Hari pernikahan itu pun tiba di mana Nadia akan menikah dengan pangeran vampir. Nadia tengah bersiap-siap. Becca tampak masuk kedalam kamarnya.
Becca langsung meminta maaf pada Nadia dengan menangis dan Nadia pun memeluk dirinya. Nadia meminta Becca berjanji padanya untuk menjaga Sang Mama. Setelah beberapa saat, Mama mereka kemudian masuk ke dalam kamar dan langsung memeluk Nadia. Dia juga tampak menangis tersedu-sedu.
"Nadia, jika kau tiba di sana dengan selamat ingatlah untuk menulis surat untuk Mama. Mama sangat mengharapkan hal itu."
"Ma, jangan khawatir. Aku sudah berjanji kepada Mama. Aku akan menulis sebuah surat untuk Mama."
"Apakah kalian sudah selesai? Ini sudah waktunya." Ucap seseorang dari utusan pangeran vampir.
"Mama, jangan menangis." Ucap Nadia
Mereka semua lalu melakukan beberapa ritual pernikahan dan Nadia melihat mamanya dan Becca menangis. Kemudian semuanya tampak buram sebelum Nadia menyadari hal itu, ternyata dia sudah berada di dunia vampir. Pakaiannya bahkan sudah berganti. Kemudian Nadia melihat seseorang pria misterius menunggu dirinya.
Nadia pun mengikuti pria misterius itu. Dan dia melihat orang-orang lainnya, mereka tampak begitu bahagia.
Nadia pun lantas mencoba untuk bersikap tenang. Dia melihat istana yang sangat besar dan indah. Bahkan Nadia belum melihat bagaimana dalam dari istana itu. Tapi Nadia sudah bisa yakin bahwa istana itu sangat indah hanya dengan melihat dari luar saja.
"Ayo masuk." Ucap pria misterius itu.
Kemudian Nadia mengikuti pria itu dan masuk ke dalam istana. Nadia melihat para pelayan, mereka tampak berbaris menunggu untuk menyapa dirinya.
"Selamat datang...." Ucap semua pelayan itu.
Ini adalah pengalaman pertama bagi Nadia diperlakukan seperti seorang putri. Pria yang diikuti oleh Nadia tadi kemudian berbicara kepada semua pelayan meminta mereka untuk pergi
Kemudian pria itu menghentikan seorang pelayan.
"Amanda tunggu di sini."
Gadis itu lantas berhenti berjalan.
"Nadia, ini akan menjadi pelayanmu. Kau bisa memerintah nya kapanpun."
"Pelayan ku?" Tanya Nadia.
"Iya, Amanda bawa Nadia pergi ke kamarnya dan persiapkan dia." Ucap pria itu.
"Baik Tuan."
Pelayan bernama Amanda itu lantas melihat kearah Nadia, dan kemudian mengajak Nadia untuk mengikuti dirinya. Nadia pun mengikuti langkah pelayan itu menuju sebuah kamar.
"Ini akan menjadi kamar mu mulai sekarang."
"Baiklah, terima kasih." Balas Nadia.
"Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil saja aku." Ucap Amanda lagi.
"Baiklah." Balas Nadia.
Amanda pun pergi dan ini adalah pertama kalinya bagi Nadia melihat sebuah kamar yang begitu besar. Nadia lalu melihat sekeliling kamar dia duduk di atas tempat tidur yang sangat nyaman itu.
'Apa yang terjadi di sini? Apakah mereka mencoba membuatku merasa nyaman sebelum mereka membunuhku. Baiklah, jika memang seperti itu, maka biarkan aku merasa nyaman sebelum aku mati.' Ucap Nadia dalam hati.
Nadia lalu melihat sebuah tombol alarm di dinding, dia lantas memencet tombol itu.
'Apa? Aku tidak melakukan apapun.' Ucap Nadia dalam hati yang melihat tiba-tiba Amanda masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa.
"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Amanda.
"Aku baik." Balas Nadia.
"Lalu kenapa kau memanggil ku?"
"Aku memanggilmu? Aku tidak memanggilmu." Ucap Nadia bingung.
