BAB 3

"Cantik"gumam Varo dalam hati dengan senyum manis melekat di bibirnya Varo hendak keluar kembali ke kamarnya.

"Kalian ngapain?"

Deg

Varo membulatkan matanya saat mendengar suara yang tak asing baginya.

"Varo, kamu ngapain di kamar Aira?"tanya Kevin.

"Ahh, a_tadi Varo sama Aira belajar bareng, terus Airanya ketiduran"jawab Varo jujur. Kevin memicingkan matanya seolah tak percaya. Dilihatnya Aira yang tertidur pulas dengan selimut yang melekat di tubuhnya.

"Kali ini kamu lolos, tapi kalau lain kali ayah lihat kamu seperti ini lagi, jangan salahkan ayah"ucap Kevin memperingati.

"Lohh, yah, Varo kan jujur tadi belajar bareng tapi Aira ketiduran, ya udah Varo gendong ke kamarnya daripada Varo tinggal sendiri di ruang perpus"sanggah Varo.

"Ayah percaya, sekarang kamu tidur, udah malam"perintah Kevin. Varo mengangguk dan segera berlari menaiki satu persatu anak tangga kemudian masuk ke kamarnya.

Sampai di kamar Varo merebahkan tubuhnya di ranjang berusaha untuk tidur. Namun bayang bayang wajah cantik Aira selalu menghantuinya.

"Sial"umpat Varo. Dia berjalan mengambil sebuah buku kecil di dalam laci meja belajarnya dan membawanya ke balkon. Buku kecil dengan sampul biru laut yang bertuliskan My Ai. Di balkom Varo duduk sambil menuliskan kata kata yang menggambarkan isi hatinya di buku My Ai tersebut. Varo menghembuskan nafas berat sebelum dia kembali ke kamarnya dan bersiap menjemput alam mimpi.

.

.

.

Pagi hari Aira terbangun dari mimpi indahnya dalam keadaan bingung. Bagaimana bisa ada di kamar? Seingatnya terakhir kali dia berada di ruang perpus bersama dengan Varo untuk belajar bersama. Apakah aku tertidur disana? Apakah Varo yang menggendong ku ke kamar? Banyak pertanyaan di benak Aira. Ahh sudahlah, nanti saja di tanyakan.

Aira bergegas mandi dan segera keluar kamar membantu ibunya. Di dapur Bi Rumi yang tak lain adalah ibu Aira sedang menata sarapan di meja makan.

"Pagi buk, maaf nggak bantuin ibuk"ucap Aira.

"Nggak apa apa, ibuk sudah siapkan sarapan kamu di dapur"ucap Bi Rumi.

"Ayo buk sarapan bareng"ajak Aira.

"Iya"jawab Bi Rumi. Aira dan Bi Rumi sarapan di dapur, tidak di ruang makan bersama dengan majikan mereka. Sudah sering Kevin dan Keira mengajak mereka untuk makan bersama di meja makan. Namun baik Bi Rumi dan Aira selalu menolaknya. Bisa bekerja dan tinggal di sini saja mereka sudah bersyukur. Apalagi sekolah Aira pun di tanggung oleh Kevin. Bi Rumi tak henti hentinya mengucap terima kasih.

Selesai sarapan Aira menyimpan piring kotornya di wastafel. Dia mencuci tangan dan segera berpamitan pada ibunya. Setelah berpamitan Aira keluar mencari pak Maman, yang tak lain adalah supir yang sering mengantarkan Aira.

"Aira"Aira menoleh saat Vero memanggilnya.

"Berangkat bareng aja, pak Maman mau anterin ayah"ucap Vero. Aira mengangguk mengiyakan. Dia hanya bisa menurut saja karena pak Maman bukanlah sopir pribadinya, melainkan sopir majikannya yang baik hati mau mengantar anak seorang pembantu.

.

.

.

Hening. Tak ada percakapan di dalam mobil itu. Varo fokus pada stir dan jalanan, Vero yang seolah sibuk dengan ponselnya, dan Aira yang sibuk dengan fikirannya. Sebenarnya Aira ingin menanyakan perihal kejadian semalam diruang perpus. Namun melihat keadaan yang sedikit canggung, dia mengurungkan niatnya. Nanti saja saat di sekolah, pikir Aira.

20 menit perjalanan kini mereka sudah sampai di parkiran sekolah. Vero dengan cepat keluar dari mobil seolah menghindar tak ingin berlama lama di sana. Aira pun sama, dia segera keluar dari mobil di ikuti Varo.

"Varo"panggil Aira. Varo menghentikan langkahnya menoleh kearah Aira.

"Semalem aku ketiduran di ruang perpus ya?"tanya Aira. Varo mengangguk membenarkan ucapan Aira.

"Te_rus kamu yang gendong aku ke kamar?"tanya Aira gugup.

"Pak Maman yang gendong"jawab Varo bohong. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia yang menggendongnya.

"Ohh, pak Maman ya"ucap Aira sedikit kecewa. Pasalnya dia sudah sangat berharap bahwa semalam Varo menggendongnya ke kamar.

Varo berjalan lebih dulu meninggalkan Aira yang masih melamun. Namun lamunan Aira sadar saat seseorang dengan kasar menarik tangannya. Aira memberontak berusaha melepaskan cekalan tangannya namun tak bisa. Bahkan sesekali Aira meringis sakit karena kuatnya cengkraman tangan tersebut.

Sampai di sebuah gedung kosong tangan Aira di hempas dengan kasar hingga Aira terhuyung.

"Cihh, dasar cengeng"cibir Della.

"Mau kamu apa? kenapa kamu tarik tarik aku?"tanya Aira takut.

"Lo mau tau"ucap Della.

"Jauhin Varo"lanjut Della mencengkram dagu Aira.

"Gue nggak suka cowok yang gue suka deket deket sama cewek kampung kayak lo"ucap Della sinis. Dia mendorong tubuh Aira hingga Aira terjatuh lalu pergi meninggalkan Aira dalam gedung itu.

Aira berusaha bangun dan mencoba membuka pintu. Tapi ternyata Della menguncinya dari luar.

"TOLONGG"teriak Aira.

"Siapapun yang di luar tolong"teriak Aira. Namun nihil, sekuat apapun Aira berteriak tak akan yang menengarnya karena Aira di kunci di gedung lama sekolahnya yang sudah tidak terpakai.

"Siapapun tolong Aira, Aira takut"ucap Aira dengan air mata yang membasahi pipinya.

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!