Di kamarnya Varo masih memikirkan perkataan sang bunda. Apakah benar Aira dan Della merebutkan 1 orang yang sama? Namun siapa? Della jelas jelas suka dengannya, tapi Aira?
"Apa iya Aira suka sama gue"gumam Varo. Varo benar benar di buat pusing dengan pikirannya. Dia yang sebenarnya menyukai Aira namun tak ada keinginan untuk mengungkapkannya. Terlebih lagi dia tau bahwa saudara kembarnya secara terang terangan menyukai Aira.
Ceklek
Varo terperanjat kaget saat pintu kamarnya terbuka. Dilihatnya Vero masuk dengan senyum mengembang diwajahnya.
"Kenapa lo?"tanya Varo penasaran.
"Lo tau"ucap Vero menggantung. Vero kembali senyum senyum seperti orang tidak waras.
"Ck kelamaan lo"kesal Varo sambil menonyor kepala Vero.
"Sakit dodol"kesal Vero. Varo tak mengidahkan kekesalan Vero. Dia berjalan menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya disana. Vero pun mendengus kesal sebelum akhirnya mengikuti langkah saudara kembarnya itu.
"Gue lagi seneng banget hari ini"ucap Vero tersenyum. Varo hanya melirik Vero sekilas saja.
"Lo tau, gue sama Aira udah jadian"ucap Vero. Varo terperanjat kaget dan langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
"Nggak usah kaget gitu"ledek Vero.
"Kok bisa?"tanya Varo penasaran.
"Bisalah, gue kan usaha ungkapin perasaan gue"jawab Vero.
"Nggak kayak lo, yang cuma diem aja nggak berani ngomong suka"lanjut Vero meledek.
"Maksud lo apaan?"tanya Varo.
"Jangan lo kira gue nggak tau kalau lo juga suka sama Aira"jawab Vero sarkas.
"Gue emang nggak suka sama Aira"tegas Varo.
"Cihh, gue kasih lo sedikit harapan buat dapetin Aira"ucap Vero. Varo menatap Vero dengan dahi berkerut.
"Gue bisa lihat kalau Aira nerima perasaan gue karena terpaksa, tapi gue nggak tau apa yang bikin dia kayak gini. Gue emang suka sama Aira, tapi gue bakal dengan senang hati restuin hubungan kalian kalau emang Aira sukanya sama lo"lanjut Vero.
"Maksud lo?"tanya Varo.
"Gue bakal jalanin hubungan gue sama Aira layaknya sepasang kekasih, tapi gue bakal lepasin dia kalau emang suatu saat dia nggak bisa bales perasaan gue"jawab Vero.
"Lo tenang aja, gue nggak bakal mainin perasaan Aira, gue bakal jaga dia buat lo, sampai lo berani ungkapin perasaan lo"lanjut Vero kemudian berlalu keluar dari kamar Varo.
Varo menatap kepergian Vero dengan bingung. Banyak yang ingin dia tanyakan pada Vero. Namun dia terlalu gengsi mengakui bahwa dia menyukai Aira.
.
.
.
Vero menuruni anak tangga satu persatu. Dia berniat ke dapur untuk mengambil air minum. Sampai di dapur dia melihat Aira yang tengah memotong sayuran.
"Hai"sapa Vero mencubit pipi Aira.
"Ishh, kaget tau"ucap Aira cemberut.
"Hehe, maaf"ucap Vero.
"Mau masak apa buat makan malam?"tanya Vero.
"Emm, ayam goreng sama balado kentang, kesukaan kamu"jawab Aira tersenyum.
"Wahh, makasih sayang udah dimasakin makanan kesukaan gue"ucap Vero mengacak rambut Aira gemas. Sedangkan Aira terlihat celingukan takut takut ada yang melihat atau mendengar.
"Kamu apa apann sihh, jangan gitu dehh"kesal Aira.
"Hehe,, iya maaf"ucap Vero.
"Sana pergi, ganggu orang masak aja"usir Aira.
"Idihh, apaan lo ngusir ngusir majikan"ucap Vero menyombongkan diri.
"Maafkan hamba yang sudah keterlaluan ini tuan"cicit Aira membungkukkan badannya.
"Udah sana duduk aja, aku mau lanjut masak"ucap Aira.
"Gue mau ambil minum dulu"ucap Vero seraya berlalu menuju kulkas mengambil air mineral dingin dan meneguknya separuh.
"Gue mandi dulu, masak yang enak sayang"bisik Vero sambil mencuri ciuman di pipi Aira sebelum berlalu meninggalkan Aira yang mematung.
Aira memegangi pipi bekas ciaman Vero. Dia tidak menyangka Vero bakal seberani ini melakukanya. Aira memejamkan matanya dan berulang kali menghembuskan nafas secara teratur.
"Semoga pilihan aku benar"gumam Aira dalam hati. Aira menghembuskan nafasnya berat sebelum akhirnya dia melanjutkan pekerjaannya.
Tanpa Aira sadari sang ibu, Rumi sedari tadi berdiri di balik pintu kamar mandi. Rumi yang pamit ke kamar mandi karena panggilan alam. Namun saat sudah selesai, niatnya keluar dari kamar mandi harus ia urungkan saat melihat anak majikannya terlihat sedang mengobrol serius dengan anaknya.
"Udah selesai Ra"ucap Rumi menganggetkan Aira.
"Ahh, ibu, kaget tau"ucap Aira sambil mengelus dadanya.
"Ngalamunin apa sih sampe kaget gitu?"tanya Rumi.
"Nggak ada bu, lagi fokus aja sama ini"bohong Aira. Rumi hanya menganggukkan kepala saja. Dia ingin bertanya apa hubungan anaknya dengan anak majikannya itu. Namun pekerjaan sudah menantinya. Alhasil Rumi hanya bisa memendam rasa penasaran itu.
.
.
.
Malam hari Aira duduk di meja belajar yang ada di kamarnya dengan tatapan kosong. Sebenarnya niatnya untuk belajar, namun pikirannya tak mau di ajak untuk mencerna setiap rumus yang ada di hadapannya. Lagi, lagi dan lagi Aira bertanya pada hati kecilnya. Apakah pilihan ku sudah benar? Tanya Aira dalam hati. Aira memejamkan matanya mengingat percakapannya dengan Vero siang tadi.
Flashback on
"Ehemm"dehem Vero.
"Mau ngomong apa?"tanya Vero.
"E_emm soal itu, ee perasaan lo"ucap Aira gugup.
"Nggak usah bahas itu, gue udah tau isi hati lo"jawab Vero. Aira diam saat Vero mengatakan tau isi hatinya.
"Gue tau lo nggak suka sama gue, dan gue nggak maksa buat lo suka sama gue"lanjut Vero.
"Ta_tapi jika aku mau belajar membuka hati, apa kamu mau memberi kesempatan?"tanya Aira ragu. Vero menatap Aira yang menunduk. Dilihatmya Aira yang sedang memilin milin ujung bajunya.
"Gue kasih lo kesempatan"ucap Vero. Aira mendongak mematap Vero.
"Gue nggak tau apa yang bikin lo kayak gini, tapi gue seneng kalau lo mau belajar buka hati buat gue"lanjut Vero dengan senyum tulus. Aira tersenyum membalas senyuman Vero. Namun di balik senyuman itu Aira berfikir, sudah benarkah jalan yang dia pilih.
Flashback off
Aira menghela nafas berat. Dia merebahkan kepalanumya dimeja belajarnya. Dia tak berniat untuk belajar malam ini. Dia hanya ingin tidur, memgistirahatkan hati dan pikirannya yang benar benar lelah.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments