Kiran mengaduh dalam tidur, tangan yang menarik kakinya begitu dingin dan lembek. Kiran berusaha keras untuk melihat siapa yang sedang berbuat jahat padanya. Hanya saja pandangan Kiran tidak terlalu jelas, kabut pekat menutup area tenda.
"Tolong!" Suara Kiran berhenti di kerongkongan, bunyi yang keluar dari mulutnya hanya serupa erangan ayam disembelih.
"Tolong! Tolong!" Seketika, dada Kiran tersengat sesuatu yang panas. Terasa menyakiti seperti bara yang yang ditempelkan di kulit. Kiran langsung bangun dari mimpi dan bisa membuka mata untuk menggapai semua kesadaran.
"Tuhan …." desis Kiran ketakutan. Pintu tenda terbuka dan kakinya sudah berada di luar sebagian. "Ini mimpi atau bukan? Kenapa rasanya mengerikan?"
Dengan ekspresi panik, Kiran menarik kakinya ke dalam dan menutup tenda rapat-rapat. Kiran duduk dengan degup jantung tak beraturan. Matanya melirik jam tangan yang menunjuk angka enam.
"Kirain udah tengah malam," ujar Kiran dengan suara bergetar.
Kiran reflek menyentuh liontin di dadanya. Hangat. Kiran yakin benda itulah yang tadi menyengat kulitnya. Entah darimana pikiran itu berasal, Kiran hanya memiliki dugaan kuat kalau dia tidak bangun dengan sendirinya.
Kiran diam merenungkan mimpinya. "Seharusnya aku nggak tidur tadi!"
Hujan mulai berkurang intensitasnya, tidak sederas sore tadi. Namun, kabut tebal menjadi masalah utama di luar tenda. Selain hawa dingin menggigit tulang yang ternyata cukup membuat Kiran terganggu, suara-suara orang berbicara yang entah darimana asalnya sesekali masih terdengar. Timbul tenggelam bersama desau angin.
Kiran tidak pernah bermimpi yang aneh-aneh sebelum ini, apalagi sampai terasa nyata karena diikuti dengan perpindahan tempat. Kiran mengetuk-ngetuk kepalanya, berusaha mengingat apakah dia memiliki gangguan tidur berjalan?
Belum pernah sekalipun Kiran mendengar kedua orang tuanya membahas sleepwalking yang biasa diderita anak-anak di rumah. Meski sebagian remaja atau orang dewasa juga memiliki gangguan tidur seperti itu, tapi Kiran tidak termasuk. Begitu juga dengan ayah ibunya, artinya tidak faktor genetik dari masalah itu.
Kiran menggeleng keras, dia merasa tidak sedang tidur berjalan, tapi diserang mimpi menyeramkan. Dia lebih bisa mengingat bagaimana tangan dengan tekstur lembek itu mencengkram pergelangan kakinya yang tidak berkaos kaki dan menariknya keluar tenda.
Lalu dia juga mendengar soal keranda, astaga! Kiran bergidik ngeri. Jiwa pemberaninya mendadak terkikis oleh rasa sepi dan kesendirian di hutan belantara.
"Keranda bukannya yang dipakai buat ngusung jenazah ya?!" Kiran mengusap tengkuknya perlahan. "Aku kan belum mati."
Andai saja Kiran tidak menuruti rasa ingin tau soal pendaki yang kata Candra kesasar di sisi selatan gunung, dia tidak perlu ikut-ikutan tersesat dan mendirikan tenda di tempat wingit seperti ini.
Ah, tapi sejak kapan Kiran mulai memikirkan makhluk halus penunggu gunung. Kiran percaya, selama dia tidak mengganggu dan tidak melakukan hal tercela di tempat itu, makhluk tak kasat yang bersebelahan alam dengan manusia juga tidak akan usil padanya.
"Aneh, kenapa aku jadi penakut gini? Suara itu mungkin memang suara orang betulan, bukan suara memedi …!" Kiran menepis pikiran konyolnya agar ketakutan yang tanpa alasan segera menghilang.
"Oh ya aku ingat mereka juga bilang aku bau pandan!" Kiran mengendus-endus punggung tangan dan juga ketiaknya. "Dikira aku ini bangsa roti kali. Ada nih bau parfum campur bau asem ketek."
Kiran menyeringai, tak lagi memikirkan mimpi aneh yang tak masuk logikanya. Mau didefinisikan dengan cara bagaimanapun, tetap saja yang muncul sebuah keabstrakan.
Hanya saja kata 'pandan' memang masih melekat dalam kepala Kiran meski sudah berusaha dilepaskan. Jika ada sinyal Kiran akan menanyakannya pada Septi, atau pada Candra. Siapa yang tau kalau cowok itu mengerti arti-arti percakapan yang ada dalam mimpinya?
