Pukul 4 sore Aira baru mengerjapkan matanya berat. Sepulang sekolah dia hanya menangis di kamar hingga kelelahan dan akhirnya tertidur. Aira berusaha bangun dengan kepala yang sedikit pening. Bahkan matanya sembab karena terlalu lama menangis.
Dia berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Cukup 20 menit waktunya membersihkan diri, dan kini Aira sudah berada di dapur bersama sang ibu. Aira membantu sang ibu dengan berusaha tersenyum seolah tidak ada apa apa. Namun yang namanya seorang ibu, ia memiliki firasat yang kuat. Rumi yakin ada yang disembunyikan dari anaknya itu.
"Aira"panggil Varo. Aira menoleh kearah suara. Ternayta Varo sudah berdiri di belakangnya.
"Ikut gue bentar"ucap Varo. Aira menoleh sesaat pada sang ibu. Dan Rumi pun mengangguk kecil memperbolehkan anknya ikut dengan anak majikannya tersebut. Aira mengangguk dan mengikuti langkah Varo.
Kini Aira dan Varo sudah duduk di gazebo taman belakang rumah. Dan disana juga sudah ada Vero. Namun Vero seakan tak tertarik dengan kehadiran Aira, karena dia lebih memilih ponselnya.
"Ra"panggil Varo. Aira mendongak menatap Varo.
"Lo ada masalah apa sama Della?"tanya Varo.
"Nggak ada"jawab Aira singkat.
"Kalau nggak ada kenapa tadi Della sampe tega siksa lo kayak gitu"ucap Varo tak percaya.
"Udah Var, nggak usah bahas itu lagi"ucap Aira menolak untuk membahas kejadian tadi. Varo memilih diam, dia mengalah untuk saat ini.
"Vero"panggil Aira.
"Hemm"dehem Vero tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bisa ngobrol berdua aja?"tanya Aira. Vero mendongak menatap Aira sebelum kemudian dia mengangguk mau. Kini Aira beralih menatap Varo. Varo yang tau tatapan Aira, dia langsung pergi meninggalkan dua orang itu.
Sepeninggalan Varo, Aira dan Vero masih sama sama diam tak ada yang memulai pembicaraan. Aira sendiri pun bingung, harus memulai darimana.
"Ehemm"dehem Vero.
"Mau ngomong apa?"tanya Vero.
"E_emm soal itu, ee perasaan lo"ucap Aira gugup.
"Nggak usah bahas itu, gue udah tau isi hati lo"jawab Vero.
.
.
.
Sementara di dalam rumah Varo terlihat gelisah. Dia penasaran apa yang akan di bicarakan Aira dengan Vero sampai sampai dirinya tidak boleh tau. Apakah Aira akan menerima cinta Vero? Apa Aira sama Vero sebenarnya sudaj jadian? Ahh banyak asumsi gamang di dalam otak Varo.
"Varo"sapa Keira.
"Ahh, bunda, bikin kaget aja"ucap Varo aedikit kesal.
"Hehe, maaf, abisnya kamu berdiri terus kayak gitu, nggak capek apa?"tanya Keira duduk di sofa ruang tv.
"Duduk sini"ajak Keira. Varo pun mengangguk dan mendudukan dirinya di samping sang bunda.
"Var, bunda mau tanya boleh?"tanya Keira.
"Tanya aja bund, boleh kok"jawab Varo.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama Aira? Tadi bunda denger Aira nangis di kamarnya, terus pas keluar juga pipinya agak lebam?"tanya Keira beruntut.
"Aku juga nggak tau bund sebenarnya yang terjadi seperti apa"jawab Varo.
"Tadi pagi kita berangkat bareng, tapi pas jam masuk kelas Airanya nggak ada, bahkan dia nggak ikut pelajaran pertama, terus pas pergantian jam pelajaran aku sama Vero keluar buat cari Aira, dan aku nemuin Aira di gedung belakang yang udah nggak di pake bund"lanjut Varo.
"Ngapain Aira disana?"tanya Keira penasaran.
"Varo juga nggak tau bund, pas Varo tanya jawabnya cuma penasaran aja sama gedung itu, pas liat kedalam malah kekunci, kan aneh bund"jawab Varo.
"Terus kejadian pulang sekolah gimana?"tanya Keira.
"Pas pulang Aira nggak langsung pulang, dia bilang sama Varo mau nyalin pelajaran yang tertinggal tadi pagi, ya udah Varo tungguin di parkiran, tapi udah 15 menitan Aira nggak nongol nongol, terus temennya dateng nyemperin aku sama Vero, katanya Aira di taman samping, pas Varo sampe sana Aira udah kacau banget keadaannya"jelas Varo.
"Sama siapa dia disana?"tanya Keira.
"Namanya Della bund, dia anak dari keluarga Hadi Utomo"jawab Varo. Keira menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Apa Aira sama Della ada masalah ya bund"ucap Varo.
"Mungkin"jawab Keira ambigu.
"Tapi kalau menurut bunda ya, mungkin mereka suka orang yang sama"lanjut Keira.
"Maksud bunda mereka rebutan cowok gitu?"tanya Varo memastikan. Keira mengangguk.
"Nggak mungkinlah bund, Aira mana ada deket sama cowok"ucap Varo.
"Aira tu deket ya cuma sama aku, Vero sama Darrel bund"lanjut Varo.
"Ya mungkin mereka rebutin salah satu dari kalian"ucap Keira.
"Coba dehh bunda tanya, Della ada suka sama kalian bertiga?"tanya Keira. Varo diam mencerna ucapan bundanya. Aira dan Della merebutkan cowok? Della suka di antara mereka bertiga? Setaunya Della hanya mengejar 1 cowok di sekolahnya. Varo. Hahh? Apa mungkin yang mereka ributin itu gue?tanya Varo dalam hati.
"Varo"panggil Keira.
"Varo"panggil Keira menepuk pundak Varo.
"Hahh, iya bund"jawab Varo gelagapan.
"Bunda nanya lho belum kamu jawab"ucap Keira.
"Ehh, e_Varo nggak tau kalau itu"jawab Varo gugup.
"Varo ke kamar dulu"pamit Varo. Keira menyerngitkan dahinya melihat tingkah anaknya itu.
Keira tak ingin lebih jauh masuk kedalam kehidupan anak anaknya. Dia juga tak ingin terlalu ikut campur dengan apa yang terjadi sekarang. Namun jika sudah sangat kerterlaluan, barulah Keira akan turun tangan secara langsung.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments