Udara pagi menggigit kulit, Kiran masih bergelung di bawah selimut putih yang sekarang menutup hingga bawah lehernya.
Seperti pagi yang normal dan umum, Kiran mendengar kicau burung yang cukup berisik. Ah ya, dia hampir lupa kalau rumah Candra berada di lereng gunung. Dekat dengan kawasan hutan.
Kiran membuka mata, memindai sekeliling kamar untuk menemukan Candra. Dia mengeluh, ini ketiga kalinya dia kehilangan Candra di waktu pagi. Kiran memperhatikan bantal dan tempat di sampingnya, bersih tanpa cetakan yang menunjukkan bekas ditiduri orang.
Candra benar-benar tidak tidur di ranjang yang sama dengannya. Kiran tersenyum tipis karena pemuda itu ternyata lebih sopan dari yang dia duga. Justru dia yang sering berpikiran cabul saat mengagumi sosok macho itu.
Perlahan, Kiran turun dari ranjang, melipat selimut dan merapikan rambutnya sebelum keluar kamar. Dia ingin mandi air hangat dan bertemu Candra, mengabarkan kalau kondisinya lebih sehat. Kiran tidak perlu pergi ke poskesdes, dia hanya perlu makan yang banyak pagi ini, perutnya keroncongan.
Kiran membuka tas kecilnya, mencari ponsel untuk mengecek sinyal, dia harus berkabar dengan Septi agar sahabatnya itu tidak khawatir. Siang nanti Kiran akan pulang. Semedinya karena luka hati telah berakhir, toh perlengkapan mendakinya juga hilang. Jadi apalagi yang bisa dilakukan Kiran selain turun gunung?
"Sial, baterainya kosong! Pasti gara-gara kemarin nggak ada sinyal makanya nguras daya, lupa matikan juga. Trus pengisi daya cadangan juga habis, dan di rumah ini nggak ada listrik, bagus! Lengkap sudah kesialan dua hari ini." Kiran menggeleng frustasi.
Semakin frustasi karena jam tangan yang seharusnya hidup juga mati, artinya tidak ada penunjuk waktu, hari dan tanggal. "Aku harus bertemu Candra! Jam berapa dia pergi dari kamar ya?"
Tidur Kiran sangat lelap, tidak ada mimpi tidak ada gangguan tidak ada apapun yang mengusiknya. Benar-benar seperti orang mati. Setelah menghembuskan nafas panjang, Kiran keluar kamar. Siap untuk bertemu keluarga Candra.
"Loh kok sepi?" gumam Kiran. Bahkan sampai acara mandinya selesai dia belum bertemu satu orangpun. Rencana mandi air hangat gagal karena rumah besar itu ternyata tidak memiliki mesin pemanas air. Kiran lupa rumah Candra tanpa listrik.
Kiran memberanikan diri menyusuri rumah, ke arah dapur, tempat satu-satunya suara orang sedang memasak terdengar normal.
"Ada yang perlu saya bantu, Mbak?" tanya wanita paruh baya itu ramah. "Saya asisten rumah tangga di sini, saya biasa dipanggil Mak Sinah."
"Em, Candra dimana ya, Mak? Saya Kiran."
Mak Sinah memandangi Kiran cukup lama sebelum menjawab. "Sedang keluar, ada pekerjaan. Mungkin malam baru kembali."
"Jam berapa ini ya, Mak? Maaf saya kesiangan," kata Kiran menahan malu.
"Sekarang hampir jam makan siang, saya nggak berani bangunkan untuk sarapan tadi pagi. Sebentar lagi saya siapkan makan siangnya, mau diantar ke kamar atau makan sama bapak?"
"Bapak?" tanya Kiran antusias.
Mak Sinah tersenyum hangat, "Iya. Pak Subarkah itu ayahnya Mas Candra, empunya rumah!"
Kiran salah tingkah, bagaimana dia bertemu dengan ayahnya Candra tanpa didampingi pemuda yang membawanya ke tempat itu?
Sial, Candra kenapa nggak bilang kalau ada pekerjaan sih?
Kiran mengangguk mengerti, lalu pamit pada Mak Sinah untuk kembali ke kamar. Dia harus berganti baju dan merapikan rambutnya sebelum bertemu tuan rumah.
Selang sepuluh menit, pintu kamar diketuk. Mak Sinah mengulurkan kain putih setelah Kiran membuka pintu. "Ini baju mas Candra, bisa untuk ganti sementara. Baju mbak Kiran biar saya cuci di belakang."
Kiran menerima pakaian putih yang diberikan padanya, "Saya siang ini mau pulang kok, Mak! Jadi nggak perlu baju ganti!"
"Loh … ya jangan pulang dulu, tunggu sampai mas Candra datang, Mbak! Nanti saya yang kena marah bapak," ujar Mak Sinah gelisah. "Mbak Kiran ganti baju sekarang, udah ditunggu bapak di meja makan, baju kotornya sini saya bawa sekalian."
Dengan perasaan tak enak, Kiran menutup pintu untuk berganti pakaian. Tubuhnya yang kecil seolah tenggelam oleh celana panjang dan juga baju lengan panjang berwarna putih tersebut. Kiran menggulung bahan berlebih itu agar tidak tampak kedodoran.
Menyisir rambut dengan jari tangan lalu keluar lagi sudah dengan rambut terikat dan wajah lebih segar. Mak Sinah mengajak Kiran menuju meja makan kecil di belakang setelah meletakkan baju kotor Kiran di bak cuci.
