Kevin tampak begitu terkejut melihat buku itu bisa dipegang begitu saja oleh Phillip. Kevin tahu benar bahwa buku itu memiliki kekuatan dan tidak sembarangan orang yang bisa memegang nya begitu saja.
"Bagaimana kau bisa menghapus kekuatannya?" Tanya Kevin dengan tatapan mata yang benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bukan aku orang yang menghapusnya, tapi Nadia." Balas Phillip.
Kevin semakin tampak begitu terkejut saat Phillip mengatakan bahwa Nadia lah orang yang sudah menghapus kekuatan dari buku itu sehingga bisa dipegang oleh siapa saja.
"Bagaimana dia bisa menghapus kekuatannya?" Tanya Kevin lagi.
Phillip lalu menjelaskan bahwa dia telah meminta Nadia untuk mengatur semua buku di dalam rak. Dan saat Nadia melakukan tugasnya itu, Nadia melihat buku itu dan Nadia mengambil buku itu dengan begitu mudah tanpa mendapatkan kesulitan apapun.
"Tidak mungkin." Ucap Kevin tetap tidak percaya.
"Aku tahu ini sangat mengejutkan. Tapi inilah kenyataannya. Jadi aku mau bertanya padamu, apakah buku ini sudah kehilangan kekuatannya begitu saja?" Ucap Phillip.
Kevin lalu mengecek kekuatan buku itu menggunakan kekuatan ajaib yang dia punya. Kevin pun menyadari bahwa buku itu tidak kehilangan kekuatannya sama sekali.
"Jika buku ini tidak kehilangan kekuatannya, lalu kenapa buku ini membiarkan Nadia memegangnya begitu saja." Ucap Phillip.
"Apa kau yakin dia mengambilnya begitu saja?" Tanya Kevin.
Phillip lalu menjelaskan bahwa dia mengambil buku itu dari tangan Nadia. Dan dengan melihat hal itu membuat Phillip berpikir bahwa Nadia bukanlah manusia. Namun Kevin tidak percaya sama sekali dan mengatakan bahwa dia memberikan sebuah kalung kepada Nadia yang mempunyai kekuatan besar dan hal itulah yang memungkinkan Nadia memiliki kekuatan yang bisa digunakan untuk mengambil buku itu.
"Kau memberikannya sebuah kalung?" Tanya Phillip.
"Iya, aku memang memberikannya." Balas Kevin.
"Kevin, kau memberikan seorang gadis sebuah kalung. Apakah kau mencintai nya?" Tanya Phillip lagi.
Kevin langsung menyangkal hal itu dan dia merasa tidak mungkin menyukai Nadia. Namun Phillip terus mencoba meyakinkan dirinya karena selama ini Kevin yang dia tahu, tidak peduli dengan para gadis atau apapun tentang mereka. Tapi dengan Nadia, Kevin bersikap berbeda dengan memberikannya sebuah kalung untuk melindunginya.
"Kevin kau memang memiliki perasaan sesuatu kepadanya." Ucap Phillip.
Kevin terus menyangkal dan mengatakan bahwa dia hanya melakukan hal yang baik untuk Nadia.
"Hal yang baik? Kevin, coba lihat ke dalam hatimu. Jika sesuatu terjadi kepadanya secara tidak sengaja, apakah kau akan merasa sedih, bahagia atau kau merasa bahwa kau ini ingin merusak seluruh dunia ini." Ucap Phillip.
Kevin tidak dapat berkata apa-apa pun.
Phillip kemudian mengatakan bahwa Kevin harus menyadari hal itu sendiri dan jika dia sudah mengetahui bagaimana perasaannya kepada Nadia, Phillip meminta Kevin untuk datang dan mengatakan semuanya kepada dirinya.
"Ngomong-ngomong apakah kau baik-baik saja?" Tanya Phillip.
"Iya, aku baik-baik saja. Oh ya, aku harus pergi sekarang." Balas Kevin.
"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu lagi." Ucap Phillip.
Setelah itu, Kevin pun pergi. Sementara itu, Phillip sudah menyadari bahwa Kevin memang jatuh cinta kepada Nadia hanya saja Kevin belum mengetahui perasaannya sendiri.
Di dalam istana......
Nadia tengah berada di dalam kamar. Dia masih saja memikirkan tentang buku itu. Dia begitu tidak percaya bahwa Phillip mengambil buku itu dari dirinya dengan paksa. Nadia sangat kesal karena dia merasa bahwa dirinya tidak akan mungkin mengambil buku itu begitu saja dan dia akan tetap mengembalikan nya kepada Phillip setelah selesai membacanya.