Hampir tiga jam Kiran menghabiskan waktu untuk membuat makanan, minuman, menikmatinya sendiri juga bermain game offline di ponselnya. Dia tidak ingin tidur karena takut bermimpi aneh dan berpindah tempat lagi.
Kiran berpikir serius, takut juga jika ternyata dia memang mengidap sleepwalking?
Terhitung dari kemarin dia sudah mimpi buruk dua kali. Bukan hal mustahil kalau mimpi buruk selanjutnya dia berjalan-jalan keluar tenda, lalu tergelincir jatuh ke dalam lembah?
Kiran berniat pindah tempat sekarang, hujan benar-benar telah berhenti. Lokasi pilihan untuk istirahat malam semakin lama semakin tidak nyaman. Kiran mulai bersiap, membereskan isi tendanya.
Di luar, kabut menipis dan cahaya bulan remang-remang mengintip di balik pepohonan. Kiran tinggal membereskan tenda dan pergi dari sana.
Kiran melihat dari jauh ada dua lentera bergerak ke arahnya. Persis seperti lampu badai yang berayun di tangan orang yang sedang berjalan. Kiran belum bisa melihat lebih jelas karena keterbatasan jarak.
Anehnya, dua penerangan itu mendekat terlalu cepat. Bahkan hanya dalam beberapa kedipan mata Kiran sudah bisa melihat bahwa penerangan itu dibawa oleh dua orang. Di belakang dua orang itu ada empat orang lain yang berjalan sama cepatnya. Padahal mereka mengusung … keranda?
Spontan Kiran melepas pegangan tangannya pada tenda, membiarkan tenda yang terbongkar separuh ambruk. Gadis itu melihat sekeliling sebentar sebelum lari tunggang langgang menapaki jalan kecil yang entah menuju kemana.
Tangannya sigap meraih senter yang ada di saku celana. Dengan tambahan penerangan dari headlamp yang dipakainya, setidaknya Kiran bisa membedakan mana jalan mana bukan. Dia tidak akan cukup konyol untuk mati karena terperosok ke dalam jurang.
Meskipun yah … bisa saja dia mati karena kelaparan. Ranselnya terlupakan karena panik berlebihan. Otomatis Kiran meninggalkan semua logistik dan perlengkapan mendakinya. Hanya tas kecil berisi kebutuhan pribadi yang melekat di tubuhnya.
Nafas Kiran seperti hampir putus setelah berlari cukup lama. Tidak begitu lelah, tapi perasaannya kacau balau oleh pemandangan tak lazim yang baru saja dilihat.
Kiran menggelengkan kepala, pikirannya ruwet dan terus saja menduga-duga. Rombongan pengusung keranda mayat itu pasti bukan manusia! Kalaupun manusia bisa dipastikan mereka adalah orang aneh yang tergabung dalam sekte atau okultisme yang tidak diterima masyarakat.
Atau mungkinkah ada suku pedalaman yang tinggal di tengah hutan? Ada yang meninggal? Haruskah mereka mengurus jenazah di waktu malam? Kecil sekali kemungkinan seperti itu, pikir Kiran penuh logika.
Kiran melihat kanan kiri beberapa kali, menoleh dua kali ke belakang dan lega karena hanya melihat kegelapan. Rombongan pembawa keranda tidak mengejarnya.
Tapi di sisi lain, Kiran risau karena tersesat dan tidak memiliki apapun untuk bertahan hidup. Jika mendadak hujan atau badai, habis sudah! Tubuhnya pasti mati karena kedinginan sebelum ditemukan tim SAR saat pagi.
Tapi siapa yang akan sadar kalau dia hilang saat ini? Candra! Ya semoga saja cowok itu sadar kalau tendanya sudah tidak ada di tempat sebelumnya. Kiran berharap Candra akan mencarinya karena dia sudah mengatakan akan tinggal satu hari lagi di gunung itu.
Kiran mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya untuk mengadu keberuntungan. "Sial, sial, sial! Nggak ada sinyal di sini. Aku harus naik ke punggungan untuk cari bantuan besok pagi. Oalah Septi …, apesnya aku hari ini, boro-boro ketemu mas Candra, yang ada malah liat demit bawa keranda!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
YuWie
lihat keranda dibawa di dunia bawah aja agak2 bgmn..ehhh ini diatas gunung dan malam pula..bar lah kau kirana
2024-11-29
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒎𝒔𝒉 𝒎𝒊𝒔𝒕𝒆𝒓𝒊
2024-04-08
0
𝐋α²¹ℓ◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
mknya ada pamali tidur hmpir surup
2023-03-25
1