"Jadi, kapan kita akan menyusup ke mansion Quon? Banyak polisi sedang berjaga di sana," desis Valent
"Polisi… 200 tahun yang lalu mereka juga suka ikut campur ke perang antar kubu bangsawan kerajaan," kata Kaisar. "Tunggu aba-abaku,"
"Dasar Bossy," gerutu Valent menanggapi Kaisar.
"Aku bukan Boss, aku Pangeran,"
"Baiklah Yang Mulia," gumam Valent sinis.
Mereka sedang berkendara dengan Pagani milik Valent, hasil sitaan dari penyergapan Quon kemarin, dengan Valent di kursi pengemudi dan Kaisar menikmati Champagne dengan tenang di sebelahnya.
"Ini semacam itu. Mereka ingin mengambil alih mansion karena belakangan diketahui banyak harta karun di sana. Tapi pengadilan sedang mempertimbangkan kepemilikan ke ahli waris, Quon memiliki banyak anak dan saudara," kata Valent.
"Kalau begitu, kita butuh Orion. Dia bisa mengalihkan perhatian para penjaga," Kaisar menyesap minumnya sambil tersenyum. Salah satu hal yang menurutnya manusia bisa berguna, mereka bisa membuat minuman beralkohol yang enak.
"Itu bukan akal–akalanmu saja kan,kau ingin segera bertemu adikmu,"
"Itu juga termasuk," desis Kaisar.
"Baiklah, malam ini kalian bisa bertemu. Tapi jangan mencolok,"
"Tidak bisa tidak mencolok,"
"Kenapa begitu?"
"Aku harus membersihkannya dari kontaminasi darahmu. Budak untuk Orion harus manusia yang kami bertiga pilih, sedangkan kamu bukan orang pilihan,"
"Hah? Gimana maksudnya?!"
"Untuk membersihkan darahmu, dia harus menetralkannya dengan darah sesama bangsawan,"
"Jadi?!"
"Dia akan menggigitku, saat kami bertemu. Insting hewan liarnya akan timbul,"
"Kalian bersaudara, terpisah 200 tahun. Tidak bisakah melakukan hal yang sederhana, seperti berpelukan, menangis dan saling menceritakan curahan hati?!" tukas Valent merasa gemas.
"Kami siluman, kedekatan kami memiliki esensinya sendiri,"
Valent hanya mendengus kesal, "Aku harus mencari goa tersembunyi agar kalian bertemu ya… Kerjaan lagi," gerutu Valent.
"Kerja kerasmu akan terbayar di akhir, nanti,"
"Aku tak butuh janji, aku butuh istirahat seminggu penuh tanpa kerja," gerutu Valent.
**
Tentu saja ruangan yang Valent pilih adalah di dalam…
"Aku akan mencoba sound system baru di kamarku, jadi kalau kalian dengar ribut-ribut tidak usah panik," kata Valent kepada anak buahnya.
Saat itu Xavier sedang keluar negeri untuk transaksi mencurigakan lain, sementara Adinda sedang di kamarnya.
"Boss mau bikin theater pribadi?"
"Iya, tapi aku perlu uji coba peredam dulu. Mungkin akan agak berisik,"
"Memangnya mau nonton apa sih Boss? Kalau Titanic kan berisiknya cuma di akhir,"
"Hahahaha," semua anak buahnya menggoda Valent.
"Mau nonton Jurrasic World, kurang berisik apa coba?" tukas Valent.
"Astaga Boss Valent, jangan-jangan Boss Xavier mau beli hewan eksotis lagi? Dinosaurus jangan-jangan?! Jadi kau menelitinya dulu, Hahaha,"
"Sepertinya iya, puas?!" gerutu Valent sambil berjalan ke arah kamarnya.
"Makin lama Boss Valent makin pemarah saja," bisik anak buahnya.
"Ya wajar, Boss Xavier kan tingkahnya tak terduga,"
Dan semua menggelengkan kepalanya karena prihatin dengan keadaan Valent.
"Gggrhm…" terdengar geraman Kaisar dari arah belakang mereka.
Semua anggota langsung diam dan memberi jalan untuk Kaisar, si Harimau Hitam Raksasa.
"Hei, bro," Valent memberi salam ke Kaisar.
"Boss, Kaisar juga ikut nonton?"
"Iya, kenapa? Mau protes?!"
"Emmm, tidak sih, tapi apa dia mengerti film Jurrasic Park?!"
"Dia bisa mengamati cctv, sudah pasti dia mengerti,"
"Kenapa kalian tiba-tiba jadi bersahabat?"
"Kami tidak bersahabat, ini simbiosis mutualisme," dengus Valent.
"Ha? Simbi…apa?!" kerut para anggota sambil garuk-garuk kepala.
