebut.

Hujan semakin deras, ketukan Kiran di pintu belakang juga lumayan keras, seharusnya didengar Mak Sinah yang mungkin ada di dapur.

Ah, Kiran lupa … rumah Candra terlalu besar, asisten rumah tangga itu tidak mungkin mendengar suara ketukannya. Apalagi hujan turun semakin deras, bisa jadi mak Sinah sedang ada di tempat lain. Bagian belakang rumah Candra juga cukup luas.

Kiran tak punya pilihan, teras rumah Candra menyediakan tempat duduk dari kayu. Mungkin menunggu di sana sambil melihat hujan jatuh ke bumi justru lebih baik daripada diam di kamar sendirian.

Setelah menunggu beberapa menit dan tidak ada tanda-tanda pintu akan dibukakan dari dalam, Kiran berbalik arah. Melangkah perlahan untuk kembali ke bagian depan rumah.

Ketika melewati punden, langkah Kiran tak sengaja terhenti. Bayangan putih di antara kabut melintas di dekat bangunan itu. Kiran terkesiap, sesuatu mencelos dari ulu hatinya berbaur dengan rasa takut.

Kiran meraba dadanya, tepat di atas jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Namun, mata Kiran tetap berkeliaran mencari penampakan yang baru saja menggerogoti keberaniannya.

Aroma dupa menyengat hidung Kiran, tapi hanya dalam satu kali hirup. Kiran ingat betul bahwa itu adalah bau Candra, yang entah karena alasan apa mulai disukainya.

"Candra? Kamu udah pulang kerja?" Kiran bertanya dengan suara bergetar. Antara yakin dan tidak terhadap penciumannya.

Kiran tau itu pertanyaan bodoh, jika yang dilihatnya Candra pasti tidak akan hilang dari pandangan mata. Kiran menggaruk tengkuknya yang meremang hebat, pikirannya langsung teralihkan ke hal lain yang berhubungan dengan tempat yang dikeramatkan.

"Maafkan cucumu, Mbah! Saya cuma mau lewat, tidak bermaksud mengganggu!" ucap Kiran penuh nada sesal.

Kiran pergi dengan langkah berjinjit, seperti orang yang baru saja meninggalkan bayi tidur, pun dengan sedikit terbungkuk sebagai penghormatan.

Setelah beberapa langkah, baru Kiran mempercepat langkahnya agar segera sampai di teras. Dua kali menoleh untuk memastikan bayangan putih itu sudah tidak ada lagi di sekitar punden.

Sampai teras, Kiran duduk nyaman di kursi kayu. Suara obrolan pak Subarkah dengan tamunya terdengar nyaring, tawa akrab mereka dari dalam ruang berpilar empat menenangkan hati Kiran yang tak nyaman. Nyalinya yang tadi kempes mulai melambung lagi. Kiran bernafas lega, setidaknya lima pria di ruang tamu itu benar-benar manusia seperti dirinya.

Tetes air bening dan cipratan yang menerpa bunga-bunga di halaman rumah Candra semakin memperbaiki situasi Kiran. Hm, alam memang selalu bisa memberikan efek rileks padanya. Seperti instrumen relaksasi yang kerap didengarnya saat tidak bisa pergi ke gunung.

Kiran menyandarkan punggung dan memejamkan mata untuk mendapatkan efek tenang dari bunyi air hujan. Tapi terganggu dengan suara lima pria yang sedang asyik bercengkrama.

Sungguh Kiran tidak ingin menguping obrolan para orang tua di ruang tamu tersebut. Suara mereka saja yang terlalu keras saat berbicara sehingga Kiran mendengar apa yang sedang mereka bahas.

Awalnya hanya berupa curhatan bapak-bapak mengenai pekerjaan yang tidak sebanding dengan bayaran yang mereka terima. Lalu merambat pada keluhan para istri yang mulai kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan pokok di rumah. Lalu merangkak pada biaya sekolah anak-anak yang terlambat dibayar.

Kiran menaikkan sebelah alisnya, rupanya gosip tidak hanya dilakukan oleh ibu-ibu saat belanja sayur atau ketika arisan, tapi juga dilakukan kaum pria saat berkumpul bersama dalam satu ruangan.

