Septi mengusap air mata yang menggenang agar tidak jatuh. Tidak mendengar kabar Kiran selama lebih dari 24 jam membuatnya kalut. Dia memutuskan kembali ke gunung bersama Surya untuk memastikan Kiran baik-baik saja.
Lokasi tempat terakhir Kiran camping sudah bersih, Septi dan Surya lalu naik ke pos lima sesuai informasi Kiran. Nihil, tidak ada jejak Kiran di sana. Septi dan Surya segera turun ke pos pendakian untuk membuat laporan.
Satu jam berikutnya, ranger gunung yang sudah ada di lokasi mulai bekerja mencari Kiran. Tim SAR juga datang, mereka bergerak dibantu dengan warga sekitar dan organisasi pecinta alam terdekat yang mendapatkan undangan untuk membantu pencarian.
Kesatuan penyelamat sudah bergerak selama dua hari, tapi Kiran belum juga ditemukan.
"Sur, gimana ini? Udah tiga hari Kiran menghilang! Ayo kita hubungi orang tuanya!" Septi merengek dengan wajah sembabnya. Dia merasa sangat bersalah karena berani meninggalkan Kiran. Sebagai sahabat karib, bukankah seharusnya dia ada di sisi Kiran saat gadis itu sedang ada masalah?
"Kita tunggu sampai sore, kalau pencarian tetap nggak ada hasil, aku yang akan telepon keluarganya!"
"Tapi Sur, tenda sama perlengkapan Kiran ditemukan sama tim SAR, Kiran itu ilang cuma bawa tas kecilnya … dia bisa hipotermia."
"Sep, Mbah Wiro sudah memberi informasi kalau Kiran masih hidup, dia juga ngerti ilmu survival, aku yakin dia akan ditemukan hari ini. Udah lewat tengah malam, sebaiknya kamu istirahat!"
"Iya aku tau, tapi Mbah Wiro bilang Kiran bukan tersesat biasa, dia disesatkan sama makhluk penunggu gunung." Septi kembali berlinang air mata. "Aku takut dia nggak bisa pulang, Sur!"
"Mbah Wiro sudah memanggil Kiran dua kali, Kiran pasti ingat pulang, Sayang! Aku yakin!"
"Kalaupun dia nggak pulang, setidaknya jasadnya bisa ditemukan, aku bisa mati merasa bersalah kalau sampai terjadi sesuatu sama Kiran."
Surya mengusap-usap punggung pacarnya, mengajaknya menemui mbah Wiro lagi untuk mendapatkan penjelasan. Kebetulan orang pintar yang jadi tetua desa itu bisa menerawang kondisi Kiran setelah diberikan barang-barang pribadi Kiran yang ditemukan di tasnya.
Ada bau dupa yang menempel di sleeping bag Kiran, bau yang berasal dari bandana Candra yang sekarang ada di tas kecil Kiran.
"Temanmu kemungkinan diselong demit, tapi masih hidup. Aku sudah memanggilnya lagi, semoga kali ini niat pulangnya tidak terhalangi lagi," ucap mbah Wiro. "Doakan saja hari ini dia datang!"
Septi dan Surya mengangguk bersamaan, lebih lega meskipun belum ada bukti. Setidaknya mereka bisa beristirahat menunggu pagi dengan lebih tenang di pos pendakian itu.
"Penyisiran di lereng selatan juga sudah diperluas, semoga mereka menemukan teman kalian masih dalam kondisi baik-baik saja. Jika dia selamat, saya larang teman kalian itu untuk mendaki gunung ini lagi. Sebagai teman akrab, kalian seharusnya paham dengan bahaya yang mengancam!" tutur mbah Wiro tegas.
"Kami mengerti, Mbah!" Septi mengangguk mengiyakan pesan penuh misteri tersebut. Tak perlu ditanyakan lebih detail lagi, apa yang terjadi pada Kiran pasti berhubungan dengan hal yang tak biasa.
Mbah Wiro meninggalkan mereka dan menyulut rokok klembak menyan di luar, menghadap gunung yang berselimut malam. Asap yang membumbung tebal di depan mulut dihembuskan ke arah selatan, mulut keriputnya pun tak berhenti komat-kamit membaca mantra.
**
Kiran sudah siap dengan pakaiannya, begitu juga Candra. Jaket flanel kotak-kotak merah hitam sepertinya memang identik dengan cowok itu. Kiran suka karena Candra memadukannya dengan bandana merah miliknya.
Hm, Candra memang menghipnotis seluruh inderanya. Kiran tak berdaya menghadapi pesona Candra, hatinya runtuh dalam suka cita hanya karena senyum segaris yang ada di wajah tampan itu.
Dibandingkan Dodi, Candra berkulit lebih gelap, khas sekali dengan orang Indonesia. Tapi di situlah letak eksotisnya Candra, machonya jadi sangat menonjol, dan Kiran mulai gila dalam level tak tertolong.
Kiran memakai sepatu sambil duduk di kursi teras. Sedih dan bahagia bertarung dalam hatinya. Kiran ingin pulang karena dia harus menjalani kehidupannya secara normal, sebagai mahasiswa. Sedangkan berpisah dengan Candra terlalu berat meski mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Maksudnya belum.
Candra tidak mengikrarkan cinta, Kiran juga tidak mungkin memaksa. Mereka memang baru kenal, butuh waktu untuk lebih tahu satu sama lain.
Satu hal yang disayangkan Kiran, Candra tidak memiliki ponsel untuk menyambung hubungan mereka. Padahal, kalau dilihat-lihat, Candra tidak kekurangan uang untuk membeli benda itu, tapi memang rumahnya terkendala listrik sih. Sudahlah … Kiran pasrah saja pada keadaan yang ada.
"Sudah siap?" tanya Candra. Dia mengulurkan tangan untuk Kiran, "Ayo berangkat sekarang!"
Kiran menoleh ke arah ujung bangku di sebelahnya, bayangan putih yang berdiri kaku di dekatnya hilang begitu Candra berbicara. Ah, Kiran merasa rumah Candra memang seram di malam hari, banyak penampakan yang tertangkap matanya walaupun hanya berupa kelebatan bayangan.
"Ayo!" Kiran menyambut tangan Candra dan mengikuti langkah pemuda itu keluar halaman. Tidak ada yang dipamiti, baik pak Subarkah ataupun mak Sinah. Alasan Candra, ayahnya sedang sibuk mengurus tamunya, sementara sang pembantu sudah tidur.
Kiran sontak mengeratkan pegangan setelah berjalan menyusuri dua rumah tetangga Candra, rumah tempat dia melihat bayangan si nenek kemarin terlihat ramai. Tapi Kiran hanya melihat keramaian itu dalam satu kedipan mata, selanjutnya hanya kelengangan dan kengerian yang menyelimuti rumah tersebut.
"Kemana keranda itu menghilang?" gumam Kiran menajamkan mata. Dia yakin tidak hanya melihat enam orang, tapi lebih dari sepuluh, mereka tergesa-gesa masuk ke dekat punden sambil mengusung keranda.
"Kamu lihat apa, Kiran?"
Kiran menggeleng, "Entahlah … mungkin mataku sedang ngelantur!"
Candra berbicara pelan, "Nanti aku kasih obat mata biar sembuh."
"Dikira aku sakit mata kali," protes Kiran. Dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk tidak mengingat apa yang baru saja dilihatnya.
Akhirnya gapura desa terlewati, artinya Kiran sudah keluar dari kampung aneh tempat Candra tinggal. "Berapa lama perjalanan ke pos pendakian, Can?"
"Ya tergantung kamu!"
"Kok gitu? Aku maunya cepet, tapi kamu tau sendiri kalau kecepatan jalanku seberapa," ujar Kiran kesal.
"Udah mau subuh, jadi kita memang harus cepat sampai. Aku tarik ya, kamu nanti tinggal ngimbangin aja."
"Ini malem, Can! Penerangan kita nggak sempurna buat lihat jalan."
"Kamu nggak percaya bener sama aku, sih?"
"Ya, ya aku percaya. Kamu tinggal lama di sini jadi hafal sampai lubang-lubang semut di gunung ini," ledek Kiran sambil terkikik ringan. Tanpa disadari langkahnya bergerak tak biasa, mengikuti kecepatan Candra yang berpindah tempat dalam satu kedipan mata.
Tak lama, Candra berhenti tiga ratus meter sebelum pos pendakian, "Sudah sampai, aku anter kamu sampai sini aja ya?"
"Oh ya sudah sampai ya, cepet bener? Perasaan baru aja keluar gapura desa," kata Kiran dengan ekspresi bodoh.
"Aku ada banyak kerjaan, jadi harus balik ke rumah segera. Ini buat kamu." Candra memberikan kantong plastik kecil pada Kiran.
"Apa ini?"
"Kopi, katamu mau itu buat di kost!"
"Iya, terima kasih ya, Can! Kalau mau hubungi kamu gimana caranya?"
"Aku selalu ada di sini, kamu bisa datang kapan saja kalau kangen," kata Candra tertawa menggoda. "Minum ini biar segar, kamu keringetan itu, dehidrasi nanti!"
Kiran meneguk air dari botol minum yang diberikan Candra. Tubuhnya terasa hangat dan bertenaga lagi. "Nih, sorry langsung habis!"
"Iya nggak apa-apa! Sampai ketemu lagi, Kiran!"
"Sampai ketemu lagi, Candra!" Kiran menatap Candra sendu, masih bersyukur pemuda itu tidak mengucapkan bye-bye padanya. Kiran lalu berjalan cepat menuju pos pendakian yang masih lengang tanpa menoleh lagi.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒃𝒆𝒓𝒂𝒓𝒕𝒊 𝒃𝒆𝒏𝒆𝒓 𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒍 𝑪𝒂𝒏𝒅𝒓𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒑𝒐𝒄𝒐𝒏𝒈
2024-04-08
0
klw 2x gak pulang bisa 3x atau 4x panggil😬
2023-09-04
1
Namika
biar lupa itu mah😒
2022-11-22
1