Gadis Cantik

Gadis muda.

Wajahnya sangat cantik dengan bentuk muka mungil, dagu lancip, bibir tebal merekah dan mata bulat. Rambutnya yang dipotong pendek membuatnya jadi tampak lebih mungil. Kulit gadis itu putih pucat seperti pualam, sangat kontras dengan tubuh ularnya yang hitam legam.

Namun sekujur tubuhnya seperti membentuk bekas sisik kehitaman, yang saat didekati, Valent sadar kalau itu bekas luka seperti semacam jaring listrik yang biasa digunakan untuk menangkap ular. Apakah dengan cara itu Orion bisa ada di sini?!

Valent bahkan hampir percaya itu Artificial Intelligence, sebuah komputer pintar.

Ternyata itu makhluk fana.

Matanya merah membara, seperti mata Kaisar.

Namun alih-alih membuat kesan mengerikan seperti di Kaisar, mata semacam itu di gadis ini tampak sangat manis.

Setengah tubuhnya berbentuk ular, dengan sisik yang sebagian besar rontok sehingga menampakkan daging putih di baliknya.

Dan darah mengalir dari sela-sela sisik yang tersisa.

Gadis itu berbaring tanpa ekspresi menatap ke arah Valent.

Tidak sedih, tidak terkesan kesakitan, hanya menatap kosong seakan menunggu akhir hidupnya.

Valent menyentuh penjara kaca dan membuka topengnya.

"Orion," panggil Valent.

Mendengar namanya disebut, Orion bereaksi. Ia melirik ke arah Valent.

"Aku tahu dimana Cyril. Dia ada bersamaku, kami datang untuk menyelamatkanmu,"

Mata Orion membesar.

Lalu ekspresinya mulai muncul.

Gadis itu berusaha bangkit, tampak panik.

"Kak…" gumamnya lemah. Valent bisa melihat ada dua taring panjang di sela bibirnya, dan lidahnya hitam bercabang. "Kak Cy… uhuk!" Dia terbatuk, dan darah keluar dari mulutnya.

Kemungkinan bagian dalam tubuhnya juga terluka.

Jelas, Orion tidak setangguh Kaisar. Mungkin ada beberapa hal yang menyebabkan dia jadi begini lemah.

"Aku akan membebaskanmu dan membawamu padanya. Oke? Kamu mengerti? Kalau iya anggukan kepalamu,"

Orion mengangguk cepat.

"Kamu butuh apa agar cepat pulih? Setidaknya bisa menegakkan tubuh?" tanya Valent.

Orion menatap Valent dengan harapan tinggi terpancar di matanya merahnya

"Darah," desis Orion, "Aku butuh darah manusia. Dari golongan bangsawan lebih baik,"

"Hah?" dengus Valent sambil meringis.

Orion tampak menjulurkan lidahnya untuk mendeteksi Valent.

"Kamu punya darah bangsawan, aku minta beberapa cc saja,"

"Aku?" Valent kebingungan, "aku dari golongan pebisnis,"

"Bisa kucium dari mana keluargamu sukses, darah kalian bergejolak, khas ksatria milik kerajaan,"

"Sst!!" Valent menempelkan telunjuknya secara reflek saat mendengar kalimat Orion. Ia juga kaget dari mana gadis itu tahu hal ini.

"Aku menyembunyikan hal itu dari Velladurai, kamu diam saja!"

"Vel-velladurai?!" Tukas Orion, "Kamu dari Velladurai?!"

"Aku dan kakakmu sekarang bekerja untuk mereka untuk misi tertentu,"

"Leluhur Velladurai menghancurkan suku kami!!" jerit Orion marah.

Valent menaikkan alisnya.

"Mereka manusia pengkhianat yang membawa pasukan untuk masuk ke dalam barikade sihir dan menyerang kami!!" seru Orion lagi.

Tapi karena tidak ada tenaga lagi, dia pun terjatuh dan terengah-engah.

Bahkan untuk posisi terduduk saja ia tidak memiliki tenaga.

Valent, terus terang saja, lumayan kaget saat mengetahui leluhur Velladurai lah sang pengkhianat dalam kerajaan Zafiry. Menurut Kitab, memang tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam barikade sihir Zafiry. Namun bukan berarti tidak ada manusia yang bisa kesana. Banyak manusia yang menjadi pelayan kerajaan. Kemungkinan Velladurai adalah salah satunya.

"Tampaknya… kakakmu tidak tahu hal itu ya?" Gumam Valent hati-hati.

Terus terang saja kalau di depannya manusia, sudah ia peluk dan ia bawa pergi dari sana.

Tapi di depannya sekarang adalah ular berbisa yang bisa membunuh dalam sekian detik, walau pun sedang dalam keadaan letih.

"Bisa jadi hanya aku yang tahu, saat ingin kuberitahu, aku dibakar hidup-hidup. Kak Olena mencoba menyelamatkanku, tapi dia malah dipanah,"

Terdengar Auman dari atas.

