Aira duduk disamping Varo yang fokus pada kemudinya. Namun pandangan Aira tak pernah berpaling dari jalanan yang terlihat sedikit padat karena memang jam pulang sekolah. Aira mengamati jalanan yang menurutnya asing. Aira yakin Varo tidak benar benar membawanya langsung pulang kerumah. Namun Aira tidak melayangkan protes apapun.
Setelah 15 menit dalam perjalanan, Varo memarkirkan mobilnya di depan sebuah taman kota yang cukup sepi. Mungkin karena siang hari dan cuaca yang panas membuat orang orang enggan untuk berkunjung ketaman. Varo turun dari mobil dan mulai berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Aira yang hanya diam saja.
"Turun"titah Varo. Aira mengikuti ucapan Varo. Dia turun dan berjalan mendahului Varo. Varo tersenyum kecil melihat tingkah Aira yang menurutnya lucu. Dengan langkah lebar Varo berjalan mengikuti Aira yang seolah berjalan tanpa lelah. Bahkan ketika Aira mengelilingi taman pun Varo tetap mengikutinya. Dirasa sudah cukup lelah, Aira duduk di sebuah bangku yang tersedia di taman. Dan tanpa malu Varo duduk di sebelah Aira dengan mata yang menatap lekat wajah ayu Aira.
Cukup lama mereka duduk tanpa ada yang memulai pembicaraan. Hingga Aira yang merasa bosan ingin beranjak dari duduknya. Namun belum sempat Aira melangkah, Varo lebih dulu menarik tangannya hingga membuat Aira dduk kembali.
"Mau kemana?"tanya Varo.
"Pulang"jawab Aira singkat.
Huftt
"Ai, gue rasa udah cukup waktu yang gue kasih buat lo berfikir, udah cukup lo ngehindar dari gue, gue mau lo jawab sekarang"ucap Varo tegas.
"Jawaban aku tetap sama, aku nggak bisa"jawab Aira menunduk.
"Kenapa? karena gue anak majikan lo dan lo nggak mau nyerah gitu aja?"tanya Varo.
"Harusnya lo berjuang Ai, gue suka sama lo, dan lo juga suka sama gue, harusnya kita berjuang bareng, dan lo pasti tau gimana ayah sama bunda, mereka nggak mandang status sosial, gue yakin mereka pasti restuin hubungan kita Ai"lanjut Varo tak putus asa. Aira bergeming di tempatnya, dia tak tau harus menjawab apa. Ingin rasanya Aira menjawab "Ya Varo, aku mau berjuang bareng" namun nyatanya hal itu hanya mampu Aira ucapkan dalam hati.
"Beri aku waktu sedikit lagi untuk meyakinkan hatiku"putus Aira.
"Sampai kapan?"tanya Varo.
"Sebentar saja, sampai aku benar benar yakin dengan hati ku"jawab Aira memohon.
"Oke, gue kasih waktu sampai besok"ucap Varo.
"3 hari"tawar Aira.
"Ck, baiklah. 3 hari, tapi lo jangan menghindar lagi dari gue, gue nggak bisa jauh dari lo"ucap Varo memelas. Aira mengangguk dan tersenyum geli melihat Varo yang dingin kini berubah sedikit manja.
.
.
.
Di kamarnya Aira duduk di meja belajar dengan buku didepannya serta bolpoin yang sedaritadi hanya dia pegang. Tangannya mencoret coret buku di depannya, namun pikirannya melayang jauh entah kemana. Namun lamunan Aira buyar karena pintu kamarnya dibuka. Aira menoleh kearah pintu, ternyata sang ibu yang datang dengan segelas susu di tangannya.
"Nihh minum susu, biar semangat belajarnya"ucap bi Rumi.
"Makasih buk"ucap Aira tersenyum. Aira meraih gelas yang dibawakan ibunya dan meminumnya hingga tandas.
"Enak buk"ucap Aira sambil meletakkan kembali gelasnya.
"Bisa aja kamu"cicit bi Rumi.
"Aira, boleh ibu bertanya?"tanya bi Rumi.
"Tanya aja buk"jawab Aira.
"Ibu perhatikan akhir akhir ini kamu sering ngalamun, kamu juga nggak fokus sama pekerjaan kamu, kamu kenapa nak?"tanya bi Rumi. Aira terdiam mendengar pertanyaan ibunya. Ternyata selama ini sang ibu diam bukan dalam artian diam yang sebenarnya. Aira benar benar bingung harus menjawab apa.
"Aira nggak apa apa kok buk, cuma tugas sekolah aja agak numpuk"kilah Aira.
"Bener cuma hanya itu?"tanya bi Rumi seakan tak percaya.
"Beneran buk"jawab Aira meyakinkan.
"Baiklah, ibu percaya"pasrah bi Rumi. Aira tersenyum pada ibunya. Sebenarnya ingin rasanya Aira bercerita tentang yang sebenarnya, namun Aira urung karena tak mau membuat sang ibu kepikiran.
.
.
.
Hari hari Aira lewati dengan semangat. Della sudah tidak pernah menampakan dirinya lagi di hadapannya. Entah apa yang membuat Della menjauhinya. Bahkah di sekolah pun Aira tak pernah melihat Della. Apa Della sudah tidak sekolah di sini lagi? Tapi kenapa?pikir Aira bertanya tanya. Namun dia tak memikirkannya, karena sekarang Aira hanya fokus pada sekolahnya dan juga hatinya. Ahh, kalau bicara masalah hati memang rumit.
Tepat pada hari ini adalah hari ketiga setelah Aira dengan jelas meminta sedikit waktu untuk memantapkan hatinya. Dan sekarang Aira sudah memiliki jawaban atas perasaannya. Aira akan memberikan jawabannya nanti sepulang sekolah, sesuai janjinya dengan Varo.
"Aira"panggil Varo. Aira menoleh dengan dahi berkerut. Kenapa Varo menghampirinya? Apa dia ingin menanyakan jawabannya sekarang? pikir Aira.
"Jangan lupa nanti pulang sekolah"lanjut Varo seraya berlalu dari hadapan Aira. Aira tersenyum menatap punggung Varo yang semakin menjauh darinya.
"Hayoo, kenapa lo senyum senyum"goda Putri.
"Ihhh, ngagetin tau nggak"kesal Aira.
"Salah lo juga kali liatin Varo sampe senyum senyum nggak jelas gitu, sampe nggak tau gue dateng"gerutu Putri.
"Iya dehh maaf, gue nggak tau lo udah sampe"ucap Aira memeluk lengan Putri.
"Udah ahh, ayo buruan masuk, keburu bel"ajak Putri. Aira mengangguk dengan terus menggandeng lengan Putri menuju kelas mereka.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Heru Kuswanto
nextkak jgn lma2
2022-11-15
0