Satu hal yang dirasakan Kiran saat meneguk kopi buatan Candra adalah tersiksa. Rasa pahitnya tidak bisa diterima lidah Kiran. Bahkan dari semua kopi tanpa gula yang pernah diminumnya, belum ada yang rasanya seberat itu. Kopi buatan Candra rasa getirnya sungguh menyakitkan. Tidak salah jika dia memuntahkan cairan hitam itu di tegukan pertama.
"Maaf," kata Kiran tak enak hati. Rasa penasaran membuatnya mengulang menyeruput kopi tersebut.
Kali ini, dengan mata setengah melotot, Kiran berusaha keras menelan cairan hitam pekat yang sudah ada di mulutnya. Butuh beberapa detik untuk menetralisir rasa pahit dan tidak nyaman yang ditimbulkan oleh kopi yang tak seberapa banyak jumlahnya itu. Kiran bahkan memejamkan mata sesaat karena serangan sesak yang tiba-tiba.
Kiran masih menatap gelasnya dengan ekspresi tak percaya hingga nafasnya kembali lega.
Detik berikutnya kepala Kiran terasa pusing, matanya sedikit buram saat menatap Candra yang tersenyum manis padanya. Kiran mengerjap beberapa kali untuk mendapatkan fokus penglihatan, hingga harus menelengkan kepala ke kiri dan ke kanan untuk mengurangi beban berat di kepalanya.
Setelah beberapa waktu, Kiran juga tersenyum manis, perasaan tak nyamannya menghilang, berganti dengan sensasi yang setara dengan rasa suka terhadap kopi itu. Kiran mendekatkan gelas kopinya ke bibir, meniup-niup sebentar agar tidak terlalu panas, lalu kembali menyeruputnya.
Kali ini rasanya menakjubkan. Jika dibandingkan dengan semua kopi yang pernah disesap Kiran, kopi buatan Candra menduduki peringkat pertama. Enak, manis, kental dengan sejuta kenikmatan yang tak pernah didapat Kiran sebelumnya.
"Gila, kopinya bisa seenak ini ya, Mas? Eh … aku panggil kamu apa nih, langsung nama? Keliatannya kita seumur." Kiran tak berhenti menghirup aroma kopi dari gelasnya sambil terus menyeruput sedikit demi sedikit.
"Iya panggil nama aja biar akrab. Aku kira tadi kamu nggak doyan kopi hitam, soalnya ekspresi kamu kayak gimana gitu pas minum!" ujar Candra meringis bersalah.
Anehnya Kiran lupa rasa pertama dari kopi yang sempat membuatnya sesak nafas. "Masa sih, enak kok … enak banget malahan! Merk apa sih kopinya, biar aku bisa beli nanti buat di kost. Biasanya aku emang nggak minum kopi hitam, tapi ini bisa jadi pengecualian."
“Nggak ada di pasaran, ini kopi racikan keluarga, jadi ya kamu nggak bakal nemuin kopi itu di pasaran, selain dari aku tentunya! Tapi nggak semua orang bisa minum kopi keras buatan keluargaku loh, apalagi cewek!”
Dengan tawa meremehkan Kiran menukas, “Aku termasuk pecinta kopi, jadi lidahku mudah beradaptasi. Kalau kamu nggak keberatan aku beli deh!”
Candra tertawa mendengar nada sombong gadis di depannya, “Kamu nggak takut kecanduan? Bukan kopi biasa soalnya."
"Justru rasanya yang luar biasa ini makanya aku tertarik. Tapi ngomong-ngomong kamu pendaki dari mana sih? Mapala bukan, dari klub pecinta alam apa freelance?"
Sebelum menjawab, Candra menatap Kiran lama. "Freelance."
"Sering kesini?" Kiran tak bisa menghentikan matanya untuk melihat wajah pemuda itu lebih jelas. Jarak duduk mereka tak begitu jauh, tapi entah mengapa wajah Candra tidak bisa terlihat jelas, seolah selalu ada kabut tipis yang menyamarkannya.
"Begitulah, aku lumayan hafal jalur-jalur pendakian gunung ini karena seringnya berada di sini."
Kiran bertepuk tangan kecil untuk memuji, "Wow hebat banget, emangnya rumah kamu dimana?"
"Masih kawasan lereng gunung ini juga, nggak jauh!"
"Kamu juga sering ndaki sendiri?" tanya Kiran penasaran.
"Iya aku lebih suka naik sendiri, tapi kalau sekarang suka berdua karena ada teman mengobrol! Aku buka tenda di sini ya, kayaknya mau hujan kabut bentar lagi!"
Kiran berdiri untuk membantu, "Nggak perlu minta izin kali, gunung ini bukan milikku pribadi!"
Candra mengeluarkan seluruh isi ranselnya, menata tempat di sebelah tenda Kiran dan mulai mendirikan tenda dengan bantuan Kiran, dan juga memasang perlengkapan tidurnya. "Ya nanti nggak enak ganggu kenyamanan kamu sama teman-temanmu!"
"Ih, ya nggak lah! Ngomong-ngomong kamu naik sendiri tapi bawaannya banyak banget, emang mau nginep berapa hari di sini sampe tas penuh gitu?"
"Belum ada rencana mau berapa hari, ini kebanyakan cuma bahan makanan kok. Eh, aku bawa jagung dari bawah, kita bakar aja ya buat isi perut!"
Satu plastik hitam besar dikeluarkan Candra dari dalam tenda, dia mengambil beberapa isinya dan langsung membuat persiapan pembakaran di atas bara api unggun.
Kiran melihat dengan takjub, "Niat bener kamu mau weekend di gunung sampai bawa sekantong jagung!"
"Loh ini nggak seberapa banyak, aku pernah bawa satu karung. Aku sengaja buka perapian trus mulai bakar-bakar, nawarin setiap pendaki yang naik kayak orang jualan. Jagung mas … jagung mbak, jagung, jagung!" Candra terkikik menirukan pedagang asongan yang biasa ada di terminal saat menawarkan minuman.
"Wah, langsung ramai dong. Nggak bayangin kamu langsung diserbu pendaki trus makan jagung bersama sambil ngopi!"
Candra seketika memasang wajah muram, suaranya terdengar masam saat memberikan penjelasan. "Boro-boro mereka mau mampir gabung, malah ada yang langsung lari kebirit-birit. Padahal aku sampai teriak gini, gratis mas, gratis mbak jagungnya … gratisan ini alias nggak usah bayar!"
Kiran menertawakan ketidakberuntungan Candra. "Mungkin dikira bukan pendaki betulan kali, Can! Atau mereka takut diracun, dibuat nggak sadar trus kamu rampok setelah makan jagung bakaran kamu."
Tanpa tersinggung, Candra tertawa geli. "Mungkin juga, namanya juga orang belum kenal."
Aroma jagung bakar merebak memenuhi area camping, Candra mengoleskan bumbu berwarna kekuningan seperti mentega sebagai sentuhan akhir. Kirana benar-benar dibuat lapar oleh pemandangan di depannya.
Candra terlihat ahli membolak balik jagung di atas bara agar mendapatkan tingkat kematangan yang pas, tidak mentah atau terlalu gosong. "Kamu mau rasa asin apa manis, Kirana?"
"Aku biasa dipanggil Kiran saja. Coba yang manis dulu deh … tapi aku mau yang asin juga. Eh beneran kamu kayak penjual aja sampai nawarin beberapa rasa jagungnya!" ujar Kiran terkikik-kikik. "Kalau jualan di alun-alun pasti banyak cewek yang antri beli nih."
Kiran hampir memuji kalau penjualnya tampan pasti dagangan laku keras. Tapi benarkah Candra berwajah tampan? Sedari tadi Kiran tidak mendapatkan kejelasan bentuk wajahnya. Kata tampan itu muncul hanya dari suara pikirannya.
Sekali lagi Kiran mencoba memperhatikan wajah Candra yang sedang menunduk mengurusi jagung bakar. Sepertinya memang tampan, pikir Kiran gemas. Cahaya bulan yang tertutup awan hitam semakin menghalangi pandangannya.
Kiran berjanji akan melihatnya lebih jeli saat pagi, memotretnya jika perlu.
"Nih udah mateng!" Candra menyodorkan satu jagung rasa manis.
Kiran dengan tak sabar meniup jagung beraroma madu cengkeh itu. Mencicipi setelah agak dingin. Namun, sensasi terbakar di tenggorokan sangat terasa saat Kiran berusaha menelannya. Air mata Kiran sampai keluar karena saking panasnya. Bukan karena jagung itu baru saja dibakar, tapi panas melebihi rasa pedas yang pernah dimakannya. "Aduh …!"
"Pelan-pelan, masih panas ini!" Candra mendekat, mengusap punggung Kiran untuk mengurangi sensasi tidak enak, sedikit memijat leher belakang Kiran agar lebih membantu.
Hawa dingin dari tangan Candra meresap ke kulit Kiran. Terlalu dingin untuk tangan manusia, tapi bisa saja hal itu terjadi karena terpengaruh udara gunung yang membekukan tulang. Apalagi mereka berdua tidak memakai sarung tangan.
Selanjutnya acara makan jagung berdua menjadi lebih nikmat setelah Kiran terbiasa dengan rasanya. Bukan lagi panas, tapi gurih manis dan Kiran suka. "Enak banget!”
Kiran menghabiskan tiga dan Candra dua. Kiran meminta dua lagi untuk temannya yang langsung dibakarkan Candra dengan senang hati. "Besok aku bawain lagi kalau masih mau!"
"Loh kamu mau turun trus naik lagi gitu?"
Candra terkekeh, "Iya juga, kan capek kalau naik turun dalam satu hari. Atau kamu mau ikut ke rumahku buat ambil jagungnya?"
"Kapan-kapan aja, Can! Ini juga udah cukup. Kamu naik nggak nih, udah mau pagi loh!" Kiran melirik arlojinya sekilas. Hampir pukul empat. Dari sejak ada Candra belum ada lagi pendaki yang naik ke puncak, padahal biasanya semakin pagi semakin banyak.
"Kamu ngantuk ya?" tanya Candra lirih. Dia juga menyadari hari hampir pagi.
Kiran mengangguk, entah mengapa matanya mendadak sulit terbuka. Rasa kantuk menyerang tanpa bisa ditahan.
Kiran jatuh tertidur begitu saja di depan Candra, tanpa alasan yang jelas. Kiran bahkan belum sempat cari tau soal parfum Candra yang mengganggu penciumannya.
Dari tadi, hidung kecilnya kembang kempis menghirup aroma wangi serupa dupa, tapi Kiran selalu saja lupa saat akan menanyakannya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒑𝒂 𝑪𝒂𝒏𝒅𝒓𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒉𝒂𝒏𝒕𝒖 𝒚𝒂
2024-04-08
1
nath_e
🤔🤔ini taste yg harusnya pertama dirasain pertama pas ngerasain kopi beneran ... namanya jg kopi demit yak jd taste pertama adalah anuu😂
2023-09-13
0
Ati Nurhayati
wah keknya cadra tu dari alam yg berbeda 🤔
2023-02-16
3