Sate Mahal

Perjalanan ke rumah Candra ternyata tidak sesulit yang Kiran duga. Candra memilih rute yang landai dengan jalan sedikit lebar, sehingga mereka bisa berjalan bersebelahan dan tentu saja bergandengan tangan.

Kiran sesekali menoleh, sedikit mendongak untuk menatap wajah Candra yang kadang terkesan dingin. Ekspresi sedih juga kadang muncul sekilas, tapi langsung tenggelam oleh wajah datar atau senyum tipisnya.

Saat tertawa, Candra terlihat bebas dan hidup. Kiran suka karena ekspresi itu lebih terlihat natural, dan tentu saja membuat Candra semakin terlihat menawan.

Sebuah gapura lawas menyambut mereka di kedua sisi jalan. Kiran tidak bisa membaca nama desa yang tertera di sana karena terlewati terlalu cepat. Hanya tahun 1905 di bagian paling bawah gapura yang tertangkap oleh mata Kiran.

Ah … apakah mereka berdua memang berjalan terlalu cepat? Rasa-rasanya Kiran bahkan tidak sempat merekam apapun yang dilewatinya. Penglihatannya berjalan dan berpindah dari satu obyek ke obyek lain seperti pandangan orang yang sedang naik mobil.

Wajar saja jika gapura desa yang baru saja dilewatinya tidak terbaca. Namun, tahun 1905 itu mengerikan. Kuno, lawas dan juga mengandung keanehan. Bagaimana mungkin gapura yang umurnya lebih dari seabad masih kokoh berdiri? Padahal dari model dan kusamnya, bangunan sederhana itu sepertinya tidak pernah di renovasi.

"Eh … udah sampai desa ya, Can?"

"Iya ini udah masuk desa, poskesdes nggak jauh lagi, tapi kalau malam tutup. Kamu masih bisa tahan nunggu sampai pagi?" Candra menghentikan langkah, menoleh ke arah Kiran untuk mendapatkan jawaban.

Jantung Kiran mendadak deg-degan, Candra menatapnya sangat dalam meski matanya seperti tidak ada sinar kehidupan. Ada raut khawatir di wajah tampannya, dan Kiran jadi salah tingkah karenanya.

"Aku udah agak baikan kok, mungkin butuh istirahat dan minuman hangat aja!"

"Baiklah, semoga ayah punya obat masuk angin buat kamu!" Candra mengeratkan genggaman tangannya seolah takut Kiran akan terlepas. Mereka berjalan lagi menuju ke satu titik cahaya kemerahan.

"Itu pasar, Can?" tanya Kiran senang. Berada di desa membawa perasaan lain pada Kiran, tidak terlalu takut atau merasa tidak percaya pada Candra.

"Bukan." Candra menoleh dengan ekspresi rumit.

"Kok rame bener?"

"Ntar kamu juga tau, ayo!"

Titik merah yang dilihat Kiran ternyata sebuah penerangan dari lampu badai yang diletakkan di atas sebuah batu. Banyak orang lalu lalang di sekitar lampu itu, seperti sedang ada transaksi jual beli.

Asap membumbung di sekitar pasar, berbaur dengan kabut yang lumayan pekat, juga udara dingin lereng gunung yang membekukan tulang. Kiran menatap pembeli yang antri di satu titik, hidungnya juga mengenali bau yang menguar dari tempat itu. Bau daging dibakar alias sate.

Kiran berdecak takjub, "Ya ampun, rame bener orang mau beli sate malam-malam begini."

"Kamu mau?" Candra menawari dengan penuh ketulusan. "Suka sate?"

"Suka, tapi kalau antriannya sepanjang itu mending nggak usah, besok-besok aja!" tolak Kiran.

Setelah diamati, ternyata memang bukan pasar. Hanya ada satu penjual sate dikerubuti pembeli. Mungkin karena tidak ada pilihan lain, makanya semua orang menumpuk antri di satu tempat.

Tangan Kiran masih dalam genggaman Candra, sama sekali tidak lepas dari sejak mereka meninggalkan tempat terakhir. Entahlah … Kiran merasa seperti anak kecil yang ditakutkan akan hilang jika tidak dipegang, atau mungkin karena Candra terlalu khawatir dengan kesehatannya?

Meski senang, Kiran juga merasa sedikit aneh sekarang. Candra menariknya ke tempat penjual sate, lalu semua orang langsung menyingkir memberi tempat pada mereka.

Kiran merasa tak enak hati karena menyerobot antrian, apalagi mata-mata para pengantri sate mengawasi dengan tatapan aneh, seolah Kiran adalah alien yang tidak seharusnya ada di antara mereka.

Penjual sate tertegun menatap Kiran, matanya beberapa kali mengerjap dengan sengaja untuk mendapatkan penglihatan yang benar. Tak lama, pria itu mengangguk sebagai sapaan sopan.

"Mbak mau beli sate?" Suara penjual sate itu seperti orang sedang tersedak. Berharap kalau dia tidak salah melihat ada gadis cantik di tempat seperti itu. Penampakan yang sekalipun belum pernah ditemui selama berjualan di sana.

Kiran menatap Candra sebentar untuk mendapatkan persetujuan lagi. "Sate apa ini ya, Pak?"

"Gag …." Penjual sate berumur tak lebih dari empat puluh tahun itu tak berani melanjutkan menjawab karena Candra memelototinya.

