Di parkiran Varo terlihat celingukan mencari keberadaan Aira. Sudah 15 menit menunggu, namun tak ada tanda tanda Aira datang. Sedangkan Vero sibuk dengan game di ponselnya. Sebenarnya dia juga penasaran kenapa Aira tak kunjung datang, namun dia mengalihkan perhatiannya dengan bermain game.
"Aira mana sih"gumam Varo. Varo melirik kembarannya yang sedang sibuk dengan ponselnya. Dia menatap heran dengan saudara kembarnya itu, pasalnya dia selalu terdepan jika itu menyangkut Aira. Namun kenapa sekarang malah terlihat santai.
"Ver"panggilnya.
"Hemm"dehem Vero tanpa mengalihkan perhatiaannya.
"Lo susul Aira sono"perintah Varo.
"Ogah, lo aja sana"suruh Vero balik.
"Udah sana lo susul si Aira, keburu lumutan gue nunggu dia"ucap Varo.
"Ck, iya iyaa"kesal Vero. Akhirnya Vero menyimpan kembali ponselnya. Namun baru beberapa langkah, suara Putri mengalihkan perhatian mereka.
"Varo, Aira Var"ucap Putri panik.
"Aira kenapa?"tanya Vero panik.
"Aira, dia sama Della_"ucap Putri terpotong.
"Dimana sekarang?"tanya Varo tak sabaran.
"Taman samping"jawab Putri. Tanpa menunggu lama, Varo segera berlari ke taman samping yang di maksud Putri. Begitu pula dengan Vero juga Putri.
.
.
.
Di taman samping sudah jelas Aira tidak baik baik saja. Rambut yang berantakan, pipi yang merah karena tamparan, bahkan perban luka di kaki dan tangan Aira pun ada yang terlepas. Aira benar benar takut dengan kondisi ini. Dia hanya bisa terisak tanpa bisa melawan.
"Gue udah peringatin lo buat jauh jauh dari Varo, jadi lo terima aja apa yang bakal gue lakuin sama lo"ucap Della dengan senyum licik.
Della mengeluarkan gunting dari dalam tasnya. Dia mendekati Aira yang menangis terisak tak berdaya. Aira benar benar ketakutan melihat Della mendekatinya.
"Tolong, jangan"ucap Aira lemah. Della semakin mendekat. Dia sama sekali tak mengidahkan ucapan Aira. Sampai di depan tubuh Aira, Della berjongkok dan meraih rok milik Aira.
"Jangann, tolong jangan lakukan itu"ucap Aira menggeleng lemah. Della semakin mendekatkan guntingnya dengan senyum licik di wajah.
"AIRA"teriak Varo. Terang saja Della langsung membeku, menghentikan aksinya saat mendengar suara yang sangat familiar baginya.
Varo berlari mendekati Aira yang ketakutan. Aira secara reflek memeluk Varo erat sambil terus terisak. Varo pun tak mempermasalahkan itu, bahkan dia membalas pelukan Aira tak kalah erat.
"Aku takut"cicit Aira di pelukan Varo.
"Tenang ya, gue disini"ucap Varo menenangkan. Semua orang yang ada disana menatap tak percaya dengan apa yang di lakukan Varo. Terutama Vero, dia tidak menyangka saudara kembarnya itu sangat khawatir dengan keadaan Aira. Pasalnya seorang Alvaro Putra Adhitama tak pernah sekalipun perduli dengan perempuan kecuali Keira, sang bunda.
Della menggpalkan tangannya erat seakan ingin memukul seseorang saat ini juga. Namun niat itu harus ia urungkan, sekarang yang terpenting baginya adalah keluar dari situasi ini. Dia berusaha mencari celah agar bisa kabur dari tempat ini. Della sudah mengambil ancang ancang untuk segera berlari. Namun gerakannya kalah cepat dengan Vero. Vero lebih dulu mencekal tangannya membuat Della tak bisa kabur.
"Mau kemana lo?"tanya Vero. Della hanya diam menahan gugup saat Vero bertanya. Varo pun tak tinggal diam, dirasanya Aira sudah sedikit tenang, dia melepakan pelukannya dan menyuruh Putri untuk menemani Aira.
"Punya salah apa Aira sama lo?"tanya Varo. Della hanya diam tak berniat menjawab.
"Gue tanya sama lo, lo apain Aira? HAHH"bentak Varo.
"G_gue nggak apa apain dia, tadi dia nabrak gue, dan gue nggak terima dong kalau dia pergi gitu aja"ucap Della berbohong.
"Bohong. Dia bohong Var, gue jelas jelas liat sendiri dia narik Aira tadi"sela Putri.
"Lo anak beasiswa nggak usah ikut campur"ucap Della sinis. Keadaan semakin memanas saja. Apalagi Aira hanya terisak tanpa memberi keterangan apapun. Bahkan saat di tanya apa yang Della lakukan padanya, Aira hanya menjawab "tidak apa apa".
"Put gue mau pulang"ucap Aira lirih namun masih bisa di dengar oleh semua orang.
"Urusan kita belum selesai"sarkas Varo menyentak tangan Della. Varo menghampiri Aira membawanya kedalam pelukannya.
"Kita pulang ya"ucap Varo lembut. Aira hanya mengangguk lemah dalam pelukan Varo. Varo menggandeng tangan Aira membawanya kemobil.
Vero menatap nanar kepergian kembarannya dengan orang yang dia cintai. Dia menghela nafas berat sebelum akhirnya mengikuti Varo dan Aira.
.
.
.
Didalam mobil Aira hanya diam melihat keluar jendela dengan sesekali mengusap air matanya. Varo dan Vero membiarkan Aira tenang terlebih dahulu baru akan mengajaknya berbicara. Sebenarnya, ingin rasanya mereka memeluk Aira. Membiarkan Aira menumpahkan semua kesedihannya saat ini juga. Namun mereka tau Aira perlu waktu untuk menenangkan diri.
20 menit di perjalanan, kini mobil yang di kendarai Varo sudah terparkir sempurma di garasi rumahnya. Aira langsung turun dari mobil dan berlari kedalam rumah tanpa mempedulikan Varo dan Vero. Aira berlari melewati sang ibu begitu saja. Terang saja Rumi panik karena sang anak berlari sambil menangis.
Rumi meninggalkan pekerjaannya langsung menyusul Aira di dalam kamar.
"Aira, buka pintunya nak"ucap Rumi sambil mengetuk pintu kamar Aira. Namun pintu tak kunjung dibuka, bahkan sahutan dari dalam pun tak ada. Hanya terdengar suara isakan saja. Varo dan Vero yang baru masuk melihat bi Rumi berdiri di depan kamar Aira pun lantas menghampirinya.
"Bi"panggil Varo.
"Den, Aira kenapa? kenapa pulang sekolah dia menangis?"tanya Rumi khawatir.
"Biarin Airanya sendiri dulu ya bi, nanti kalau dia udah tenang baru bibi bicara sama dia"ucap Varo.
"Sebenarnya ada apa den?"tanya Rumi.
"Biasa bi, anak muda"jawab Varo berbohong. Vero pun ikut mengangguk agar bi Rumi percaya. Akhirnya Rumi hanya bisa pasrah, membiarkan anaknya tenang terlebih dahulu.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments