Melihat rambutnya yang menutupi wajah Andra, Zara pun segera beranjak duduk, seketika Andra pun ikut beranjak duduk di sebelah istrinya.
"Ma-maaf, Pak! Saya harus ke kamar mandi, gerah badan saya, mana bajunya berat banget." kata Zara sembari beranjak berdiri.
Andra pun hanya memperhatikan Zara yang sedang salah tingkah, Ia terlihat bingung entah apa yang akan Ia lakukan, Zara masih bingung bagaimana Ia melepaskan kebaya yang masih menempel pada tubuhnya.
"Kamu kenapa mondar-mandir nggak jelas, katanya mau mandi, ya sudah mandi sana!" seru Andra sembari melepaskan kemejanya, sehingga membuat Zara menutup kedua matanya. Tentu saja badan sixpack yang menantang itu terlihat begitu sempurna, benar kata teman-teman Zara selama ini, jika Andra memiliki bodi goal, tubuh pria itu terlihat proposional, perut kotak-kotak dan dada sang bidang serta otot-otot lengannya yang besar. Tentu saja sebagai guru olahraga Andra harus menjaga penampilannya, Ia pun gemar nge-gym di sela-sela dirinya libur.
Pun sama sebenarnya Zara juga menyukai nge-gym, seminggu sekali Zara pasti pergi ke tempat nge-gym hanya untuk sekedar menyalurkan hobinya berolah raga.
"Huuwaaaa!" tiba-tiba saja terdengar suara teriakan Zara sambil menutupinya wajahnya dengan kedua tangan.
Spontan Andra menghampiri Zara dan membekap mulut gadis itu.
"Sssttt! Kamu bisa diam tidak! Nanti orang-orang pada dengar, berisik banget sih!" Andra membekap sembari berbisik pada telinga Zara. Karena merasa terganggu, Zara spontan menyikut perut Andra dan menginjak kakinya. Seketika Andra kesakitan dan bergerak mundur sembari mendekap perutnya.
"Awww sial! Gila juga nih cewek, kuat juga tangannya!" rintih Andra tak percaya.
"Rasain tuh! Makanya jangan macam-macam sama Saya, main bekap-bekap mulut segala, ih kasar banget sih jadi cowok!" umpat Zara kepada Andra.
Andra yang tak terima dirinya dibilang macam-macam, terlihat menatap Zara dengan tajam, seolah-olah Andra sedang bersiap-siap melakukan sesuatu kepada gadis itu.
"Apa? Bapak lihatin apa? Nggak terima? Sini maju! Bapak pikir saya takut, kecil!" Zara terlihat mengejek sang suami yang mulai habis kesabaran.
"Nih anak nantangin Aku rupanya, awas saja Aku buat kamu ampun-ampun." batin Andra sembari bersiap memberikan hukuman untuk Zara.
Andra mulai berjalan mendekati Zara yang saat itu ambil posisi kuda-kuda seolah-olah dirinya sedang menghadapi musuh-musuhnya.
"Eh kok dia tambah maju sih, mau ngapain dia?" batin Zara yang mulai panik saat Andra semakin mendekatinya.
Kini Andra telah berada di hadapan Zara, dengan tajam Ia menatap wajah Zara yang terlihat mulai gugup dan berkeringat.
"Eh ... berani juga ternyata Pak Andra ini, ya! Baiklah Saya pukul Bapak, hiat!" Zara tampak mulai memukul perut Andra dengan sekuat tenaga, tapi tidak ada ekspresi sakit pada wajah sang Pak guru, justru Andra terlihat tersenyum melihat istrinya yang antik itu.
Setelah Zara kelelahan sudah memukuli perut Andra, akhirnya gadis itu lemas dan menepuk pundak suaminya layaknya Ia sedang bersama temannya.
"Aduh Pak! Capek. Perut Bapak ada apanya sih kok keras banget, padahal biasanya nih ya Saya tuh sering banget berkelahi sama teman-teman cowok di sekolah, mereka bisa Zara kalahkan. Kok Bapak nggak bisa sih, hah ... hah ... hah ...!" nafas Zara terdengar ngos-ngosan setelah meninju badan suaminya.
"Sudah! Segitu doang?" seru Andra kepada Zara yang sudah tampak kelelahan. Zara tampak mengatur nafasnya dan tiba-tiba saja Andra mengangkat tubuh istrinya pada pundaknya, tentu saja itu membuat Zara histeris dan memukul-mukul punggung Andra.
"Haaa ... lepaskan saya! Lepaskanlah Saya, Pak!! Bapak mau bawa saya kemana?" Zara terus berontak saat Andra menggendong nya di atas pundaknya. Setelah itu Andra menghempaskan tubuh Zara di atas tempat tidur sehingga membuat gadis itu begitu terkejut.
"P-pak Andra mau apa?" Zara terlihat panik karena saat itu Andra terus merangkak naik ke atas ranjang dan mendekati dirinya. Kini posisi keduanya sangat menguntungkan bagi Andra, pria itu terlihat mengunci kedua tangan Zara sehingga membuat gadis itu tidak bisa bergerak, Andra menyeringai kemudian Ia mendekatkan wajah istrinya dan berkata, "Kamu benar-benar sudah membuat kesabaran ku habis, Zara! Tingkah liarmu ini akan Aku lumpuhkan sekarang juga." ucapan Andra yang begitu dekat dengan bibir Zara, membuat bibir Zara terasa hangat, deru nafas pria itu begitu lembut menyapu wajah Zara dan membuat Zara semakin gemetaran.
"Bapak mau ngapain saya? Bapak jangan main-main, ya! Atau nggak saya teriak nih." ancam Zara sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Andra.
"Berteriak lah jika kamu bisa, Aku ingin mendengar teriakan mu!"
"Oh ... jadi Bapak nantangin saya, nih! Oke ... saya akan berteriak sekencang mungkin biar ada yang dengar, biar mereka tahu kalau bapak itu sangat kasar, dengan begitu Saya berharap Daddy akan meminta bapak untuk menceraikan Saya, baguslah! Ayo lakukan, biar saya bisa berteriak sekencang-kencangnya."
"Kamu benar-benar gadis yang bar-bar, tapi Aku suka, ini adalah tantangan menaklukkan gadis yang bar-bar seperti kamu, Zara!"
"Zara nggak takut, ayo lakukaaaannn ... mmmmmppptttthh!" seketika Zara dibuat diam oleh gurunya itu, rupanya Andra mengeluarkan jurus ampuh nya yaitu ciuman yang pernah Zara rasakan saat di ruangan BP kala itu.
Awalnya Zara menolak ciuman itu, Ia terlihat menggelengkan kepalanya. Namun, Andra sangat lihai sekali membuat Zara tak berkutik, Zara mulai lemas dan Ia mulai menikmati ciuman itu, kedua tangannya dikunci Andra ke atas kepalanya, memudahkan Andra untuk mengeksplorasi daerah perbukitan yang menantang itu.
"Kenapa? Kenapa Aku tidak bisa melawannya? Ada apa ini?" batin Zara sembari merasakan betapa sentuhan yang diberikan oleh pak guru nya cukup membuatnya kewalahan. Hingga Zara sampai membusungkan dadanya, memudahkan bagi Andra untuk melepaskan tiap kancing kebaya Zara dengan bibir yang saling terpaut.
Entah sejak kapan, akhirnya kebaya pengantin itu terlepas dari tubuh Zara, meninggalkan bra berwarna hitam yang semakin membuat kulit Zara kian bersinar di cahaya remang-remang kamar itu.
Andra pun mulai menyesap leher sang istri, menciptakan sebuah maha karya di sana, tentunya ini kali pertama Zara merasakan hal itu, tubuh mereka begitu dekat, bahkan dada mereka saling melekat, menimbulkan gesekan yang hangat dan tentunya hampir saja Andra los control, Ia hampir melepaskan seluruh kain penutup yang ada pada tubuh Zara, hingga akhirnya sebuah dering ponsel membuat mereka tersadar.
Andra menghentikan aktivitasnya, sementara itu Zara pun berusaha untuk lepas dari Kungkungan pria yang kini sudah menjadi suaminya itu. Andra mendorong tubuh suaminya dan Ia pun segera beranjak pergi ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Andra terlihat bangkit dengan mengatur nafasnya, hampir saja mereka melakukannya, Ritz celana Andra yang sudah terbuka terpaksa Ia menutupnya lagi. Ia pun bergegas mengangkat telepon.
"Halo!"
"Hai Andra! Bagaimana, apa kamu bisa tidur nyenyak dengan istrimu? Pasti kamu dan dia ribut melulu iya, kan? Hhh aku sudah menduganya, kamu tidak akan pernah bahagia dengannya, karena Aku tahu Zara tidak akan pernah bisa menjadi seperti Aku."
Rupanya itu adalah telepon dari Vina, mantan kekasih nya.
"Kamu salah Vina! Salah besar. Zara tidak seperti yang kamu kira, bahkan dia lebih menantang daripada kamu! Aku sangat menikmatinya." mendengar jawaban dari Andra, Vina pun terlihat kesal. Ia pun segera menutup ponselnya.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Moh Yasin
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-10-29
0
Diana diana
ampuuuuun. .
2024-09-02
0
Qaisaa Nazarudin
kok antik?? unik kali..😄
2024-04-30
1