10. Bertengkar Dengan Viola

Setelah mengobrol dengan Viola beberapa saat, Kevin lalu masuk ke dalam kamar dan mendapati Nadia sudah tertidur. Dia pun mendekat kearah Nadia.

"Dia sudah tidur. Dia pasti sangat kelelahan Ucap Kevin seraya mengusap rambut Nadia. "Ka adalah wanita yang cantik. Bagaimana aku bisa mengatakan hal ini? Karena sejak pertama kau datang ke istana ini, ada perasaan bahagia dalam hidupku yang membuat aku ingin pulang setiap harinya." Lanjut Kevin.

Kevin terus memandangi wajah Nadia. Dia merasa seolah ada perasaan yang membuatnya merasa begitu teduh dengan hanya menatap wajah Nadia. Kevin sendiri tidak tahu perasaan apa yang ada dalam dirinya untuk Nadia. Tapi setiap kali dia melihat Nadia tersenyum, hatinya seolah berbunga-bunga dan setiap kali dia melihat Nadia bersedih, dia pun seolah merasa ada yang menusuk hatinya.

Kevin terus mengusap kepala Nadia dan pipinya kemudian tersenyum. Dia melakukan hal itu beberapa saat yang lama, kemudian tiba-tiba suara pintu kamar terdengar diketuk dari luar.

"Siapa itu?" Tanya Kevin.

"Ini saya Lionel, Pangeran." Balas Lionel.

Kevin lalu berdiri dan memperbaiki posisi pakaiannya yang sedikit kusut, begitu juga ekspresinya yang sejak tadi ceria langsung kembali serius. Setelah itu, dia pun meminta Lionel untuk masuk ke dalam kamar itu.

Pria yang bernama Lionel itu lantas membuka pintu dan perlahan mendekat kearah Kevin dengan menundukkan kepalanya.

"Bagaimana? Apakah kau sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan kepadamu?" Tanya Kevin.

"Iya pangeran, saya sudah menyelesaikannya. Para pria bajingan itu beserta seluruh keluarganya sudah dihabisi." Ujar Lionel.

"Kau memang tidak pernah mengecewakan aku." Balas Kevin seraya menepuk pundak Lionel. "Sekarang kau boleh pergi, aku mau beristirahat." Lanjut Kevin.

"Baik Pangeran." Balas Lionel menundukkan kepalanya lalu berjalan mundur sampai ke pintu dan segera keluar dari dalam kamar itu.

Setelah lionel pergi Kevin lalu berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya, berbaring di samping Nadia. Dia terus menatap wajah Nadia yang tengah tertidur dengan begitu pulas. Nadia bahkan tidak menyadari dan merasakan bahwa Kevin terus-menerus menusuk pipinya karena merasa gemas.

Entah berapa lama Kevin melakukannya, sampai dia sendiri tidak menyadari bahwa dirinya sudah terlelap.

 

Keesokan paginya....

Nadia terbangun, tapi dia tidak mendapati Kevin ada di sampingnya. Nadia pun berpikir bahwa Kevin mungkin tidak tidur bersamanya tadi malam. Karena hal itu, Nadia tiba-tiba merasa kepalanya langsung terasa sakit. Dia sendiri tampak bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

Nadia lantas menyalahkan dirinya sendiri karena berpikir bahwa Kevin tengah bersama dengan Viola dan hal itu membuatnya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kemudian Nadia pun menyadari bahwa hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Dia tidak perlu mengkhawatirkan tentang hal itu.

Beberapa saat kemudian suara perut Nadia terdengar berbunyi dengan begitu keras. Dia merasa sangat lapar. Jadi diapun lebih dulu menyiapkan dirinya dengan mandi dan berganti pakaian sebelum dia turun ke lantai bawah untuk sarapan.

Setelah selesai dengan rutinitas paginya, Nadia pun pergi ke arah ruang makan untuk sarapan. Tapi dia melihat ada sosok Viola di sana yang tampak tengah memasak. Nadia pun berpikir apakah Viola memang benar bisa memasak. Jadi Nadia pun memutuskan untuk pergi ke arah lain agar tidak bertemu dengan Viola.

Namun, Viola ternyata sudah melihat keberadaan Nadia.

"Selamat pagi." Ucap Viola yang melambaikan tangannya pada Nadia.

"Selamat pagi." Balas Nadia yang merasa sedikit canggung.

"Dimana Kevin?" Tanya Viola.

"Aku tidak tahu di mana dia berada." Balas Nadia dengan santai.

Mendengar jawaban Nadia, Viola tampak begitu marah dan langsung memukul meja dengan sangat keras.

"Bagaimana mungkin kau tidak tahu kemana dia pergi? Dia tetap berada di kamar yang sama dengan dirimu. Kau memalukan sekali." Teriak Viola pada Nadia.

'Dengan siapa dia berbicara seperti itu?' pikir Nadia.

Nadia menatap Viola yang tengah memberikan tatapan penuh kebencian padanya. Hal itu lantas membuat Nadia merasa kesal.

"Bagaimana aku bisa tahu kemana dia pergi. Apakah aku ini pengawalnya? Jika dia mau keluar, dia bisa keluar ke manapun yang dia mau." Teriak Nadia.

Teriakan Nadia membuat Viola semakin memanas.

"Apakah kau tidak malu untuk mengatakan hal seperti itu?" Balas Via tak kalah berteriak Viola yang semakin membuat Nadia merasa jengkel.

"Apa yang harus membuat aku malu? Jika seseorang mau pergi keluar, apakah mereka akan mengatakan semuanya kemana mereka harus pergi? Jika aku memalukan, tidakkah kau seharusnya yang lebih memalukan, karena kalian berdua tampak sangat dekat. Dia bisa saja mengatakan kepadamu kemana dia ingin pergi." Ucap Nadia.

"Apakah kau tidak tahu siapa aku?" Teriak Viola dengan wajah yang tampak sangat marah, seolah ingin mencakar wajah Nadia.

"Aku tidak peduli siapa dirimu, apakah kau berasal dari status yang tinggi atau tidak, aku tetap tidak perduli. Kau tidak bisa begitu saja untuk memperlakukan aku seperti ini." Balas Nadia.

Nadia lalu berjalan pergi dari area itu dengan raut wajah yang tampak sangat marah. Dia berpikir orang seperti apa Viola itu. Awalnya dia berpikir bahwa Viola adalah orang yang baik yang bisa dengan mudah menjadi teman untuknya. Nadia tadinya pergi ke dapur karena dia merasa sangat lapar, tapi sekarang dia sudah tidak lapar lagi.

Beberapa saat kemudian, pintu istana terbuka dan tampak Kevin bersama dengan teman-temannya masuk ke dalam istana.

"Hai Nadia." Ucap semua teman Kevin.

"Hai." Balas Nadia dengan ekspresi datar diwajahnya.

"Aku harap kau tidak marah kepada kami." Ucap Melody.

"Aku tidak marah dengan kalian teman-teman." Balas Nadia.

Nadia lalu beranjak menatap kearah Kevin. Dia pun mendekat ke arah Kevin, kemudian bertanya kepadanya.

"Kevin, kemana saja kau pergi?" Tanya Nadia.

"Kenapa kau bertanya?" Balas Kevin dengan wajah bingung.

"Kevin, kau...."

Nadia tidak menyelesaikan ucapannya, dia tampak sangat marah karena Kevin bukannya menjawab pertanyaannya, tapi dia malah berbalik bertanya padanya.

Tiba-tiba Viola datang mendekat ke arah mereka.

"Wow Viola, kau ada di sini." Ucap Sophia. "Kevin, kenapa kau tidak mengatakan kepada kami bahwa Viola ada di sini?" Lanjut Sophia.

"Kevin, jika kau mau pergi, kau setidaknya mengatakan kepada seseorang kemana kau akan pergi." Ucap Nadia kesal.

"Aku yakin Nadia tidak peduli kemanapun kau akan pergi juga." Ucap Viola yang berusaha memperkeruh hubungan Nadia dan Kevin.

"Hei kenapa kau menyebut namaku?" Teriak Nadia ke arah Viola dengan wajah yang tampak begitu marah.

"Benarkah? Apa aku menyebut namamu?" Ucap Viola yang mengejek Nadia.

"Apa yang terjadi di sini?" Ucap Jill yang menyadari bahwa tengah terjadi sesuatu antara Viola dan juga Nadia.

"Aku sudah menyiapkan makanan, ayo pergi dan makan." Ucap Viola lagi.

"Aku tidak lapar. Dan Kevin, aku tidak mau untuk terjebak masalah lagi. Nantinya jika kau mau keluar istana kemanapun itu, setidaknya katakan hal itu kepada seseorang." Ucap Nadia lalu kembali ke kamarnya.

"Apa yang terjadi?" Ucap semua orang yang tampak heran.

Bersambung....

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!