Tiba-tiba Nadia mendengar suara Kevin dari ruang tamu. Kevin sudah kembali dari klinik milik Phillip. Nadia pun tampak begitu senang. Dia langsung bergegas untuk pergi menemui Kevin di ruang tamu.
Saat Nadia tiba di ruang tamu, Kevin pun menatapnya.
'Jika sesuatu terjadi kepadanya secara tidak sengaja apakah kau akan merasa sedih, bahagia atau kau merasa bahwa kau ini ingin merusak seluruh dunia ini.' Ucapan Phillip terus terngiang dalam kepala Kevin.
Nadia mendekat kearah Kevin dan terus menatapnya dalam diam.
"Kenapa kau melihat aku seperti itu?" Tanya Kevin.
"Oh, tidak apa-apa." Balas canggung.
"Nadia, apakah kau datang untuk menyapa ku?" Ucap Kevin lagi.
"Tidak mungkin." Balas Nadia.
Namun wajah Nadia tampak begitu merona dan hal itu disadari oleh Kevin.
"Wajahmu tampak begitu merah." Ucap Kevin.
"Jangan melihat aku seperti itu." Ucap Nadia yang langsung menatap ke arah bawah. "Hmmmm.... karena kau sudah ada di sini, aku akan masuk ke dalam kamar."
Nadia pun kembali ke kamarnya, sementara Kevin tersenyum.
Nadia yang berjalan ke arah kamar bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Sebenarnya ada apa dengan dirinya. Sejak dia mencium Kevin, jantungnya terus berdegup begitu kencang saat kapanpun dia berada di dekat Kevin. Nadia lantas kembali bertanya-tanya apakah dia memang menyukai Kevin atau tidak.
Nadia pun tiba di kamar dan terus saja melamun.
'Kenapa aku akan menyukai pria seperti dirinya? Tidak mungkin. Mungkin semua itu hanya karena dia adalah ciuman pertama ku.' pikir Nadia dalam hati.
"Apa yang kau pikirkan?" Ucap Kevin yang tiba-tiba sudah ada di dalam kamar.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk." Ucap Nadia yang tampak begitu terkejut.
"Apakah aku mengganggumu melamun yang tengah memikirkan aku?" Ucap Kevin.
"Kau!!!" Nadia tampak marah.
'Aku tidak mungkin menyukai pria seperti dirinya. Dia hanya pria yang bodoh.' Ucap Nadia dalam hati.
Kevin lalu mulai bertanya bagaimana tentang tes yang dilakukan Nadia. Nadia pun menceritakan bahwa semuanya terlewatkan dengan begitu mudah baginya. Kevin lantas mengucapkan selamat kepadanya dan melihat bahwa Nadia masih menggunakan kalungnya itu.
"Kau mengatakan kepadaku bahwa aku tidak boleh melepaskannya." Ucap Nadia.
Kevin lantas tersenyum dan mengatakan kepada Nadia apakah dia mau bertemu dengan ibundanya Sang Ratu. Nadia tampak begitu terkejut karena dia mengetahui bahwa Sang Ratu sangat membenci manusia. Jadi bagaimana mungkin Kevin mau membawanya bertemu dengan Sang Ratu.
"Apa yang kau bicarakan? Aku dengar Sang Ratu sangat membenci manusia. Bukankah dia akan marah jika aku bertemu dengannya?" Ucap Nadia.
"Bagaimana kau tahu bahwa dia membenci manusia?" Ucap Kevin.
Nadia pun menjelaskan bahwa Phillip yang mengatakan kepadanya tentang Sang Ratu yang membenci manusia saat mereka membicarakan buku yang Nadia ambil di rak itu.
Kevin kemudian terus berusaha meyakinkan Nadia bahwa Nadia tidak perlu khawatir karena dia akan selalu berada di sisinya saat nantinya mereka bertemu dengan Sang Ratu.
"Tidakkah kau mau melihat dimana aku tumbuh?" Tanya Kevin.
"Aku mau melihatnya. Tapi aku takut bahwa Sang Ratu akan menghinaku. Aku mungkin tidak bisa menahan diriku dan aku bisa saja membalasnya." Ucap Nadia.
"Ibunda ku tidak akan pernah menghina mu. Jadi kau tidak perlu khawatir akan hal itu." Ucap Kevin.
"Tapi....."
"Tidak ada tapi-tapian. Semuanya sudah ditentukan, aku akan menemukan waktu yang tepat untuk kita pergi kesana dan aku akan mengatakan kepada mereka bahwa kita akan mengunjungi mereka di sana." Ucap Kevin.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan." Balas Nadia.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments