“Ya Tuhan...” gumam Xavier tegang.
Valent dan Adinda hanya bisa terpana tanpa bisa berkata-kata. Seketika saat tiba di lokasi kandang khusus yang dibuat untuk si Harimau Hitam, mereka sangat kaget melihat situasi yang terjadi.
Di bawah selasar di dalam kandang berpagar besi itu, berserakan anggota tubuh manusia. Darah tergenang dimana-mana, berbagai senjata menancap di dinding dan pagar.
Sementara mereka yang berhasil selamat, terluka parah dan tak berdaya di depan pagar pembatas. Tim paramedis dan ambulance sudah datang untuk membawa semua orang kembali ke rumah utama sebelum hewan berbahaya di dalam kandang raksasa itu berulah lagi.
Dan di dalam kandang itu, di bagian podium tertinggi, duduk sesuatu yang besar.
Seekor Harimau Hitam, dengan matanya yang merah seakan membara akibat amarah yang terpendam sekian lama.
Duduk santai di atas podium sambil menjilat-jilat cakar raksasanya. Ia tampak membersihkan darah yang menempel di tangannya, juga di bulu tubuhnya yang hitam legam.
“A-apa yang t-terjadi?” lirih Xavier tergagap.
“Dia menyerang semua yang ada di dalam pagar segera setelah dilepaskan dari kandang karantina!” seseorang berteriak ketakutan ke Xavier. “Kami berusaha menenangkannya dengan xylazine tapi tidak berhasil!”
“Kamu campur opium tidak?!” seru Xavier mulai ketakutan.
“Tentu Boss, dosis tinggi! Tapi ia tak bergeming dan malah...” orang itu memucat dan merentangkan tangannya, “Ini yang terjadi!”
“Hei,” Valent menatap di penjaga yang masih berjaga dengan persenjataan lengkap.
“Bunuh dia,” desis pria itu.
“Valentino!” seru Xavier berusaha mencegah.
“Yang begitu mau kau berikan ke Adinda?! Kau gila!” hardik Valent ke Xavier.
“Tapi...” Xavier memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, ia kebingungan. Tapi melihat korban yang berjatuhan di dalam kandang yang berakhir dengan tragis, ia juga tidak bisa menampik solusi dari Valent.
“Nanti kuganti uangmu,” geram Valent, “Pasukan bersenjata, bidik serentak!”
“Siap!!” sekitar 20 staff organisasi dengan ujung laras M4 di tangan mereka mengarah ke arah Harimau Hitam yang masih dengan duduk di atas podium.
Kini hewan itu sedang menatap ke arah pasukan bersenjata, namun masih dalam posisi santai seakan meremehkan. Ia tidak bergeming, tidak juga berdiri. Tampaknya ia memang menunggu aksi selanjutnya.
Lalu, kepalanya menoleh ke samping.
Ke arah Adinda.
“Tunggu aba-abaku,” sahut Valent.
Dan Hewan itu berdiri lalu melompati pagar setinggi 10m meter, mendarat mulus tepat di depan Adinda.
Semua sampai tercengang melihatnya.
Sekaligus tegang dan ketakutan.
Selama beberapa saat Adinda pikir ia akan mati detik itu juga.
Harimau itu menunduk menatapnya dalam diam. Hanya berdiri di depan Adinda sambil memandang wanita itu lekat-lekat.
Terdengar geraman pelan darinya.
“Va-Valent?” desis Adinda tergagap.
“Adinda, diam dan jangan bergerak...” lirih Valent.
“Dia-“ tenggorokan Adinda seakan tercekat. Wanita itu hanya gemetaran di tempatnya sambil terpaku, memicingkan matanya dengan takut tak berani menatap Harimau Hitam yang kini berjalan ke arah sampingnya seakan mengalihkan target penembak jitu.
Bau anyir darah menggelitik hidung Adinda, sekaligus wangi tembakau bercampur anggur yang khas. Wangi yang berasal dari bulu si Harimau.
“Tahan tembakan,” resah Valent ke anak buahnya.
Berikutnya mereka bagai mendengar suara dari arah Harimau itu. Suara kekehan bercampur geraman seakan mengejak semua di sana yang berkemampuan jauh di bawah si Harimau.
Valent sampai-sampai mengernyit memastikan ia tidak salah dengar.
Dan akhirnya setelah mengendus Adinda dengan puas, ia mendengkur sambil menggosokkan dahinya di lengan dan leher Adinda.
“V-v-Val?” lirih Adinda masih ketakutan.
“Honey, jangan bergerak,” gumam Valent sambil mengangkat tangannya memastikan anak buahnya membidik dengan tepat. Harimau itu kini duduk tegak berada di belakang Adinda sambil menatap semua orang di sana dengan mata memicing.
Lalu dengan dahinya ia mendorong Adinda dengan lembut, seakan bilang : suruh mereka berhenti menembak.
“A-a-aku rasa dia ingin kalian berhenti menembak,”
Terdengar geraman lagi di dekat telinga Adinda.
Adinda diam, bagai tersentak.
Ia menatap dengan pandangan kosong ke arah depan.
Sebuah suara di kepalanya. Suara seorang laki-laki. Besar dan mengeram.
“Aku benci manusia,”
“Aku bisa menghancurkan mereka dengan sekali sentakan,”
“Tapi aku suka kamu,”
“Jadi kamu bisa bilang ke mereka, supaya berhenti menembakku,”
“Atau kujadikan seperti yang di dalam kandang itu...”
“Porak poranda, hehehehe,”
Adinda melirik takut-takut ke dalam kandang di sebelahnya.
Kandang besi dengan suasana hutan yang berukuran sekitar 1000 m2 di sebelahnya, penuh cipratan darah dan anggota tubuh manusia.
“Ka-kat-katanya...” Adinda gemetar hampir menangis, “Dia benci manusia dan akan memusnahkan semua yang ada di sini kalau ada yang berani macam-macam lagi,”
“Sial,” tukas Valent sambil mengepalkan tangannya dengan geram.
“Adinda, kok kamu bisa-“ Xavier tidak berani melanjutkan kalimatnya.
“Aku tidak tahu, Papa,” lirih Adinda masih gugup. “Tiba-tiba ada suara di kepalaku,”
“Turunkan senjata,” desis Valent ke anak buahnya. “Dengar dasar Harimau Brengsek kurang ajar,” ketus Valent.
Si Harimau tanpa diduga menatap Valent bagaikan mengerti ucapan yang keluar dari mulut pria itu. Ia menegakkan dagunya dan menatap Valent dengan meremehkan.
Tingginya saat duduk tegak sekitar 3 meter. Bobotnya mungkin ratusan kilogram. Harimau Raksasa yang sangat besar.
“Aku tahu kamu mengerti yang kukatakan,” tekan Valent, “Kami akan menurunkan senjata asalkan kamu berhenti bertingkah. Sekarang kamu milik kami, dan kami adalah organisasi berpengaruh. Jumlah kami bisa ribuan. Sekuat-kuatnya kamu, Tidak mungkin kamu bisa melawan saat kami bergerak serentak. Aku tidak takut gertakan,”geram Valent sambil menurunkan senjatanya.
Terdengar geraman pelan dari si Harimau.
Terlihat matanya melirik Adinda yang berdiri di depannya, lalu ke arah Valent, dan ke arah Xavier.
Dan terdengar dengusan pelan, seakan ia mengakui kalau Valent benar.
Jadi dia duduk dan menggesekkan kepalanya di pinggul Adinda. Meminta dielus.
Adinda masih terpaku karena ketakutan.
Harimau itu mendengkur dan mengangkat tangan Adinda dengan hidungnya, lalu memposisikannya di dahinya.
Adinda perlahan mengelusnya, walau pun dengan gerakan kaku. Bisa saja makhluk raksasa ini mencaplok seluruh tangannya sekali gigit.
Hal itu membuat Valent semakin kesal. “Hei, Tuanmu itu di sini, Xavier Velladurai Papa Nona Besar di sana itu, bagusnya kamu jaga sikap kalau masih ingin kami memberimu makan,” geram Valent sambil menyerahkan senjatanya ke salah satu anak buahnya.
Harimau hitam itu berdiri dan berjalan maju ke depan Xavier sambil menatap ke arah pria itu yang masih terpukau melihat sosok penuh keagungan bermata membara.
“Kaisar,” gumam Xavier.
Semua diam.
“Namamu Kaisar,” sahut Xavier lagi.
Dengusan sekilas dari si Harimau, tanda persetujuannya.
Dan ia pun mengaum.
Suaranya membahana.
Begitu besar dan tegas suaranya sampai terdengar ke seluruh penjuru kawasan itu.
Kaisar si Harimau Hitam seakan sedang meresmikan panggilannya sendiri, dan memberitahu seluruh penghuni Bumi mengenai keberadaannya saat ini.
Dan yang penting,
Ia bersedia berdamai sejenak dengan manusia.
Tentunya untuk kelangsungan hidupnya sendiri.
Setelah puas mengaum sampai semua orang menutup telinganya dan menunduk dengan ketakutan, Kaisar mendengus ke arah Xavier.
Dengusannya seakan mengejek Ketua Mafia Organisasi Velladurai itu.
Lalu Harimau Hitam itu berjalan melewati Xavier dan dengan angkuhnya menuju ke arah rumah utama.
Semua orang menghela napas lega.
Namun Valent berdecak,
“Ya Ampun, tambah satu lagi Boss Besar sombong yang harus ditangani,” keluh Valent sambil memerintahkan beberapa anak buahnya membersihkan kandang Kaisar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Yang ini lebih berbahaya nggak sih Val😁
2024-08-17
0
Welli Pare
rrrrrrrrrrwwwww
2023-03-01
0
Ihza
di luar ekpektasi....karya keren ap lagi ini🤔
2023-01-04
0