"Nadia... Apa yang kau pikirkan?" Ucap Melody melambaikan tangannya didepan wajah Nadia.
"Maaf." Ucap Nadia.
Nadia tadinya tengah melamun. Dia kemudian mulai menceritakan tentang kisah hidupnya kecuali bahwa fakta dimana dirinya adalah anak adopsi.
Nadia mengatakan bahwa Papa nya meninggal saat dia berusia 12 tahun. Setelah kepergian Papa nya, kehidupannya dan keluarganya menjadi serba sulit. Bahkan Nadia harus mengubur impiannya menjadi dokter karena Sang Mama yang tak mampu membiayainya.
"Aku membiarkan Mama menggunakan uang untuk melanjutkan sekolah adikku." Ujar Nadia.
"Benarkah? Kenapa kau menyerahkan impian mu demi adikmu?" Tanya Demian.
"Kau tidak akan mengerti. Jika kau punya saudara, kau pasti akan mengerti dengan perasaan yang aku rasakan itu." Balas Sherly.
"Apakah kau sedih karena sudah menyerah dengan mimpimu itu?" Tanya Jill.
"Aku akan jujur padamu, awalnya aku merasa sedikit sedih. Tapi aku pulih dengan cepat. Dan aku pikir, itu memang yang terbaik untukku." Ujar Nadia.
"Ah, aku mengerti." Balas Jill.
Nadia dan para sahabat Kevin itu mengobrol selama berjam-jam. Namun dia tidak menceritakan fakta dimana dirinya merupakan anak adopsi. Ia pikir bahwa hal itu tidak perlu sampai diceritakan pada orang lain. Hal itu hanya untuk keluarganya saja.
Nadia merasa sangat bahagia karena dia sebelumnya belum pernah punya teman yang bisa diajak bicara seperti mereka semua.
Setelah puas mengobrol, para sahabat Kevin pun berpamitan untuk segera pulang.
"Kami akan pergi sekarang." Ucap Edrick.
"Baiklah kalau begitu." Balas Nadia.
Semua teman Kevin lantas berdiri dan berjabat tangan dengan Nadia dan berpamitan pergi. Nadia lalu kembali duduk di ruang tamu, kali ini ditemani Amanda, pelayannya.
"Apa kalian tahu, Kevin benar-benar berubah. Meski sepertinya dia sendiri belum menyadari perubahan pada dirinya" Ucap Melody saat berada dalam perjalanan pulang.
"Apa maksudmu?" Tanya Sophia dan Jill yang terlihat bingung.
"Kalian lihat saja, Kevin tidak tinggal di istana untuk waktu yang lama. Tapi sekarang dia selalu ingin berada di istana, dan tidak mau pergi jauh. Saat kita bersama-sama, dia selalu tersenyum." Ujar Melody.
Semua teman Kevin pun menganggukkan kepala mereka. Mereka semua setuju dengan apa yang dikatakan Melody. Selama ini Kevin memang tidak pernah betah berada di istananya. Dia akan lebih senang berada di luar bersama teman-temannya. Namun, sejak kehadiran Nadia dia jauh lebih senang berada di istana.
Sikap Kevin pun berubah drastis. Jika selama ini dia lebih cenderung cuek, dingin dan sangat jarang untuk tersenyum, namun saat ini tiada hari tanpa senyuman di wajah Kevin.
"Baiklah, kita akan bertanya pada Kevin nanti saat dia sendirian." Ucap Demian.
Mereka semua pun setuju.
Sementara di dalam istana, Nadia kali ini duduk ditemani oleh Kevin. Keduanya tengah mengobrol ringan.
"Ahhh!! Aku lelah sekali." Ucap Nadia seraya meregangkan otot lengannya.
"Apa kau mau aku pijit?" Tanya Kevin.
"Apa kau bisa melakukannya?" Balas Nadia yang balik bertanya.
"Aku sangat bisa melakukannya." Balas Kevin.
Kevin lalu mengajak Nadia untuk pergi ke kamar. Mereka berdua lantas meninggalkan ruang tamu beranjak menuju kamar tidur.
Nadia masih tidak yakin tentang Kevin yang bisa memijitnya.
"Kenapa kau tidak percaya padaku?" Tanya Kevin.
"Aku belum pernah melihatmu melakukannya sebelumnya." Balas Nadia.
"Kalau begitu tidak perlu bicara panjang lebar. Berbaringlah, biarkan aku melakukannya untuk mu. Kau akan merasa lebih nyaman setelah aku memijit mu." Ucap Kevin.
