Sepulang sekolah Aira menepati janjinya pada Varo. Kini mereka tengah berjalan beriringan menuju parkiran. Sampai di parkiran Varo segera masuk kedalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Sedangkan Aira duduk di samping Varo. Varo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
15 menit perjalanan kini mereka sudah sampai di taman kota yang waktu lalu mereka kunjungi. Setelah mendapatkan tempat parkir yang aman, kini Varo dan Aira berjalan masuk ketaman mencari bangku kosong yang tidak terlalu panas.
"Gimana?"tanya Varo tidak sabaran.
"Aku bakal jawab, tapi sebelumnya aku mau tanya sama kamu"ucap Aira.
"Tanya apa?"tanya Varo.
"Kamu tau kemana Della? kenapa akhir akhir ini dia nggak kelihatan sekolah?"tanya Aira.
"Kenapa nanyain dia? bukannya dengan dia nggak disini kita bisa menjalani hubungan tapa gangguan?"tanya Varo balik.
"Jawab aja"ucap Aira.
Huftt
"Della udah pindah"jawab Varo. Aira menyerngitkan dahinya heran. Untuk apa Della pindah sekolah, padahal tinggal 7 bulan lagi sudah kelulusan. Pikir Aira.
"Gue udah tau apa yang sebenernya Della lakuin sama lo, dan gue juga yang minta ayah buat pindahin papanya Della ke kantor cabang yang ada di luar kota"jelas Varo. Papanya Della memang bekerja di perusahaan milik Kevin, ayah Varo. Dan Varo sengaja menyuruh sang ayah memindahkannya supaya Della juga ikut pindah papanya.
"Kenapa gitu? aku nggak masalah dia ada disini"ucap Aira.
"Karena gue nggak mau dia ganggu hubungan kita"ucap Varo.
"Apa dengan Della pindah nggak akan yang ganggu hubungan kita?"tanya Aira. Varo terdiam mendengar pernuturan Aira. Memang benar, dengan pindahnya Della memang tidak menutup kemungkinan orang lain akan menganggu hubungan mereka. Apalagi Varo adalah siswa berprestasi dan tampan disekolah. Jelas banyak siswa teutama siswa perempuan mengidolakan dirinya.
"Tapi gue bakal jagain lo"jawab Varo setelah cukup lama terdiam.
"Aku tau, terus kenapa Della di pindahin kalau kamu janji bakal jagain aku?"tanya Aira. Varo menghela nafasnya sedikit kasar untuk menguasai emosinya. Pertanyaan Aira yang hanya berputar putar membuatnya sedikit kesal.
"Karena gue nggak pengen lo jadi nggak nyaman karena adanya Della disekitar kita"jawab Varo. Aira tersenyum mendengar jawaban Varo. Dia juga mengangguk anggukkan kepalanya pelan.
"Jadi, apa jawaban lo?"tanya Varo. Aira terdiam dan menatap Varo lekat. Dia mendekatkan wajahnya kearah Varo. Tentu saja Varo yang mendapat perlakuan itu langsung diam mematung. Apalagi kini wajah Aira sudah semakin dekat bahkah hembusan nafas Aira bisa ia rasakan.
"Aku mau berjuang sama kamu"bisik Aira kemudian menarik dirinya dan duduk ke tempat semula dengan wajah menunduk menahan malu.
.
.
.
Siang telah berganti malam. Matahari telah tergantikan oleh rembulan dengan di temani jutaan bintang. Aira berdiam diri di kamarnya dengan senyuman yang terus mengembang diwajahnya. Bagaimana tidak, seorang pria tampan yang dia sukai sejak dulu ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya. Bahkan siang tadi mereka resmi berpacaran. Ahh, betapa senangnya hati dua sejoli muda yang sedang di mabuk cinta.
Aira berjalan menuju jendela kamarnya, membuka jendela itu. Ia memandangi langit malam yang terang karena sinar sang bulan. Memandangi jutaan bintang yang berkelap kelip seakan menari di atas sana. Aira tersenyum malu mengingat kejadian siang tadi yang membuatnya resmi berpacaran dengan Varo yang tak lain adalah anak majikannya.
Tok tok tok
Aira menoleh kearah pintu yang di ketuk. Dengan segera dia menutup jendela kamarmya dan berlalu membukakan pintu.
"Varo, kenapa?"tanya Aira.
"Emm, belajar bareng yuk"ajak Varo. Aira tersenyum malu saat Varo mengajaknya belajar bersama. Entah apa arti kata belajar saat ini, belajar yang sebenarnya atau pacaran dengan modus belajar. Aira hanya mengangguk saja mengiyakan ajakan Varo. Dia segera mengambil beberapa buku pelajaran untuk esok dan membawanya keruang perpustakaan mini bersama Varo.
Sampai disana Varo dan Aira sibuk dengam pikiran masing masing. Aira benar benar tak tahu harus melakukan apa. Dia hanya berpura pura fokus pada bukunya untuk menutupi rasa canggung. Sedangkan Varo, pria itu sibuk menatap Aira yang berpura pura membaca. Aira yang merasakan di perhatikan pun jadi salah tingkah. Bahkan kini wajahnya sudah merah bak tomat rebus saking malunya di tatap oleh pria tampan.
"Varo, katanya mau belajar, kok malah latin aku kayak gitu"cicit Aira.
"Kan udah pinter, nggak usah belajar lahh"ucap Varo. Aira mendelik mendengar jawaban Varo.
"Aku nggak mau punya pacar bodoh"ucap Aira.
"Tenang aja, walaupun gue nggak belajar, gue nggak bakalan bodoh"sombong Varo. Aira memutar bolanya malas mendengar penuturan Varo.
"Udah siniin bukunya, duduknya deketan sini"ucap Varo. Aira terdiam tak mengidahkan ucapan Varo.
"Ai, sini deketan"ucap Varo lagi.
"Ck"decak Varo. Akhirnya Varo yang mendekatkan dirinya pada Aira. Dia akhirnya menempel pada Aira dan merengkuh pinggang ramping Aira dari samping. Tentu saja hal itu membuat jantung Aira berdetak lebih cepat.
"Varo, aku nggak nyaman kayak gini"ucap Aira.
"Ya makanya dibiasain biar nyaman, kan sama pacar"cicit Varo. Aira hanya diam saja tak membalas perkataan Varo apalagi pelukan Varo. Dia benar benar tidak tau harus melakukan apa saat ini. Namun dia merasa nyaman sengan perlakuan Varo.
.
.
.
Pagi hari seperti biasa Aira sudah bangun dan membantu pekerjaan sang ibu. Dia membantu memotong sayur yang akan di masak untuk sarapan.
"Aira, tadi malam kamu dimana? ibu cari kekamar kamu nggak ada"tanya bi Rumi di sela sela kegiatannya.
"Eh, aa, anu bu, Aira belajar sama Varo di perpus, ada beberapa yang Aira nggak ngerti"bohong Aira.
"Oalah, pantes ibu cari nggak ada"ucap bi Rumi. Aira hanya tersenyum canggung pada ibunya. Dan kini Aira kembali pada aktivitasnya.
"Buk, Aira mau masak nasi goreng dulu buat bekal"ucap Aira.
"Ya udah kamu masak aja, biar ini ibuk yang teruskan"jawab bi Rumi. Aira mengangguk dan segera menyiapkan bahan untuk memasak nasi goreng. Dengan lihai dia memotong bumbu bumbu dan beberapa sayuran serta ayam untuk nasi gorengnya. Cukup 25 menit kini 2 porsi nasi goreng sudah siap.
"Loh Ra, kok 2 bekalnya?"tanya bi Rumi.
"Iya buk, aku bawain Putri juga"bohong Aira. Bi Rumi hanya mengangguk dan tersenyum pada Aira. Setelahnya Aira berpamitan mandi dan bersiap kesekolah.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Heru Kuswanto
nextkk
2022-11-15
0
Heru Kuswanto
next
2022-11-15
0