6. Keluar Istana

Keesokan paginya.....

Nadia merasa bahwa dirinya tengah menyentuh sebuah bantal yang sangat lembut. Awalnya dia merasa bahwa bantal itu sangat lembut, tapi pada akhirnya dia menyadari bahwa bantal itu tidak lembut lagi. Nadia pun mulai mengelus bantal itu secara terus menerus.

"Apa yang kau lakukan?" Ucap Kevin.

Nadia bangun, dan dia melihat Kevin yang tengah menatap kearah dirinya.

"Aaaahhhh...." Teriak Nadia.

Ternyata sejak tadi, Nadia terus mengelus wajah Kevin dengan kedua tangannya.

"Kenapa kau berteriak?" Ucap Kevin.

Nadia langsung menendang Kevin hingga membuatnya terjatuh dari atas tempat tidur.

"Kenapa kau mengambil keuntungan dari ku?" Ucap Nadia kesal.

"Keuntungan? Siapa yang mengambil keuntungan dari mu?" Ucap Kevin seraya bangun dari lantai.

"Bukankah kau berada di bagian tempat dimana aku seharusnya tidur." Ucap Nadia masih mengantuk.

"Hei Nadia, lihatlah dengan baik. Apakah tempat kau tidur itu adalah bagian dari tempat tidurmu? Kau lah orang yang datang kebagian tempat aku seharusnya tidur." Ucap Kevin menyeringai.

"Aku tidak mungkin melakukannya bukan?" Ucap Nadia yang tidak yakin akan apa yang sudah dilakukannya.

"Kenapa kau bertanya kepadaku? Biarkan aku memberitahukan sesuatu kepadamu Nadia. Aku tidak mau menyentuh mu. Jadi kau tidak perlu khawatir tentang hal itu." Ucap Kevin yang terlihat sedikit kesal.

Kevin lantas berbalik.

"Aku pergi." Ucap Kevin lalu keluar dari dalam kamar.

Setelah Kevin keluar dari dalam kamar, Nadia baru menyadari bahwa dia lupa jika dia tidak tidur sendirian tadi malam dan dia malah menendang Kevin karena baginya Kevin memang pantas mendapatkan tendangan itu darinya.

Kevin berjalan keluar di ruang tamu. Dia lalu memanggil Amanda.

"Amanda pergi dan temani Nadia." Ucap Kevin saat duduk di sofa ruang tamu.

"Baiklah pangeran." Balas Amanda.

Amanda lalu masuk ke dalam kamar untuk menemui Nadia.

"Nadia, apakah kau sudah bangun?" Tanya Amanda.

"Iya, aku sudah bangun." Jawab Nadia.

"Bagaimana malam mu?" Tanya Amanda lagi.

"Semuanya berlalu dengan baik. Oh ya, aku mau mandi dulu. Aku akan selesai dengan cepat." Ucap Nadia.

"Baiklah, aku akan menyiapkan gaun untuk kau kenakan." Ucap Amanda beranjak menuju lemari memilih pakaian yang akan digunakan Amanda.

Nadia sendiri, lalu bergegas pergi ke dalam kamar mandi. Sementara Amanda tengah sibuk mempersiapkan pakaian untuknya.

Beberapa saat kemudian....

Nadia keluar dari dalam kamar mandi setelah menyelesaikan ritual mandinya. Dia pun bergegas untuk mulai mengenakan pakaiannya.

"Amanda di mana pangeran?" Tanya Nadia..

"Pangeran sudah keluar istana." Jawab Amanda.

"Apakah dia mengatakan padamu kemana dia pergi?" Tanya Nadia lagi.

"Tidak, pangeran tidak mengatakan apapun." Balas Amanda.

"Hmmm... Baiklah." Balas Nadia.

"Ayolah, jangan terlalu sedih seperti itu. Pangeran akan kembali tidak lama lagi." Ucap Amanda yang menggoda Nadia.

"Siapa yang sedih? Aku tidak sedih." Balas Nadia kesal.

"Baiklah, jika kau berkata seperti itu." Ucap Amanda tersenyum.

"Apa rencana yang ingin kau lakukan hari ini?" Tanya amanda lagi.

"Aku tidak yakin, tapi yang paling penting adalah aku harus menulis surat untuk Mamaku." Ucap Nadia.

"Ah benar, ingat kau belum menulis surat itu kemarin." Balas Amanda.

"Iya, jadi aku mau menurut surat itu dan mengirimkan nya pada Mama hari ini." Ucap Nadia.

"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar." Ucap Amanda.

Amanda lalu pergi keluar dari dalam kamar dan dengan cepat kembali dengan membawa sebuah pena dan kertas. Setelah itu Nadia mulai menulis sebuah surat kepada Sang Mama. Dalam surat itu, Nadia menjelaskan pada Mamanya, apa yang terjadi kemarin dan bagaimana sosok pangeran vampir yang ternyata, dia adalah orang yang baik.

Surat Nadia pun segera dikirimkan oleh seseorang yang bertugas di istana vampir. Saat tiba di dunia manusia, Becca lah yang menerima surat itu. Becca bergegas berlari menuju Mamanya memberitahukan tentang surat itu.

"Mama Nadia menulis sebuah surat." Ucap Becca dengan berteriak.

"Benarkah?" Ucap Sang Mama bernafas lega. "Mama sangat khawatir dan begitu takut. Sejak kemarin Mama berpikir, kenapa dia belum juga menulis surat untuk Mama akhir-akhir ini."

Selama ini, Nadia memang rutin menulis surat untuk Sang Mama. Setidaknya Nadia menulis surat setiap satu minggu sekali.

"Becca, bacalah surat itu untuk Mama." Titah Sang Mama.

"Baik." Balas Becca.

Becca pun kemudian mulai membaca surat yang dikirimkan Nadia kepada mereka itu.

"Ma, apakah Mama yakin ini adalah surat yang ditulis Nadia?" Karena dalam surat ini mengatakan bahwa pangeran vampir itu adalah orang yang baik." Ucap Becca yang tampak tidak percaya dengan apa yang dibacanya.

"Becca, ini adalah tulisan tangan Nadia sendiri. Jadi ini memang pasti dari dirinya. Mama sangat senang bahwa dia tetap dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Sang Mama tersenyum lega seraya memeluk surat itu.

 

Sementara itu kembali di dunia vampir....

Setelah menulis surat itu, Nadia tidak tahu harus melakukan hal apalagi. Dia merasa begitu bosan, kemudian dia berjalan menuju ruang tamu.

"Hai Nadia!" Ucap Melody yang memanggil Nadia.

Ternyata teman-teman Kevin sudah ada di dalam istana itu.

"Jika kalian mencari Kevin, dia tidak ada disini." Ucap Nadia.

"Kami tahu dia tidak ada di sini. Dia sedang bersama para laki-laki melakukan suatu pekerjaan." Ucap Jill.

"Jadi kenapa kalian di sini?" Tanya Nadia bingung.

"Apakah kami tidak boleh datang kemari dan mengunjungi mu?" Ucap Sophia.

"Ayo kita pergi berbelanja." Ucap Melody.

"Belanja?" Tanya Nadia bingung.

"Iya." Balas mereka secara berbarengan.

'Apakah aku harus pergi? Aku belum pernah keluar dari dalam istana sejak aku datang kemari. Disamping itu memang sangat membosankan berada di dalam istana ini. Aku bisa mengambil kesempatan dan melihat keluar ke dunia vampir ini.' pikir Nadia.

"Nadia, apakah kau baik-baik saja?" Ucap Sophia yang melambaikan tangannya di wajah Nadia.

"Maaf." Ucap Nadia malu.

"Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah kau akan ikut atau tidak?" Tanya Melody.

"Baiklah, aku ikut." Balas Nadia mantap.

Kemudian mereka semua pun pergi keluar dari dalam istana.

Itu adalah pertama kalinya bagi Nadia untuk keluar dari dalam istana dan tempat itu ternyata sangat indah. Nadia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengagumi tempat itu. Namun yang membuat Nadia merasa aneh adalah semua orang menatap kearah dirinya. Nadia merasa seluruh bulu di tubuhnya bergidik ngeri. Nadia berpikir kenapa semua orang melihat ke arahnya. Apakah ini adalah pertama kalinya mereka semua melihat seorang manusia.

"Nadia, tetaplah di samping kami dan jangan berpikir untuk menjauh sedikitpun, oke." Ucap Jill.

"Ini bukanlah dunia manusia. Kau belum menjadi seorang putri, jadi kau harus sangat berhati-hati." Sambung Melody.

"Baiklah, terima kasih." Ucap Nadia.

Bersambung....

Terpopuler

Comments

Na

Na

Shopping Belanja Belanja Emang Selalu Menyenangkan Krn Biasanya Sekaligus Cuci Mata, Jalan2 & Kuliner 🤑😁

2023-01-10

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!