"Iya kau memanggil ku. kau memencet tombol alarm itu. Alarm itu adalah untuk memanggil aku jika terjadi sesuatu yang berbahaya dan kau boleh memencet alarm itu."
"Oh aku mengerti, terima kasih karena sudah mengingatkan aku."
"Baiklah jika tidak ada apa-apa, aku akan pergi."
"Tunggu, ini adalah pertama kalinya bagi diriku berada di sini. Kenapa di sini sangat sunyi dan dimana pria yang seharusnya menikah denganku itu?"
"Kau bertanya terlalu banyak disaat yang bersamaan. Aku hanya akan menjawab 1 pertanyaan. Jadi, apa pertanyaan yang ingin kau tanyakan?"
'Pertanyaan apa yang seharusnya aku tanyakan? Tempat ini sangat sunyi dan tidak hanya itu, aku belum melihat pria yang seharusnya menikah denganku. Mungkin aku harus bertanya tentang dimana dia.'
Amanda lantas melambaikan tangannya di depan wajah Nadia.
"Permisi, apakah kau baik-baik saja?"
"Maaf, aku tengah berpikir. Aku ingin menanyakan kepadamu dimana pria yang menikah denganku itu. Aku belum melihatnya sejak aku tiba di sini."
"Oh jangan khawatir, kau akan melihat pangeran nanti."
"Baiklah terima kasih, dan bisakah aku menulis surat?"
"Bukankah aku sudah berkata, hanya satu pertanyaan saja."
"Ayolah, aku tahu kau berkata hanya satu pertanyaan. Tapi aku mau menulis surat untuk mamaku dan aku berjanji kepada Mama, saat aku tiba di sini, aku akan menulis surat. Mama pasti sangat khawatir kepadaku sekarang."
'Kasihan sekali gadis ini. Dia akan menjadi salah satu dari banyak istri yang mati sebelum bisa melihat pangeran.' pikir Amanda.
"Baiklah, aku akan membantu mu menulis surat dan aku akan memberikan kepada penjaga yang akan mengirimkan surat itu kepada orang tua mu."
"Terimakasih banyak, kau tidak tahu apa yang sudah kau lakukan kepadaku sekarang ini sangat berarti. Aku sangat menghargai nya." Ucap Nadia senang.
'Kenapa dia berterima kasih kepadaku? Aku hanya melakukan semua hal kecil ini dan dia berterima kasih kepada ku?' pikir Amanda.
"Siapa namamu?" Tanya Nadia.
"Amanda."
"Namaku Nadia."
"Nadia, apa artinya?" Tanya Amanda.
"Itu artinya harapan."
"Itu adalah nama yang bagus dan mempunyai arti yang bagus juga."
"Terima kasih, kau adalah orang yang pertama selain keluargaku yang mengatakan hal itu kepadaku."
"Benarkah?" Tanya Amanda tampak tidak percaya.
"Iya."
"Baiklah, aku pergi dulu. Dan cepatlah tulis surat mu."
Sebelum Amanda pergi, dia memperingatkan kepada Nadia agar Nadia tidak berjalan terlalu jauh atau apapun yang akan terjadi padanya, bukanlah kesalahan orang lain. Tapi kesalahan Nadia sendiri. Amanda juga mengatakan bahwa sekarang Nadia berada di dunia vampir, yang dimana semuanya jauh berbeda dengan dunia manusia.
Nadia pun bertanya-tanya apa yang dimaksudkan oleh Amanda. Tapi Amanda tidak menjelaskan apapun lagi, dan langsung pergi begitu saja.
Hal itu membuat Nadia semakin bingung. Nadia bahkan tidak yakin apakah mereka akan mengirimkan suratnya kepada Sang Mama atau tidak. Tapi apa yang bisa dilakukan Nadia? Dia hanya bisa menunggu saja.
------------
Satu bulan sudah berlalu....
Nadia, belum juga melihat pangeran vampir itu. Nadia terus berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa pangeran itu belum juga menunjukkan dirinya.