Terbukti, bapak-bapak di ruang tamu rumah Candra secara bergantian mencurahkan perkara rumah tangganya secara gamblang pada pak Subarkah.

Bahkan, dua diantara empat tamu itu menceritakan perihnya ditolak di ranjang oleh sang istri karena kebutuhan rumah tangga yang tidak dipenuhinya.

"Lha iya pak, istri saya itu sampai malas melayani karena saya pulang nggak bawa uang, apa nggak kurang asem …." Kiran mendengar pak Subarkah tertawa mendengar kisah mengenaskan tersebut.

"Kalau saya capek ribut setiap hari, dari mulai soal beras sampai skincare, dari biaya sekolah sampai tunggakan listrik. Belum lagi daster buluk istri yang udah minta diganti. Owalah pak, belum lagi menu makan yang isinya cuma tahu tempe setiap hari."

Ungkapan terakhir dibenarkan oleh dua suara, sementara pak Subarkah hanya tertawa kecil sebelum menanggapi curahan hati empat tamunya.

Kiran berusaha mengabaikan apa yang didengarnya, bukan kepentingannya untuk tau urusan lima pria tersebut. Dia lebih suka menikmati suara rinai hujan yang jatuh dari atap rumah Candra.

"Saya butuh bantuan pak Subarkah untuk membalik situasi ekonomi keluarga yang sedang buruk, saya mau kaya, Pak!"

Perbincangan semakin panas, Kiran yang awalnya hanya sepintas lalu mendengar obrolan dari ruang tamu berubah antusias. Bukankah ayah Candra juru kunci gunung? Lalu apa hubungannya dengan permintaan menjadi kaya?

Pak Subarkah bersuara, "Cara ini cepat, tapi ada syarat yang harus dipenuhi."

"Tumbal?" tanya salah satu tamu dengan nada gelisah.

"Ayam jago keluarga untuk lima tahun pertama, selanjutnya bisa siapa saja setiap tiga tahun," jawab pak Subarkah tenang. "Kekayaan akan mengalir tanpa henti selama tidak ada aturan yang dilanggar."

Sepi, tidak ada diskusi yang Kiran dengar dalam beberapa waktu. Tapi Kiran sudah tidak memiliki ketenangan lagi, suara hujan sia-sia saja di telinganya. Seluruh sarafnya tegang dan takut, mata Kiran pun terbuka lebar dan fokusnya menumpuk demi mengetahui arah pembicaraan selanjutnya.

"Maksudnya … putra kita ya, Pak?"

Di ruang tamu, Pak Subarkah mengangguk dengan senyum ramah tetap terkembang. "Semua saya kembalikan pada bapak-bapak. Saya ini kan hanya perpanjangan tangan dari yang mengulurkan bantuan."

"Saya setuju, Pak!" Salah satu tamu pak Subarkah menyanggupi dengan suara bergetar resah.

"Saya akan atur ritualnya nanti malam, bapak menginap di sini kalau begitu!" jawab pak Subarkah.

"Apa benar … anu, ehm maksud saya, apa benar saya nanti pulangnya diikuti pocong, Pak? Maksudnya apa saya harus pelihara itu di rumah, anu … istri saya penakut, Pak! Bisa mati berdiri dia kalau sampai tau!"

"Nanti saya jelaskan setelah ritual selesai! Pak Bandi nggak usah khawatir," jawab pak Subarkah dengan nada sangat tenang.

Kiran bergidik, jantungnya yang deg-degan sekarang rasanya sudah mau meledak mendengar obrolan di ruang tamu. Kiran diam-diam pergi dari teras, kembali ke pintu belakang dan mengetuk lebih kuat dari sebelumnya.

"Can … pulang dong!" gumam Kiran sambil menunggu pintu dibuka Mak Sinah.

***

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒔𝒆𝒓𝒆𝒎 𝒂𝒋𝒂 𝒏𝒊𝒉

2024-04-08

0

𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩

𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩

serem yak,perewangan kan yak nmanya, perewangan pk Subarkah itu pocong si candra kek nya🤔

2023-03-28

1

𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩

𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩

keknya bkn curhat ini sih,emang mrka lgi ngeluh mslhnya ke pak Subarkah yg dukun mungkin

2023-03-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!