Kiran menikmati senja di atas awan sendirian. Harapannya bertemu dengan Candra semakin pupus. Dia bisa menebak kalau Candra turun gunung lewat jalur lain.
Yah, setidaknya Kiran sudah tidak memikirkan Dodi, sudah tidak berniat teriak-teriak untuk memaki mantannya seperti kemarin.
Kiran menatap awan putih bersemburat merah keemasan dengan pandangan kosong, persis dengan hatinya yang terasa hampa. Rasa sepinya sekarang bisa dibilang sama dengan situasi gunung yang sedang sunyi.
Gelap mulai menyapa, Kiran membakar kayu bekas yang dikumpulkannya siang tadi di depan tenda sebagai penghangat. Desau angin menggesek dedaunan menjadi teman dalam senyapnya malam.
Kiran bukan penakut, sendiri di belantara gunung adalah hal biasa. Dia tidak pernah melihat demit ataupun merasakan kehadiran mereka, sehingga makhluk halus tidak termasuk dalam kategori sesuatu yang bisa meruntuhkan keberaniannya.
Satu-satunya yang mungkin bisa membuat nyali Kiran menciut hanyalah kehadiran manusia jahat.
Namun, harapan dan doanya, gunung tersebut masih termasuk tempat aman. Selain tidak pernah terdengar adanya kejahatan, lokasi camping pilihan Kiran masuk dalam kawasan yang dijaga oleh ranger gunung.
Mereka jumlahnya cukup banyak dan selalu berkeliaran di jalur-jalur pendakian. Itulah yang jadi latar belakang Kiran berani berlaku ekstrim di sana sendirian.
Tak terasa waktu memasuki tengah malam, Kiran sudah menghabiskan dua gelas kopi susu dan tiga bungkus camilan. Pendaki yang barusan lewat hanya dua rombongan, itupun tidak ada yang mau mampir melepas lelah di tempatnya. Kiran benar-benar kesepian malam ini.
"Tumben nggak ada yang mau diajak ngopi bareng," gumam Kiran sambil membersihkan sampah makanannya. "Tidur ajalah!"
Setelah mematikan api, Kiran masuk ke dalam tenda untuk mengistirahatkan badan. Lampu tenda diubah temaram agar matanya nyaman saat terpejam. Kiran menarik resleting sleeping bagnya hingga leher dan menguap lebar. Kesadarannya hampir tenggelam dalam mimpi, tapi terusik oleh bunyi aneh di atas tanah.
Duk duk duk duk!
Telinga Kiran menangkap suara-suara samar. Kiran menajamkan pendengarannya untuk memastikan langkah kaki yang mulai mendekat. Mungkin pendaki yang akan lewat.
Hanya saja, dibandingkan suara langkah orang berjalan, apa yang didengar Kiran seperti suara lompatan. Setiap empat lompatan, suara menghilang. Lalu muncul lagi empat lompatan. Berulang seperti itu hingga lima kali.
Duk duk duk duk!
Kiran jengkel, juga penasaran dengan orang atau sesuatu yang sengaja mengerjainya. Suara itu semakin dekat, mungkin hanya sepuluh langkah dari tendanya.
Kiran harus melihat apa atau siapa yang membawa teror kecil padanya. Bulu kuduknya merinding, mungkin karena hawa dingin malam, mungkin juga karena Kiran sedikit tegang dengan sesuatu yang sedang terjadi.
Kiran memasang headlamp di kepala dan memegang senter di tangan kiri. Sebagai tambahan, Kiran menyiapkan parang kecil sebelum keluar tenda.
Hawa dingin menyapa saat resleting tenda dinaikkan Kiran. Sepi, sunyi, senyap dan banyak sekali kabut. Kiran tidak mampu melihat dalam jarak pandang lebih dari tiga meter.
Senter yang dipakai untuk menyoroti sekeliling tenda tidak menemukan apa-apa selain kabut. Kiran mengeratkan parang yang tergenggam di tangan kanan dan memasang lagi telinganya. Juga lebih fokus pada apapun di sekitarnya.
Tidak ada gerakan apapun yang tertangkap mata Kiran. Suara duk duk mencurigakan yang tadi menyapa sudah menghilang. Malam benar-benar hening, mencekam melebihi kuburan yang dikeramatkan.
Kulit Kiran meremang hebat, samar-samar hidungnya mencium aroma wangi yang tak biasa, mirip aroma dupa yang diekstrak dari campuran melati dan kenanga.
Kiran mengingat sejenak, apakah bau tersebut pernah dihirupnya? Kenapa rasanya familiar? Kiran memaki dalam hati karena kerja otaknya yang lambat. Kiran lupa pernah mencium aroma aneh itu kapan dan dimana!
Mata Kiran reflek mengawasi bekas api unggun yang sudah dimatikannya. Mungkinkah bau itu berasal dari bekas kayu atau daun yang terbakar? Apa ada kayu wangi serupa gaharu atau cendana di antara tumpukan hangus di depannya?
Tapi sangat jelas kalau tidak ada asap yang menguar dari onggokan arang tersebut. Jadi hampir tidak mungkin kalau bau wangi berasal dari bekas api unggun yang sudah padam.