"Ayo silahkan, duduk sini jangan sungkan!" Kiran menyambut uluran tangan hangat ayah Candra. "Gimana udah enakan? Apa perlu bapak antar ke poskesdes?"
Kiran mengangguk, merasa konyol karena harus makan siang hanya berdua dengan Pak Subarkah. "Saya sudah sehat, Pak! Sebenarnya mau pulang sebentar lagi."
"Oh ya jangan pulang sekarang, nggak ada yang nganter keluar desa, ilang kamu nanti! Tunggu Candra datang aja! Ayo makan dulu," ujar pak Subarkah ramah.
Anggukan kepala Kiran terasa berat. "Iya, Pak!"
Itu adalah makan siang paling canggung yang pernah dialami Kiran. Tapi Kiran memang lapar seperti tidak makan selama dua hari, dan masakan mak Sinah bisa dibilang enak.
Tak banyak obrolan selama waktu makan. Pak Subarkah hanya bertanya beberapa hal bagaimana Kiran bisa tersesat di sisi selatan gunung. Kiran menjawab singkat karena tidak mampu bercerita kejadian sebenarnya. Lupa.
Kiran izin kepada pak Subarkah untuk melihat-lihat sekitar setelah makan siang selesai. Perutnya kenyang, tubuhnya juga lebih bugar setelah minum teh rempah buatan Mak Sinah.
"Mak, yang tinggal di rumah ini ada berapa orang?" Kiran bertanya karena melihat banyaknya ruangan tertutup yang disinyalir sebagai kamar. Kalau malam dia hanya melihat enam pintu, di belakang ternyata masih ada empat ruang lagi dengan kondisi yang sama. Pintu tertutup rapat.
"Kalau sekarang hanya lima, tujuh orang kalau ditambah saya sama bapak! Nanti pas makan malam, mereka semua ada di sini."
"Ya udah saya keluar sebentar ya, Mak! Mau lihat-lihat kampung," pamit Kiran yang segera diiyakan mak Sinah dengan raut keberatan.
"Jangan jauh-jauh ya, Mbak! Hutan di sekitar desa banyak menyesatkan orang!"
Kiran keluar melewati ruangan dimana pak Subarkah masih ngobrol dengan tamunya. Kiran hanya mengangguk dan berlalu menuju halaman rumah. Satu motor terparkir di dekat bunga kenanga tumbuh subur.
Di siang hari, Kiran baru tau kalau di sebelah kanan belakang rumah Candra ada punden berundak kecil yang puncaknya di tutup kain putih. Pun dengan bangunan yang melindunginya, empat tiangnya diberi kain putih.
Kiran mengamati dari jauh karena ada satu orang sedang khusyuk menunduk di sana, mungkin berdoa atau melakukan hal lain. Tapi Kiran yakin, punden itu bukanlah sebuah makam kalau dilihat dari bentuknya yang seperti candi.
Asap dari dupa yang ada di depan pria yang sedang menunduk itu tercium Kiran, baunya sama dengan yang ada di dalam rumah.
Mengabaikan rasa penasarannya, Kiran berjalan keluar halaman ke arah kiri, dimana semalam dia melihat beberapa rumah berjejer. Setelah tiga rumah, tidak ada apapun lagi selain hutan dan jalan setapak. Suara burung berkicau rupanya berasal dari hutan tersebut.
Hanya ada empat rumah termasuk rumah Candra. Tiap rumah memiliki punden di samping kanan, hal yang membuat Kiran mengerti kalau mungkin itu adalah tempat berdoa atau mungkin altar pemujaan?
Sial! Kiran tidak bisa mengabadikan hal unik itu dengan kameranya untuk ditunjukkan pada Septi.
Sekilas Kiran melihat bayangan nenek tua di punden rumah terakhir, hanya samar, tapi degup jantung Kiran berdetak mendobrak dadanya. Kiran sepertinya pernah melihatnya, tapi dimana?
Kiran berusaha keras mengingat sambil menyisir jalan ke arah hutan, jalan yang semalam dilewati bersama Candra.
"Mbak, mau tanya!" Satu motor berhenti di dekat Kiran tanpa disadari karena dia sedang fokus melamun.
"Eh .. iya, Pak?" tanya Kiran gelagapan kepada dua pria yang berboncengan motor tersebut.
"Rumah juru kunci dimana ya?"
Kiran mengernyit, "Juru kunci?"
"Pak Subarkah maksud teman saya," timpal pria yang lebih tua.
"Oh rumah paling ujung, Pak! Yang paling bagus pokoknya," jawab Kiran menunjuk jalan di belakangnya. "Lima ratus meteran dari sini."
"Terima kasih, Mbak!"
Kiran mengangguk ketika dua pemotor itu meninggalkannya. Keinginannya untuk jalan-jalan diurungkan karena kabut semakin tebal, matahari juga tertutup awan gelap, hampir hujan.
"Jadi ayahnya Candra itu juru kunci gunung ini?" gumam Kiran pada dirinya sendiri. "Masa sih?"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒑𝒂 𝑲𝒊𝒓𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒃𝒂𝒘𝒂 𝒌𝒆 𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒍𝒂𝒊𝒏 𝒚𝒂 🤔🤔👍
2024-04-08
0
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
keknya pak Subarkah ini bkn bpknya candra x yak
2023-03-27
0
Namika
kirain cetakan pulou😂😂😂
2022-11-21
3