Andra pun melanjutkan kembali pelajaran biologi nya, meskipun dirinya bukan ahli dalam pelajaran biologi. Namun, karena amanah dari Pak Arif, maka Ia harus menyampaikan nya kepada murid-muridnya, setidaknya Andra akan memberikan tugas kepada murid-muridnya.
"Baiklah anak-anak, sesuai amanah dari Pak Arif, maka kali ini Bapak akan memberikan tugas untuk kalian, kalian lihat di buku masing-masing pada halaman tiga puluh. Nah disitu ada tugas, kalian kerjakan, setelah itu kalian kumpul kan diruang saya, Zara! Kamu sebagai ketua kelas harus nanti kamu bawa tugas-tugas temanmu ke ruangan saya, mengerti!" seru Andra kepada istrinya.
"Harus saya yang mengumpulkan tugas itu ke kantor Bapak? Yang lain kan bisa, Pak!" protes Zara yang merasa keberatan.
"Kalau bukan kamu siapa lagi? Kamu ketua kelas, kan? Oh ya, lagipula bapak ada perlu sama kamu sebentar. Jadi, bapak tunggu sampai jam pelajaran selesai." setelah mengatakan itu Andra pun berpamitan kepada murid-muridnya untuk keluar dari kelas.
"Baiklah anak-anak, karena bapak sudah memberikan tugas untuk kalian, maka Bapak undur diri, selamat siang."
Saat Andra hendak melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kelas Zara, tiba-tiba Anita memanggil guru olahraga nya itu.
"Pak Andra tunggu!"
Andra menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Anita yang sedang duduk di samping Zara.
"Iya? Ada apa?"
Kemudian Anita mengeluarkan sesuatu dari tasnya, tampak sebuah kotak yang cukup besar, kotak itu akan Anita berikan kepada Andra. Zara tentu saja melihat Anita yang sedang mengeluarkan kotak itu dari tasnya.
"Kotak apaan, Nit?" tanya Zara penasaran.
"Hadiah untuk Pak Andra, bentar ya, aku kasihkan dulu sama beliau." Anita pun beranjak pergi memberikan kotak itu kepada Andra, sementara itu entah kenapa Zara merasa tidak suka saat Anita memberikan sesuatu kepada Andra.
"Anita ngapain sih dia ngasih itu sama Pak Andra, dia kan suamiku, eh kok aku cemburu sih, diiihhh Zara, jangan bilang kalau kamu naksir juga sama suamimu, nggak-nggak itu nggak mungkin." batin Zara dengan wajah manyun sembari memperhatikan Anita yang sedang memberikan kotak hadiah itu untuk Andra.
Anita berjalan menuju ke arah Andra yang berdiri menunggu nya, sesampainya di depan Andra, Anita segera memberikan kotak berwarna putih itu kepada Andra.
"Emm ... ini untuk bapak!" seru Anita sembari memberikannya kepada Sang guru.
Andra menerimanya dan berkata, "Terima kasih banyak, Anita! Ngomong-ngomong hadiah apa yang diberikan oleh siswi secantik kamu." ucap Andra sembari menggoda Anita, Ia tahu jika istrinya kelihatan tidak suka dengan apa yang sedang Ia lihat saat ini, Andra tahu jika Zara sedang cemburu kepada nya. Maka dari itu Andra sengaja membuat Zara semakin panas.
"Pak Andra ngapain sih pakai muji-muji Anita segala, diihh keganjenan jadi orang, malas lihat mereka, pergi aja!" gumam Zara. Setelah itu Zara tiba-tiba pergi ke luar kelas dan melewati mereka berdua.
Tentu saja Andra dengan cepat bertanya kepada Zara, "Mau kemana kamu?"
Zara berhenti tanpa menoleh, kemudian Ia menjawab, "Mau ke kamar mandi, Pak!" jawabnya singkat. Sementara itu Anita tampak mengalihkan perhatian Andra dengan mengatakan tentang isi kotak yang Ia berikan.
"Oh ya Pak Andra, tadi pagi Saya membuat brownies dengan resep baru, saya khusus membuatnya untuk Bapak, semoga bapak suka dengan brownies buatan Saya." Anita tampak malu-malu saat mengatakan hal itu kepada Andra, tentu saja dirinya tidak tahu jika sahabatnya, Zara. Tidak suka dengan apa terjadi. Mengingat Anita tidak tahu jika Andra dan Zara sudah menikah.
