Di UKS Aira dengan telaten membersihkan luka di tangan Varo dengan alkohol. Sesekali Varo meringis merasakan perih pada tangannya. Namun pandangan Varo hanya tertuju pada wajah serius Aira.
"Selesai"ucap Aira. Aira membereskan kotak P3K tersebut.
"Kenapa diberesin?"tanya Varo.
"Kan udah selesai"jawab Aira.
"Luka lo belum"ucap Varo mengambil kotak P3K dari tangan Aira dan beralih mengobati luka di tangan dan kaki Aira. Aira hanya diam saja saat Varo mulai membersihkan lukanya.
"Lo kenapa tadi bisa disana?"tanya Varo di sela sela kegiatannya. Aira terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Kalau dia berkata yang sebenarnya, bisa panjang urusannya dengan Della.
"Emm, tadi cuma penasaran aja sama gedung itu, eh malah kekunci"bohong Aira. Varo memicingkan matanya mendengar cerita Aira. Dia seakan tak percaya dengan penuturan Aira.
"Kamu sendiri ngapain tadi disana?"tanya Aira mengalihkan pembicaraan.
"Gu_gue tadi dari toilet belakang, terus denger lo teriak"bohong Vano. Aira manggut manggut mengerti. Dia percaya saja dengan jawaban Vano karena memang di dekat gedung tadi ada toilet.
"Astaga Vero"pekik Vano.
"Kenapa Vero?"tanya Aira panik.
"Tadi gue keluar sama Vero buat nyariin lo"jawab Vano spontan.
"Hahh?"bingung Aira. Mana yang bener? katanya tadi ke toilet dan nggak sengaja denger teriakan aku. Tapi sekarang dia bilang nyariin aku. Pikir Aira bertanya tanya.
"Ehh, maksud gue tadi Vero keluar buat nyariin lo pas gue ke toilet"ucap Vano membenahi kebohongannya.
Vano sudah selesai mengobati luka Aira dan mengembalikan kotak P3K kembali ke tempatnya. Bertepan dengan itu bel istirahat berbunyi.
"Udah bel, gue mau makan sekalian bilang sama Vero kalo lo udah ketemu"ucap Vano.
"Iya, aku mau ke kelas dulu"ucap Aira.
"Emm, makasih ya Van udah nolongin aku"lanjut Aira. Vano hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu keluar dari UKS di ikuti oleh Aira. Tak disangka di depan UKS mereka berpapasan dengan Della.
Della menatap kearah Aira seolah dia marah melihat ini. Dengan menunduk Aira segera berlalu dan sedikit berlari. Vano melihat bagaimana Aira pergi menyerngit heran. Kenapa dia? Kenapa seakan tekakutan? pikir Vano.
.
.
.
Di dalam kelas Aira langsung di sambut oleh Putri. Putri memeluknya dengan sangat erat seakan takut kehilangan sahabatnya itu.
"Astaga Ra, lo darimana aja sihh? gue khawatir banget tau nggak, gue kira lo nggak masuk tadi"ucap Putri di sela sela pelukannya.
"Gue masuk kokk,, lepas dulu dongg, sesak nafas nihh"ucap Aira. Putri melepaskan pelukannya dengan cengiran khasnya.
"Lo darimana aja sih?"tanya Putri penasaran. Aira terdiam saat Putri bertanya padanya. Dia bingung harus mengatakan apa pada Putri.
"Ra, lo kenapa? ada yang gangguin lo?"tanya Putri lagi.
Huftt
"Sebenarnya gue tadi di kunci di gedung belakang"jawab Aira lirih.
"Apa?siapa yang lakuin itu Ra?"tanya Putri.
"Gue bakal cerita semuanya sama lo, tapi janji jangan bilang kesiapa siapa"ucap Aira.
"Gue janji"ucap Putri. Akhirnya Aira menceritakan semuanya. Mulai dari Della yang membawanya ke gedung belakang hingga Della meninggalkannya dan menguncinya. Aira juga mengatakan apa yang Della katakan padanya bahkan Varo yang menolongnya.
"Terus?"tanya Putri ambigu.
"Terus apanya?"tanya Aira bingung.
"Lo mau gitu turutin apa maunya Della?"tanya Putri. Aira terdiam. Jujur saja Aira menaruh hati pada Varo. Siapa yang tidak suka pada cowok tampan, cool dan pintar di sekolah. Namun Aira tahu diri untuk tidak menampaknya. Perbendaan kasta mempengaruhi keadaan.
"G_gue nggak tau Put"jawab Aira lirih.
"Kalo lo emang suka, kejar Ra"ucap Putri.
"Tapi gue sama dia beda Put"cicit Aira.
"Nggak ada yang beda di dunia ini Ra, semua sama sama manusia, sama sama makan nasi, cuma nasib dia lebih beruntung dari kita"ucap Putri menasihati.
"Lo percaya sama gue, sebenarnya Varo tuh juga suka sama lo"lanjut Putri. Aira menatap Putri dengan dahi berkerut. Darimana sahabatnya itu bisa berkata seperti itu? Padahal jelas jelas Varo tidak pernah menampakkan ketertarikan padanya.
"Lo tau, daritadi di kelas Vano tuh nggak konsen belajar, gue yakin pasti karena khawatir sama lo"ucap Putri.
"Mungkin aja kan dia lagi banyak pikiran makanya nggak fokus belajarnya"sangkal Aira.
"Banyak pikiran karena yang ada dipikiranya cuma lo"cibir Putri. Aira merengut dan memukul lengan Putri pelan. Sedangkan Putri terkekeh melihat sahabatnya itu.
.
.
.
"Gue tunggu di mobil"ucap Varo pada Aira yang masih menyalin pelajaran yang tadis empat tertinggal. Aira hanya mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya pada buku di depannya. Berbeda dengan Varo, Vero hanya berlalu begitu saja saat melewati Aira. Aneh. Pikir Aira.
Memang sejak Aira kembali kekelas tadi Vero seakan menghindarinya. Entah apa sebabnya dia sendiri juga tak tau.
"Ra, tumben Vero diem aja"ucap Putri.
"Nggak tau gue, dari kemarin dia kayak menghindar gitu"jawab Aira seadanya.
"Menghindar?"tanya Putri bingung.
"Iya, kemarin dia ngomong lagi soal perasaannya"jawab Aira.
"Ra, lo nggak pengen pertimbangin Vero?"tanya Putri.
"Gue tau diri buat itu Put"jawab Aira sambil membereskan buku bukunya.
"Saran gue, coba deh lo ngobrol berdua aja sama Vero dari hati ke hati, siapa tau lo cocok sama dia"saran Putri.
"Nggak dapet Varo, dapet dehh kembarannya"ucap Putri terkekeh.
"Apaan sih loo, udah yukk pulang"ajak Aira. Putri mengangguk ikut bangkit dari kursi. Aira berjalan sedikit cepat karena takut Varo dan Vero menunggunya terlalu lama.
"Lo di jemput Ra?"tanya Putri.
"Nggak, gue tadi barengan sama Varo Vero"jawab Aira. Putri menganggukkan kepalanya.
Di tengah perjalanan keparkiran, seseorang menarik tangan Aira dengan kasar. Putri yang melihat itu menarik sebelah tangan Aira.
"Lepas"ucapnya tegas.
"Nggak, lo yang lepasin Aira"ucap Putri. Della yang geram dengan tangan yang satunya langsng menjambak rambut Putri.
"Ehh lo anak beasiswa, jangan sok jagoan yaa"gertak Della. Della menghempas rambut Putri kasar hingga Putri jatuh.
"Putrii"ucap Aira ingin menolong namun tak bisa karena tangannya terlebih dahulu di tarik oleh Della.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments