Varo membuka matanya saat suara alarm berbunyi nyaring. Dengan segera dia matikan dan duduk di tepi ranjang sebelum beranjak dan melaksanakan mandi paginya. Varo tersenyum saat mengingat hasil belajarnya semalam dengan Aira.
Flashback on
"Varo, aku nggak nyaman kayak gini"ucap Aira.
"Ya makanya dibiasain biar nyaman, kan sama pacar"cicit Varo. Aira hanya diam saja tak membalas perkataan Varo apalagi pelukan Varo. Dia benar benar tidak tau harus melakukan apa saat ini. Namun dia merasa nyaman dengan perlakuan Varo.
Cukup lama mereka hanya saling diam. Varo pun hanya memeluk pinggang Aira tak melakukan yang lain.
"Ai"panggil Varo.
"Kenapa?"tanya Aira mendongak agar bisa melihat wajah Varo. Varo yang sedikit menundukan wajahnya membuat mereka saling beradu tatap. Tatapan yang begitu dalam dan tentunya membuat jantung Varo dan Aira saling berdetak kencang.
Varo semakin mendekatkan wajahnya dan hal itu sukses membuat Aira memejamkan matanya. Bukan karena menikmati suasana, namun Aira takut dengan apa yang akan Varo lakukan selanjutnya. Varo yang melihat Aira memejamkan mata tersenyum kecil, dia semakin mendekatkan wajahnya hingga deru nafas Varo bisa dirasakan oleh Aira. Tubuh Aira semakin gemetar saat dirasa wajah Varo semakin dekat dengan wajahnya, hingga
Cup
Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir Aira. Mendapat perlakuan seperti itu sontak membuat mata Aira terbuka dengan sempurna. Dia tidak tau harus melakukan apa. Ingin rasanya dia mendorong Varo agar bibir mereka terlepas. Namun nyatanya tangan Aira seakan kaku untuk digerakan. Varo menempelkan bibirnya cukup lama, hanya menempel saja. Tidak ada adegan *******, menyesap apa lagi saling berbelit lidah. Hingga dirasa cukup, Varo menjauhkan wajahnya dari Aira dan membuang muka malu. Sedangkan Aira masih mengerjapkan matanya beberapa kali mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Ma_maaf"cicit Varo. Aira hanya mengangguk sambil menunduk menyembunyikan wajah malunya.
Flashback off
Varo benar benar di buat seperti orang gila saat mengingat kejadian semalam. Dengan senyum senyun nggak jelas akhirnya Varo memutuskan untuk mandi.
.
.
.
Selesai mandi Varo segera mengenakan seragamnya dan segera turun untuk sarapan bersama keluarganya. Sampai di meja makan Varo hanya melihat sang bunda.
"Pagi bund"sapa Varo.
"Pagi sayang"jawab Keira.
"Papa sama Vero bund?"tanya Varo.
"Papa baru mandi, kalau Vero nggak tau tuhh"jawab Keira.
"Biar aku panggil Vero bund"usul Varo.
"Kamu duduk aja, biar bunda yang panggil"ucap Keira. Varo segera mengangguk menuruti ucapan Keira.
Saat Varo sedang menunggu anggota keluarga lainnya, dia teringat dengan Aira. Tanpa pikir panjang Varo berjalan kedapur mencari keberadaan sang pacar yang biasanya sarapan dengan bi Rumi.
"Aira"panggil Varo.
"I_iya"jawab Aira gugup.
"Nanti berangkat bareng aja, nggak usah di anter sopir"ucap Varo dingin. Karena permintaan Aira yang ingin menyembunyikan status mereka, jadi Varo bersikap seolah tak peduli pada Aira jika didepan banyak orang terutama keluarga mereka.
Varo beranjak meninggalkan Aira dan kembali ke meja makan yang sekarang formasinya sudah lengkap.
"Dari mana Var?"tanya Kevin.
"Dapur yah"jawab Varo. Kevin hanya mengangguk saja. Dan kini keluaga bahagia itupun melangsungkan sarapan dengan khidmat.
.
.
.
Aira berjalan menyusuri koridor kelas dengan tidak nyaman. Pasalnya para siswa kini tengah berbisik bisik tetangga mengenai Aira yang berjalan beriringan dengan Varo. Tak tanggung tanggung, bahkan Varo menggenggam tangan Aira. Dan jelas saja hal itu menjadi bahan gosip para siswa.
Sesuai ajakan Varo pagi tadi, Aira berangkat sekolah bersama dengan Varo dan Vero. Sebenarnya Varo hanya ingin berdua saja dengan Aira, namun karena Aira takut membuat curiga orang orang dirumah, akhirnya Varo pasrah harus berpacaran dengan di temani saudara kembarnya.
"Angkat kepalanya, jangan malu"ucap Varo karena sedari tadi Aira terus menunduk. Aira menoleh kearah Varo dan mengangguk pelan. Dengan keberanian ekstra, Aira perlahan menatap lurus kedepan. Aira bisa melihat dengan jelas saat para siswa yang sedang membicarakannya. Banyak yang menatap iri pada Aira karena bisa di gandeng oleh Varo, namun tak sedikit pula sswa yang mencibir Aira. Namun dengan Varo yang setia menggenggam tangannya, membuat Aira tak menggubris omongan para siswa itu.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Heru Kuswanto
next
2022-11-16
0