Sementara Kaisar melenggang dengan anggun mengikuti Valent ke arah kamarnya.
**
"Kumohon, jangan terlalu berisik. Apa pun yang Orion inginkan kabulkan saja. Kau kan ingin mati, kalau dia membunuhmu ikhlaskan saja," bisik Valent malas.
"Heh? Setidaknya aku membela diri demi kehormatanku," kata Kaisar sambil berubah wujud menjadi manusia.
Valent ternganga melihat perubahan wujud yang terjadi di depan matanya. Lalu mencebik sinis, "Bisa nggak sih kau tetap berpakaian saat berubah,"
"Manusia belum ada teknologi itu. Kalau dulu dalam wujud harimau aku tetap memakai armor, sehingga kalau transform jadi wujud fana aku masih berpakaian," Kaisar masuk ke kamar Valent dengan santai.
Valent mengambil laptopnya yang diletakkan di atas meja dan dokumen-dokumen penting, lalu memeluk semuanya dan berdiri di sudut yang kira-kira aman. Ia menelan ludahnya.
"Aku di sini ya, usahakan jangan terlalu banyak kerusakan. Dia ada di kamar mandi," desis Valent tegang.
"Kamarmu lebih bagus dan luas dari semua ruangan di rumah ini. Aku ingin kamar seperti ini," kata Kaisar.
"Ya ya ya kuberikan, selesaikan dulu urusan kalian," Valent mengibaskan tangannya agar Kaisar menjauh.
Lalu kamar mandi pun terbuka.
Orion keluar dari sana.
Lalu tertegun.
"Ah…" desisnya saat melihat kakaknya. Sosok yang sangat dirindukannya hadir di depannya.
Rasanya seperti baru kemarin ia melihat kapak menancap di leher pria itu, dan saat Orion ingin menghampiri kakaknya, ia dilempari bara api. Menyebabkan sekujur tubuhnya terbakar.
Yang terakhir ia ingat adalah udara dingin menghantam tubuhnya, Olena mendinginkannya dari udara. Lalu suara berdebam elang hitam raksasa akibat jatuh dengan keras ke tanah dan auman marah Sang Pangeran Zafiry yang membahana.
"Kakak," desisnya sendu.
"Orion," Kaisar tersenyum lembut ke adiknya.
"Maafkan aku," desis Orion kemudian. Matanya yang tadinya redup tiba-tiba bercahaya. Ia mengendus ke udara, membaui darah sang Pangeran yang berdiri di depannya.
Kaisar merenggangkan tulang lehernya.
Lalu sekejab ia berubah menjadi Harimau Hitam Raksasa.
Begitu pun Orion, lidahnya yang hitam dan bercabang menjulur ke udara. Insting liar langsung menguasainya.
Ia tidak dapat mengendalikan dirinya. Ia siluman muda, masih 217 tahun usianya. Itu pun 200 tahun dihabiskan dengan tertidur. Ia belum menguasai kekuatannya dengan baik.
Yang terjadi,
Ular hitam raksasa, panjang sekali, dengan sisiknya yang hitam legam, sesekali berkilau terkena cahaya lampu sorot, dalam sekejab sosok manusia Orion berubah menjadinya.
Sukar dipercaya, gadis mungil berambut pixie, dengan gayanya yang ceria dan mata berbinar, menjadi wujud entitas mitologi yang sangat besar dan mengerikan.
Ekornya menjulur cepat dan daan meraih tubuh Kaisar. Lalu membelit Harimau itu dengan sekali gerakan.
Kaisar mengaum kesakitan.
Suara mendesis yang kencang mewarnai udara, Orion membuka rahangnya dan menyerang Kaisar.
Taringnya menancap dalam-dalam di leher Kaisar. Tapi Sang Pangeran membuka cakarnya dan menghujamkannya di ekor Orion.
Teriakan Orion membahana. Gigitannya terlepas.
Tapi belitannya tidak renggang, malah semakin erat.
Kaisar tidak bermaksud menyerang Orion, hanya mengingatkan ular itu kalau ia bukanlah mangsa biasa. Darah yang mengalir di tubuh Sang Harimau membuat Orion dikuasai nafsu membunuh yang sangat tinggi.
Lalu ular itu memekik kencang, dan sekali lagi ia menghujamkan taringnya ke leher Kaisar.
Crash!!
Kaisar mengaum. Erangannya membahana.
Ia menahan sakit akibat gigitan Adiknya.
Tapi ia kali ini tidak melawan.
Orion menghisap darah kakaknya dengan rakus.
Sekali lagi Kaisar menghujamkan cakarnya dan menggores kulit Orion. Tanda kalau acara makan Orion sudah waktunya diakhiri. Asupan energi netral sudah cukup didapat.
