Tanpa Jejak

Waktu menunjukkan pukul delapan lebih, langit sudah sangat cerah oleh cahaya mentari. Kabut yang menjadi ciri khas negeri atas awan tampak tipis dan kering.

Septi dan Surya baru saja sampai di tenda tempat Kiran berada setelah menikmati matahari terbit di puncak. Suara resleting tenda dibuka dari luar, mengganggu pendengaran Kiran yang tidurnya sudah tak lagi lelap.

"Woi bangun!" seru Septi pada Kiran yang masih meringkuk di dalam kantong tidur. "Udah siang ini."

Kiran mengerjap-ngerjapkan mata malas, "Jam berapa ini?"

"Delapan lebih, aku mau masak, laper banget!" ujar Septi meninggalkan Kiran yang masih menggeliat enggan. Matanya lengket dan berat untuk dibuka.

Teringat dengan Candra yang semalam mendirikan tenda di sebelah, Kiran spontan kehilangan rasa kantuk. Dia duduk sebentar untuk membereskan sleeping bag, merapikan rambut dan juga wajah sebelum keluar tenda.

Kiran ingin sekali melihat Candra di waktu pagi. Pemuda yang wajahnya hanya bisa dilihat samar-samar saat malam membuat Kiran memendam rasa penasaran.

Setelah dirasa mukanya tidak terlalu jelek karena baru bangun, Kiran keluar tenda. Matanya memindai lokasi tempat tenda Candra seharusnya berada.

"Kok nggak ada?" Kiran tertegun dan juga kecewa. Tenda Candra sudah dibongkar dan pemuda itu pergi tanpa pamit padanya.

"Siapa yang nggak ada?" tanya Septi menoleh ke arah Kiran.

"Malam pas kamu berangkat ke puncak ada pendaki yang buka tenda di sini, kami ngobrol lama," jawab Kiran menunjukan tempat yang dimaksud, masih dengan wajah heran.

Hatinya bertanya-tanya jam berapa Candra membongkar tenda dan pergi dari sana?

"Naik mungkin ngejar matahari terbit, memang mau kemana lagi tujuan pendaki kalau bukan puncak?"

"Iya juga sih, tapi dia nggak bilang apa-apa, maksudku nggak pamit." Kiran bergumam seperti orang kehilangan sesuatu.

Septi menukas penuh ledekan, "Ya kamunya ngorok gimana mau dipamitin?"

Kiran justru tercenung memikirkan kata-kata Septi. Dia memang ngantuk tapi tidak ingat kalau dia masuk ke dalam tenda untuk tidur. Terakhir yang diingatnya adalah jagung bakar yang rasanya enak sekali.

"Kamu mungkin papasan sama dia di atas, Sep! Cowok itu pakai jaket flanel kotak-kotak merah hitam sama pake bandana abu-abu kalau nggak salah, pake bandananya begini," jelas Kiran menirukan orang pake hijab dari atas kepala sampai bawah dagu.

Septi terkikik geli, "Oh cowok … pantes aja kamu blingsatan. Ganteng banget pasti ya?"

Kiran bahkan tidak ingat seganteng apa wajah Candra. "Tinggi anaknya, Sep. Pasti 175 cm lebih, badannya juga lumayan bagus, macho deh pokoknya!"

Dengan ekspresi simpati, Septi menjawab iba. "Sayangnya aku nggak inget ketemu siapa aja di atas, rame banget yang muncak! Mana sunrise cantik banget, jadi nggak lirik-lirik kemanapun ini mata. Cowok yang kamu maksud pasti lewat dari perhatianku. Rombongan berapa orang dia? Kali aja Surya inget!"

"Sendirian aja, katanya udah sering kesini," jawab Kiran tanpa semangat. Dua sahabatnya seperti tak memahami betapa ada rasa sedih saat Candra pergi tanpa bicara apapun padanya.

"Wow hebat juga nyalinya ndaki sendiri, beberapa petualang memang suka gila tantangan kayak kamu! Sayangnya aku juga nggak lihat dia, maksudku aku nggak merhatiin cowoklah … ngapain juga?!" Surya tertawa saat menanggapi Kiran.

"Iya deh nggak apa-apa, kalau rezeki ntar juga ketemu lagi pas dia turun," ucap Kiran muram dan penuh harap. Merasa sedikit aneh karena baru satu kali bertemu tapi dia sudah merasa kehilangan.

Septi ikut tertawa mengiyakan, "Jiah … ngarep berjodoh sama itu cowok ya, udah lupa sama Dodol?"

"Eh sialan model begitu nggak perlu disedihin lama-lama, bisa gede kepala dia!" Kiran bersungut-sungut mendekati Septi. Siap membantu masak untuk sarapan pagi. "Bodoh bener aku, kenapa juga nggak minta nopenya ya semalam?!"

Surya menenangkan Kiran yang sedang asyik melamun di depan kompor, "Udah nggak usah dipikirin, kalau jodoh nggak kemana, kan?"

Kayaknya Kiran memang banyak melupakan sesuatu, pertemuannya dengan Candra serasa mimpi saja. Tidak ada bekas yang tertinggal di ingatannya selain hal-hal kecil yang tidak penting.

"Eh ada jagung bakar buat kalian!" kata Kiran semangat. Ingatannya sebagian kembali lagi.

"Jagung?" Septi mengernyit penasaran. "Dari siapa?"

"Iya semalam aku ma cowok itu bakar jagung, beneran dia itu niat banget camping di gunung sampai bawa jagung segala!" Kiran berdiri mencari dua jagung yang sudah dibakar Candra di tendanya. "Sebentar aku ambil dulu!"