"Ayam hutan!" jawab Candra cepat. "Beli lima tusuk aja ya, kalau kebanyakan efeknya di badan nggak enak, panas!"

Penjual sate secepat kilat meralat ucapannya, "Sate ayam, Mbak! Lima ya, Mas?"

Kiran menurut meski logikanya mengatakan kalau alasan Candra tak masuk akal. Lima tusuk sate bikin panas? Dua puluh, itu yang biasa Kiran makan saat kelaparan. Belum termasuk lontong yang kadang habis sampai tiga.

Tapi tetap saja, Kiran ingin menghargai kebaikan Candra yang ingin membelikan makanan favoritnya itu dengan jumlah lebih sedikit.

Mungkin kemampuan Candra membayar hanya sebatas itu, alias keuangannya tidak dalam kondisi baik, jadi Kiran mengangguk setuju meski hanya dibelikan lima tusuk.

Wajah penjual sate terlihat muram, tapi tidak berani menolak kehendak pelanggan. Setiap pembeli aturannya hanya diperbolehkan membeli satu tusuk, maksimal dua untuk kalangan terbatas, dan Candra justru meminta lima.

Namun mencari masalah dengan 'sing mbaurekso' di tempat itu bukanlah pilihan. Candra bisa memberhentikan rezekinya dengan cara tidak boleh berjualan di kampungnya. Jadi, tanpa bertanya lagi lima tusuk sate segera dibakar dan dibungkus untuk diberikan pada Kiran.

"Silahkan satenya, Mbak! Ngomong-ngomong mbak mau kemana? Nggak salah arah, kan?" Penjual sate itu mengulurkan bungkusan sekaligus memberi Kiran beberapa kode kedipan. Dengan berani dia juga bertanya lebih serius, dengan tambahan colekan pada tangan Kiran. "Mungkin mbak butuh bantuan saya?"

Kiran dibuat bingung dengan situasi yang ada. Bapak penjual sate memasang wajah iba padanya, seolah dia adalah gadis tak berdaya yang sedang tersesat. Atau justru seperti perawan di sarang penyamun.

"Saya baik-baik aja, Pak! Ini teman saya, dia yang akan bantu saya!" kata Kiran sopan sambil tersenyum mengerling Candra. Gembira karena penjual sate itu ramah padanya.

Kiran menerima bungkusan itu, bersentuhan dengan tangan penjualnya yang terasa hangat. Mungkin karena baru membakar sate sehingga tidak sedingin tangan lain yang erat menggenggam jemarinya dari tadi.

Candra membayar dengan sepuluh lembar uang berwarna merah. Pemandangan yang langsung membuat Kiran sakit kepala. Satu juta untuk lima tusuk sate? Tiap tusuknya pun cuma berisi tiga iris daging seruas jempol tangannya. Yang benar saja!

Penjual sate hanya mengangguk tanpa berani menatap Candra yang menyeringai sinis padanya. Marah karena penjual sate itu berani lancang mengajak Kiran bicara hingga menawarkan bantuan.

"Terima kasih ya, Pak!" ucap Kiran sebelum beranjak mengikuti tarikan Candra pada tangannya.

Candra membawa pergi Kiran setelah uangnya diterima dengan tangan gemetar oleh penjual sate. Kiran mengernyit heran melihat rasa takut membayang di mata dan wajah penjual sate yang berpeluh lumayan banyak.

"Masih kuat jalan nggak? Bentar lagi sampai rumah," kata Candra, lembut mengusap kepala Kiran.

Bukannya menjawab, Kiran malah balik melempar pertanyaan. "Kamu tadi itu nggak salah bayar, kan?"

"Nggak, harganya memang segitu!" jawab Candra manis.

"Hah, serius kamu, Can?"

Candra menoleh, "Aku serius, Kiran!"

"Tapi … mahal banget."

"Itu sate spesial. Susah buat dapet ayam hutan di sini, wajar kalau harganya mahal. Sesuai kok sama tenaga yang dikeluarkan penjualnya untuk berburu."

"Rasanya enak nggak? Ntar mahal doang tapi rasa nggak karuan?!"

"Kamu coba sendiri nanti, tapi menurutku rasanya enak … enak banget malah …!" jawab Candra serius.

"Pantes aja mereka beli cuma satu tusuk … harganya selangit." Kiran berkomentar sambil melirik pemuda yang tampak kalem di sebelahnya, dengan ekspresi mata duitan tentunya.

Otak wanita Kiran seketika mendapatkan penilaian tambahan tentang Candra. Selain tampan, pemuda itu sepertinya seorang hartawan. Sial!

***

^^^Selamat hari Jumat teman-teman, yang mau kirim sajen bunga setaman n' kopi pahit dipersilakan, kelengkapan berupa rate 5, like, komen, hadiah, vote n' kiss juga boleh hehehe.^^^

^^^Cium jauh dari Surabaya - Al^^^

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝒂𝒑𝒂 𝑪𝒂𝒏𝒅𝒓𝒂 𝒓𝒂𝒋𝒂 𝒔𝒆𝒕𝒂𝒏 𝒚𝒂 🤔🤔

2024-04-08

1

Audy Amran

Audy Amran

rajanya demit nich tapi bentuknya potam pocong tamvan aiiiihh🤣🤣🤣

2023-01-16

1

Yuli Ana

Yuli Ana

kang satenya pesugihan itu kali ya

2023-01-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!