Masalahnya, hal itu adalah situasi paling sulit.
Begitu nikmat dan membuat candu darah siluman yang mengalir di tubuh Sang Pangeran, membuat Orion enggan melepaskan rahangnya.
Kaisar mengaum lebih kencang dan kali ini ia melawan Orion. Ia meronta, lalu menancapkan taring raksasanya ke ekor Orion. Ular itu terpuntir dan belitannya merenggang.
Kaisar menjatuhkan leher Orion ke lantai.
BRAKK!
Dalam sekejab, wujud fana keduanya terjadi. Kaisar dalam wujud manusianya, mencengkeram leher Orion dan menahan gadis itu ke lantai.
Orion terbaring tak berdaya, juga dalam wujud manusianya.
"Dasar anak nakal…" desis Kaisar dengan senyum sinisnya.
"Apa kabar kak? Kenapa kau jadi semakin gemuk?" ujar Orion sambil menyeringai.
"Masih lapar tidak?"
"Sudah kenyang. Kau harus mengurangi asupan alkohol, darahmu rasanya sangat manis,"
"Air pegunungan di sini tidak enak,"
"Aku setuju,"
Dan Kaisar membantu adiknya bangkit, lalu memeluknya dengan erat.
Selama beberapa saat mereka seperti itu. Dengan belaian tangan Kaisar di rambut adiknya, dan suara isakan Orion yang pilu.
"Mereka semua mati, kak…" isak Orion.
"Ya…" hanya itu yang mampu diucapkan Kaisar.
Sesaat pandangan mata Orion beradu dengan Valent.
Pria itu menggelengkan kepalanya sekilas, tanda kalau ia mewanti-wanti mengenai Agha.
Orion mengernyit tidak senang.
"Kak," Orion melepaskan pelukan kakaknya dan menangkap rahang Kaisar. Gadis itu menatap Sang Pangeran dengan serius dan lekat, "Pengkhianat…" tapi kemudian Orion terdiam. Kalimat itu terasa sulit diucapkan.
Orion menghela napas.
Ia tahu kalau Valent benar.
Saat ini mereka berdua butuh kuasa Velladurai untuk menemukan sisa-sisa kerajaan dan si kembar Conrad dan Olena.
Mereka harus berbaur.
Dan Kakaknya terlihat masih sangat labil.
"Ada pengkhianat di kerajaan kita," desis Orion.
"Iya, kakak tahu, karena selubung hanya bisa dibuka dari dalam. Kemungkinan si pengkhianat seorang manusia. Hanya mereka yang mampu menyerang sesamanya sendiri,"
"Ada kabar mengenai kak Conrad dan Kak Olena?"
Kaisar menggeleng, "Belum ada, tapi…" ia menoleh ke Valent yang masih berdiri di pojok sana, masih waspada takut terkena hantaman di perkelahian makhluk legenda. "Dia bilang menemukan Yaah dan Ibu,"
"Ayah dan Ibu?!"
"Di Mansion Quon," sambung Kaisar.
"Apa? Bagaimana bisa?! Waktu aku ditahan di sana aku sama sekali tidak dapat mendeteksi keberadaan…" lalu bibir Orion bergetar.
Gadis itu menyadari satu hal.
Saat ia tidak dapat mendeteksi keberadaan kaumnya, itu berarti… "Mereka… Tewas?" ia semakin gemetar.
"K-kak? Ayah ibu…?" air mata benrjatuhan di pipinya.
"Kemungkinan ya, kuatkan dirimu,"
"Ibu… Ibu terakhir bilang padaku untuk menghabiskan sajian ayam madu yang dibuatnya karena aku sedang agak sakit,"
"Iya, katanya kamu sakit, pengaruh perubahan cuaca yang drastis,"
"Setelah itu ayah masuk ke kamarku untuk menyalakan perapian," isak Orion.
"Iya…"
"Dan… Kak Conrad menggodaku karena aku berdarah dingin tapi bisa masuk angin,"
"Orion, kuatkan dirimu ya,"
"Kak…" tangis Orion semakin kencang. Ia meraung sejadi-jadinya.
Di usia yang menjelang 17 tahun, kedewasaannya harus dilalui tanpa kedua orang tuanya.
**
"Karena hidup dan mati adalah satu, seperti sungai dan laut adalah satu." - Kahlil Gibran
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
another Aquarian
Val, konyol banget sieh.. ya kejam, licik iya, kadang2 baik, sinis juga, paket komplit 😁😁😁
2025-03-26
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
selamat kan barang² berharga Valent😄😄😄
2024-08-18
0
Saepul 𝐙⃝🦜
Duh aku ngebayngain kok keren banget kalau dalam bentuk visual nya ya 🤩
2022-12-13
1