Satu bulan itu terasa begitu membosankan bagi Nadia karena tidak ada yang bisa dilakukan. Dalam satu bulan itu, Nadia semakin dekat dengan Amanda, mereka sudah berteman baik. Nadia bahkan tidak pernah keluar dari dalam istana sejak dia tiba dan istana itu sangat sunyi.
Tak ada yang bisa dilakukan Nadia. Dia hanya bisa berkeliling di dalam istana dan menghabiskan waktunya mengobrol dengan Amanda. Seperti yang dilakukan Nadia hari ini.
Dia tengah duduk di dalam kamar bersama Amanda membaca buku sembari mengobrol. Tapi, setiap kali Nadia bertanya tentang keberadaan pangeran, Amanda selalu berkata bahwa pangeran akan segera datang.
Tiba-tiba sebuah bel berbunyi.
"Bel apa itu?" Tanya Nadia.
Itu adalah pertama kalinya bagi Nadia mendengar suara bel seperti itu.
"Pangeran sudah datang." Ucap Amanda bergegas.
"Tunggu dulu, apakah kau yakin?" Tanya Nadia gugup.
"Iya, kapanpun pangeran datang, bel itu akan berbunyi. Aku harus pergi sekarang dan menyapa pangeran."
"Tunggu dulu, bagaimana denganku? Apakah aku harus pergi?"
"Tidak, pangeran yang akan datang bertemu dengan mu sendiri, karena kau sudah menunggu lama untuk bisa bertemu pangeran."
Amanda pun pergi meninggalkan Nadia yang tampak begitu gugup secara tiba-tiba.
"Apakah aku harus bahagia karena dia kembali atau takut. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini." Ucap Nadia.
Nadia benar-benar berubah gugup. Disisi lain, ia merasa lega karena pada akhirnya pangeran datang dan dia akan segera bertemu dengannya. Tapi, disisi lain, Nadia juga sedikit takut jika semua rumor yang beredar tentang pangeran yang membunuh semua istrinya itu benar.
"Apakah aku akan mati hari ini?" Ucap Nadia dengan wajah khawatir.
-----------
"Pangeran, selamat datang kembali. Nadia sudah menunggu anda."
"Dia adalah wanita pertama yang menunggu diriku dan tidak membunuh dirinya sendiri." Ucap pangeran vampir itu tersenyum.
Pangeran vampir itu lantas langsung bergegas menuju kamarnya untuk menemui sang istri yang sudah setia menunggu kedatangannya selama satu bulan ini. Saat tiba di kamar, Nadia tampak tengah melamun, dia bahkan tidak menyadari kapan pangeran tiba di dalam kamar.
"Hey...." Ucap pangeran itu.
Nadia melihat pangeran vampir itu untuk pertama kalinya. Pangeran vampir itu sangat tampan, usianya terlihat sama seperti Nadia. Matanya sangat indah, tubuhnya tegap, meski kulitnya terlihat sedikit pucat. Pesona pangeran vampir itu benar-benar membuat Nadia terdiam. Nadia tidak pernah menyangka bahwa pangeran vampir yang dibicarakan banyak orang selama ini akan setampan ini.
'Kenapa orang orang berkata bahwa pangeran itu adalah pria tua?' pikir Nadia.
"Kenapa kau melihat aku seperti itu?" Tanya pangeran.
"Tidak apa-apa." Balas Nadia.
"Siapa namamu?" Tanya pangeran vampir itu.
"Namaku Nadia yang artinya harapan."
"Nama itu sangat bagus." Ucap pangeran dan duduk di atas tempat tidur.
Meski ragu, Nadia mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya pada pangeran vampir itu.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Nadia.
"Aku Kevin."
"Kevin....! Nama yang sangat bagus."
"Terimakasih."
Tiba-tiba, tanpa aba-aba pangeran itu langsung menarik Nadia ke atas tempat tidur dan dia langsung berada di atas tubuh Nadia. Jantung Nadia berdegup begitu kencang. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan pangeran vampir itu padanya.
"A..... apa yang kau lakukan?" Ucap Nadia yang mulai ketakutan.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Nur Yani
hyoo...belah duren ya..🤣🤣
2022-12-26
0