Saat ini Pramayu sudah berada di rumahnya diantar oleh Gavin mengetahui pingsan di tempat usahanya. "Sayang, bangun. Duh, kenapa jadi makin rumit gini, sih?" kata Gavin yang masih saja mengeluh dengan semua keadaan yang dia sebabkan.
"Iya, kepalaku pusing sekali."
"Kenapa sampai pingsan?"
"Tadi lihat ada kuntilanak di sana. Gavin ... kamu jemput aku? Kamu masih sayang sama aku, kan?"
"Ah, jangan bahas gaib, deh. Gue pernah bilang soal Rania yang selalu saja membahas hal gaib dan itu benar-benar mengganggu pikiran gue. Kalau lu mau ikutan begitu, ya, udah, gue nggak bisa lama-lama bareng orang halu."
Gavin sengaja mengatakan hal itu untuk mencari masalah dan juga mencari pembelaan jika suatu hari nanti dia meninggalkan Pramayu. Tentu saja Pramayu takut ditinggalkan dalam kondisi hamil seperti itu.
"Eh, jangan dong, Sayang. Oh iya, gimana kerjaan kamu?"
"Kacau. Gue dapat pinjaman dari adik buat bayar biar nggak masuk penjara, tapi .... gue nggak yakin masih bisa kerja di sana."
"Sayang, kalau kamu udah dapet pinjeman dari adek, udah. Nikah aja ama aku. Nanti kita jalani usahaku. Kamu bisa bilang kalau pindah kerja luar kota atau apalah, biar kita bisa bareng tiap hari, gimana? Nanti uangku juga uangmu, kan?" Perempuan itu begitu licik, mengiming-imingi Gavin dengan harta agar mau menikahinya.
Jelas saja hal tersebut menjadi pertimbangan yang baik bagi Gavin yang tidak ada pilihan lain. Lagi pula selama ini Gavin mondar-mandir menggunakan mobil adiknya. Kalau bersama Pramayu, dia sudah punya mobil pribadi meski city car. Beda dengan Rania yang motor saja sudah dijual, hidup susah dan mlarat. Jelas Gavin memilih dengan Pramayu.
"Wah, ide bagus, Sayang. Tapi, satu lagi .... gue nggak ada duit buat nikahan. Tahu sendiri, lagi ada kasus begini, mana ada uang lebih," ujar Gavin kembali mempermasalahkan uang. Sepertinya memang lelaki itu mokondo (modal konnnn doang) hanya karena Pramayu sudah hamil anaknya, mau tidak mau jadi menanggung semua.
"Ya, udah. Pakai uangku aja asal kita nikah. Kasihan ibuku kalau tahu aku hamil nggak ada suami. Minggu ini juga kamu resign, biar kita bisa segera nikah."
"Nikah gimana? Agama kita aja beda." Gavin kembali mencari alasan, sebenarnya dia tidak mau terikat.
"Kita bisa nikah siri. Nanti aku yang urus semua. Mau, ya? Udah nggak ada alasan lagi, kan? Jangan tinggalin aku seperti Rania, ya."
Pramayu bergelayut manja di lengan Gavin. Dia benar-benar merasa memenangkan Gavin. Padahal lelaki tak berguna itu hanya akan membuat masalah saja. Mereka berdua seperti pasangan sempurna bagi tumbu ketemu tutup. Klop!
...****************...
Malam harinya, Gavin tidak bisa menginap di rumah Pramayu karena masalah yang saat ini terjadi di kantor sudah didengar orang tuanya. Tentu Gavin takut pada ayahnya yang bisa marah mengamuk dirinya, tetapi ibunya selalu membela, membuat Gavin tidak bisa dewasa meski usia sudah kepala empat.
"Sayang, please dong tidur sini."
"Gue harus pulang. Udah dulu, ya."
Gavin pun pergi meninggalkan rumah Pramayu dengan naik ojek online karena tadi ke tempat usaha Pramayu naik ojek juga. Gavin menyetir mobil kekasihnya untuk pulang ke rumah. Sekarang, Pramayu sudah sendirian di rumah. Rasa ngeri kembali menyeruak mengingat kejadian tadi siang di tempat usahanya.
"Duh, napa gue jadi merinding gini?" gumam Pramayu yang segera menutup pintu rumahnya dan mengunci segera.
Tentu Pramayu merasa khawatir mengingat kejadian itu karena masih takut dengan sosok penampakan yang ada tadi siang. Benar saja, Bima sudah memerintahkan para makhluk halus yang berada di sekitar kehidupan sehari-hari Pramayu untuk mengganggunya. Tentu para makhluk halus yang diperintahkan oleh Bima langsung mengiyakan dan mau untuk melakukan seperti apa yang dikatakan oleh iblis itu.
Malam makin larut, sekitar pukul satu dini hari, Pramayu mendengarkan ada suara berisik di dapur. Jelas itu bukan manusia. Tidak mungkin ada manusia yang masuk ke rumahnya setelah pagar ditutup dan pintu dikunci. Jantungnya jadi berdebar-debar merasa takut karena suara demi suara kembali terdengar.
"*Ayu ...."
"Pramayu ...."
"Hii hii hii hiii* ....."
Deg!
"Astaga ... apa itu?"
Pramayu ketakutan. Dia mendengar suara lebih dari satu. Bisa jadi Mbak Kun dan makhluk lainnya. Pramayu mencoba untuk menghubungi Gavin, tetapi sama sekali tidak bisa dihubungi karena ponsel sudah dimatikan saat sampai di rumah.
"Duh, kenapa dimatiin, sih?! Kenapa kalau lagi penting gini malah nggak bisa dihubungi!!"
"*Ayu ...."
"Mau tidur denganku*?" Suara ngebass dan besar terdengar berat di samping kanan Pramayu.
Seketika perempuan itu kesulitan bergerak karena saking ketakutannya dan tidak bisa menengok ke samping kanan karena tahu ada sesuatu yang berada di sana. Ternyata Om G ada di samping kanan dengan wujud asli yang menakutkan membuat Pramayu ketakutan setengah mati karena bisa melihat dari ujung ekor matanya sebelah kanan.
"Suka ikeh-ikeh kemochi, kan? Ayo sama aku. Hua ha ha ha ha ...."
Om G itu memegang bahu Pramayu. Membuat perempuan itu teriak dan seketika pingsan. Pramayu tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya.
Gavin sudah sampai di rumah. Saat hendak masuk ke dalam, Gavin mendengar suara perempuan menangis sekilas. Dia mengabaikan hal itu dan tetap saja berjalan santai. Semua penghuni di rumah itu sudah terlelap dan hanya Gavin yang baru saja pulang pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan juga ganti pakaian.
Saat itu, suara tangisan perempuan terdengar semakin nyata seolah-olah suaranya mengikuti ke mana langkah kaki Gavin. "Siapa, sih, yang nangis? Gue capek, tahu!"
Gavin masuk ke kamar kosong yang biasanya dia gunakan untuk tidur kalau sedang merasa kesal dan ingin sendiri. Kamar itu di belakang dan dekat dengan kamar mandi. Suara tangisan perempuan itu kembali terdengar begitu nyaring sehingga mengganggu Gavin yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Gavin sebenarnya bukan merupakan orang yang pemberani karena dia juga sering merasa takut kalau Rania dahulu menceritakan ada sesuatu yang terlihat. Maka dari itu Gavin tidak suka membahas hal gaib. Namun saat ini sosok Mbak Kun berbaring di samping Gavin. Seketika tubuh Gavin tidak bisa digerakkan karena ketakutan. Suara tangisan itu semakin nyata terdengar. Gavin tidak bisa mengelak dan tidak bisa berlari. Mbak Kun menangis di sampingnya.
"Huu huu huu .... Gavin ... kenapa kamu jahat seperti pria lain? Kenapa kamu menyusahkan banyak wanita. Hiks ... hiks ... hiks .... Orang seperti kamu harusnya mati! Mati dicekik!"
Suara Mbak Kun yang awalnya menangis, langsung berubah menjadi ganas. Mbak Kun hendak menyekik leher Gavin dan membuat lelaki mokondo itu pingsan seketika karena ketakutan. Terlihat Gavin sampai mengompol di celana karena ketakutan dan langsung tidak sadarkan diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Kucing Putih
😂😂😂😂😂😂 dasar manusia NDA ada ahlak tu yg dua
2022-12-28
2
Elmaz
wjwkwkwkwj....
2022-12-27
1