"Oh ya, waahh pasti itu sangat lezat, nanti pasti Bapak cicipi." balas Andra dengan tersenyum.
"Makasih banyak, Pak! Oh ya Pak Andra, emm bolehkah saya minta nomor Bapak? Kali aja ada pertanyaan seputar Penjaskes yang belum saya fahami, saya bisa langsung bertanya kepada bapak." pinta Anita yang semakin membuat Zara tidak betah lagi berada di sana, Ia pun tanpa pikir panjang segera pergi keluar dari ruangan kelasnya.
Andra tampak menoleh ke arah Zara yang sedang pergi keluar, pria itu tersenyum tipis melihat tingkah sang istri, setelah tahu jika Zara telah keluar. Ia pun segera mengikuti sang istri yang pastinya saat ini Zara sedang kesal.
"Baiklah Anita, ini nomor Bapak. Kalau begitu Bapak permisi dulu, ada sesuatu yang harus bapak kerjakan."
"Terima kasih, Pak Andra! Waahhhh dapat nomor teleponnya, asik!" ucap Anita yang begitu bahagia saat Andra memberikan nomor telepon untuknya.
Zara terlihat menenangkan dirinya dengan duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon besar di samping sekolah, karena saat itu kelas Zara masih jam kosong, Ia pun memilih duduk di sana sembari menikmati semilir angin yang berhembus sejuk, setidaknya Ia bisa melupakan sesaat tentang pernikahannya dengan guru olahraga nya itu. Yang membuat hidupnya berubah total seratus delapan puluh derajat.
Zara tampak memainkan setangkai bunga mawar yang Ia petik, Ia lepaskan mahkota bunga itu satu persatu, dan tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang sudah sangat Ia kenal.
"Apa kamu cemburu?" pertanyaan itu muncul dari bibir Andra secara tiba-tiba. Zara menoleh cepat ke samping, dilihatnya sang suami yang ikut duduk di bangku panjang itu.
"Ngapain Bapak kemari?" tanya Zara sembari membalikkan badannya agar Andra tidak bisa menatap wajahnya.
"Memangnya tidak boleh ya, Bapak menemani isteri sendiri?" jawab Andra sembari menatap punggung Zara.
"Nanti bapak dicari sama Anita." mendengar ucapan dari istrinya, Andra tertawa kecil.
"Anita? Bukankah dia adalah sahabat mu, untuk apa kamu cemburu?"
"Hiii yang cemburu siapa, Saya nggak cemburu kok."
"Benarkah? Terus kenapa kamu pergi saat melihat Anita memberikan hadiah untuk Suamimu ini?" ucap Andra yang mulai menggoda Zara.
"Saya lagi pingin keluar aja, di dalam rasanya sangat panas hawanya, makanya saya langsung kemari, di sini lebih sejuk."
"Bapak minta maaf, jika membuat mu tidak suka, ya musti gimana lagi, masa bapak tolak sih pemberian dari Anita, ya nggak mungkinlah, lagipula itu cuma sebuah kue. Kamu mau?" tawar Andra sembari membuka kotak yang diberikan oleh Anita kepadanya.
"Nggak mau, makan aja sendiri."
"Ya sudah kalau nggak mau, biar Bapak buang aja." seketika Zara membalikkan badannya dan melarang Andra untuk membuangnya.
"Eh kok dibuang sih, jangan dong, Pak! Kasihan Anita sudah capek-capek bikin kue untuk Bapak, tapi malah Bapak buang." ucap Zara sembari menahan kue itu.
"Daripada kamu marah, lebih baik bapak buang saja sekalian, apa gunanya bapak menikmati kue ini jika bapak sudah membuat hatimu terluka." jawaban Andra sontak membuat Zara tertunduk malu.
"Ya ampun! Kok gini amat sih Aku, masa sih Aku bisa cemburu dengan Pak Andra." batin Zara sembari menundukkan wajahnya.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Moh Yasin
cieee cieeee
2024-10-29
0
Febby Fadila
hati2 lo nanti ad yg lihatin kalian
2024-08-30
0
Diana diana
ehem . . ehem . .
2023-05-13
1