Tidak ada apapun. Sial, Kiran lupa meletakkan dua jagung bakar jatah Septi dan Surya yang diberikan Candra. Kiran memutari tenda dua kali lalu mengorek-ngorek bekas api unggun yang hanya menyisakan abu dan arang panas berwarna hitam.

"Kamu itu cari apa, sih?" tanya Septi heran. Tak paham dengan tingkah aneh sahabatnya.

"Jagung …." jawab Kiran ragu.

"Astaga, Kiran! Kalau udah habis ya udah, ngapain kamu sampai merasa bersalah gitu."

Kiran menoleh, "Aku lupa tak taruh mana, masa iya nggak aku masukin tenda? Masa iya masih di sini trus kebakar? Harusnya ada bekasnya kan? Kulitnya banyak kok semalam, ada sepuluhan!"

Surya tergelak melihat kebingungan Kiran, "Kamu itu lucu, kayu aja yang gede udah jadi arang sama abu apalagi cuma jagung? Bagus dong itu cowok nggak ninggalin sampah di sini, pecinta alam sejati berarti dia karena tidak meninggalkan apapun selain jejak!"

"Jejaknya aja nggak ada!" sahut Kiran lemas.

"Ingatan kamu itu jejaknya, kamu perlu jejak kakinya? Buat apa coba?" Surya terkekeh menghadapi Kiran yang mendadak nyeleneh.

"Iya sih!" Kiran mengangguk lesu. "Tapi aku penasaran … kenapa dia ngilang gitu aja?!"

"Makanya jangan ditinggal tidur! Dah ah yuk kita makan, udah keroncongan banget ini," ajak Septi yang sudah menyiapkan perlengkapan makan.

Sambil menyuapkan nasi dan lauk, Kiran memeras otak untuk mengingat apa saja tentang Candra. Rasanya ganjil kalau Kiran pergi tidur meninggalkan teman yang sudah berbaik hati menemaninya ngopi dan makan jagung.

Kiran menyentuh liontin bulan yang tergantung di lehernya. Hangat sekali. Mungkinkah karena suhu tubuhnya? Kiran merinding.

Kalau dipikir, bukankah terlalu kebetulan kalau dia bertemu Candra di malam bulan purnama? Mereka juga memiliki arti nama yang sama, pun setelah Kiran menemukan liontin yang kebetulan bulatannya persis seperti bentuk bulan penuh.

"Candra - Kirana," gumam Kiran sambil mengunyah makanannya. "Kok pas banget!"

"Apanya yang pas?" tanya Septi ingin tahu setelah mendengar gumaman Kiran.

"Nama cowok itu Candra, trus aku Kirana, maknanya sama loh itu, Sep! Arti nama kami itu … bulan."

"Ah kebetulan aja itu, kita memiliki padanan nama dengan banyak orang di negara ini." Surya menimpali untuk menggoda Kiran yang sedang resah.

"Maksudnya gimana, Sur?"

"Misal aku ketemu sama cewek yang namanya Aurora atau Mentari, nama mereka artinya sama kayak aku, Surya. Sama-sama matahari, tapi bukan berarti pas, kan? Aku pasnya malah sama Septi, artinya cewek kelahiran bulan September hehehe …."

"Iya deh," sahut Kiran mengalah. Dalam hati dia hanya bisa berdoa agar dipertemukan lagi dengan Candra. Kiran berharap Candra memang masih menikmati puncak gunung dan belum turun seperti kata sahabatnya.

"Siang nanti kami turun ya, kamu serius mau ditinggal di sini sendiri? Berapa hari?" tanya Surya setelah selesai makan.

"Kayaknya dua hari cukup, aku udah lupa sama Dodol, jadi nggak perlu lama-lama. Aku turun kalau logistik habis, maksimal tiga hari. Kalian nggak usah naik lagi buat bawain tambahan bahan makanan, jemput aku di bawah aja nanti kalau kalian datang."

"Oke," ujar Septi.

"Besok kalau mau turun aku kabarin deh, sinyal bagus kok di sini!" Kiran menjelaskan perubahan rencana camping.

Awalnya Kiran memang berniat menghabiskan waktu lebih lama di gunung. Tapi setelah puas memaki Dodi kemarin sore dan bertemu Candra semalam, semua sakit hatinya menguap tak bersisa. Kiran siap menjalani hari-hari dengan semangat baru.

"Oke, terserah kamu! Moga-moga kamu ketemu lagi sama cowok itu, syukur-syukur doi masih single trus jatuh cinta sama kamu …." Septi terkikik saat menyemangati Kiran.

"Aku aminin deh doa kamu!" Kiran bersemu malu, tapi dalam hati dia memiliki keyakinan kalau akan bertemu lagi dengan Candra. Mungkin sore nanti saat cowok macho itu turun gunung.

Kiran sudah membayangkan wajah tampan Candra dalam terang cahaya senja. Pokoknya Kiran akan menyiapkan kamera, dia ingin berfoto dengan Candra sebagai kenang-kenangan.

***

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒂𝒑𝒂 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊 𝑪𝒂𝒏𝒅𝒓𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒅𝒊 𝒇𝒐𝒕𝒐 𝒚𝒂 🤔🤔

2024-04-08

1

Rhiedha Nasrowi

Rhiedha Nasrowi

ya mana ada dedemit yang nongol d siang hari 🤭🤭

2022-12-08

1

Namika

Namika

biasanya muka bangun tidur cntik fres loh, asal jan ileran aja😂😂

2022-11-20

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!