BAB 4

Didalam kelas guru pengajar sudah masuk di kelas. Putri nampak gelisah karena sahabatnya, Aira tak kunjung datang. Bisa saja dia bertanya pada Varo atau Vero, namun dia tak punya nyali untuk itu.

"Selamat pagi"sapa sang guru.

"Pagi"jawab siswa kompak.

"Sebelum pelajaran dimulai, saya akan absen terlebih dahulu"ucap guru sambil membuka buku absensi.

"Adelia"

"Alvaro"

"Alvero"

"Aira"

Tak ada sahutan saat sang guru menyebut nama Aira.

"Aira Ardan"ulang sang guru.

"Dimana Aira?"tanyanya. Semua siswa diam tak ada yang menjawab. Ahkirnya dengam berat hati sang guru memberi absen tanpa keterangan pada salah satu siswa berprestasi tersebut.

Pelajaran di mulai dan berlangsung seperti biasanya. Semua siswa memperhatikan apa yang di sampaikan oleh gurunya. Namun tidak dengan Varo dan Vero. Mereka tampak gelisah karena ketidak hadiran Aira. Pasalnya tadi pagi Aira berangkat bersama mereka, namum dimana dia sekarang? kenapa dia tidak masuk kelas? Banyak pertanyaan di benak keduanya. Namun mereka tak memperlihatkan kegelisahannya.

Bel pergantian pelajaran sudah berbunyi. Dengan cepat Varo dan Vero beranjak dari kursinya saat sang guru sudah keluar kelas.

"Woyy, mau kemana?"teriak Darrel.

"Toilet"jawab Varo dan Vero. Darrel mengacuhkan jawaban temannya itu dan memilih menyiapkan buku pelajaran selanjutnya.

Kembali pada Varo dan Vero. Mereka berjalan dengan sangat tergesa gesa entah kemana tujuan mereka. Toilet? Ahh, tentu saja itu hanya alibi mereka.

"Mau kemana lo?"tanya Vero menatap Varo.

"Cari Aira"jawab Varo dingin. Sontak Vero menghentikan langkahnya saat mendengar jawaban Varo.

"Sejak kapan lo peduli sama cewek?"tanta Vero penasaran.

"Gue nyari Aira karena tadi pagi dia berangkat bareng kita, nggak ada yang lain"jawab Varo tegas. Dia kembali melanjutkan langkah menelusuri setiap lorong sekolah berharap menemukan Aira.

.

.

.

Sedangkan di gedung tak terpakai, Aira berusaha mencari cara agar bisa keluar. Ruangan itu terlihat kosong, tak ada benda benda yang bisa membantunya untuk keluar. Hanya ada 1 meja dan beberapa kursi saja yang ada disana. Bahkan jendela pun tidak ada, hanya ada kaca seperti fentilasi di bagian atas dinding. Gedunh itu sangat tertutup sekali.

Aira berkali kali mencoba mendobrak pintu, namun bukannya terbuka malah tenaganya terkuras habis. Bahkan badannya terasa sakit semua. Aira memikirkan cara. Bagaimana jika dia menata kursi di atas meja saja? lalu aku naik dan memecahkan kaca itu dan melompat turun? pikir Aira.

Dengan susah payah Aira menggeser meja dan menyusun beberapa kursi diatas meja tersebut. Setelah berhasil, Aira memanjatnya dengan perlahan. Kursi yang dia susun memang sedikit kokoh, karena Aira sudah memperhitungkan berapa kursi yang harus dia susun agar tidak jatuh.

Akhirnya dengan sisa sisa tenaganya, Aira bisa sampai di puncak susunan kursi. Dia membuka tasnya dan mengambil beberapa buku lalu dia gulung. Berbekal tekad yang bulat, dia memukulkan bukunya pada kaca berharap bisa pecah.

Pyarrr

"Hahh, akhirnyaa"lirih Aira. Aira memecahkan kaca kecil kecil yang belum terpecah sempirna agar saat dirinya melompat tidak melukainya. Selesai dengan urusan kaca, Aira mencoba mengeluarkan diri lewat lubang yang berhasil dia buat. Namun naas, belum sempat Aira berpegangan dia sudah terpeleset. Alhasil Aira bergelantungan di sana dengan tangannya.

"TOLONGGG"teriak Aira berharap ada yang mendengar. Bisa saja Aira melompat namun mengingat di bawahnya banyak pecahan kaca, itu bisa melukainya.

"Siapapun TOLONGG"teriak Aira takut.

.

.

.

Di tempat lain tepatnya di taman belakang, Varo terlihat frustasi karena tak kunjung mememukan Aira. Dia memutuskan berpencar dengan Vero berharap agar cepat menemukam Aira.

"Ai, lo dimana sihh"gumam Varo khawatir. Varo celingak celinguk di taman itu. Hingga sebuah suara membuatnya penasaran.

Pyarr

"Apaan tuhh?"kaget Varo. Varo berusaha mencari asal suara yang menurutnya berasal dari gedung yang sudah tak terpakai.

"TOLONGGG" Varo berlari saat mendengar teriakan mimta tolong.

"Siapapun TOLONGG"Varo membulatkan matanya saat melihat Aira.

"Aira"teriak Varo. Aira menoleh ke bawah melihat Varo disana.

"Varo tolong aku"ucap Aira terisak.

"Lompat Ai, gue bakal tangkap lo"ucap Varo.

"Aku takut"ucap Aira.

"Nggak usah takut, gue bakal tangkep lo"bujuk Varo.

"Cepet Ai"lanjut Varo.

Bughh

Tubuh Aira menimpa tubuh seseorang di bawahnya. Siapa lagi kalau bukan Varo. Varo yang sudah siap menangkapnya pun ikut terjatuh karena terpeleset pecahan kaca. Beberapa saat Aira mematung karena jatuh menindih Varo yang terlentang. Sama halnya dengan Aira, Varo pun hanya diam memandangi wajah Aira dari dekat, bahkan sangat dekat.

"Aaww"rintih Varo. Aira kaget lalu berusaha bangun dan membantu Varo berdiri.

"Tangan kamu luka"ucap Aira sambil mengusap sisa air matanya. Tangan Varo sedikit terluka karena pecahan kaca.

"Ini nggak apa apa cuma luka kecil"elak Varo.

"Tetep harus di bersihin, kalo nggak nanti infeksi"ucap Aira keukeh.

"Urusin aja luka lo"ucap Varo. Aira juga sama terluka di bagian tangan dan lutut, namun tak sebanyak Varo.

"Iya nanti, aku bersihin luka kamu dulu"ucap Aira menarik tangam Varo menuju UKS.

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!