Suara Kaisar.

Mereka masuk semakin dalam untuk membumihanguskan Quon.

"Kak Cyrill," desis Orion.

"Astaga!" Valent segera menekan password, mengangkat mayat penjaga untuk diambil retina matanya di alat deteksi, dan menghancurkan gemboknya.

Tanpa ragu ia masuk ke kandang Orion.

Herannya, kandang itu wangi, bagaikan madu dicampur bunga.

Apakah itu aroma dari tubuh si Orion.

Entahlah, yang jelas, Valent terburu-buru.

"Orion, dengar!" Valent berlutut dan mengangkat tubuh Orion. Tak diduga ternyata berat sekali. Bagaikan mengangkat sepuluh karung gandum dalam sekali angkat. "Aargh! Kau bisa tarik ekormu ke dalam tidak?!"

"Kalau itu kulakukan aku tidak tahu bisa berubah kembali jadi ular atau tidak," gumam Orion.

"Yang penting kau sehat dulu! Aku tak bisa mengangkatmu!"

Dan tubuh Orion pun bergetar.

Seketika, buntut ularnya berubah menjadi sepasang kali mungil kurus dan mulus.

Dan dalam keadaan telanjang pastinya.

Valent menutupi tubuh Orion dengan jaketnya.

Orion mengeluh kesakitan karena luka-lukanya.

"Dengar, Orion," ulang Valent, "Jangan sampai Kaisar tahu dulu mengenai Velladurai. Aku masih punya misi di sana. Kalau Kaisar sampai tahu, misiku akan hancur, aku bisa mati!"

"Kaisar itu siapa?"

"Panggilan kami untuk Cyril,"

"Dia belum jadi Raja,"

"Terserahlah," Valent mengangkat tubuh lemah Orion yang kini sudah lebih ringan, bahkan jadi sangat ringan, dan membawanya ke area garasi mobil Quon.

"Jadi bagaimana?"

"Aku akan membawamu diam-diam ke rumahku, dan merawatmu sampai sembuh dulu. Rumahku di area basement kastil Velladurai. Jadi kau bisa dekat dengan kakakmu, hanya aku minta waktu untuk menunda dulu pertemuan kalian,"

Orion menghela nafas dengan sedih. Tapi ia mengerti banyak orang dengan kepentingan berbeda saat ini. Ia tidak mengenal Valent tapi ia merasa ada suatu yang positif dari pria ini.

Setidaknya ia tidak harus memproduksi racun lagi.

Valent memasukkannya ke dalam salah satu mobil sport bersepuh emas.

"Diam di situ, aku akan bilang kau sudah kabur. Setelah itu kita ke rumahku,"

"Aku lapar sekali,"

Valent menghela napasnya. Ia lupa kalau Orion butuh darah.

"Sudahlah," gerutu Valent sambil mengacungkan pergelangan tangannya. "Jangan dihabiskan, aku belum menikah,"

"Lebih deras dari leher," desis Orion.

"Jangan nawar, bocah! Kalau di leher bisa terlihat mencolok! Kaisar bisa curiga! Aku kan bilangnya kamu kabur!" tukas Valent.

Orion mendengus tak puas dan dengan malas ia meraih tangan Valent dan menancapkan taringnya di sana.

Lalu ia cabut kembali taringnya. Darah mengalir deras dari bekas gigitannya.

Dan dengan mulutnya ia sedot beberapa cc.

"Ugh! perih banget!" keluh Valent.

Dalam hatinya, kalau ia sudah pulang ke kamarnya, ia akan memanjakan diri dengan segelas Wine tahun tua sambil nonton seri komedi.

"Jangan kebanyakan Nona Besar," keluh Valent.

Orion melepaskan hisapannya dan mendes4h puas. Ia tersenyum sambil lidahnya yang bercabang menjilati sisa-sisa darah di mulut mungilnya.

"Duh, pusing..." desis Valent.

"Setelah ini bagaimana?" tanya Orion.

"Kau istirahat saja di dalam mobil, usahakan tidak terlihat. Awas macam-macam, kusebar foto telanjangmu!"

"Hehe, kau ini kenakanak-kanakan juga ya ternyata," desis Orion.

"Heh! Apa maksudmu?!"

Tapi Orion tidak merespon.

Gadis itu sudah tertidur kelelahan.

Valent menggelengkan kepala karena prihatin, "Yah… setidaknya kali ini tidurlah dengan nyenyak," ia mengelus kepala Orion.

Terpopuler

Comments

another Aquarian

another Aquarian

cieeee udah main elus aja..
beneran dehh, aku sumpahin si Val ketagihan transfusi darah ke Orion 😜😜😜

2025-03-25

0

another Aquarian

another Aquarian

aku sumpahin jatuh cinta bucin mampusss sama adek bungsunya Kai lo, Val..

2025-03-25

0

another Aquarian

another Aquarian

ngeless aja lo, Val 😂😂😂

2025-03-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!