Nadia pun setuju. Dia lantas berbaring diatas tempat tidur. Dia membelakangi Kevin. Kemudian dengan perlahan, Kevin mulai memijat punggung Nadia.
Beberapa saat mendapatkan pijatan dari Kevin, Nadia merasa tubuhnya begitu nyaman hingga membuatnya sampai menutup matanya.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Kevin.
"Aku sangat menyukainya. Ini terasa nyaman sekali." Balas Nadia.
Kevin terus memijat punggung Nadia dengan perlahan. Sementara Nadia sendiri mulai merasa mengantuk karena pijatan yang diberikan Kevin membuatnya merasa begitu rileks. Kevin pun tersenyum.
Entah kenapa, setelah cukup lama memijat punggung Nadia, Kevin merasakan ada perasaan aneh pada dirinya. Dia terus berusaha untuk menahan gejolak perasaan aneh yang ada didalam dirinya yang berusaha keluar dan seolah ingin meledak.
"Nadia, apakah kau tidak takut jika aku mungkin akan mengambil keuntungan darimu?" Ucap Kevin.
"Aku tidak takut karena aku akan meninju wajahmu sampai kau merasakan sakit yang teramat dalam jika kau sampai menyentuh aku dengan tujuan yang aneh." Balas Nadia.
Kevin tiba-tiba tertawa.
"Jika seperti itu aku ingin melihat kau mencobanya." Ucap Kevin.
"Kau!!" Pekik Nadia.
Nadia yang kesal langsung terduduk dan menatap ke arah Kevin.
"Apa masalah mu?" Tanya Nadia kesal.
Secara tiba-tiba, Kevin langsung memegang tangan Nadia dengan sangat erat. Nadia sendiri bahkan tidak tahu apa yang tengah terjadi. Kevin mendorongnya sampai tersudut di tembok.
Mata Kevin menatap Nadia sangat tajam. Pegangan tangannya sangat erat bahkan sampai membuat Nadia meringis kesakitan. Tatapan mata Kevin tampak begitu berbeda. Ia seolah bukan dirinya sendiri.
"Kevin, apa yang kau lakukan?" Ucap Nadia meringis kesakitan.
"Apa kau takut sekarang?" Ucap Kevin menyeringai.
Nadia tidak tahu harus bertindak seperti apa. Dia ingin melepaskan dirinya dari cengkraman Kevin. Tapi Kevin begitu kuat hingga membuat Nadia bahkan tidak bergerak sedikitpun.
"Kevin, lepaskan aku. Ini sakit." Ucap Nadia yang meringis kesakitan.
"Biarkan aku katakan padamu, kau itu lemah. Pria manapun bisa mengambil keuntungan darimu." Ucap Kevin yang terus menatap Nadia.
Tatapan Kevin saat ini tampak seperti seekor serigala yang tengah mencengkram mangsanya.
"Aku hanya bercanda saat aku mengatakan bahwa aku akan memijat mu. Aku tidak menyangka bahwa kau akan setuju dan membiarkan aku melakukannya. Aku adalah seorang pria, dengan suara yang kau buat saat aku memijat mu, itu bisa menggoda pria manapun." Ucap Kevin lagi.
"Kevin, aku mengerti. Sekarang lepaskan aku." Pinta Nadia.
Kevin akhirnya melepaskan tangan Nadia.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kah katakan. Aku tidak membiarkan pria manapun menyentuh aku. Aku membiarkanmu menyentuhku karena kau terlihat begitu baik dan juga polos." Ujar Nadia seraya mengusap pergelangan tangannya yang masih terasa sakit itu.
Kevin hampir saja tertawa setelah mendengar ucapan Nadia.
"Aku polos? Bagaimana kau bisa menganggap aku sebagai seseorang yang polos?" Ucap Kevin.
Nadia memang berpikir bahwa Kevin adalah sosok pria yang baik dan polos. Semua itu terlihat dari sikap Kevin dan raut wajahnya. Apalagi selama ini Kevin memang selalu bersikap baik padanya. Meski baru beberapa hari saja Nadia mengenal Kevin, namun ia sangat yakin bahwa Kevin adalah vampir yang sangat baik.
Namun ucapan Kevin kali ini sontak membuat Nadia menjadi bingung. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Kevin padanya.
Sementara itu, Kevin sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri. Tadinya dia masih bisa bersikap tenang dan biasa saja saat awal-awal dia mulai memijat Nadia. Namun suara hembusan nafas Nadia yang terdengar di telinga Kevin, entah kenapa membuat suatu perasaan yang ada di dalam dirinya ingin meledak keluar dan membuatnya bersikap dengan begitu berbeda pada Nadia.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments