Harapan untuk Masa Depan

Bima tersenyum menatap Rania. Dia tak mau ada makhluk gaib mengganggu Rania dan Aira. Bima melakukan hal ini karena tidak setiap saat bisa bersama dengan Rania dan Aira. Bima juga memiliki hal lain yang harus dikerjakan karena sebenarnya iblis itu menguasai banyak orang rakus dan serakah yang menganut pesugihan. Hanya saja, sama sekali tidak ada di benak Bima untuk mempengaruhi atau memperdaya Rania.

“Kalau bukan karena janjiku pada Raden Sosro, mungkin aku tidak akan menemuimu, Rania. Ini semua sudah suratan takdir dan aku akan berusaha yang terbaik untuk menolongmu. Jangan pernah merasa sendirian dan jangan putus asa terhadap kehidupan ini. Masa depanmu pasti akan jauh lebih baik daripada sekarang, jika kamu tetap mau berusaha.” Bima mengatakan itu dengan lirik meski saat ini Rania belum bisa mendengar perkataan Bima karena lelaki iblis itu tidak menampakkan wujud atau suara pada Rania.

Rania sebagai seorang perempuan yang memiliki kelebihan melihat makhluk gaib tentu saja energi dan kekuatannya akan terserap saat melihat atau mendengar makhluk gaib secara langsung. Bima sengaja memberi benteng rumah itu agar tidak banyak yang mengganggu Rania dan Aira agar bisa mengumpulkan tenaga terlebih dahulu dan memulihkan energi yang ada. Bima bersabar sampai usia bayi tiga bulan, Bima baru bisa berkomunikasi dengan Rania.

Sore harinya, Mbak Endah masuk ke kamar Rania dan mengatakan hal buruk. “Eh, Rania. Inget, ya, uang empat juta itu pinjeman. Kamu kalau udah bisa jalan-jalan normal, cepetan pergi cairkan jamsos apa gitu yang kemarinnya kamu cerita! Inget, uangnya buat ganti!”

“Iya, Mbak.”

“Terus satu hal lagi, aku ini berjasa besar sama kamu. Jadi jangan seenaknya sendiri, paham? Emang Gavin itu nggak tahu diri dan nggak mampu biayai kamu, makanya nggak usah diharap lagi. Malu-maluin aja!”

“Maaf, Mbak. Aku juga nggak nyangka jadinya begini.”

“Lah, kamu itu gila! Udah prewedding, udah syukuran di sini, udah boyongan balik ke Jakarta. Ngapain kamu mau dipulangin ke Semarang? Nggak dibawain duit pula. Harusnya kamu mikir, jangan mau! Nanti apa kata tetangga?!”

Rania hanya tertunduk mendengar semua perkataan Mbak Endah. Sakit? Jelas. Tidak perlu dijabarkan semua hal yang terjadi, Rania sebenarnya sudah mengetahui isi hati keluarganya sehingga waktu itu menolak dirinya pulang. Namun apa daya saat ini tidak ada pilihan lain. Apalagi tempat yang dikontrak oleh Gavin untuk tinggal Rania juga berhantu. Gavin juga tidak memberi nafkah lagi. Rania belum bisa bekerja karena sehabis operasi sesar harus banyak istirahat. Rania memilih banyak diam menghadapi kakaknya yang bermulut kejam.

“Udah, sekarang kamu mikir aja ke depan mau gimana dengan bayimu itu,” pungkas Endah yang kemudian berlalu pergi.

Andai Rania bisa memilih pasti tidak mau merasakan penderitaannya saat ini. Namun dia sudah memilih untuk merawat Aira, jadi tidak mungkin dia menyerah saat ini. “Sabar, ya, Aira. Suatu saat nanti kamu pasti akan bahagia. Mami janji akan membahagiakan kamu dan memastikan kamu tidak akan kekurangan kasih sayang.”

Baru sehari Rania pulang di rumah, tetapi Endah sudah berkata-kata kejam. Memang hidup tidak mudah dan Endah yang membuat semua makin sulit bagi Rania. Tanpa sepengetahuan Rania, Endah berkomunikasi dengan Gavin. Bukan untuk membantu Rania, tetapi justru membuat keadaan semakin sulit. Endah membuat Rania dan Gavin semakin salah paham.

Malam harinya, Rania bisa istirahat dengan nyenyak karena Aira tidur lelap. Hanya saja menangis sekali di tengah malam karena buang air besar. Rania merasa senang bisa merawat Aira meski dengan penuh hati-hati dan takut karena bayi mungil berusia beberapa hari dengan berat tiga kilo itu terlihat begitu kecil.

Setelah mengganti popok Aira, Rania pun mencoba untuk tidur kembali. Beberapa kali dia ingin menghubungi Gavin, tetapi mengurungkan niatnya karena merasa Gavin tidak peduli. “Kalau aku terus menerus menghubungi dirinya, kapan dia akan tahu kalau apa yang dia lakukan sangat salah? Aku tidak bisa terus menerus mengemis cinta. Kasihan Aira kalau begini.”

Rania pun berdoa terlebih dahulu sebelum melanjutkan istirahat. Kondisi saat ini dia masih lemas dan luka jahitan operasi itu masih terasa menyakitkan. Rania juga memikirkan tentang hari esok bagaimana dia akan menyambung hidup dalam kondisi seperti itu tidak mungkin berpangku tangan dan meminta uang kepada orang lain. Saat ini Rania mulai kehidupannya dari nol. Sama sekali tidak memiliki apa-apa. Hanya Tuhan yang menjadi sandaran hidupnya dan Aira bayi mungil tak berdosa itu menjadi semangat hidup Rania saat ini.

Rania tidak berharap banyak tentang kehidupan yang dijalani karena tahu Gavin tidak lagi bisa diandalkan. Rania akan memulai untuk berjualan online jika luka bekas jahitan di bagian perut bawah sudah membaik. Bahkan untuk membeli obat untuk membantu luka cepat sembuh saja Rania tidak punya uang sama sekali. Sungguh menyedihkan hidup ibarat kata sudah jatuh tertimpa tangga.

***

Gavin beberapa hari tidak bisa tidur dengan nyenyak karena dihantui oleh perasaan bersalah di dalam diri. Namun lelaki itu kembali membuunuh rasa bersalah hanya demi bisa menikmati kehidupan Hura Hura yang dijalani selama ini. Gavin tidak betah di rumah dan mencari kepuasan lain dengan mengeluarkan banyak uang untuk perempuan bayaran.

Rasa cinta seperti apa yang sebenarnya diinginkan oleh Gavin? Pada akhirnya tidak ada yang bisa dilakukan oleh perempuan yang sudah terlanjur terjerumus cinta beracun yang Gavin tawarkan. Para perempuan yang sudah terlanjur jatuh cinta kepada Gavin akan terlihat begitu bodoh dan saling memaki satu dengan yang lain. Padahal semua kesalahan itu Gavin yang ambil alih.

“Aaaarggghh!! Napa gue nggak bisa tidur nyenyak berhari-hari?! Sialaan emang si Rania bikin gue kesiksa gini!!! Harusnya gue udah putusin dia sejak lama!!” geram Gavin sambil mengajak-ajak rambutnya karena stress.

“Kenapa, Sayang?” tanya perempuan bayaran yang menemani tidur Gavin kali ini di hotel esek-esek pinggiran Kota Jakarta.

“Nggak apa, tidur aja. Gue lagi suntuk.”

Gavin juga tidak bisa menyalurkan hasratnya, tetapi dia masih saja menyewa perempuan untuk menemani tidurnya. Setidaknya ada yang bisa membuat dirinya merasa berarti. Gavin masih saja tidak bisa belajar dari kesalahan yang diperbuat.

Bukannya merasa bersalah dengan Rania atau mencoba untuk meminta maaf terlebih dahulu, tetapi Gavin justru mencari pelampiasan lain untuk melupakan sejenak semua permasalahan yang ada. Gavin terlalu egois untuk memikirkan orang lain. Dia hanya memikirkan diri sendiri dan keuntungan untuk dirinya saja. Bukankah lelaki seperti itu seharusnya tidak usah memiliki pasangan karena hanya akan menyusahkan orang lain saja. Cukuplah dia susah sendirian jangan membawa orang lain ikut susah!

Terpopuler

Comments

Razaqi 05

Razaqi 05

kapan up ny thoor??

2022-12-05

2

Razaqi 05

Razaqi 05

jangan ada ningsih yg k 2 kak...
cukup cinta bima hanya buat ningsih seorang...biar kan bima dengan rania cuma hanya ikut perjanjian saja kak...

2022-12-02

4

Zika Bintang

Zika Bintang

ada harapan untuk di lanjutkan nggk ceritanya ini Rens😭😭😭

2022-11-28

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!