Lagi pula, kalau memang bau itu berasal dari sana, harusnya Kiran sudah menciumnya dari sejak beberapa jam lalu saat menghangatkan diri di depan apinya.
"Aneh!" gerutu Kiran sambil mengusap tengkuknya. Mata Kiran memindai liar sekeliling tenda sekali lagi.
"Siapa di situ?" pekik Kiran. Dia hampir melompat saking kagetnya, penglihatannya menangkap sosok jangkung berdiri di tengah jalur pendakian tanpa melakukan apa-apa.
Sosok samar itu menyerupai bayangan manusia. Mata awas Kiran mulai mengenali jaket flanel kotak-kotak merah hitam dan bandana abu-abu di kepala pemiliknya meski tersamar kabut tebal.
"Candra? Sialan kamu … bikin aku takut aja!" umpat Kiran seraya tertawa kecil. Degup jantungnya melompat tak tertata.
"Sorry, aku kira kamu udah turun jadi aku nggak berani panggil-panggil. Takut salah orang," jawab Candra sambil tersenyum lebar dan melangkah ringan ke arah Kiran.
"Kamu malem banget turunnya, ngapain aja di puncak?" Kiran menurunkan kewaspadaan dengan menyimpan parangnya di teras tenda.
"Nggak di puncak sih, di pos lima tepatnya, nemenin ranger patroli sambil ngopi. Sebenarnya udah mau turun dari sore tadi, tapi malah diajak ikut keliling." Candra makin mendekat ke arah Kiran yang berdiri di depan tenda, yang menatapnya dengan mata ramah dan senyum yang tak berhenti terulas karena senang.
Kiran menawarkan kebaikannya, "Istirahat deh di tendaku, mulai hujan kabut ini. Kamu nggak basah?"
Candra mengangguk setuju, "Serius nih aku nggak perlu buka tenda sendiri? Nggak enak akunya, kalau basah sih nggak, maksudnya belum …"
Kiran mengikik mendengar jawaban ambigu Candra, "Dih kamu kayak apa aja, tendaku besar tapi isinya cuma logistik. Dah ah ayo masuk! Kamu udah makan? Mau minum hangat-hangat? Aku ada sereal."
"Ngopi aja sebentar sebelum tidur yuk!" usul Candra sembari melepas ransel dan membongkar isinya. "Kamu udah mau tidur ya?"
Kiran menjawab masih dengan tawa kecil, "Tadi udah mapan, tapi aku denger suara duk duk duk duk, trus hilang ngantuknya. Makanya aku keluar tenda! Sumpah penasaran banget, iseng bener ngerjain malam-malam!"
"Ya itu aku yang jejak tanah kuat-kuat biar kamu denger trus keluar tenda. Kalau aku tau pasti kamu masih di sini, tadi langsung aku samperin," kata Candra beralasan. "Kamu takut ya?"
"Gimana ya, namanya juga cewek lagi sendirian di hutan pasti punya rasa takut walaupun kecil," jawab Kiran jujur. "Tapi aku bukan penakut loh!"
"Iya aku percaya, kalau bukan pemberani mana mungkin kamu sendirian di sini." Candra berbicara sambil menyiapkan satu set alat masak air di teras tenda, juga dua gelas plastik untuk meracik kopi andalan keluarganya. "Nanti kalau denger suara itu lagi berarti aku yang datang. Anggep aja kode khusus, nggak bakal ada yang nyamain, kan?"
Kiran tergelak, "Emang kamu mau berapa lama di sini? Bukannya kamu udah mau turun?"
"Iya besok pagi aku turun mau ambil logistik. Ranger yang tadi aku bantu bilang butuh teman buat cari pendaki yang kesasar di sisi selatan. Mungkin malamnya aku naik lagi, aku mampir ke sini kalau kamu belum pulang!" jawab Candra sembari menerangkan lokasi yang akan disisirnya besok.
"Kayaknya besok aku masih di sini."
"Sip deh, oh ya kamu mau kopi pahit apa pake gula kayak kemarin?"
"Pake gula, Can! Nggak biasa minum kopi pahit!"
"Eh jangan salah, kopi ini justru enaknya diminum pahit. Sensasinya beda banget, kamu coba dulu baru bikin penilaian. Kemarin kan udah aku jelasin kalau kopi keluargaku itu istimewa." Candra menaikkan dua alisnya bergantian untuk menggoda Kiran.
Dengan ekspresi penasaran Kiran bertanya, "Kopi kamu juga nggak pake gula?"
"Iyalah, aku kalau minum kopi mana mau pake gula. Pahit lebih enak, lebih sehat juga," jawab Candra terkekeh-kekeh.
Kiran menatap Candra tak percaya, "Setahuku yang biasa minum kopi pahit biasanya orang tua."
"Bangsa kami nggak kenal gula, Kiran!" sahut Candra serius.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
YuWie
merinding kir
2024-11-29
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒕𝒖𝒉 𝑲𝒖𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒉 𝒅𝒊 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒄𝒍𝒖𝒆 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑪𝒂𝒏𝒅𝒓𝒂 𝒏𝒊𝒉 😅😅
2024-04-08
1
nath_e
bangsa anu 😂
2023-09-14
0