Hai hai para readers, Author sebelumnya mau minta maaf karena kemarin nggak up beberapa hari. Kemarin Author sempet drop kesehatannya jadi nggak bisa up. Doain Author sehat selalu ya supaya bisa up setiap hari. Dan untuk para readers semoga selalu dalam keadaan sehat supaya bisa baca karya Author setiap hari
...****************...
Keluarga adalah harta yang paling berharga bagi semua. Tak melulu memandang harta ataupun tahta. Yang terpenting adalah keharmonisan rumah tangga. Menyayangi antar sesama anggota keluarga adalah yang utama. Saling menghormati, saling memberi dukungan satu sama lain. Karena terkadang hidup bergelimang harga tak melulu membuat bahagia. Sibuk dengan pekerjaan dan meninggalkan sang anak dengan pengasuhnya banyak terjadi. Juga hidup sederhana dan apa adanya bukan berarti tidak bahagia. Seperti halnya yang di alami Aira. Meskipun dia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari sosok seorang ayah namun dia begitu bersyukur dengan limpahan kasih sayang dari ibunya.
Ibu yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Ibu yang rela bekerja banting tulang demi sang anak makan. Ibu yang rela kehujanan demi sebuah gubuk yang layak untuk sang anak berteduh. Aira menatap setiap sudut kamar yang dia tempati bersama Putri selama liburan. Kamar yang cukup luas dengan warna cat putih biru membuat kesan minimalis namun elegant. Ditambah beberapa furnitur kayu yang membuat kamar menjadi lebih berisi.
Aira tersenyum saat dia bisa pergi berlibur dengan sahabat sahabatnya juga, pacarnya. Namun di balik senyum itu Aira harus menahan rindu dengan keluarganya yang ada di kampung. Paman, bibi, juga para sepupunya. Ahh, kampung halaman memang selalu membuat rindu. Aira berjalan menuju arah jendela. Dia membuka tirai juga jendela itu. Memejamkan mata dan menghirup udara Bandung yang begitu segar.
"Aira, lo ngapain di situ?"tanya Putri yang membuat konsentrasi Aira bubar.
"Liat pemandangan aja, bagus banget"jawab Aira tanpa menoleh. Aira fokus pada hamparan kebun teh yang dikerumuni oleh para pemetik teh. Namun tiba tiba sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Aira tersentak kaget dengan tangan yang melingkar di perutnya itu.
"Bagus ya pemandangannya"ucap Varo.
"Varo, kamu apa apaan sihh, kalau Putri liat gimana"kesal Aira.
"Aku udah suruh Putri keluar"ucap Varo santai. Bahkan kini Varo menelusupkan wajahnya pada tengkuk Aira. Tentu saja hal itu membuat Aira merinding. Dia tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Apalagi mereka hanya berdua saja. Takut takut ada jin lewat dan membisikan suatu hal yang menyenangkan untuk keduanya. Ahh, mata Aira membola memikirkan itu.
"Varo, lepas dong, aku nggak nyaman"ucap Aira tak bisa diam.
"Cukup diam dan nikmati aja, jangan banyak gerak ntar aku nggak tahan"bisik Varo. Aira hanya pasrah dengan keadaan ini. Dia benar benar diam di posisinya meskipun sebenarnya kakinya sudah sedikit lelah dan kesemutan.
.
.
.
Di sisi lain seorang gadis tengah berdiri di tepian jalan dekat perkebunan teh. Dia tersenyum sambil sesekali memejamkan mata menikmati sejuknya udara. Dia benar benar bersyukur dengan apa yang dia dapat saat ini.
"Gue seneng saat ini dengan keadaan gue, tapi gue bakal lebih seneng lagi kalau ada lo di sini"gumamnya sambil memejamkan mata. Tak terasa buliran bening jatuh membasahi pipinya. Dengan cepat dia menyeka air matanya dan kembali tersenyum menyemangati dirinya.
"Oke, gue nggak boleh cengeng, gue harus semangat supaya gue bisa cepet temuin lo"ucapnya semangat. Dia melanjutkan langkah kakinya mendekati perkebunan sambil sesekali mengambil gambar dengan ponselnya.
"Lho si eneng jalan jalan sendirian aja? temannya kenapa nggak di ajak?"ucap seorang pria paruh baya. Gadis tadi menoleh ke belakang siapa tau ada orang di belakangnya yang sedang pria paruh baya itu ajak bicara. Namun nihil, di belakangnya tak orang. Apa mungkin bapak ini ngomong sama gue ya? pikirnya.
"Bapak bicara sama saya?"tanyanya bingung.
"Iya atuh neng, sama siapa lagi, orang disini cuma ada saya sama eneng"jawabnya.
"Kenapa jalan jalan sendiri neng? temennya nggak di ajak?"tanyanya lagi. Gadis itu semakin bingung dengan pertanyaan itu. Pasalnya dia ke Bandung pun hanya di temani sopir, bagaimana bisa bapak ini bertanya demikian.
"Saya kesini emang sendiri pak"jawab Aida.
"Iya eneng kesininya emang sendiri, tapi kan dari Jakarta sama den kembar sama 2 temennya juga"ucap mang Udin.
"Den kembar"gumam Aida lirih.
.
.
.
Aira berjalan ke dapur berniat membuat minum untuknya dan teman temannya yang sedang menonton tv. Dia membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin juga es batu.
"Cari apa neng?"
"Astaga"pekik Aira keget.
"Kaget saya mang"ucap Aira.
"Hehe,, maaf neng"ucap mang Udin.
"Eneng teh cari apa?"tanya mang Udin.
"Cari ea batu mang"jawab Aira.
"Sini biar mamang carikan"ucap mang Udin. Aira mengangguk dan menjauh dari kulkas. Dia berdiri di samping meja menuangkan sirup yang akan dia buat es.
"Ini neng"ucap mang Udin memberikan es batu.
"Makasih ya mang"ucap Aira.
"Sama sama"jawabnya. Mang Udin hampir beranjak dari tempatnya. Namun niat itu dia urungkan saat teringat sesuatu.
"Neng, eneng teh kenapa tadi jalan jalan sendirian? terus juga kenapa eneng sampai villa lebih dulu daripada mamang, padahal tadi mamang pergi eneng teh masih foto foto di perkebunan?"tanya mang Udin.
"Saya mana ada mang pergi jalan jalan, orang daritadi saya di villa nggak kemana mana"jawab Aira jujur.
"Yee si eneng mah, masa lupa, orang tadi saya ketemu sama eneng terus sempet ngobrol juga"sanggah mang Udin.
"Saya beneran nggak keluar mang, mamang salah orang kali"ucap Aira.
"Nggak neng, saya jelas jelas ketemu sama eneng, masa saya bohong"ucap mang Udin keukeh.
"Orangnya cuma mirip saya kali mang"ucap Aira.
"Aduh eneng teh di bilangin nggak percaya, kalo cuma mirip mah nggak sampai plek ketiplek neng"ucap mang Udin.
"Ihh mamang, udah ahh, saya mau bawa kedepan esnya, ngobrol sama mamang malah ngelantur, orang saya nggak kemana mana"pungkas Aira sambil beranjak membawa nampan minumannya. Mang Udin hanya menggerutu di dapur saat Aira tidak percaya bahwa dirinya bertemu dengan Aira di perkebunan.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments