“Umph!” seru Adinda terbungkam.
Ia tadinya tidak menyadari yang terjadi sampai melihat orang yang ia tidak kenal dan berpakaian tidak seperti anak buah Papanya, sudah menggeret tubuhnya dengan paksa keluar dari kamar mandi.
Orang itu tinggi, besar, dan matanya nyalang seperti orang gila.
“Di mana? Di mana obatnya hah?! Aku tak tahan lagi!” bisiknya dengan penekanan suara yang menyiratkan kegilaannya.
Adinda gadis muda dengan paras memikat, dan dalam keadaan telanjang. Dan pria yang mencengkeramnya ini tampak tidak tertarik dengan tubuhnya. Hal yang bagus, tapi terasa aneh. Kecuali ada hal lain yang menguasai pria ini sehingga dia begitu kebingungan.
Tenaganya yang besar membuat Adinda tersungkur ke lantai, tak berdaya bahkan untuk bernapas saja sesak akibat penekanan di area ulu hatinya.
“Dia bilang ada di sini! Katanya aku harus membunuhmu dulu baru aku bisa mendapatkannya!” bisiknya sambil mencekik Adinda. Napas pria itu bau, sangat bau sampai Adinda rasanya mau muntah. Padahal ia dalam posisi tak bisa bernapas, tapi aromanya sangat menusuk hidung.
“Jadi kalau kau ingin selamat, katakan sekarang dan aku tak jadi membunuhmu!”
Adinda ingin bertanya mengenai apa yang pria itu cari. Tapi bagaimana mungkin ia bersuara, ia sedang dicekik. Dan pasokan oksigennya mulai terhenti. Rasa sakit luar biasa di area leher, dada dan kepala. Kerongkongannya sangat nyeri, dan seluruh anggota tubuhnya tiba-tiba tidak bisa digerakkan, sangat lemas. Adinda berusaha meronta membebaskan diri dari cengkeraman laki-laki itu namun untuk mengangkat tangan saja ia tidak bisa karena sakit luar biasa di lehernya.
PLAK!!
Pria itu menampar Adinda.
Cukup kencang sampai Adinda tidak mampu berpikir.
Gadis itu sedang kehabisan napas, dan ia ditampar dalam kondisi itu.
Adinda belum merasakan rasa sakit di pipinya karena urat saraf di area wajah menjadi lumpuh. Lidah Adinda terjulur keluar tanpa bisa dikontrol, terdorong oleh cengkeraman orang itu.
Tangannya yang lunglai di samping tubuhnya bergerak sedikit. Sisa-sisa tenaga Adinda. Lalu jemarinya menyentuh sebuah cangkir keramik yang terjatuh.
Adinda ingin orang-orang tahu kalau ia dalam keadaan terdesak. Pasti para pengurus rumah tangga sedang berseliweran di depan kamarnya.
Jadi ia raih cangkir itu, dan sekuat tenaga ia lemparkan ke arah pintu.
PRANG!!
Cangkir keramik itu pecah berantakan membentur pintu.
GRAKK!!
Dan pintu raksasa berukir dan bercat putih itu terbuka dari luar.
Seekor Harimau Hitam Raksasa ada di depan kamar Adinda.
Memandangi si penyusup dengan tajam, dan gerakan pelan yang terstruktur.
Kepalanya condong ke depan seperti sedang mengincar mangsa.
Geraman pelan dari mulutnya terdengar mengerikan.
Dan kakinya mulai berlari, menerjang si pria asing dalam sekali lompat, tanpa si pria menyadari makhluk apa yang menyerangnya.
Tak ayal, Kaisar menggigit bahu pria itu, dan dengan mudahnya, sekali ayunan kepala, membenturkan tubuh pria itu ke dinding bagaikan sedang melempar boneka dari kapas.
KRAKK!!
Bunyi tulang remuk akibat benturan.
“Fuh!” Kaisar meludahkan sepotong daging dari mulutnya. Bagian bahu si pria.
Yang langsung mati dalam keadaan terpotong dan tulangnya terbagi dua karena membentur dinding. Dinding itu sampai retak cukup dalam.
“Ah...” Adinda belum mampu bergerak. Ia bagaikan tersetrum aliran listrik. Mungkin proses traumatis dan pasokan oksigen mulai masuk, dengan aliran darah yang langusng deras mengalir karena ikatan tangan lepas dengan paksa. “Ohok!” Adinda terbatuk lemah, mencoba bernapas, tapi tidak bisa.
Kaisar mendekatinya.
Lalu mengendusnya.
Kaisar berusaha mengidentifikasi kondisi tubuh Adinda dengan penciumannya. Lalu ia mendengus, tanda semua akan baik-baik saja.
Orang-orang kini ramai berteriak panik di depan kamar Adinda. Namun mereka tidak bisa mendekat karena takut dengan Kaisar. Apalagi ditambah mereka melihat mayat yang sudah dalam kondisi tragis tersungkur di lantai. Dinding di belakangnya selain retak juga terciprat darah hampir di seluruh bagiannya.
Dipastikan, seluruh tubuh si mayat hancur seketika.
Kondisi yang sama terjadi dengan sebagian besar penjaga kandang waktu itu yang mencoba menembak Kaisar karena ia mengamuk.
Jadi semua orang masih trauma.
Dengan gemetaran mereka hanya bisa melihat kondisi Adinda dari kejauhan.
Kaisar berusaha menutupi tubuh Adinda yang telanjang dengan kain di dekatnya, dan menunggu kondisi tubuh gadis itu lebih baik. Setidaknya sampai oksigen bisa memenuhi paru-parunya.
“Ohok! Ohok!!” Adinda terbatuk kencang, tanda tubuhnya sudah mulai stabil.
Kaisar membuka mulutnya dan meraup pinggang Adinda, disertai teriakan histeris orang -orang di sana. Mengira Adinda adalah korban selanjutnya.
Dengan taring raksasanya ia angkat tubuh Adinda dan diletakkannya dengan lembut di atas ranjang.
Bagai induk kucing menggendong anaknya dengan gigi.
Lalu ia ambil selimut dengan cakarnya, dan dengan gerakan luwes, ia tutupi tubuh adinda dengan selimut sutra itu.
Dan menatap orang-orang di depan pintu.
Ia pun mendengus tanda puas dengan aksinya, sambil mengangguk ke arah botol wine di atas kabinet.
Minta dibukakan dan disajikan untuknya.
**
“Astaga...” desis Xavier. Wajahnya tampak serius menatap layar raksasa di depannya. Tampak keningnya menyatu tanda mirisnya perasaannya, sekaligus marah dan sedih jadi satu.
“Sial!” dengus Valent pelan sambil berdiri di samping Xavier dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
Mereka berdua sedang melihat rekaman CCTV yang dipasang di koridor depan kamar Adinda. Walau pun memang tidak bisa melihat adegan secara utuh, namun mereka bisa melihat saat Kaisar melintasi koridor, lalu Harimau itu tiba-tiba menoleh ke arah pintu bagaikan mendengar sesuatu dari dalam.
Kaisar tampak tidak langsung masuk, ia diam sebentar di sana.
Lalu ia tampak tersentak, tampaknya ada bunyi kedua dari dalam. Kemungkinan cangkir yang pecah.
Dan dengan kepalanya ia dorong pintu raksasa itu.
Berikutnya adegan CCTV tidak terlalu menampakkan situasi yang terjadi di dalam kamar. Tapi mereka bisa melihat saat kamar terbuka, Adinda dalam keadaan dicekik di lantai, di depan Kaisar. Di atas tubuh Adinda ada seorang pria berpakaian kumal seperti gelandangan.
Yang berikutnya terjadi, cukup membuat semua orang yang menonton rekaman CCTV berseru kaget. Kaisar menerkam orang itu, melemparnya ke dinding dan meludahkan sepotong daging.
Lalu dengan mulutnya menggendong Adinda ke sudut lain yang tidak terpantau kamera.
“Gila,” gumam Xavier. “Ini gila...” Pria itu menggeleng.
“Bagaimana bisa ada yang menyusup ke dalam kastil ini Hah?!?” Serunya marah. Urat bersembulan di dahinya. “Aku membayar kalian semua begitu mahalnya untuk menjaga kastil dan seorang gelandangan masih bisa menyusup ke kamar putriku!!”
“Boss, sepertinya...”
“Diam dulu Valentino! Aku mau menembak semua penjaga yang nggak becus menjaga kastil selagi kita tak ada!!”
GGGrrrr...
Semua langsung diam.
Kaisar ada di depan pintu ruang mesin.
Hanya duduk diam di depan pintu dan menatap Xavier.
Harimau itu mengangkat dagunya dengan sombong, dan bibirnya, entah bagaimana membentuk senyuman tipis.
“A-a-a-anuuu.. Kaisar, bisa kami bantu?” desis Xavier langsung kalem.
“Sini kamu, sini...” Valent melambaikan tangan yang masih memegang Beretta menyuruh Kaisar untuk masuk.
Terdengar Harimau itu mendengus.
“Saya mau tanya kronologis, atau apa pun yang bisa membantu kami untuk menyelidiki siapa penyusup yang masuk dengan mudah ke dalam kastil. Bisa jadi ada orang dalam yang membantunya masuk!” sahut Valent sambil menghampiri Kaisar.
“Ah! Benar juga..” desis Xavier.
“Penjagaan kastil ini luar biasa ketat! Tidak mungkin ada orang lain yang masuk, apalagi gelandangan semacam itu kalau bukan karena sengaja disusupi!” sahut Valent. Ia menghadang Kaisar yang masih berdiri sambil memperhatikan suasana di dalam ruang mesin sambil menyelidik..
Wajah Valent sampai mendongak ke atas karena tinggi Kaisar saat duduk berukuran 3 meter. Dan Harimau itu tidak ingin berlutut di depan manusia, kecuali Adinda.
Dengan cakar besarnya, ia mendorong dada Valent agar menyingkir, dan masuk ke ruangan kontrol sambil menatap CCTV.
Banyak layar di sana.
Tidak ada satu pun yang menangkap dari mana si penyusup masuk.
Jadi kemungkinannya, si penyusup tidak masuk dari luar.
Tapi bisa jadi dia sudah lama berada di dalam area kastil.
Sekali lagi Kaisar mendengus.
Lalu menoleh ke belakang, menatap Valent.
Dan mengeram, tanda mengejek ketidakmampuan pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
another Aquarian
satu server mereka, awas nanti jadi bestie lohhh.. kaisar n val 😂😂
2025-03-24
0
another Aquarian
hadiah gue, kira2 gitu kali ya 😂
2025-03-24
0
another Aquarian
gak doyan, pilih2 camilan dia 😂
2025-03-24
0