BAB 2

Bel pulang sudah berbunyi. Semua siswa berhambura keluar dari kelas masing masing. Begitu pula Varo dan Vero. Mereka berjalan menuju parkiran.

"Varo"panggil seseorang yang membuat langkah Varo dan Vero terhenti.

"Varo, gue nebeng ya"ucap Della.

"Nggak"jawab Varo dingin.

"Mobil gue mogok tadi pas berangkat Var, gue nebeng sampe bengkel deket persimpangan yaa"mohon Della.

"Ehh mak lampir, lo nggak denger apa kembaran gue bilang enggak ya enggak"sela Vero. Della mencebikan bibirnya pada Vero.

"Aira"panggil Vero.

"Kenapa Ver?"tanya Aira.

"Pulang bareng aja ya"ajak Vero.

"Tapi sopir kayaknya udah di depan dehh"tolak Aira.

"Sopir nggak bisa jemput lo, tadi bunda kirim pesen"sahut Varo dingin.

"Tu denger, masuk buruan"ucap Vero mendorong Aira masuk kedalam mobil. Di ikuti Varo yang duduk di kurti kemudi. Dan Vero duduk di samping Varo.

Varo melajukan mobilnya meninggalkan Della yang masih berdiri di tempat. Della semakin mengepalkan tangannya saat Aira pulang bersama Varo.

"Awas lo cewek sok lugu, gue bakal bikin lo tersiksa"gumam Della.

.

.

.

Didalam mobil Aira terlihat canggung dengan majikannya. Dia tadi melihat sendiri Della yang ingin nebeng, tapi malah dirinya lah yang pulang bersama mereka.

"Emm, Ver"panggil Aira.

"Kenapa?"tanya Vero.

"Tadi si Della kenapa di tinggal?"tanya Aira ragu.

"Udah nggak usah bahas mak lampir, mending bahas masa depan kita"gombal Vero.

"Apaan sih"kesal Aira. Aira melirik Varo sekilas. Dapat dia lihat Varo yang fokus pada stir dengan tatapan dingin pada jalan di depannya.

"Ck, nggak percaya banget sih lo Ra, harus berapa kali gue bilang, gue tu suka sama lo"ucap Vero menggebu.

"Maaf, aku rasa kamu bercanda"ucap Aira. Bukan untuk pertama kalinya Vero menyatakan cintanya. Namun Aira selalu menganggapnya bahwa itu hanya candaan.

"Harus pake cara apa sih Ra biar lo percaya"ucap Vero kesal. Aira hanya menunduk memilin jari jarinya. Sedangkan Varo hanya melirik gadis itu dari spion tengah.

Perjalanan pulang serasa sangat lambat bagi Aira. Dia merasa atmosfer di sekitarnya berubah saat Vero menyatakan candaan hatinya.

"Ekhem"dehem Varo.

"Kenapa lo?"tanya Vero heran.

"Udah sampe"jawab Varo seraya turun dari mobil. Hahh? Aira melongo saat Varo mengatakan sudah sampai. Bagai angin segar, dia segera keluar dari mobil dan segera berlalu. Vero yang melihat Aira seolah menghindarinya hanya bisa pasrah. Entah bagaimana caranya dia membuat Aira percaya bahwa dia tidak bercanda dengan ucapan cintanya. Vero segera turun dari mobil dan berjalan ke kamarnya. Dia tidak berniat untuk keluar kamar untuk menghindari Aira. Selalu seperti itu yang dia lakukan. Dia berharap dengan tidak bertemu Aira bisa mengurangi kecanggungan di antara mereka.

.

.

.

Aira baru saja selesai membantu ibunya menyirami tanaman di taman samping. Dia mencuci tangan dan kakinya di kran air sebelum masuk ke rumah. Dia berjalan ke dapur mencari keberadaan ibunya. Namun saat di dapur dia melihat Varo yang sedang mengambil air dingin di kulkas.

"Varo"panggilnya. Varo menoleh kearah Aira dengam dahi berkerut seakan bertanya "Apa apa?"

"Emm, nanti bisa belajar bareng nggk? aku ada beberapa yang belum paham"ucap Aira.

"Ya, nanti selesai makan malam"jawab Varo berlalu meninggalkan dapur. Aira tersenyum dan mengangguk kearah Varo.

Malam tiba, sesuai janji setelah makan malam Varo dan Aira sudah berada di perpustakaan mini yang Kevin buat untuk menunjang kebutuhan belajar anak anaknya. Aira memperhatikan apa yang di jelaskan oleh Varo dengan seksama.

"Gimana? paham?"tanya Varo.

"Iya, aku paham"jawab Aira.

"Masih ada lagi yang lo nggak paham?"tanya Varo dingin. Memang seperti itulah mada bicara Varo, dingin.

"Aku udah paham, makasih"jawab Aira tersenyum. Varo hanya mengangguk saja. Mereka kembali sibuk pada aktivitas masing masing. Varo fokus pada buku bacaannya, sedangkan Aira fokus pada PR yang dia kerjakan.

Tak terasa sudah jam 10 malam Varo baru mengakhiri bacaannya. Saat hendak mengemasi buku buku, Varo melihat Aira yang tertidur dengan bolpoin yang masih berada dalam genggamannya. Varo sedikit melihat hasil kerjaan Aira. Varo tersenyum tipis melihat jasil jawaban Aira. Tak sia sia aku mengajrinya, batinnya.

Varo membantu mengemasi buku buku milik Aira. Saat selesai, dia hendak membangunkan Aira. Dia mengguncang pelan lengan Aira berharap Aira akan bangun. Namun nihil Aira hanya melenguh saja. Varo bingung harus melakukan apa, kalau di tinggl sendirian disini kasian. Akhirnya Varo memilih mengangkat tubuh Aira membawanya masuk kedalam kamar. Kamar Aira tentunya, bukan kamar Varo yaa.

Dengan sekuat tenaga Varo menggendong tubuh Aira ala bridal style. Sampai di depan kamar Aira, Varo memmbuka pintu dengan kakinya meskipun sedikit kesusahan. Dia masuk dan merebahkan tubuh Aira di ranjang. Aira sempat menggeliat pelan saat Varo meletakkannya di ranjang. Sebelum beranjak Varo menyelimuti tuhuh Aira dengan selimut.

"Cantik"gumam Varo dalam hati dengan senyum manis melekat di bibirnya. Varo hendak keluar kembali kekamarnya.

"Kalian ngapain?"

Deg

TBC

Terpopuler

Comments

Adila Ardani

Adila Ardani

Alhamdulillah akhirnya ketemu Thor

2022-11-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!